CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 012


Halo Readers kesayangan.. baca juga yuk karya aq :


‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.


Bantu like, coment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR.


Ditunggu kunjungannya yah.. 🤗


.


.


.


Setelah berdiri beberapa saat dan menimbang-nimbang akhirnya Meta memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruang kerja Rico yang telah berada dihadapannya, sebelum akhirnya memberanikan diri mendorong perlahan daun pintu yang memang tidak terkunci itu.


“Masuklah..” suara berat Rico terdengar begitu menangkap bayangan Meta dibingkai pintu.


Meta melangkahkan kakinya kedalam.


“Duduk.” titah Rico lagi seraya menunjuk kursi yang berada tepat dihadapannya.


Meta kembali menurut tanpa kata. Tubuhnya kini telah terhempas sempurna diatas kursi, membuat posisinya dan Rico berhadap-hadapan persis hanya berbatas meja kerja Rico yang tidak terlalu besar.


“Kata bik Surti, pak Rico ingin bicara ?”


Rico mengangguk kecil seraya menepikan laptopnya yang masih menyala sebelum kemudian menatap Meta sejenak.


Meta sengaja segera bertanya tanpa basa basi lagi agar pembicaraannya dengan Rico cepat terselesaikan. Bukan apa-apa.. sejak insiden memalukan dua hari yang lalu saat entah setan apa yang merasukinya hingga ia berani mencium pipi lelaki dihadapannya ini, sejak itu pula sedapat mungkin Meta selalu berusaha sekuat tenaga untuk menghindar dari interaksi apapun dengan Rico.


Tapi bukannya langsung menjawab pertanyaan tesebut Rico malah berucap hal yang lain.. “Apa Rei sudah tidur...?”


“Sudah..” Meta memilih menjatuhkan arah tatapannya keatas meja, menghindari kontak langsung dengan sepasang mata milik Rico yang bersinar tajam.


“Jadi.. besok kamu tetap bersikeras untuk pulang kerumah ?”


“Tentu saja aku harus pulang kerumah, pak..”


“Lalu bagaimana dengan Rei..?”


Meta tercenung lama. Hal ini bukannya tidak pernah ia pikirkan. Sejak awal Meta bahkan sudah memikirkannya tentang bagaimana nantinya setelah tiga hari ini terlewat. Meta bisa saja melenggang keluar dari rumah pak Rico begitu saja.. tapi bagaimana dengan Rei..? dan.. perasaannya sendiri..?


Mengingat semua itu bathin Meta mendadak gundah, meskipun ia menyembunyikan kenyataan hatinya itu rapat-rapat.


“Rei tidak bisa lagi jauh darimu.”


“Aku tau. Makanya aku ingin menanyakan.. kalau pak Rico mengijinkan, aku akan membawa serta Rei bersamaku.”


“Tidak.”


Meta terhenyak.


“Aku tidak mungkin membiarkan Rei ikut denganmu.”


“Kalau begitu aku tidak punya alternatif lain lagi, pak..” imbuh Meta menyembunyikan perasaan putus asa yang hinggap dihatinya begitu saja.


“Kamu kan sudah ditugaskan khusus oleh Tian. Kamu bahkan akan bekerja dari rumahku..”


“Aku tau, pak. Tapi bukan berarti aku harus tinggal di rumah ini sampai proyek Indotama Times Square selesai. Aku harus pulang, karena aku juga punya rumah, punya orang tua..”


“Aku akan memikirkan bagaimana caranya agar kamu tetap tinggal dirumahku..”


“Tapi itu tidak mungkin pak..”


“Kamu keberatan ?”


“Tentu saja aku keberatan. Aku tidak mungkin tinggal dengan pak Rico dirumah ini. Apa kata orang nantinya ?” Meta berucap sedikit sewot.


“Lalu apa yang kamu inginkan ?”


“Aku hanya ingin pulang kerumah.”


“Lalu bagaimana dengan Rei ?”


“Sudah aku katakan dengan jelas.. bahwa untuk sementara ini aku tidak memiliki alternatif lain selain dengan membawa Rei bersamaku. Itupun kalau pak Rico mengijinkan. Karena kalau tidak.. aku tidak bisa memikirkan cara yang lain lagi..”


Rico terdiam. Keadaan ini sungguh pelik karena dirinya juga tidak memiliki cara lain agar bisa menahan Meta untuk terus tinggal bersamanya dirumah ini karena bagaimana pun Meta adalah seorang wanita yang bukan muhrimnya, sementara disisi lain Rei bahkan tidak bisa tidak melihat Meta sebentar saja.


Lalu sampai kapan keadaan pelik ini akan berlangsung ?


Kepala Rico benar-benar pusing saat memikirkannya. Andai saja Rei adalah seorang anak remaja mungkin Rico bisa mengajaknya bicara dan bernegosiasi. Tapi umur Rei saja belum tiga tahun. Jangankan diajak berbicara.. membedakan Lila dan Meta saja bocah itu bahkan sudah melakukan kekeliruan besar.


Dan alasan Rei yang menganggap Meta sebagai mommny-nya sampai detik ini masih membuat Rico penasaran. Apa yang menyebabkan Rei bersikeras menganggap Meta sebagai  mommy-nya ? pasti ada sesuatu.. namun entah apa sesuatu itu.. Rico bahkan belum mendapat clue nya sama sekali.


“Baiklah.. sebelum aku bisa memikirkan langkah apa yang harus aku ambil dari keadaan ini.. maka aku akan membiarkanmu membawa Rei besok.”


Meta menarik nafasnya lega. Padahal sejak tadi hatinya sudah merasa was-was karena jika pak rico menolak idenya, Meta bahkan tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan. Karena sesungguhnya ini bukan hanya tentang Rei.. melainkan tentang hatinya juga.


Saat ini dirinya pasti akan merasa sangat merana jika Rico mengambil keputusan yang akan membuatnya harus berpisah dengan Rei.


Meeting dengan Mr. Feron, perwakilan dari Milan Fashion bahkan sudah berakhir baik sejak beberapa jam yang lalu dengan hasil yang sesuai harapan kedua belah pihak.


Ternyata memang benar apa yang dikatakan pak Tian, bahwa Laras benar-benar bisa diandalkan dalam hal fashion. Dan semua hal yang menyangkut dunia fashion benar-benar bidang yang sangat dikuasai Laras dengan baik. Dalam hal ini mau tak mau Rudi harus mengakui kemampuan wanita yang masih tergolong sangat belia itu.


Dan alasan mengapa saat ini mereka berada di mini bar milik Mercy Green Resort tak lain adalah karena permintaan pribadi Mr. Feron yang terlihat sangat memaksa agar mereka bisa melanjutkan kebersamaan mereka, menghabiskan malam terakhirnya di Indonesia yang bertepatan dengan weekend tersebut dengan sedikit bersenang-senang.


Rudi sudah berusaha sedapat mungkin untuk menolak, namun yang ada Mr. Feron malah semakin memaksakan diri apalagi saat mengetahui status Rudi dan Laras yang dua-duanya belum berkeluarga.


Dan akhirnya disinilah mereka.. menemani Mr. Feron duduk mengelilingi meja bundar, ditengah situasi mini bar Mercy Green Resort yang syahdu.


Awalnya Rudi maupun Laras hanya memesan cocktail biasa, namun seiring berlalunya waktu, pembicaraan mereka sudah tidak lagi berfokus pada bisnis dunia fashion semata. Pembawaan Mr. Feron yang ramah serta easygoing membuat suasana pembicaraan berubah menjadi begitu akrab.


Rudi tidak bisa menolak saat Mr. Feron sudah menuangkan minuman beralkohol kedalam gelasnya. Dan naasnya bukan hanya gelas Rudi saja yang menjadi sasaran Mr. Feron, melainkan gelas Laras juga. Laras yang berusaha menolak karena tidak terbiasa meneguknya membuat Rudi harus bersikap gentleman dengan mengambil inisiatif, menjadi pahlawan kesiangan yang mengambil jatah Laras meskipun dirinya sendiri bukan orang yang sering minum dan memiliki daya tahan tubuh yang kuat terhadap alkohol.


Lewat midnight, Mr Feron akhirnya pamit kembali kekamarnya, membuat Rudi dan Laras akhirnya bisa bernafas lega meskipun Rudi sudah merasa bahwa saat ini kepalanya semakin terasa pusing saja, sehingga saat ia mencoba berjalan keluar meskipun sedikit sempoyongan membuat Laras yang awalnya menatapnya dongkol akhirnya mau tidak mau berinisiatif untuk menyangga tubuh lelaki itu dengan mengalungkan tangan Rudi melewati kedua bahunya.


“Dasar bodoh ! sudah tau tidak biasa minum alkohol.. untuk apa sok-sok menyanggupi permintaan Mr. Feron ?” Laras tidak bisa menahan kekesalannya saat harus menyangga sebagian beban tubuh Rudi.


“Sebaiknya kamu diam saja, Laras. Semua kalimatmu membuatku bertambah pusing ! lagipula aku menjadi seperti ini juga karena dirimu..!”


“Memangnya kapan aku menyuruhmu menjadi dewa penolongku ??!” Laras mendelik kesal.


“Apa kamu tuli ? aku sudah bilang tolong diam saja !”


“Kalau begitu urus saja dirimu sendiri !” semprot Laras lagi seraya melepaskan dirinya begitu saja.


Mendapati sikap pongah itu Rudi menatap Laras dengan tatapan yang tak kalah kesal. “Cih.. benar-benar wanita tidak berperasaan !” dumel Rudi. Pengaruh alkohol membuat Rudi mulai tidak bisa mengontrol kalimatnya.


Mendapati kalimat itu sontak sepasang mata Laras melotot geram.


“Baiklah, karena kamu merasa aku sangat merepotkanmu, maka bantulah aku untuk yang terakhir kali.. dan setelah itu kamu boleh pergi dari hadapanku !”


“Apa lagi ?!” Laras mendengus seraya menatap galak kearah Rudi yang sedang menyandarkan tubuhnya ke dinding. Dalam hati Laras sebenarnya tidak tega.. tapi lelaki dihadapannya ini juga selalu bersikap menyebalkan.


“Tolong bukakan satu unit villa untukku.. aku tidak bisa menyetir dalam keadaan seperti ini.”


“Huhh.. baiklah, tapi setelah itu serahkan kunci mobilmu padaku. Aku akan pulang kerumah dengan mobilmu.”


“Deal..” ujar Rudi lagi seraya merogoh dompetnya dari saku celananya dengan susah payah, kemudian menyodorkan seutuhnya kearah Laras yang melongo melihat tindak tanduk lelaki itu. “Kartu identitasku ada disana..”


Melengos sebentar sebelum akhirnya meraih dompet itu dengan kasar. “Tunggu disini sebentar karena aku akan mengurusnya !”


Laras berjalan kearah front office yang tidak seberapa jauh dari tempat mereka berhenti saat ini, menuju meja resepsionis.


“Selamat malam, bu, ada yang bisa kami bantu ?” wanita cantik yang berada dibalik meja resepsionis itu menyapa Laras dengan ramah.


“Aku ingin memesan satu unit,” ucap Laras tanpa basa-basi.


“Hanya tersisa unit empat puluh sembilan, bu..”


“Tidak apa-apa, aku akan tetap mengambilnya.” berucap demikian seraya membuka dompet milik Rudi, mengobok-obok isinya sebentar untuk mencari kartu identitas lelaki itu diantara beberapa tumpukan kartu yang ada, dan begitu ditemukan langsung saja Laras menyerahkannya kepada resepsionis tersebut. “Tolong daftarkan atas nama ini..”


Resepsionis itu sedikit terhenyak mendapati informasi yang tertera di kartu identitas tersebut. Namun semua ekspresi itu luput dari pantauan Laras yang sedang berdiri keki menunggu smart card lock yang akan diberikan.


“Baik, bu.. ini sudah selesai. Unit empat puluh sembilan, letaknya di kedua paling ujung dari sini..” wanita resepsionis itu berucap lagi seraya menyerahkan kembali kartu identitas Rudi beserta smart card lock bertuliskan nomor empat puluh sembilan.


Laras melotot mendengar penjelasan itu. “Apa ? apa tidak ada lagi unit yang lebih dekat ?”


Resepsionis itu sontak menggeleng. “Tidak ada lagi, bu.. itu satu-satunya unit yang tersisa karena seperti biasa, weekend seperti ini tamu di mercy green resort sangat padat..”


“Hhh.. baiklah..” tidak memiliki pilihan lain selain mengambil kartu identitas Rudi beserta smart card lock dari tangan wanita resepsionis seraya beranjak keluar.


Begitu mata Laras menatap sosok Rudi yang masih bersandar di dinding dengan mata terpejam mendadak hati Laras kembali dipenuhi rasa iba.


Rudi menjadi seperti itu juga karena dirinya kan..? karena lelaki itu telah mengambil setiap jatah minuman setiap kali dituangkan Mr. Feron  kedalam gelasnya.


Entah kenapa hati Laras yang biasanya dingin tiba-tiba menghangat menyadari secara tidak langsung telah menerima perhatian Rudi yang peduli padanya. Hangatnya mengingatkan Laras pada sebuah rasa.. disaat hati seorang remaja naif berumur belasan yang selalu menghangat dan berdebar setiap kali memandang seorang lelaki dewasa yang dikaguminya dengan sepenuh jiwa..


Mendapati perasaannya yang mendadak melow membuat Laras menggelengkan kepalanya berkali-kali. Secepatnya membuang segala ingatan masa lalu yang mulai menggerogoti hatinya yang tangguh.


“Baiklah.. berarti aku harus membawa lelaki arogan itu sampai ke unit kedua terjauh dari sini..? Haihh.. malam ini aku benar-benar sial..” Laras mengomel panjang pendek saat melangkahkan kakinya mendekati Rudi.


.


.


.


Bersambung..


Kalau disuruh milih, kalian pengen apa yang bakal kejadian setelah Laras nganterin Rudi ke unit 49 ? 🤔


Laras langsung pulang kerumah aja pake mobil Rudi ? apa lebih milih khilaf dulu ? 😅


(Jawab yg jujur jangan pake Jaim yah.. hahahaa...🤣)


LIKE plisss..! Thx and Lophyuu all.. 😘