CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Ketahuan


Saat Arini membuka matanya yang sejenak terpejam ia melihat Tian sedang bercakap dengan seseorang. Itu pasti Rudi. Arini menajamkan matanya.. disana ia melihat Tian terlihat gusar saat bicara dengan Rudi.


‘Ada apa..? kenapa dia sepertinya kesal begitu..?’


Arini tidak bisa mencegah rasa penasarannya. Rudi yang terlihat keluar dari pintu ruangan Tian dengan raut wajah yang bingung membuat jiwa kepo Arini semakin meronta.


Arini menatap dinding kaca itu lagi dan darahnya tersirap saat tiba-tiba lelaki dibalik kaca itu sedang menolehkan kepala kearahnya.


Pandangan mereka bertemu sejenak dan Arini bisa merasakan betapa dinginnya tatapan lelaki itu kepadanya sebelum akhirnya tirai jendela itu tertutup rapat.


‘Apa lagi kesalahanku kali ini..? kenapa dia seperti marah padaku juga..?’


Arini menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Arini..” sebuah suara kembali mengagetkannya. Arini berbalik, mendapati kepala Meta muncul dari bilik kubikel disebelahnya.


“Aduh, Meta.. kamu mengagetkan aku saja..” Arini mengusap dadanya perlahan.


Meta tertawa kecil. “Kamu melamun sih.. makanya ditegur sedikit saja langsung kaget. Mikirin apa sih, Non ? suamimu yah..?” goda Meta.


“Apa sih, Met.. godain orang terus kerjaan kamu..” Arini cemberut, apalagi saat mendapati raut wajah Meta yang semakin terkikik geli melihat bibirnya yang manyun dua centi. “Lagian kamu mau apa tadi ?” Tanya Arini mencoba mengalihkan pembicaraan, karena kalau tidak maka Meta tidak akan berhenti menggodanya.


“Aku mau pinjem hekter, punyaku rusak nih..” sambil mengacungkan hekter kecil yang katanya rusak itu.


Arini membuka laci mejanya kemudian mengambil benda yang dibutuhkan meta dan segera menyerahkannya kepada gadis itu. “Nih.. pakai punyaku aja dulu..”


“Okkk.. thanks yah, Rin..”


Arini menganguk, seiring dengan kepala Meta yang tenggelam di dinding pembatas kubikel.


Arini ingin melanjutkan pekerjaannya, tapi pembicaraan nya dengan Rudi tadi di lift seolah menggelitik hatinya.


‘Pak Tian menyuruh Rudi untuk membelikan nasi goreng dengan telur ceplok setengah matang untuk dia sarapan ? tapi.. mengapa Pak Tian menolak saat tadi pagi ia menawarkan makanan yang sama..? Apa itu artinya Pak Tian benar-benar tidak sudi memakan apapun hasil masakannya..? Arogan sekali..! Apa sebesar itu rasa ketidak sukaan Pak Tian padanya..?’


Menyadari hal itu Arini merasa kedua bola matanya mulai menghangat, namun dengan cepat ia mengerjapkan kedua matanya kuat-kuat seolah ingin mencegah robohnya tanggul pertahanannya.


Sesungguhnya Arini merasa benci saat hatinya mulai lemah seperti ini. Bagaimana bisa ia memenangkan hati Tian kalau hatinya mudah dilukai ?


Arini mencoba menguatkan hati meskipun saat ini ia merasa hatinya seperti ditumbuk dengan keras. Terlalu


jauh jarak antara dirinya dengan seorang Sebastian Putra Djenar.. namun Arini sudah bertekad untuk tidak akan


menyerah dengan mudah, meskipun rasa pesimis selalu menghantuinya mengingat bagaimana kerasnya Tian menolak untuk memberinya kesempatan.


Arini sadar akan hal itu, tapi entah kenapa disaat yang sama, hatinya justru tidak bisa diajak berkompromi, meskipun Arini tau, bahwa mengharapkan Tian ibarat mengharapkan sebuah bintang dilangit.


Indah, berpendar, namun sepertinya begitu sulit untuk menggapainya.


---


Pov


Bunyi pintu diketuk dari luar yang dibarengi dengan suara pintu terbuka tidak membuat kepala Tian terangkat dari setumpuk dokumen yang ada didepan meja kerjanya, sedangkan di sisi yang lain layar laptopnya juga menyala.


Rudi masuk kedalam ruangan sambil menentang kotak makanan berisi nasi goreng telur sesuai pesanan sang bos.


“Pak Tian, ini nasi gorengnya..”


“Kamu tidak lupa dengan telur ceplok setengah matangnya kan, Rud ?”


“Tidak, Pak, semua sudah sesuai dengan pesanan,”


Mendengar itu Tian langsung mengangkat wajahnya. “Taruh disitu, Rud. Langsung siapkan karena saya mau makan sekarang,” ucapnya sambil meletakkan dokumen yang ada ditangannya keatas meja.


“Oh ya, Pak.. tadi saya bertemu ibu Arini di lift.”


Gerakan tangan Tian terhenti mendengar nama Arini pada kalimat Rudi. Tubuhnya tiba-tiba terasa kaku.


Tian mendongak menatap kotak nasi goreng yang ada diatas meja yang sudah disiapkan Rudi, kemudian menatap Rudi lamat–lamat, membuat Rudi bingung mendapati pandangan yang intens itu.


Boss nya ini setelah menikah dengan Arini gerak–geriknya semakin sering membingungkan saja, pikir Rudi.


“Arini.. istri saya maksud kamu ?” ulangnya seolah ingin memastikan. Berharap bahwa barangkali saja itu adalah Arini yang lain meskipun terdengar sangat mustahil.


“Iya Pak,” Rudi menganguk.


‘Kalau bukan istri anda, lalu istri siapa lagi memangnya..?’


“Apa dia bertanya sesuatu ?“ Tanya Tian semakin was-was.


“Hanya bertanya apa yang saya bawa, Pak..” jawab Rudi jujur sambil melirik kotak nasi goreng yang tergolek lesu diatas meja seolah sudah seperti terdakwa saja.


“Lalu kamu jawab apa ?”


Rudi menatap Tian bingung, masih tidak mengerti apa yang sebenarnya diinginkan Pak Tian kali ini sehingga perihal sepele seperti itu membuat Pak Tian menginterogasinya hingga detail. “Saya.. saya jawab yang sebenarnya, Pak..”


“Astaga..”


Tian langsung memijit keningnya, yangditakutkan Tian akhirnya terjadi juga.


Melihat pemandanganitu Rudi semakin tidak mengerti saja. Memangnya ada apa sebenarnya ? Apa lagi


yang salah ?


Tian menatapnya lagi. “Jangan bilang bahwa kamu mengatakan padanya kalau ini nasi goreng dengan telur ceplok setengah matang.” Tian terlihat mulai kalut.


“Maafkan saya pak, tapi saya memang mengatakannya. Apa saya salah Pak..?”


“SALAH !”


Teriak Tian cepat, tentu saja Rudi terkejut mendengarnya.


“Astaga..” Tian memijit keningnya lagi.


Rudi yang semakin bingung melihat ekspresi Tian sontak berfikir keras. Sebenarnya apa yang telah dia lakukan sehingga boss nya terlihat begitu kesal. Masa iya dia dimarahi hanya karena memberitahu ibu Arini perihal nasi goreng sih ? Apa ini tidak terlalu konyol..?


Tian terlihat menarik nafas, mencoba menenangkan pikirannya yang sontak menjadi kacau. Sial. Ini gara-gara nasi goreng dengan telur ceplok setengah matang milik Arini tadi pagi yang membuatnya tiba-tiba merasa ingin makan makanan yang sama, dan sial nya lagi kenapa juga Rudi harus bertemu Arini di lift dan membeberkan semuanya.


Aakhhhh…!!


“Ya sudah.. tolong kamu cek ruang rapatnya sekaligus cek lagi kesiapan materi nya.”


Wajah Tian bahkan masih terlihat keruh meskipun dia sudah pasrah dengan kenyataan perihal nasi goreng yang sudah telanjur dibeberkan Rudi pada Arini.


Mau bagaimana lagi ? dirinya sudah ketahuan..


“Baik Pak..” Rudi berbalik, keluar dari ruangan Ceo masih dengan otak yang tak habis pikir, baru kali ini Pak Tian kesal kepadanya hanya karena seporsi nasi goreng dengan telur ceplok setengah matang. Apa ini ada hubungannya dengan ibu Arini yah ? pikir Rudi lagi.


Hingga kakinya sampai diruang rapat yang terlihat sudah siap itu Rudi masih benar-benar tak habis fikir dimana korelasinya seporsi nasi goreng dengan hubungan Pak Tian dan istrinya itu.


---


Tian bukan tidak tau kalau Rudi keluar dengan wajah yang diliputi kebingungan.


Huhh !!


Tian memijit keningnya. Kenapa juga sih Rudi harus bertemu Arini ? Kenapa juga Arini harus bertanya macam-macam ? Kenapa juga Rudi harus menjawab dengan jujur bahwa ia sudah menyuruhnya untuk membeli sarapan


yang sama persis dengan sarapan Arini tadi pagi..?? Lalu apa yang nanti ada dibenak Arini setelah mengetahui semua itu ?? Ge-er ?? Baper ?? Akkh..!!


Tian tidak bisa membayangkan entah apa yang ada diotak Arini saat mendengar dari Rudi bahwa ia menyuruh asistennya itu untuk membelikan nasi goreng lengkap dengan telur ceplok setengah matang untuknya sarapan, sementara tadi pagi ia dengan tegas menolak mentah-mentah saat ditawari makanan yang sama.


Benar-benar sial.. bathin Tian kesal.


Ketika wajah Tian menoleh kesamping Tian baru menyadari bahwa sejak tadi tirai kaca disampingnya terbuka, dan lebih terpengarah saat melihat tatapan mata Arini yang menatapnya lekat diseberang sana.


Tian membuang mukanya, meraih remote tirai dan menekan tombol untuk menutup tirai tersebut. Entah kenapa Tian merasa sangat malu saat melihat Arini.


Dengan gontai Tian melangkah ke sofa, menghempaskan tubuhnya disana, menatap lunglai kotak makanan dhadapannya sebelum akhirnya membukanya.


Aroma nasi goreng yang khas langsung menguar dari sana, tapi.. sepertinya aroma nasi goreng Arini tadi pagi lebih lezat daripada yang ini..


Tanpa berfikir dua kali Tian sudah melahapnya. Sejak tadi pagi perutnya memang sudah lapar dan itu disebabkan oleh aroma masakan Arini yang menggiurkan. Mengingat hal itu Tian bisa langsung menyimpulkan, jika aroma nya sudah begitu lezat, rasanya pasti juga sangat lezat.. pikirnya sambil terus melahap makanan dihadapannya, membayangkan bahwa yang dilahapnya adalah nasi goreng yang dimasak Arini tadi pagi.


Bersambung..


Author lagi sedih nih, baru sadar kalau pengikut


author cuma 9. Kesayangan author yang lain pada kemana yah..? hehehehe…


Jangan lupa subscribe profil author yah.. Lophyuuu all…