
Double UP, Jangan lupa di like semua bab-nya yah.. 😘
PASUTRI,
makin seru loh.. 😀 yang belum mampir, yakin nih gak kepo..? 🤠cuzz ah, ramaikan, biar bisa ikut kontrakan juga kayak CTIR agar gak bakal pindah kemana-mana.. 🤗
.
.
.
"Arini.. nanti kalau kamu ngidam, jangan aneh-aneh yah.." pinta Tian sungguh-sungguh kearah Arini yang terlihat duduk manis didepan meja rias, tenggelam dalam rutinitas wajib setiap wanita sebelum tidur, rutinitas apalagi kalau bukan rutinitas skincare-an.
"Idihh.. emang ngidam bisa diatur??" ucap Arini seraya menepuk-nepuk lembut kulit wajahnya yang halus seolah tanpa pori-pori itu.
"Pokoknya aku tidak mau kalau sampai kejadian ngidam Sean terulang lagi.." ucap Tian enggan saat mengingat bagaimana tersiksanya dirinya yang harus tidur dikamar tamu nyaris dua bulan hanya karena Arini tidak mau berdekatan dengannya diawal kehamilan, dengan alasan tidak suka mencium aroma tubuhnya.
Bayangkan.. memangnya apa yang salah dengan dirinya? saat itu Tian bahkan telah mandi berkali-kali, dan menggunakan parfum yang sama dengan milik Arini, namun tetap saja aroma tubuhnya membuat Arini mual dan tidak nyaman. Tubuhnya dikatakan bau oleh istrinya itu.
"Aku tidak bisa berjanji." ucap Arini acuh sambil naik keatas ranjang dengan senyum.
"Arini sayang.." rayu Tian langsung merapatkan tubuhnya, namun yang ada kedua tangan Arini malah telah mendorongnya dengan sigap untuk menjauh.
"Ihh.. sudah dibilang kan jangan dekat-dekat.." dumel Arini lagi agak kesal.
Tian menggaruk kepalanya. "Tuh kan.. belum apa-apa sudah tidak mau dipeluk.."
"Bukan tidak mau, tapi aku gerah.."
Tian menekuk wajahnya. Inilah fase yang paling mengesalkan hingga kali ketiga Arini hamil.
Iya ketiga, karena sebelum ini mereka berdua pernah kehilangan calon bayi yang telah berumur lima bulan, hanya berselang sehari setelah kematian Nenek Saraswati.
Dua minggu yang lalu setelah mengetahui kemungkinan Arini yang hamil lewat beberapa kali test instan, Tian langsung membawa Arini memeriksakan kandungan ke dokter obygyn yang ada di Rumah Sakit Indotama Medical Centre, dan hasilnya Arini benar-benar telah dinyatakan berbadan dua dengan umur kehamilan yang memasuki minggu ke-empat.
"Jangan marah, ini bukan keinginanku.. tapi keinginan debaynya.." celetuk Arini begitu melihat wajah suram Tian.
"Tidak, mana mungkin aku marah, sayang.."
"Itu wajahnya cemberut.." tuding Arini.
"Tidak.. tidak lagi.." cepat-cepat Tian mengubah wajahnya yang lesu, menggantinya dengan seulas senyum meskipun terpaksa. "Tenang saja, demi buah hatiku yang ada didalam perutmu ini, aku rela melakukan apa saja.." ujarnya seraya menyentuh perut Arini yang masih terlihat datar.
"Jangan sentuh.."
Tian terkejut mendengar larangan itu, cepat-cepat ia menarik tangannya dengan wajah yang pasrah. "Iya.. iya.. baiklah.. baiklah sayang.."
XXXXX
Ahmad Wijaya tidak berhenti menatap istrinya, sejak awal hingga akhir Yunita Wijaya meletakkan ponselnya keatas meja.
Istrinya itu baru saja berbicara dengan Rico, putra mereka. Menceritakan tentang kondisi kesehatannya yang membaik, sambil tak lupa menanyakan kabar Rei, cucu mareka satu-satunya.
Ahmad Wijaya merasa salut, karena hingga detik dimana Yunita Wijaya menutup pembicaraan, istrinya itu mampu mengontrol emosinya dengan baik.
"Aku tidak menyangka." pria berusia senja itu sedang mengulum senyum sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka suara, karena wanita dihadapannya masih saja terdiam dengan wajah datar.
"Ayah mau menertawaiku?" Yunita Wijaya nampak menatap suaminya dengan kesal, membuat Ahmad Wijaya akhirnya benar-benar tertawa.
Bagaimana tidak? wajah wanita yang telah menghabiskan nyaris sepanjang hidup bersamanya hingga mereka berusia senja itu masih saja terlihat sangat lucu ketika sedang cemberut.
"Tuh benarkan.. Ayah memang ingin menertawaiku..!" tudingnya lagi.
"Tidak.. bukan seperti itu.." Ahmad Wijaya menggeleng masih dengan senyum yang sama.
"Lalu apa?! apa sekarang aku terlihat seperti singa betina ompong yang telah kehilangan taringnya?!"
Lagi-lagi Ahmad Wijaya menggeleng. "Bukan seperti itu.."
"Dimataku saat ini aku hanya melihat seorang Ibu, yang karena cintanya yang besar untuk anaknya, memilih diam tidak berkutik meskipun sang anak sudah jelas-jelas melakukan kesalahan.."
Yunita Wijaya terdiam mendapati kalimat panjang nan bijak suaminya yang begitu mengena dihati.
Yah.. ayah Rico benar.
Rico telah melakukan kesalahan besar, dengan menikah diam-diam tanpa restu mereka berdua sebagai orangtua.
Menyadari semua kenyataan itu hatinya sungguh sakit. Ia kesal.. ia marah.. ia ingin meledak. Apalagi ketika mengetahui kenyataan bahwa Rico menikahi wanita yang tidak memiliki status yang sama dengan keluarga mereka, rasanya dirinya ingin terbang saat ini juga ke tanah air, hanya untuk melabrak wanita yang awalnya diakui Rico dihadapannya kemarin sebagai wanita yang 'bukan siapa-siapa'.
Ia bahkan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, putranya telah mengantar wanita itu keluar dari pintu rumahnya malam itu juga.
'Dasar anak nakal..!'
Rutuk Yunita Wijaya dalam hati. Ia nyaris pingsan saat mendengar semua laporan berapi-api dari Tiar Hasyim, besannya, yang telah membeberkan semua kebenaran bahwa ternyata Rico sudah menikahi wanita bernama Armetha Wulansari itu.
"Tolong tenang yah jeng, Tiar.. berikan aku waktu untuk mengetahui kebenaranya terlebih dahulu, dan membicarakannya dengan Ayah Rico.."
Hanya itu kalimat yang mampu ia ucapkan untuk meredam emosi ibunya Lila yang mengungkapkan ketidakrelaannya jika Rico telah menikahi wanita lain, wanita yang bukan berasal dari keluarga Hasyim.
Dan ia telah mengadukan semuanya kepada Ayah Rico, mendesak suaminya untuk segera bertindak, mencari tau kebenaran cerita tersebut, namun kenyataan yang ia terima sungguh mencenggangkan.
Rico putranya, telah berkorban sedemikian banyak. Dan dari sekian banyak pengorbanan Rico yang membuatnya terhenyak, hal yang nyaris membuatnya benar-benar pingsan adalah saat mengetahui jika Rico telah membaliknamakan semua kepemilikan saham Best Elektro miliknya atas nama wanita itu juga..!
"Dasar wanita matre!" dihadapan Ahmad Wijaya, Yunita Wijaya mengumpat penuh emosi, namun suaminya malah menggeleng tenang.
"Putramu terlalu pintar untuk dibodohi wanita.."
"Kenyataanya Rico sudah masuk perangkap wanita itu..!"
"Rico hanya jatuh cinta.. bukan masuk perangkap."
Mendengar itu Yunita Wijaya tercenung lama.
"Semuanya sudah jelas.." ujar Ahmad Wijaya seraya menaruh lembaran laporan yang ia terima dari orang yang sengaja ia tugaskan khusus untuk mengetahui secara detail tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan putra mereka, di tanah air sana. "Wanita itu mencintai Rico dan Rei, menyayangi keduanya dengan tulus. Rico berkorban sedemikian besar untuk seorang wanita.. apa seumur hidupmu kamu pernah melihatnya..?"
Lagi-lagi Yunita Wijaya tercenung lama.
"Jangan egois. Umur Rico bahkan tidak muda lagi. Sudah cukup ia memaksakan diri bahagia sekian lama, hanya karena menuruti kemauan kita sebagai orangtua. Sekarang, sudah saatnya membiarkan dia menemukan kebahagiaannya sendiri.. demi Rei juga.."
Dan sepasang mata Yunita Wijaya telah menghangat. "Tapi aku tetap merasa marah, Ayah.." ia tidak bisa mengendalikan diri lagi untuk tidak sesegukan.
"Ada apa lagi..?" Ahmad Wijaya nampak beranjak dari duduknya guna mendekati istrinya yang telah berurai air mata.
"Teganya Rico tidak mengatakan apapun.. apa dia merasa sudah sebegitu hebat? tidak butuh ibunya yang tua ini lagi..?!"
"Mungkin dia masih memikirkan cara mengatakannya.." Ahmad Wijaya duduk disamping istrinya sambil mengusap punggung yang sedang naik turun itu dengan lembut.
"Aku tidak mau mengalah padanya. Pokoknya aku akan menunggu, karena sudah seharusnya Rico yang harus meminta restuku lebih dahulu..!!" nada keras kepalanya terdengat begitu tegas.
"Baiklah.. baiklah.. akan aku temani kamu untuk menunggu.." Ahamd Wijaya menahan tawanya saat berucap demikian, karena merasa seolah sedang membujuk anak kecil yang sedang merajuk, mengingatkan dirinya.. bahwa sejak dulu, Yunita Wijaya memang selalu begitu manja seperti ini, sehingga dirinya dan Rico selalu saja mengalah padanya.
Rico sejak kecil bahkan telah terbiasa membujuk ibunya.
Aneh bukan..?
Bahkan putranya bisa mendewasakan pemikirannya lebih dahulu.. dibanding ibunya sendiri..
.
.
.
Sebelum lanjut Part2 - 120, jangan lupa di LIKE dulu yah.. 🤗
Yukk, gaskeuunn.. 💃