
"Akhirnya aku juga yang harus mencarinya lebih dahulu..? anak-anak jaman sekarang sungguh hebat yah, mereka yang berbuat salah.. malah orangtua yang datang mengemis.." Yunita Wijaya mengomel lagi, namun tak urung ia tetap berdiri dari duduknya, kembali ke meja sebelumnya untuk mengambil ponsel yang tadi ia tinggalkan disana usai menelpon dokter Tio.
Wajah Yunita Wijaya terlihat masih datar, menandakan tidak sedikitpun pemandangan bahu Meta yang turun naik dihadapannya mampu melemahkan hatinya yang sedang dipenuhi amarah.
Tidak berapa lama wanita itu telah kembali lagi ke sofa dengan wajah yang semakin terlipat. "Tidak diangkat, Yah.." ujarnya semakin gusar karena dua kali panggilan telponnya tidak direspon oleh Rico.
"Mungkin Rico sedang sibuk. Tunggulah sebentar lalu coba hubungi lagi.." ujar Ahmad Wijaya kearah istrinya yang telah menghempaskan kembali tubuhnya tepat disampingnya.
"Ayah, Ibu.. boleh aku pinjam toiletnya sebentar..?" ujar Meta lirih seraya menyusut sudut matanya.
Saat ini Meta ingin sekali membasuh wajahnya dengan air dingin, kalau perlu merendam kepalanya sekalian. Sejak tadi kepalanya terasa sakit, dan menangis membuat kepalanya semakin berat saja, belum juga saat ini perutnya ikut-ikutan terasa nyeri.
"Toiletnya ada di sebelah sana. Pergilah, Nak.." Ahmad Wijaya telah mengarahkan telunjuknya kearah toilet.
Meta menaruh tas tangannya keatas meja. Ketika Meta hendak bangkit mendadak dunia seolah sedikit bergetar, seperti sedang terjadi gempa kecil yang membuatnya harus memijat pelan pangkal hidungnya yang terletak diantara kedua alis.
Meta mencoba berdiam diri selama beberapa detik sebelum akhirnya menarik nafas sepenuh rongga, berusaha membuat lapang seluruh paru-parunya yang kini ikut-ikutan nyeri dan terasa agak sesak. Mengumpulkan semua kekuatannya, berusaha berdiri dan berpijak dengan kedua kaki yang mendadak gemetar ketika tubuh mungilnya bertumpu sepenuhnya disana, disertai nyeri dipinggangnya yang mulai terasa semakin hebat.
Meta merasa panik, saat menyadari meskipun ia telah memaksakan diri sedemikian rupa, namun kondisi tubuhnya ternyata memang sedang tidak baik-baik saja serta tidak bisa lagi diajak berkompromi.
Dan semuanya telah terlambat.. karena detik berikutnya yang Meta rasakan hanyalah sengatan ribuan jarum yang seolah menusuk perutnya, seiring dengan ribuan kunang-kunang yang telah menyelimuti pandangannya.. membuat tubuhnya telah kembali terkulai tak berdaya diatas sofa.
Sayup-sayup telinganya masih bisa menangkap suara pekikan kaget dari Ibu Rico begitu melihat tubuhnya yang merosot jatuh dengan gerakan slow mo.. dan akhirnya semuanya berubah menjadi gelap..
Hanya gelap..
Sangat gelap..
Disusul keheningan yang terasa begitu panjang dan sunyi..
XXXXX
"Panggil Tio kesini..!" Ahmad Wijaya tidak bisa lagi menyembunyikan kepanikannya, saat menyadari menantunya yang telah terkulai diatas sofa karena kehilangan kesadaran.
Ia telah beranjak mendekati Meta, menyentuh dahi yang terasa agak hangat, namun ia lega saat menyadari nafas Meta yang masih terdengar berhembus pelan. Sementara Yunita Wijaya, istrinya, masih mematung ditempatnya usai terpekik, mulutnya pun bahkan masih terbuka.
"Ibu.. jangan terlalu panik, cepat panggilkan saja Tio kesini.." ujar Ahmad Wijaya lagi begitu menyadari istrinya yang masih mematung dengan wajah pucat pasi.
"S-sudah.. sejak tadi aku sudah menyuruh Tio datang.. m-mungkin tidak lama lagi sampai.." suara wanita itu bergetar, kemudian meskipun terlihat ragu, akhirnya ia memilih mengikuti suaminya, beranjak dari tempat duduknya dan duduk disisi yang lain tepat disebelah Meta yang masih tidak bergerak sedikitpun.
"Dia pingsan.." ucap Ahmad Wijaya, membuat Yunita Wijaya semakin tergeragap gelisah.
"A-Ayah.. I-Ibu takut.." cicitnya nyaris menangis.
Alis Ahmad Wijaya berkerut mendengar suara yang gemetar itu. "Takut apa..?"
"Jangan-jangan.. dia shock.. k-karena Ibu memarahinya dengan keras.."
"Sudah, jangan berfikir yang tidak-tidak karena sepertinya Meta memang sedang tidak enak badan.."
Refleks Yunita Wijaya meraba dahi Meta yang kini dihiasi beberapa bulir keringat dingin. Sedetik kemudian ia menarik beberapa lembar tissue dari kotak tissue yang ada diatas meja, mengusap keringat yang menghiasi dahi Meta tersebut.
Dalam keadaan seperti ini akhirnya sisi keibuannya menang dengan mudah.
Ahmad Wijaya mengulum senyum melihat pemandangan itu.
"Coba hubungi Rico lagi.." titahnya lembut.
Tangan Yunita Wijaya masih terlihat bergetar halus ketika ia kembali berusaha menekan ponselnya, mencoba menghubungi putranya kembali namun yang ada akhirnya ia harus kembali pasrah saat menaruh ponselnya keatas meja dengan lunglai.
"Masih tidak diangkat..?" ujar Ahmad Wijaya seolah bisa menebak dengan jitu kebenarannya, yang dibalas dengan anggukan lesu oleh Yunita Wijaya. "Astaga.. kemana sih anak itu..?" gumam Ahmad Wijaya lagi merutuk kesal, saat menyadari bahwa lagi-lagi.. Rico tidak merespon panggilan telpon dari ibunya, untuk yang kesekian kalinya.
XXXXX
"Bagaimana, Tio..?"
Dokter Tio mengangkat wajahnya, ia tersenyum menatap kedua wajah gelisah yang ada dihadapannya, namun detik berikutnya ia kembali mefokuskan diri pada wanita yang baru saja siuman serta tengah berbaring lemah diranjang, juga sambil menatapnya dengan was-was.
"Dokter, aku tidak apa-apa, kan..? aku tidak sedang sakit kan..?" berondong Meta. Rasanya sangat malu berbaring seperti ini diranjang kedua orangtua Rico disaat situasinya juga sedang tidak menyenangkan. Ingin rasanya Meta langsung bangkit dari pembaringan namun apalah daya tubuhnya terasa begitu berat, seolah terpaku diranjang.
Lagi-lagi dokter Tio tersenyum menanggapi pertanyaan polos itu.
"Diagnosa saya sementara ini, anda hanya mengalami kram perut biasa. Perbanyak istirahat saja dan sebaiknya untuk sementara waktu bisa mengurangi aktifitas.."
Dokter Tio terlihat mengiyakan. "Maaf, kalau boleh saya tau, apakah anda ingat kapan terakhir kali anda menstruasi..?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Meta sedikit memutar otaknya, dan Meta baru tersadar jika tidak salah mengingat, bulan ini ia memang belum kedatangan tamu bulanannya.
"Seharusnya awal bulan, dok.. tapi sampai sekarang memang belum.."
Dokter Tio terlihat manggut-manggut. "Apakah akhir-akhir ini sering merasa lelah, mual, atau tidak berselera makan.."
Mendengar kalimat dokter yang bak tebakan jitu tersebut Meta pun kembali mengangguk lemah.
Yah.. Meta memang mengalami semua yang ditanyakan dokter Tio tersebut tapi sejauh ini ia tidak terlalu risau karena semua yang ia rasakan masih dalam batas yang bisa ia atasi.
"Sebaiknya, Nyonya beristirahat saja dulu.." ujar dokter Tio begitu menyadari kondisi Meta yang masih belum terlalu fit.
Mendengar itu Meta pun memejamkan matanya, terlebih saat merasakan kepalanya yang seolah kembali berputar.
Dokter Tio pun memutuskan bangkit dari kursi, dan melangkahkan kakinya menjauhi ranjang.
Melihat itu dengan dipenuhi rasa ketidaksabaran sejak menyimak tanya jawab singkat antara dokter Tio dan Meta tadi, kedua orang tua itu pun bergegas memburu langkah dokter Tio.
"Tio.. apa.. apa itu berarti.." saat menatap dokter Tio, ekspresi wajah Yunita Wijaya sulit ditebak.
Dokter Tio tersenyum dengan kepala yang mengangguk kecil.
"Itu baru diagnosa awal saja, Bu. Kalau ingin lebih jelas, sebaiknya melakukan test instan atau lebih bagus lagi jika bisa memeriksakan diri langsung ke dokter obygyn.."
Mendadak air wajah Yunita Wijaya yang semula cemas berganti senyum, gunung es raksasa dihatinya seolah lumer begitu saja terlebih saat ia menatap suaminya Ahmad Wijaya yang juga menatapnya dengan senyum penuh pengharapan yang sama, kebahagiaan yang sama, demikian juga dengan rasa haru..
XXXXX
Tian mengerinyitkan alisnya. Bunyi beberapa notifikasi di ponselnya membuat ia merogoh ponselnya untuk melihat pemberitahuan apa saja yang ada disana, namun diantara beberapa pemberitahuan yang masuk, ada satu pemberitahuan yang langsung mencuri perhatiannya.
Meta baru saja mengubah sedikit jadwalnya pada besok hari dengan menyisipkan sebuah pertemuan sebelum makan siang.
Hal itu memang sering terjadi dalam batasan yang bisa ditolerir olehnya, namun melihat siapa nama yang disisipkan meta tersebut cukup membuatnya sedikit terhenyak.
'Ahmad Wijaya..?'
Bukankah Rico sedang berencana mengunjungi kedua orangtuanya dalam waktu dekat? tapi.. kenapa sekarang Ayah Rico malah berada disini, dan bisa membuat Meta mengatur jadwal secara urgent untuk bertemu dengannya..?
'Ada yang tidak beres..'
Tian membathin, tanpa berfikir panjang ia menekan nomor Rico.
"Damn.." umpat Tian ketika Rico tak kunjung mengangkat ponselnya meskipun ia telah mendial sebanyak dua kali.
Tian tercenung sejenak, memaksa otaknya untuk bisa berfikir cepat sebelum akhirnya ia menatap Haris yang duduk dibangku depan.
"Haris.."
"Iya, Pak?"
"Tolong carikan informasi secepatnya tentang tamu Hotel Mercy atas nama Ahmad Wijaya, dan dikamar berapa beliau menginap."
"Baik, Pak.."
Tian kembali membuka ponselnya, menekan nomor Dani, berharap ia bisa tersambung dengan Rico secepatnya, lewat asisten Rico itu.
.
.
.
Bersambung..
Like and Support terus yah.. 😍
Thx and Lophyouuuu all.. 😘