
“Lalu kamu sendiri kenapa, bro ? Sepertinya kamu kelihatan kalut juga. Apa ada sesuatu yang terjadi ?“
“Aku ? aku tidak ada apa-apa..” elak Tian, tentu saja Tian tidak ingin menceritakan apa yang menjadi beban fikirannya kepada Rico, setidaknya tidak sekarang.
“Tapi kenapa wajahmu justru terlihat lebih memiliki beban berat daripada wajahku sendiri..?” Rico tertawa mengejek.
Tian tersenyum kecut. “Sejak kapan kamu
jadi paranormal ?”
“Tidak Tian.. aku serius. Kamu sudah
memijit keningmu lebih dari dua puluh kali sejak kamu datang tadi…”
Tian tertawa mendengar penjelasan Rico.
“Sok tau kamu.”
“Tapi aku benar kan..?
“Apanya yang benar..?” cibir Tian.
Rico menatap Tian dengan tatapan penuh
selidik. “Apa kamu tidak berniat menceritakannya sedikit padaku..?” pancing
Rico, seperti biasa dia selalu saja usil dengan kehidupan Tian.
“Aku tidak punya bahan cerita apapun.
Memangnya ada apa dengan wajahku..?” Tian bersungut, tetap berusaha menyembunyikan segala sesuatu dari tatapan Rico yang menginterogasi.
“Dasar gengsian..” rutuk Rico, sesaat
kemudian ia malah menatap Tian lagi dengan intens. “Jangan-jangan beban fikiranmu sama denganku.” kilahnya.
“Apa maksudmu ?”
“Katakan padaku, Tian.. apa kamu juga dipaksa menikah..?”
“Appa..?”
“Apa nenekmu sudah menjebakmu dengan sebuah pernikahan ??” Rico terlihat semakin bersemangat.
Tian terhenyak mendengar tebakan jitu
tersebut. “Bicara apa sih kamu..” desisnya sambil membuang muka.
“Wah.. sepertinya tebakanku benar.”
“Tidak ada kejadian seperti itu.” Tepis
Tian buru-buru.
Rico menatap Tian lamat-lamat, jelas sekali dia menaruh curiga dengan rahasia apa yang sedang disembunyikan Tian darinya, tapi Rico sadar tidak semudah itu membuat Tian bicara. Rico sudah kenal Tian sejak lama, jadi ia sudah hafal luar kepala dengan semua sikap dan
sifat sahabatnya ini. Tian adalah tipe lelaki yang sangat tertutup, tapi jika ia sudah memijit keningnya berkali-kali maka Rico berani bertaruh nyawa sekalipun bahwa sahabatnya itu pasti sedang memendam persoalan yang berat.
“Kamu tidak ingin kembali kedalam ?”
Tian mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Sepertinya tidak..” Rico menjawab
malas.
“Kenapa ? Apa kamu tidak mau bersama
salah seorang dari mereka..?”
“Tidak.. Tidak..” Rico menggeleng tegas
masih dengan wajah yang enggan. “Aku tidak bisa lagi melakukannya. Akhir-akhir ini aku sudah berkali-kali mencoba have fun tapi wajah polos Lila selalu membayangi pelupuk mataku. Aku tidak bisa melakukannya lagi, Tian. Aku
akan merasa sangat berdosa pada istriku kalau tetap nekad melakukannya.”
“Ck.. ck.. sepertinya kamu sudah jatuh cinta dengan istrimu sendiri yah ? dengan Lila..??” Tian nyaris tertawa saat mengucapkan kalimat itu.
Rico sontak melotot. “Apa aku tadi
bicara cinta ? sudah lah.. aku tidak percaya cinta cintaan.. memangnya apa itu
cinta..?” tepisnya dengan pongah.
“Buktinya kamu tidak bisa bermain-main
lagi dengan gadis lain..”
“Kan sudah kubilang karena aku merasa
berdosa. Itu saja.” pungkas Rico bersikukuh.
Mereka terdiam sejenak.
Tian melirik Rico, menimbang-nimbang
sesuatu yang saat ini benar-benar ingin Tian ketahui jawabannya. “Co..”
“Hemm, ?”
“Apa.. apa kamu.. sudah melakukannya ?”
tukas Tian akhirnya, tak mampu membendung rasa ingin tahunya.
“Melakukan apa ?“
“Dengan Lila.. “
Rico tertawa saat mengerti kemana arah
pembicaraan Tian. “Ya iyalah, Tian.. mana bisa tahan tidak menyentuh istri!sendiri ? Kamu pikir aku banci ? bisa tidur sekamar dengan wanita tanpa menyentuhnya ?”
Tian melengos mendengarnya.
‘Sialan..! banci katanya ? jadi karena aku tidak menyentuh istriku sendiri menurut Rico
aku banci ??’
Rasanya Tian ingin memukul mulut dihadapannya ini karena mengucapkan pernyataan laknat yang terus terang mencambuk harga dirinya sebagai seorang lelaki sekaligus sebagai seorang suami,
mengingat sampai sekarang Arini yang notabene istrinya yang sah belum juga
berhasil ia apa-apain.
Sepertinya untuk bagian ini Tian harus
menerima kalau ia sudah kalah telak dari Rico si songong itu.
Rico menarik nafas berat saat tawanya
mereda. “Sebenarnya sejak awal aku berniat tidak akan menyentuh Lila dulu.. tapi yang ada, baru di malam pertama aku sudah tidak bisa mengendalikan diriku. Aku ini lelaki yang terlalu normal, Tian.. you know lah..” ucap Rico songong sambil terkekeh.
Tian tersenyum kecut mendengarnya.
'Itu pasti karena Lila istri Rico yang sifatnya penurut.. tidak seperti Arini yang kelewat keras kepala.. dan tak jarang bersikap absurd..’
Batin Tian kesal, saat wajah Arini yang
gemar membantahnya itu melintas dibenaknya.
“Huhh, tadi galau setengah mati.. giliran ngomongin berhasil nidurin istri sendiri aja semangat empat lima..”
Rico tergelak mendengar sindiran itu.
“Makanya nikah, bro.. biar tau bagaimana rasanya nidurin istri sendiri.. sensasinya beda..” Rico berbisik menggoda Tian kemudian tergelak lagi.
‘Memangnya siapa yang belum menikah ? aku sudah menikah.. tapi nidurinnya saja yang
belum..’
Tian membatin lagi dengan perasaan dongkol.
“Aahh.. sudah.. sudah.. aku mau cabut,”
potong Tian kesal. Ia bangkit dari duduknya.
“Mau kemana ?” Rico ikut bangkit,
mengekor langkah panjang Tian.
“Pulang,”
“Yakin tidak mau ajak satu yang didalam..?”
“Tidak. Bawa pulang sana semuanya. Biar
“Sialan !!” umpat Rico mendengar kalimat
asal Tian. “Aku bilang Lodi dulu, abis itu aku juga mau cabut pulang.. kasian
Lila..”
Tian mencibir. “Dasar play boy, bilang
kasian tapi masih bawa perempuan lain untuk have fun.., ucapan sama perbuatan saja tidak sinkron,”
Rico menarik lengan Tian, mencoba
menghentikan langkah panjang itu dengan paksa. “For the last time. Aku serius,
bro.. ini untuk yang terakhir kali.” Mereka bertatapan, tapi entah kenapa Tian
bisa menangkap kesungguhan dari manik mata Rico, play boy cap kelinci itu. “Next time, kamu harus cari partner baru kalau kamu masih mau main-main lagi, bro.. aku mau pensiun,“
Tian mencibir. “Buktikan. Jangan cuma
banyak omong.” ditepisnya tangan Rico yang masih bertengger manis dibahunya,
kembali melangkahkan kakinya keluar.
“I Promise !!”
Tian mengibaskan tangannya tanpa menoleh
kearah teriakan itu. Kakinya tetap melangkah tanpa henti, meninggalkan hingar
bingar dibelakang sana, langsung menuju pelataran parkiran.
XXX
Tian berjongkok didepan sofa. Kini wajahnya hanya berjarak kurang dari sepuluh centi meter dari wajah Arini yang tertidur lelap disana.
Yah.. Arini Ramdhan, istrinya yang keras
kepala ini kembali tidur di sofa seperti biasa.
Sejenak Tian diliputi penyesalan saat
teringat perdebatan mereka tadi. Entahlah.. Tian hanya merasa ia sudah sedikit tidak sabar dalam menghadapi Arini.
Tian bukannya tidak menyadari setiap
perkataannya yang telah melukai harga diri Arini, belum lagi dengan sikap menyebalkannya yang pasti juga menyakiti hati wanita itu.
Tapi mau bagaimana lagi ? Tian seperti
tidak memiliki cara lain untuk memperlambat laju perasaannya yang justru berkembang terlalu cepat. Ini diluar perkiraan dan pemikiran Tian, dan semua itu cukup membuatnya panik.
Bagaimana mungkin secepat ini ia terusik
dengan wanita seperti Arini ? Sementara selama ini berjubel wanita diluar sana
tidak pernah ada satu pun yang mampu membuat kacau akal sehatnya seperti yang
dilakukan Arini padanya.
Apakah karena status Arini sebagai
istrinya yang sah sehingga membuat dirinya baper seperti ini ?
Entahlah..
Tangan Tian terangkat hendak menyibak
anak rambut yang menutupi sebagian wajah itu namun belum sampai niatnya terlaksana sejenak ia tersadar dan tangannya tertahan diudara. Alih-alih merapikan rambut Arini, akhirnya ia malah memijat keningnya sendiri.
Lagi-lagi Tian melirik frustasi wajah
yang masih tertidur nyenyak itu. Begitu tenang dan polos. Tian mendekat, sampai-sampai ia bisa melihat dengan jelas seberapa lentik bulu mata Arini yang membingkai kelopak matanya yang sedang terpejam itu, betapa mungil hidungnya yang lancip, dan.. betapa penuhnya bibir Arini..
Deg.
Deg.
Deg.
Tian seperti tidak percaya bahwa disaat
seperti ini ia bahkan bisa mendengar bunyi detak jantungnya sendiri yang memacu
begitu keras, dan semakin lama terasa semakin cepat iramanya. Ia membasahinbibirnya yang tiba-tiba terasa begitu kering kerontang, namun matanya masih lekat mengawasi bibir Arini yang terlihat begitu ranum. Tian bahkan sudah
membayangkan betapa nikmat rasanya jika saja ia bisa mengulum bibir itu.
Tian menggeleng-gelengkan kepalanya,
seolah ingin mengusir pikiran-pikiran aneh dari otak mesumnya yang diakibatkan pemandangan bibir Arini, tapi matanya malah menangkap pemandangan menarik yang lain..
‘Damn..’
Rutuk Tian geram saat menyadari dibalik
temaramnya lampu kamar, matanya menangkap sesuatu yang menyembul dari balik baju tidur Arini yang kancing atasnya terbuka. Tian kembali menelan ludahnya dengan
susah payah, apalagi saat merasakan celananya yang langsung terasa mengetat
dibawah sana. Juniornya sekarang benar – benar terbangun hanya karena melihat bayangan gundukan gunung kembar yang ada dibalik piyama Arini.
Dan sebelum setan benar-benar menguasai jiwanya yang mulai bergejolak, Tian bergegas bangkit. Mondar mandir sejenak sambil memijit keningnya lagi, sebelum akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kaki kedalam kamar mandi, berniat mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk meredam gairahnya yang begitu cepat menggila sebelum dirinya benar-benar lepas kendali.
Kurang lebih sepuluh menit Tian mengguyur tubuhnya dibawah shower, akhirnya ia keluar dengan menggunakan
bathrobe.
“Pak Tian baru pulang ?”
Tian terperanjat mendapati suara itu.
Dilihatnya Arini duduk disofa sambil memeluk bantal, menatap lurus kearahnya namun terlihat jelas wajahnya yang dipenuhi kantuk.
Arini memang terbangun saat mendengar
suara guyuran shower dari dalam kamar mandi. Ia menduga itu pasti Tian. Arini melihat jarum jam yang ada di dinding kamarnya sudah menunjuk pukul tiga dini hari. Ia bahkan tidak menyangka bahwa lelaki itu akan kembali ke apartemen saat hari sudah mulai beranjak pagi, setelah perdebatan sengit mereka semalam.
“Sudah tau masih bertanya.” Ketus Tian.
“Kenapa Pak Tian mandi malam-malam ?”
Tian menatap wajah polos itu dengan raut
kesal.
‘Masih bertanya..? kalau tidak mandi sudah kuterkam kamu sejak tadi.. Mau ??!’
Gerutu Tian dalam hati.
“Tidur sana !” hardiknya kesal.
Tian terhenyak saat melihat Arini malah dengan berani mencebik mendengar bentakannya, sebelum akhirnya menghempaskan tubuhnya lagi keatas sofa.
Tian tidak habis pikir.. kemana perginya
tampang sendu Arini setelah mereka berdebat tadi malam ? wajah gadis itu bahkan terlihat baik-baik saja seperti tidak pernah terjadi apa-apa padahal Tian yakin betul tadi sepasang mata wanita itu sudah seperti tanggul yang mau jebol karena menahan tangis saat Tian beranjak keluar dari kamar setelah drama adu
mulut mereka.
Tapi lihatlah sikap pongahnya sekarang ?
wanita itu bahkan berani mencebikkan bibir dihadapannya.
Tian memijit keningnya lagi. Tian merasa
akan kehilangan akal sehatnya jika terus menerus dihadapkan dengan wanita keras
kepala yang tidur diatas sofa disudut kamarnya ini, sambil memunggunginya dengan acuh.
.
.
.
Bersambung..
Subscribe profil author, Like dan comment tiap bab, serta berikan vote jika berkenan.. 🙏
Terima kasih yang sudah mampir..
lophyuuuu.. 😍😘