CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 032


Ditunggu kunjungannya di :


‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.


Bantu like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 🙏


.


.


.


Saat Rudi memasuki ruangan Ceo ia mendapati pak Tian yang bersandar di kursinya dengan mata terpejam serta tangan kanan menopang wajahnya. Jari telunjuk pak Tian malah terlihat mengetuk-ngetuk diantara kedua alis.. menandakan bahwa meskipun mata lelaki itu sedang terpejam, tapi pak Tian sama sekali tidak tidur.


Rudi sedikit mengerinyit melihat pemandangan tak lazim tersebut.


Hari masih pagi.. meeting persiapan tahapan akhir pembangunan Indotama Times Square hampir dimulai.. namun anehnya pak Tian masih berada ditempat duduknya seolah sedang memikirkan sesuatu yang maha berat.


“Ehemm..” Rudi mencoba berdehem kecil dan benar saja, pak Tian langsung membuka matanya.


“Iya, Rud.. apa apa ?”


“Semuanya sudah hadir diruangan meeting, pak. Termasuk pak Rico..”


“Baiklah, pergilah keruangan meeting terlebih dahulu, aku akan segera menyusul..” ucap Tian datar.


Mendengar itu Rudi mengangguk patuh. Ia hendak beranjak keluar manakala suara berat Tian kembali terdengar, mengurungkan langkahnya yang hendak berlalu.


“Rudi, tunggu sebentar..”


“Iya pak ?”


Rudi berbalik, kembali menatap penuh kearah Tian yang malah terlihat mengetuk-ngetuk bolpen yang ada ditanganya keatas meja berkali-kali.. namun tak kunjung bicara.


“Pak Tian..?” ulang Rudi lagi saat keheningan mulai terasa semakin panjang memakan waktu.


Dimata Rudi, Ceo Indotama Group itu terlihat sedikit gelisah namun kemudian yang tertangkap telinganya hanyalah hembusan nafas berat sebelum berucap perlahan..


“Tidak apa-apa... pergilah keruangan meeting terlebih dahulu..”


Tian terlihat bangkit dari duduknya dan masuk kedalam ruangan pribadinya, meninggalkan Rudi yang berdiri dengan fikiran sedikit bingung menyaksikan sikap sang Ceo yang terlihat tidak seperti biasanya.


‘Apa yang terjadi ? mengapa pak Tian kelihatannya seperti sedang memikirkan sesuatu ?’


Entah kenapa perasaan Rudi mendadak merasa tidak nyaman dengan sendirinya, namun ia cepat menepis semua perasaan tersebut dengan melangkahkan kakinya kembali keluar, menuju meeting room yang berada dilantai itu juga.


XXXXX


Meeting persiapan tahap akhir dari mega proyek Indotama Times Square tersebut sudah berakhir kira-kira sepuluh menit yang lalu. Tian bahkan sudah kembali kedalam ruangannya.. kali ini dengan Rico yang sudah duduk tepat dihadapannya.


“Bagaimana persiapan besok ?” tanya Tian membuka obrolan.


“Memangnya harus mempersiapkan apa ? itukan hanya akad nikah biasa.. apanya yang istimewa ?” Rico berucap acuh sambil menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi.


Tian tertawa kecil mendengarnya. “Dua kali menikah secara rahasia.. dan yang kedua bahkan lebih parah. Kamu yakin benar-benar tidak ingin mengatakannya kepada kedua orang tuamu dan kedua orang tua Lila ?”


Rico menggeleng dengan penuh keyakinan. “Tidak.. aku bahkan tidak yakin semua ini akan berhasil. Aku benar-benar hanya memikirkan Rei.. tidak bisa memikirkan hal-hal yang lain lagi..”


“Sikapmu ini apa tidak akan melukai harga diri mereka ? Meta.. ibunya..”


“Tian, aku sudah mengatakan semuanya. Aku sudah mengatakan semuanya dengan jujur sehingga Meta dan ibu Arum bisa memahami mengapa aku tidak bisa berterus terang kepada semua orang, terlebih kepada kedua orangtuaku apalagi kepada kedua orang tua Lila. Tian.. Ini semua terlalu cepat. Aku tidak yakin mereka bisa menerimanya begitu saja, sementara aku sama sekali tidak punya waktu untuk meyakinkan mereka.. membujuk mereka..”


Rico menarik nafasnya sejenak.


“Satu-satunya kebohongan yang aku ucapkan dihadapan ibu Arum hanya satu.. yaitu saat ia menanyakan apa aku bisa menyayangi Meta sebesar Rei.. dan aku menyanggupinya.”


Tian yang sejak tadi hanya mendengarkan keluh kesah Rico hanya bisa mengangkat bahu. Ia tidak punya hal apapun lagi untuk ia lakukan selain mendukung setiap langkah yang diambil oleh sahabatnya itu.


Tian mengerti apa yang sedang Rico lakukan semata-mata hanya karena Rei. Meskipun terlihat egois, memaksakan kehendak, bahkan terlihat sedikit licik karena sudah jelas-jelas Rico dengan gesitnya memanfaatkan keadaan perekonomian Meta dan ibunya yang morat-marit karena sedang terlilit hutang hingga ratusan juta rupiah dengan seorang rentenir, tapi dimata Tian.. semuanya justru terlihat wajar bahkan luar biasa. Jika dilihat dari kacamata yang berbeda, betapa besarnya pengorbanan Rico sebagai orang tua, demi mengembalikan kebahagiaan Rei seperti sedia kala.


“Aku sudah memberitahu Arini..” pungkas Tian lagi.


“Arini pasti berniat membunuhku karena melakukan semua ini kepada Meta kan ?”


Tian tertawa kecil. “Aku bahkan harus membujuknya agar mau memblokir nomor Meta dalam dua hari ini..”


“Astaga..”


Meskipun terlihat suntuk sejak awal, tapi mendengar Tian yang sampai melakukan hal tersebut kepada Arini demi melancarkan semua rencananya cukup membuat Rico tergelak. Harus diakui Tian memang sangat peka dalam mengantisipasi segala resiko yang bahkan belum terjadi.


“Dan begitulah.. akhirnya uang memang sangat hebat dalam menyelesaikan segala persoalan kan..” ujar Rico lagi setelah tawa mereka mereda.


“Tidak semua masalah. Karena pada kenyataannya tidak semua hati manusia bisa dibeli dengan uang. Hati manusia.. tidak ada jaminannya, Co.. maka dari itu berhati-hatilah..”


Tepat disaat yang sama bunyi pintu yang diketuk dari luar terdengar, seiring dengan sosok Rudi yang masuk kedalam ruangan dengan sebuah map file ditangan. Sepertinya itu adalah semua dokumen yang menyangkut meeting barusan.


“Maaf pak.. ini semua dokumen yang tadi dipresentasikan pada meeting. Saya letakkan dimeja, atau ke brangkas file terlebih dahulu..?” tanya Rudi saat melihat kondisi meja Tian yang masih penuh dengan beberapa dokumen yang mengantri tanda tangan Tian.


“Ke brankas file saja dulu, Rud..” ucap Tian.


“Baik, pak..” Rudi pun mendekati brankas file yang ada disudut ruangan guna menaruh map file yang dimaksud kedalam salah satu loker yang masih lapang.


Tepat setelah kehadiran Rudi diruangan itu, Rico bisa melihat bahwa tatapan Tian terus mengarah dengan tajam kepada asistennya.. nyaris tanpa berkedip.


Selesai menaruh map file kedalam salah satu loker, Rudi kembali ke meja Tian. “Maaf, pak Tian.. saya juga ingin menyampaikan bahwa tadi saat meeting berlangsung Laras menitip pesan, bahwa ia harus pergi ke kota B secepatnya untuk survey langsung bahan yang baru saja masuk tadi pagi dari beberapa pemasok..”


Tian mengangguk mendengar informasi tersebut. “Dengan siapa dia pergi ?”


“Sepertinya menyetir sendiri, pak..” jawab Rudi lagi.


Tian kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah.. jangan lupa suruh Laras mengirimkan hasil survey tentang kwalitas bahannya. Kalau perlu sekalian dengan dokumentasi untuk bahan pembanding..”


“Baik, pak.. akan saya sampaikan..” berucap takjim seperti biasa sebelum akhirnya berniat untuk undur diri, namun lagi-lagi suara berat pak Tian kembali menahannya..


“Rudi..”


“Iya pak ?”


Hening lagi. Tapi sesaat kemudian..


“Tidak.. pergilah kembali bekerja..” nafas Tian terdengar berhembus perlahan. “Dan.. tolong jangan mengecewakanku..” ujarnya lagi, kali ini dengan intonasi lebih datar.


Meskipun sedikit terheran.. namun Rudi tetap mengangguk takjim. “Baik pak..” kali ini Rudi benar-benar bisa beranjak keluar setelahnya.


Rico menatap lekat raut wajah Tian yang berada dihadapannya, terlihat jelas disana wajah dingin itu yang masih menatap punggung Rudi hingga menghilang dibingkai pintu.


“Tian..” panggil Rico perlahan, namun mampu membuat Tian mengalihkan tatapannya.


“Ada apa ?”


Rico membuang nafasnya berat. “Tentang Rudi.. kamu sudah mengetahuinya. Iya kan ?”


Mendengar kalimat Rico, serta merta Tian memijit alis-nya sejenak sebelum kembali mengawasi Rico yang duduk dihadapannya. “Jadi itu sama artinya bahwa kamu bahkan telah mengetahuinya sebelum aku.. dan kamu diam saja, Co ?”


Skak mat !


Rico sedikit terhenyak mendengar kalimat datar Tian yang langsung bisa menyudutkannya tanpa bisa lagi ia mengelak. “I’m so sorry..” ujarnya penuh rasa penyesalan.


“Forget it..”


Hening sejenak. Sebelum Rico berucap lagi memecah hening yang semakin berkembang.


“So.. apa rencanamu ?”


“Menunggu.”


“What ?”


“Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk bersabar.. menunggu bajingan itu sendiri yang akan mengakuinya sekaligus bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan. Semoga dia tidak memerlukan waktu yang lama untuk menyadari kekurang-ajarannnya.. karena kalau tidak.. ”


Mengambang. Kepalan tangan Tian yang berada diatas meja terlihat mengeras.


Rico mengusap tengkuknya yang mendadak meremang mendengar ucapan yang menggantung tersebut, terlebih saat melihat pancaran sepasang mata Tian yang penuh dengan amarah yang pastinya sedang sekuat tenaga ia kendalikan.


‘Dasar Rudi bajingan mesum..’


Didalam hati Rico memaki, tidak habis pikir.. sebesar apa nyali Rudi sampai-sampai berani bertindak diluar kendali seperti itu kepada Laras.


.


.


.


Bersambung..


Haiyoo.. haiyoo..  up lagi nih.. kurang sayang apa gitu author kepada kalian semua ? para pembaca tersayang, terkece.. terlope.. lopeeee… 🥰


Jangan lupa bantu author buat naikin


“pop”menuju 1,0 M.. Chayoo..! 💪


Untuk hidden reader jangan lupa membagi like-nya dan tekan icon favorite untuk novel ini. 🙏


Please give me your Like, Comment, and Vote. Thx and Lophyuu all.. 😂