CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Bernasib sama


Kamar sudah hening, Tian sudah berlalundengan membawa senyum sinis penuh kemenangan, yang seolah-olah ingin menertawakan harga diri beserta semua kebodohan Arini.


Tapi lelaki itu memang benar. Bagaimana mungkin Arini melupakan point pentingnya. Point penting, yang justru merupakan point utama perjanjian mereka bahwa Arini harus bisa memberikan keturunan Djenar untuk Sebastian Putra Djenar dan neneknya Saraswati dalam kurun waktu kurang dari enam bulan, karena kalau tidak maka Sebastian Putra Djenar bisa menggugat cerai Arini dan itu berarti suntikan dana keluarga Djenar untuk perawatan ayahnya otomatis akan dihentikan.


Arini menggelengkan kepalanya berkali-kali sebelum membalikkan tubuhnya, kemudian menekan wajahnya yang berair diatas bantal sofa yang semula menjadi penyangga kepalanya.


Arini tidak mengerti mengapa pernikahannya dengan Tian menjadi serumit ini, padahal sejak awal dirinya sudah membulatkan tekad untuk mengabdikan seluruh hidupnya untuk suaminya yang telah sekian lama dinantikannya, bahkan sejak Arini belia. Tapi semuanya buyar manakala Tian membuat keadaannya semakin sulit. Andaikan Tian bisa bekerja sama sedikit saja, Arini optimis bisa melalui semuanya dengan lebih mudah.


Tapi bagaimana mungkin itu terjadi jika sejak awal pernikahan mereka sangat terlihat bahwa Tian benar-benar hanya ingin mengganggapnya sebagai alat tukar saja, tidak lebih.


Apakah justru dirinya-kah yang bersalah ?


Apakah dirinya-lah yang terlalu banyak menuntut ?


Apakah dirinya juga yang terlalu keras kepala seperti asumsi Tian ?


Saat ini Arini merasa mungkin memang ia yang terlalu tinggi menaruh harapan, tapi tak bisa ia pungkiri bahwa harga dirinya pun sangat terluka dengan semua perlakuan Tian padanya.


Demi Tuhan, ia tidak keberatan melakukan semua kewajibannya sebagai istri Tian. Tapi jika harus melemparkan tubuhnya seperti yang diinginkan Tian pada lelaki itu yang bahkan terang-terangan tidak menginginkan dirinya sama sekali..?


Tidak.. Arini merasa belum cukup mampu menghina dirinya sendiri hingga sekejam itu, sampai-sampai ia lupa bahwa semua itu akan berimbas pada proses perawatan ayah kedepannya.


Arini merasakan dadanya sesak tiada tara saat wajah tua ayah membayang dipelupuk matanya. Bulir bening melesak berlomba-lomba memenuhi wajahnya.


Diatas sofa disudut kamar yang dingin, tempat Arini merebahkan tubuhnya yang terasa tak bertenaga, Arini menekan dadanya berkali-kali yang seolah ingin meledak saat ia terisak hebat disana.


XXX


“Damn !!!”


Entah sudah berapa kali Tian memukul setirnya.


Ada apa sih dengan wanita bernama Arini itu ?? mengapa dia begitu bodoh dan keras kepala..?!


Tian merasa begitu geram, terlebih saat wajah polos Arini dengan sepasang mata berkaca-kaca kembali melintas dibenaknya, semua itu serta merta mengacaukan pengendalian Tian atas dirinya.


Tian menyadari sikapnya tadi sudah keterluan pada wanita itu, tapi semua itu terjadi diluar kehendak hatinya sendiri.


Entah kenapa ego-nya akan serta merta melakukan penolakan setiap kali Tian menyadari bahwa sudah seberapa sering ia memikirkan Arini meski sekalipun ia tidak ingin memikirkannya.


Hal ini tidak baik, karena sebelumnya Tian tidak pernah seperti ini. Terusik setiap saat hanya karena kehadiran seorang wanita..?


Astaga.. jangan-jangan otaknya ini sedang bermasalah..!!


“Shit ! Shit ! Shittt !!!”


Tian kembali melampiaskan kekesalannya pada setir mobilnya. Kakinya kembali menginjak pedal gas dibawah sana semakin dalam, membuat laju mobil yang dikendarainya semakin menggila menerobos pekatnya malam.


Bunyi nyaring ponselnya mampu mengalihkan perhatiaan Tian. Tian menatap layar ponsel sejenak, seketika mendapati nama Rico disana. Tian menekan tombol terima seraya mengenakan earphone di telinga.


“Halo, Pak Ceo ?”


Tian tersenyum kecut mendengar sapaan canda yang khas Rico. Suara Rico diseberang terdengar seolah sedang ingin menandingi dentuman musik yang hingar bingar dibelakangnya.


Rico Chandra Wijaya, adalah salah satu teman kuliah Tian di Harvard, mereka berteman sudah sejak lama dan Rico juga merupakan pemilik salah satu brand elektronik ternama di negeri ini. Rico dan ayahnya juga merupakan seorang pengusaha sukses yang memiliki beberapa kerja sama dengan Indotama Group, perusahaan Tian.


“Ternyata kamu masih hidup ??!!” Tian langsung melampiaskan kekesalannya mengingat Rico memang sudah membuatnya kesal karena kontrak kerja sama yang awalnya merupakan permohonan Rico untuk membantu melebarkan sayap perusahaannya, usai di acc oleh Tian malah terkesan ditelantarkan oleh Rico.


Dengan situasi hati Tian yang sedang kesal seperti ini maka tentu saja ini merupakan kesempatan yang tepat untuk Tian melampiaskan amarahnya.


“Sorry my bro.. ada hal darurat yang terjadi diluar dugaan..”


“Alasan saja !”


Tian mendengar Rico tertawa sumbang diseberang.


“Please forgive me, tapi kita bahas hal


bisnis nanti saja karena sekarang aku hanya ingin mengajakmu have fun malam ini. Merapatlah, bro.. disini ada gadis cantik..”


Tian menghela nafas sejenak. Untuk pertama kalinya sisi hatinya merasa enggan menuruti ajakan Rico. Tapi karena sepertinya tidak ada lagi pilihan lain pada akhirnya Tian menyerah.


“Dimana ?” Tanya Tian kemudian.


“Tempat biasa..”


Yang Rico maksudkan pastinya adalah ‘Corner’, salah satu tempat hiburan malam elite yang sering mereka datangi untuk hangout, yang pemiliknya tidak lain adalah Rico Chandra Wijaya.


Tanpa berfikir dua kali Tian membanting setir, mobilnya melaju kencang membelah malam ibukota yang dipenuhi pendar lampu yang gemerlap.


Sepertinya otaknya memang butuh lebih banyak refreshing, dan ajakan Rico tidak terlalu buruk mengingat seminggu terakhir ini fikiran Tian sangat penat karena memikul beban yang terlalu banyak, yang diakibatkan oleh kehadiran seorang wanita bernama Arini Ramdhan. Sunguh sial.


XXXXX


Gadis dengan balutan mini dress berwarna merah maroon itu sudah naik ke pangkuan Tian, mengalungkan kedua lengannya dileher, dadanya yang membusung bahkan menghimpit ketat dada Tian.


Bibir bergincu merah itu berkali-kali memohon dan merayu telinga Tian agar Tian setuju untuk meneruskan semuanya  ke hal yang lebih intim lagi, namun Tian tetap menggeleng.


Seperti prajurit yang pantang menyerah gadis itu berusaha menangkup wajah Tian, ingin meraih bibirnya.. namun tidak seperti biasanya Tian malah menepis wajah yang sudah berjarak tidak lebih dari dua centi meter dari wajahnya itu.


Memang benar saat ini Tian sudah berada dalam pengaruh alkohol, tapi itu bukan berarti kesadarannya benar-benar telah pergi.


Tian berdiri dari sofa setelah terlebih dahulu menepis tubuh gadis itu begitu saja kesamping. Lodi, teman Rico yang saat Tian datang sudah ada bersama Rico disana nampak meneguk minumannya lagi dengan dua orang gadis cantik masing-masing di kanan dan di kiri, sementara Rico tidak terlihat disana.


Tian mengerinyit saat menyadari tidak menemukan sosok Rico sontak beranjak. Ia berniat ke toilet, selain memang ingin buang air kecil, Tian juga ingin mengecek keberadaan Rico disana, namun sebuah tangan halus berusaha menarik pergelangan tangannya.


“Mau kemana, honey ?” rupanya gadis yang merayunya sejak tadi.


“Aku ingin ke toilet sebentar.” sambil


menghempaskan tangan itu sedikit kasar dari pergelangan tangannya, langsung melangkah keluar dari vip room tanpa mempedulikan tatapan kecewa gadis yang namanya saja Tian sudah lupa.


Masih dengan rasa penasaran Tian keluar dari toilet pria, melewati sebuah pintu samping Tian menghentikan langkahnya. Ia menangkap sosok Rico tengah duduk di salah satu bangku yang menghadap kearah luar sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.


Tian memilih menghampiri sahabatnya itu yang masih tidak menyadari kehadirannya.


“Kenapa kamu malah duduk disini ?”


Rico sedikit terhenyak mendapati teguran itu. Ia tersenyum kecut menatap Tian. “Kamu sendiri, kenapa kamu kesini ?” malah balik bertanya.


Tian duduk di salah satu bangku yang ada didepan Rico, mengeluarkan rokoknya dari saku celana, mulai menyalakannya dan menghisapnya dalam-dalam. “Tadi aku ke toilet, kemudian aku malah melihatmu duduk sendirian disini,” tukas Tian santai.


Rico tidak menyahut.


“Heii.. Whats up, bro ? tidak biasanya


kamu diam begini..?"


Rico tersenyum kecut.


"Masuk sana, kasian temanmu Lodi harus menyenangkan semua gadis yang ada didalam sana.”


Rico menggeleng sambil mengedikkan bahunya dengan acuh. “Kamu duluan saja, bro..”


“Susah payah menghubungi aku karena gadis-gadis itu, lalu kenapa sekarang kamu sendiri yang lemas tidak bersemangat ? seperti orang yang habis disunat saja..”


Rico tertawa kecil. “Lagi mager,” pungkasnya.


“Mager..?” ulang Tian sambil tertawa, “Emangnya kamu lagi PMS apa ?”


Rico yang melihat Tian tidak berhenti tertawa akhirnya ikut tertawa juga. mereka berdua tertawa bersama saat menyadari istilah Rico yang terdengar lucu ditelinga mereka.


Setelah puas tertawa mereka terdiam, sibuk dengan rokok masing-masing seolah membiarkan pikiran mereka berkelana sesuka hati.


“Aku punya sesuatu hal penting yang ingin kuberi tahu padamu, bro,” ucap Rico dengan wajah serius. “Hal ini sangat mengganggu fikiranku. Sepertinya harus aku mengatakannya pada seseorang, yah.. mungkin dengan begitu bisa membuat otakku sedikit lapang..”


“Apa itu ?” Tian mengerinyit menatap wajah Rico dengan tatapan bertanya-tanya. Entah hal apa yang membuat wajah Rico yang biasanya cool namun sedikit tengil itu menjadi kusut masai seperti ini. Hal itu membuat Tian sedikit iba melihatnya sampai-sampai dia lupa bahwa sudah berhari-hari wajahnya juga tak kalah kusut dari wajah Rico sekarang.


“Tapi kamu harus berjanji kamu tidak akan tertawa, bro.”


“Memangnya kamu mau mengatakan masalahmu atau mau melawak ?” kilah Tian.


“Aku sudah menikah.”


“Whattt ..??”


“Jangan tertawa.”


Kenyataannya hal yang diungkapkan Rico memang tidak membuat Tian tertawa, melainkan terperangah. Ternyata ‘menikah’ benar-benar bisa membuat kacau hidup seseorang. Buktinya hidupnya sudah kacau balau.. dan sekarang.. Rico..?


“Kaget ?” Rico meringis menatap ekspresi bengong Tian yang masih tercetak jelas disana.


“Jadi ini penyebabnya kamu seperti menghilang ditelan bumi akhir-akhir ini..?”


Rico menganguk lesu.


“Tapi.. kenapa tiba-tiba kamu bisa menikah ?” Tian tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya padahal hal itu sama sekali


bukanlah merupakan kebiasaannya.


“Sebulan yang lalu, ceritanya panjang.. intinya semuanya terjadi karena peran serta kedua orang tua kami yang memutuskannya begitu saja. Hanya menikah. Tidak ada pesta, hanya keluarga terdekat saja yang tau bahwa kami sudah menikah.”


Tian benar-benar terperangah. Nasib Rico ini sungguh tidak jauh berbeda dengan nasibnya sendiri. Rico menikah karena desakan orangtuanya.. dan dia juga menikah karena amanat mendiang ayahnya yang direalisasikan dengan baik oleh neneknya Saraswati. Tidak ada pesta, dan khusus untuk kasusnya bahkan tidak ada yang tau bahwa ia sudah menikah, termasuk Rico.


“Jangan bilang kalau kamu tidak mengenal istrimu.” ujar Tian semakin merasa penasaran dengan nasib Rico. Bisa-bisanya mereka berdua mengalami hal yang serupa seperti ini diwaktu yang nyaris bersamaan.


“Aku mengenalnya, bahkan kamu juga mengenalnya. Dan semua hubungan itu justru membuatku semakin merasa aneh..”


“Aku mengenalnya ? memangnya siapa yang kamu maksudkan ?”


“Kamu ingat tidak dengan Lila ?”


“Lila ?”


“Iya. Lila, teman kita dulu waktu di harvard.. “


Ingatan Tian melayang ke beberapa tahun yang lalu. Mencoba mengingat-ingat kembali


beberapa orang mahasiswi Indonesia yang ada di masa kuliah mereka dahulu dan ingatannya tiba-tiba tertumbuk pada seorang gadis kalem yang sedikit pendiam. Tidak seperti beberapa teman wanita mereka.. seingat Tian, Lila adalah seorang gadis yang lumayan manis, lumayan pintar, tapi memang tidak terlalu menyolok saat mereka kuliah dulu.


Lalu bagaimana bisa Rico yang se-popular ini bisa menikah dengan Lila ??


Meski Tian bertanya sambil membatin, tapi akhirnya Tian merasa malu sendiri.


Kenapa ia harus merasa heran dengan nasib Rico yang dijodohkan dengan Lila yang notabene anak seorang pengusaha hotel yang juga lulusan Harvard sama seperti dirinya dan Rico ?


Lalu apa kabar dengan nasibnya sendiri yang justru menikah dengan Arini, lulusan universitas lokal yang hanya bekerja sebagai karyawan biasa di perusahannya. Tian yakin kalau Rico mengetahui kisahnya, Rico


pasti akan tertawa terpingkal-pingkal, menertawakan nasibnya yang bahkan berkali-kali lipat lebih aneh dan tentu saja lebih sial dari nasibnya sendiri.


.


.


.


Bersambung..


Heiiyyuu.. sudah tinggalkan jejak ?


Alhamdulilah.. Thxx n Lophyuu all..😍