CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 045


Yang belum Like bab sebelumnya.. yukk bantu author untuk genapin Like nya dulu biar performa author gak jalan ditempat.. 🤗 Terima kasih.. 😘


Ditunggu kunjungannya di :


'Cinta Eleana dan Panglima Perang’.


Bantu vote, like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 🙏


.


.


.


“Siapa sih bro..?”


“Pak Tomi..”


“Maksudku yang berbicara denganmu sebelum pak Tomi..”


“Oohh..” Tian tidak langsung menjawab, namun beroh-ria lebih dahulu sambil tertawa sejenak. “Rudi..”


“Dasar Rudi manusia aneh.. kenapa dia malah meminta ditambahkan pekerjaan disaat semuanya sudah hampir selesai ? kamu sampai harus menyiksa pak Tomi se-tega itu..”


“Rudi hanya mencari cara untuk bisa berlama-lama. Apa lagi alasannya kalau bukan karena ingin bersenang-senang dengan istrinya..? memangnya kamu ? punya istri tapi dianggurin terus ?” sindir Tian membuat Rico melengos.


“Istri apaan ? aku tinggal menunggu Rei sedikit demi sedikit terbiasa tidak bersamanya.. kalau langsung tidak melihatnya sekaligus itu tidak mungkin kan..? jadi harus secara perlahan..”


Tian menggelengkan kepalanya mendengar kalimat Rico yang terdengar datar. “Apa sih yang membuatmu selalu menahan diri, Co ? Meta itu anak yang baik, dia mau menyayangi Rei. Kamu tidak akan mendapatkan istri yang lebih baik lagi dari Meta.. ya.. kalau lebih cantik sudah pasti banyak, tapi yang lebih baik..? catat itu..”


Rico tidak mengindahkan kalimat Tian dan malah memilih untuk menyeruput kopinya.


“Akhh.. kamu ini benar-benar rumit. Dulu dengan Lila kamu juga meragu seperti ini.. sekarang masih saja ragu..”


“Karena meragu itulah maka sampai detik ini aku tidak pernah berhenti menyesalinya..” ucap Rico terpekur sambil menaruh cangkir kopi dengan hati-hati ketempatnya semula.


Sejujurnya yang paling membuatnya menyesal hingga detik ini adalah hal yang sama. Bahwa pada kenyataannya hatinya tidak bisa seutuhnya memaknai perasaannya kepada Lila, wanita yang bahkan telah memberinya hadiah se-indah Rei didalam hidupnya, hingga diakhir hayat Lila.


Entahlah.. mungkin Tuhan telah mengutuk hatinya yang dulu terlalu sering bermain-main dengan cinta, sehingga ia sendiri tidak pernah bisa merasakan bagaimana rasanya cinta yang menggebu-gebu seperti yang Tian atau orang lain rasakan dan deskripsikan selama ini.. bahkan dengan wanita secantik dan sesempurna Lila.. hatinya tidak bisa serta merta tercuri.


“Oh, ya.. jadi Laras benar-benar memindahkan kantor pusat ke kota B ?” Rico mengalihkan pembicaraan yang mulai terasa mellow dihatinya itu.


“Hanya sementara. Paling lama enam bulan karena harus mengejar deadline dengan Fashion Milan. Kalau semua target awal sudah terpenuhi otomatis jalannya produksi juga sudah bisa normal dan tidak lagi diburu waktu.. juga sudah bisa dikendalikan dari sini..”


Rico manggut-manggut mendengar penjelasan Tian. Kemudian ia melirik Tian yang sedang mengutak-atik ponsel yang ada ditangannya.


“Tian, lalu bagaimana sikap Laras padamu belakangan ini..?” tanya Rico lagi dengan berhati-hati, karena tengah mencoba mengulik hal sensitive yang dimata Tian sangat terlarang untuk dibicarakan.


“Sudah aku bilang sejak awal kan.. bocah labil seperti Laras itu hanya butuh perhatian, dia tidak benar-benar menyukaiku..”


“Tapi biar bagaimana pun kalian..”


“Sudahlah, Co. Aku lebih suka menganggap bahwa sepenggal episode hidupku itu sudah hilang. Aku bahkan sungguh kesal jika masih bisa mengingatnya !”


“Tapi kan kalian..”


“Sejak Laras masih ingusan dia sudah sibuk mengejar Rudi. Kamu bahkan tau itu..”


“Lalu Rudi bagaimana ? apa dia sudah benar-benar sembuh dari trauma ?


“I hope…”


Pupil mata Rico membesar. “Memangnya sudah tidak pernah ke dokter lagi ?”


“Sudah sekian lama berlalu, Co.. yang aku lihat sekarang Rudi juga sudah bisa hidup dengan normal. Dia bahkan mulai bisa membuka hatinya sejak mengenal Meta.. upss.. sorry..” Tian langsung merapatkan mulutnya yang sedikit keceplosan.


Rico nampak melengos mendengarnya.


“Nah.. mulai panas kan..?” Tian tertawa mengejek.


“Apa ?!”


“Kopinya..” sambung Tian masih sambil tertawa, seraya meraih cangkir kopi miliknya dengan senyum sumringah, yang membuat Rico lagi-lagi melengos kesal.


XXXXX


“Haihhh.. kalau seperti ini bisa lama urusannya nih..” pak Tomi nampak bersandar lesu di salah satu kursi yang berada di meeting room kantor cabang indotama group itu.


“Memangnya ada sih pak ?” tanya Rudi pura-pura tidak tau-menahu.


“Ini laporannya yang kemarin sudah final malah sama pak Tian disuruh bikin lagi.. harus diperinci satu demi satu per item.. belum juga mau menyesuaikan laporan yang lain..” pak Tomi memandang putus asa tumpukan dokumen yang terlihat semakin meninggi didepan mejanya, terletak bersisian dengan laptop yang layarnya masih menyala. “Padahal saya sudah telanjur janji dengan istri dan anak saya kalau kita mau weekend ke puncak.. egh, tidak taunya malah jadi begini..” suara pak Tomi terdengar semakin pasrah. Mau bagaimana lagi.. titah bos besar Ceo indotama group itu tidak mungkin terbantahkan, apalagi sampai diabaikan. Bisa-bisa berabe tujuh turunan.


Rudi yang mendengar hal itu mau tidak mau sedikit merasa bersalah. Tapi apa boleh buat ? dirinya juga sedang berusaha untuk memperbaiki rumah tangganya sendiri terlebih dahulu yang bahkan belum menemukan jalan terang untuk dibawa kemana.


“Mau bagaimana lagi, pak.. ya sudah kita lembur saja lagi sampai malam..” pungkas Rudi memberi saran sebelum akhirnya kembali fokus pada angka-angka yang ada dilayar laptopnya.


“Kalau dipaksakan kasihan juga karyawan yang disini pak Rudi.. mereka juga kan butuh istirahat.. butuh weekend juga.. masa iya mau kita tahan lembur dikantor..”


Rudi tertawa kecil. “Iya juga sih..”


“Ya sudahlah.. kalau begitu untuk hari ini, sore kita sudahi saja. Tidak apalah sekali-kali ngumpul sama orang tua agak lama..” pak Tomi kembali berseloroh yang disambut Rudi dengan senyum lebar. “Yakin tidak mau ikutan pak Rudi ?”


“Oh tidak.. tidak.. terima kasih pak Tomi, sayanganya saya sudah punya plan sendiri..” tolak Rudi lagi saat pak Tomi kembali menawarinya untuk pergi bertandang ke rumah orangtunya.


XXXXX


Demi apa ?


Laras mendengus kesal, saat merasakan dorongan pada jemarinya yang semakin gatal ingin mengetahui keberadaan Rudi yang tanpa jejak.


Apa lelaki itu marah dengan sikapnya tadi pagi ?


Tapi salah dia juga kan ? kenapa harus berpenampilan se-keren itu sih ? membuat gondok saja..! memangnya dia mau menarik perhatian siapa ?


Bunyi nyaring ponsel yang tiba-tiba menyeruak memenuhi keheningan ruang kerjanya membuat Laras terlonjak, sebuah nama yang sejak tadi pagi ia nantikan kabarnya mendadak muncul dilayar ponsel Laras.


Nanti tepat pada dering kelima barulah Laras mengangkat panggilan itu sambil terlebih dahulu menenangkan degup jantungnya yang seolah ingin berlari dari tempatnya.


“H-halo, kak..”


“Sudah sore. Lalu aku harus bagaimana ?” kalimat diujung sana terucap begitu saja tanpa sungkan. Lelaki itu nampaknya memang sangat benci berbasa-basi.


“Apanya yang bagaimana ?” pura-pura blo’on.


“Apa kamu belum berubah pikiran..?”


Laras membisu, membuat nafas Rudi terdengar terhembus berat diseberang sana.


“Baiklah kalau begitu aku akan kembali dengan pak Tomi sekarang. Jangan lupa makan, dan ingat.. jangan lagi mengebut seperti tadi.. jaga dirimu baik-baik..”


Pembicaraan itu telah usai. Tiga detik berlalu dan Laras masih terhenyak ditempat.. sebelum akhirnya ia bergegas meraih tas sekaligus kunci mobil yang tergeletak bersisian diatas meja kerjanya.


“Wi, aku duluan yah.. ada hal penting yang harus aku urus..” berucap pada Dewi, sekretarisnya yang terlihat masih setia dibelakang laptop.


“Baik, bu..” angguk Dewi serta-merta meskipun sedikit mengerinyit melihat Laras yang melesat keluar dari ruangannya seperti peluru.


Langkah Laras terlihat bergegas keluar dari butik sementara tangannya sibuk men-dial nomor Rudi kembali.


“H-halo.. kak..” ucapnya tergesa begitu panggilan itu tersambung.


“Ada apa ?”


“Jangan pergi dulu yah, kak.. biar aku yang kesana untuk menjemput..”


“Tidak perlu.”


“T-tapi kak..”


“Aku bilang tidak perlu.”


Langkah Laras terhenti begitu saja. Ia urung mendekati mobilnya saat mendengar kalimat tegas Rudi diseberang. Hatinya mendadak terasa kosong.. dan sebulir bening langsung menyeruak begitu saja..


“Jangan menangis..”


Laras hampir berteriak ketika sebuah lengan telah memeluknya dari belakang, sambil berbisik begitu dekat ditelinganya, namun mulutnya yang hendak memekik sontak dibekap oleh sebelah tangan yang tadi ikut memeluk pinggangnya.


“Ssstt.. jangan berteriak, ini aku..” wajah Rudi telah begitu dekat dengan wajahnya, hanya berjarak kira-kira tidak lebih dari dua puluh centi.


Setelah meyakini bahwa Laras sudah mengenalinya Rudi pun langsung melepaskan tangannya yang membekap mulut mungil wanita itu sambil tertawa kecil.


“Jahat !!” Laras meninju lengan Rudi berkali-kali, membuat tawa Rudi semakin keras.


Bibir Laras sudah naik dua centi saking sebalnya karena merasa telah dipermainkan, belum juga dengan degup jantungnya yang tadinya nyaris copot karena mengira sedang dipeluk dan dibekap oleh orang jahat.


“Maaf..” ucap Rudi terlihat bersungguh-sungguh meskipun celah mulutnya masih mengulum senyum, sisa-sisa dari tawanya barusan.


“Kenapa tadi kamu mengatakan akan pergi dengan pak Tomi ?”


“Ya karena kalau kamu benar-benar tidak ingin aku disini lebih baik aku ikut pak Tomi ke xx.” ucap Rudi seraya mengucapkan salah satu kompleks perumahan yang ada di kota B, tempat orang tua pak Tomi tinggal.


“Memangnya pak Tomi belum kembali ? jadi pekerjaan kalian belum selesai ?” sepasang mata Laras sontak melotot, ia benar-benar merasa kesal karena telah dibohongi dan dipermainkan hingga berkali-kali.


Rudi mengangguk sambil lagi-lagi tertawa. “Senin sore kami baru akan kembali.” jawabnya kali ini dengan jawaban yang sebenar-benarnya.


Mendengar itu sisi hati Laras terasa lega tiba-tiba. “Benarkah ? kalau begitu hari minggu besok kita bisa jalan-jalan. Aku mau mengajakmu pergi ketempat-tempat yang..”


“Tidak usah jalan-jalan. Masih lebih baik didalam kamarmu seharian.. itu jauh lebih menyenangkan..” pungkas Rudi lagi to the point membuat sepasang bola mata Laras nyaris tumpah dari sarangnya.


Dan sebelum Laras berhasil menyela kalimat buah dari ke-omesannya itu Rudi sudah buru-buru mengambil alih kunci mobil dari tangan Laras.


“Sini.. biar aku saja yang menyetir..” ujarnya acuh seraya berlalu begitu saja dari hadapan Laras, mendekati mobil Suv berwarna putih susu yang terparkir tidak jauh dari situ..


.


.


.


Bersambung..


Bukan double up loh ya.. tapi TRIPLE UP.. 🥰


So, mana dong dukungannya untuk author..? 😅


Favoritekan novel ini, like dan comment setiap bab-nya, dan berikan hadiah serta vote yang banyak.. adalah harapan author selalu.. 🙏


Thx and Lophyuu all.. 😘