
Yang belum Like bab sebelumnya.. yukk bantu author untuk genapin Like nya dulu biar performa author gak jalan ditempat.. 🤗 Terima kasih.. 😘
Ditunggu kunjungannya di :
- PASUTRI
- TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
...
Hari mulai menjelang malam ketika Rudi membanting setirnya memasuki apartemen miliknya dengan wajah lesu, lelah campur putus asa.
Bagaimana tidak?
Selama dua jam terakhir Rudi tidak berhenti mencari keberadaan Laras. Sesaat setelah pak Rico memberitahukan keberadaan Laras dikantor pusat yang menyebabkan pak Tian membebas tugaskan dirinya di penghujung hari itu, Rudi langsung bertindak cepat.
Begitu menyadari ponsel Laras tidak aktif setelah beberapa kali ia hubungi, Rudi pergi keruang keamanan terlebih dahulu untuk memeriksa cctv, hanya untuk mengetahui apakah Laras masih berada di gedung kantor pusat atau sudah tidak lagi.
Dan hasilnya ia menemukan kenyataan yang mencengengkan, bahwa siang itu Laras memang menaiki lift menuju rooftop bersama Pak Rico, namun Pak Rico terlihat kembali lebih dahulu menuju ruang rapat, sedangkan Laras turun kembali ke lantai lima belas berselang kira-kira sepuluh menit setelahnya, menuju toilet wanita dan berada disana sekitar dua puluh menit, sebelum akhirnya keluar, menuju lift dan turun ke lantai basement, melangkah ke parkiran dan berlalu dari gedung kantor pusat menggunakan mobilnya.
Sasaran utama Rudi yang utama adalah rumah Laras, namun menurut satpam yang menjaga gerbang depan, Laras bahkan belum terlihat lagi sejak nyaris tiga bulan yang lalu ia pergi menghandle pekerjaan di kota B, sasaran kedua adalah rumah pak Tian, namun hasilnya sama seperti penjelasan satpam yang ada di rumah Laras bahwa wanita tidak berada disana. Barisan keamanan dirumah pak Tian bahkan tidak pernah melihat Laras lagi sejak ia meninggalkan rumah itu jauh sebelumnya.
Rudi menghela nafasnya berat, ia bisa menebak bahwa alasan Laras tidak menemuinya pasti karena Laras telah memergoki kebersamaannya dengan Meta di mini garden kantor pusat. Dan mengingat temperamen buruk Laras, Rudi merasa wanita itu pasti sedang melakukan aksi ngambeknya sehingga tidak mengaktifkan ponselnya sejak tadi sore.
Berfikir akan seberapa susah dirinya membujuk Laras nanti membuat Rudi semakin pening. Ia memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Rudi merasa dirinya perlu mandi untuk menyegarkan dirinya yang telah kusut masai seharian ini terlebih dahulu, sebelum kembali memikirkan kemana lagi ia harus mencari keberadaan Laras.
'Apakah wanita itu telah kembali ke kota B?'
Huhhf.. berfikir tentang alternative tersebut membuat kepala Rudi terasa mau pecah. Kalau seperti itu adanya entah bagaimana dia harus menjelaskannya kepada pak Tian nanti?
Rudi merasa tidak enak karena pak Tian pasti akan langsung mengetahui bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja.
Mendapati kenyataan itu membuat Rudi kesal mendadak. Ia benar-benar lelah menghadapi tingkah Laras yang selalu kekanak-kanakan seperti ini.
Rudi sudah memarkirkan mobilnya ditempat biasa sebelum akhirnya ia turun dari mobil. Masih dengan ponsel ditangan, dan entah ini sudah kali ke berapa Rudi menekan nomor kontak yang sama, dan dijawab juga dengan jawaban yang sama oleh operator seluler.
Rudi baru saja berniat untuk mengumpat manakala dirinya terkesiap melihat pemandangan, dimana sebuah Mazda CX-3 dengan plat kendaraan yang menjelaskan dengan benar bahwa mobil itu adalah milik Laras, telah terparkir dengan jarak tidak seberapa jauh dari mobilnya.
Astaga.. kalau benar itu adalah mobil Laras, apakah itu juga berarti bahwa Laras sekarang berada didalam apartemennya?
Setelah Rudi pusing mencari kesana kemari, padahal satu-satunya tempat yang tidak pernah terfikir untuk didatangi Laras disaat wanita itu sedang kesal padanya adalah apartemennya sendiri.
Mendapati kenyataan itu setengah berlari Rudi bergegas mendekati lift, dengan gesit menekan angka tujuh, dimana unit apartemennya berada.
XXXXX
Rudi menekan sederet angka yang ada pada acces door lock control yang melekat di pintu apartemennya.
Begitu pintu terbuka indera penciumannya langsung menangkap aroma khas sesuatu yang dimasak yang menguar dari arah dapur. Tanpa membuang waktu lebih lama Rudi melesat kedalam apartemennya, langsung menuju dapur dan.. benar saja.
Sosok yang hampir berhasil membuatnya gila selama beberapa jam terakhir ini terlihat sedang mencuci sesuatu di bak cuci piring yang menyatu dengan kitchen set, dengan penampilan yang khas. Rambut tergelung tinggi keatas, namun kali ini tubuh ramping Laras terbalut baju dengan model sabrina yang seolah sengaja memamerkan kedua bahunya yang mulus tanpa cela, dipadu rok jeans diatas lutut. Terlihat muda, sexy dan menggairahkan.
Rudi tersenyum lega melihat sosok itu seraya mendekat dengan langkah perlahan.
‘Cup.’
Laras terlonjak ketika mendapati kecupan singkat ditengkuknya yang terbuka. Ia nyaris berteriak namun mulutnya pun keburu dibungkam dengan kecupan yang sama. Singkat.
“Sedang apa?” Rudi tersenyum seraya memandang wajah Laras yang hanya berjarak tidak lebih dari lima centi.
“Sudah tau masih bertanya!” mendesis seraya berusaha meloloskan dirinya dari lengan kokoh yang melingkar di sepanjang pinggangnya dengan posesif.
Rudi tertawa kecil mendapati wajah judes yang khas itu. Ia juga tidak bersikeras saat Laras mengurai pelukannya dan kembali pada aktifitasnya semula, membilas sebuah wajan yang sepertinya baru saja dipakai untuk memasak sesuatu.
“Kamu memasak?” tanya Rudi nyaris tidak percaya. Tentu saja, karena setahunya Laras bahkan tidak pernah memasak sebelumnya.
“Hmm..”
Laras mencuci tangannya yang telah selesai membilas beberapa peralatan memasak yang barusan ia pakai. Kemudian ia beranjak mendekati rice cooker yang berada diujung kitchen set, memeriksa sejenak kondisi beras yang tadi ia masak disana sebelum akhirnya berbalik menatap Rudi dengan wajah berbinar.
“Aku berhasil membuat berasnya menjadi nasi..” ujarnya terlihat sangat gembira seolah baru saja menghasilkan sebuah maha karya.
“Oh ya..? wah.. hebat..!”
Rudi bertingkah bodoh dengan refleks mengacungkan jempolnya kearah Laras yang terlihat sangat senang menerima pujian itu, meskipun yang ada Rudi malah bergumam dalam hati..
‘Apanya yang hebat? membuat beras menjadi nasi dengan menggunakan rice cooker..? bahkan anak es de saja tau membuatnya!'
Laras kemudian menuju meja makan, yang membuat Rudi baru menyadari jika diatas meja minimalis itu juga sudah ada sebuah piring yang berisi sosis dan chicken nugget yang digoreng tidak merata, plus sebotol sambal instan milik sebuah merk dengan tiga huruf yang sering terlihat di iklan-iklan televisi.
Tapi meskipun dengan penampilan yang tidak meyakinkan, namun demikian aroma dari sosis dan chicken nugget itu lumayan menggelitik perut Rudi yang memang mulai terasa lapar.
“Aku membelinya di supermarket. Tapi aku sendiri loh yang menggoreng-nya..”
“Wah..” lagi-lagi mengacungkan jempol. Berusaha sedapat mungkin untuk tidak menghilangkan senyum kebanggaan di wajah polos Laras.
“Aku mempelajari semua ini dari yuubube..”
‘Ohh.. baiklah, bahkan dia harus bersusah payah membuka yuubube demi mencari tau tutorial dan langkah-langkah memasak nasi di rice cooker dan cara menggoreng sosis dan chicken nugget yang baik dan benar..’
Menyadari pemikirannya sendiri, Rudi bahkan harus menahan tawanya. Ia benar-benar tidak ingin mengubah mood Laras yang sedang bersinar secerah mentari dipagi hari itu menjadi sesuatu yang nantinya akan merepotkan dirinya, meskipun demikian, jauh didalam lubuk hati, Rudi sungguh mengapresiasi usaha keras dan kemauan Laras dalam rangka mengacaukan dapur mininya yang jarang terpakai itu.
“Ya sudah, kalau begitu.. tunggu apalagi, ayo kita makan, aku sudah benar-benar lapar..” Rudi bergerak sambil mengambil dua piring sekaligus. Tapi yang ada ia melihat Laras kini mematung seraya menatapnya. “Ada apa?” tanya Rudi saat melihat wanita itu tak kunjung bicara.
“Kak.. itu.. apa sebaiknya kita pesan makanan saja..?” berucap dengan kikuk.
“Loh, kenapa? kamu sudah membuat semua ini, kalau tidak dimakan lalu untuk apa?”
“Aku.. sebenarnya hanya membuatnya untuk diriku sendiri.”
Rudi menaruh dua buah piring itu keatas meja. “Jadi aku tidak boleh makan?”
“Bukan tidak boleh, tapi itu..itu pasti tidak enak..”
Rudi membuang nafas sejenak, kemudian ia mencomot salah satu chicken nugget yang masih terasa hangat itu dan langsung memasukkannya kedalam mulut. “Enak kok..” ujarnya sedikit kesulitan mengucapkan pujian karena mulutnya yang agak kepanasan.
Detik berikutnya ia telah mendekati Laras, langsung menarik lembut tubuh mungil itu kearah salah satu kursi dan mendudukannya disitu.
“Ayo cepat makan, karena setelah ini aku juga harus segera memakan sesuatu..” ucap Rudi dengan nada ambigu.
Alis laras bertaut. “Memakan sesuatu..?”
“Hmm..”
“Memangnya ingin memakan apa lagi..?” wajah polos Laras menatap Rudi keheranan.
“Dirimu.”
“Egh.. ap-pa..?
“Iya. Setelah ini aku ingin memakanmu.” Rudi berbisik begitu dekat ditelinga Laras seraya mencuri ciuman kilat dipelipis istri kecilnya itu. Membuat Laras tidak bisa lagi menyembunyikan semburat merah dikedua pipinya yang merekah begitu saja, menandakan seberapa malu dan salah tingkah dirinya.
Sementara itu, melihat pemandangan semburat merah yang menggantung sempurna dikedua pipi Laras membuat Rudi tertawa kecil.
Rudi mengacak pelan puncak kepala itu dengan sayang.. separuh gemas.. separuh tidak sabar..
...
Bersambung..
Favoritekan novel ini, like dan comment setiap bab-nya, dan berikan hadiah serta vote yang banyak.. karena apapun dukungan kalian merupakan penyemangat author untuk terus berkarya.. 🤗
Thx and Lophyuu all.. 😘