CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Mencurigai


Masih terbilang dini hari saat Tian menarik koper kecil yang mengisi


beberapa barang bawaannya yang seadanya manakala ia telah menangkap seraut wajah Arini yang sedang menatapnya dengan tatapan sendu seperti biasa, acap kali ia akan berpamitan.


Melihat pemandangan itu Tian akhirnya menaruh kembali koper kecil miliknya, mendekati sosok yang duduk membisu dipinggir ranjang.“Ada apa lagi sih dengan wajah cantik kesayanganku ini ?” duduk disamping Arini sambil menangkup wajah itu dengan kedua tangannya.


“Sayang.. kenapa akhir-akhir ini kamu sering sekali keluar negeri ?” berucap lirih sambil menghindar dari tatapan Tian pada manik matanya.


“Bukankah sekretarisku lebih tau dengan semua perjalanan bisnis yang aku lakukan..?”


Namun sepertinya menggoda disaat yang tidak tepat memang tidak ada gunanya, karena bukannya terhibur, mendengar kalimat itu Arini malah merenggut.


“Sebulan ini kamu bahkan sudah tiga kali pergi..” protes Arini lagi.


Tian menarik nafas perlahan, hatinya cukup tersentil mendengarnya namun ia tetap tersenyum. “Hanya dua hari.. aku janji akan cepat pulang..” ucapnya pelan dengan hati yang seperti terhimpit batu besar saat menyadari bahwa sepasang mata Arini sudah tergenang.


“Sayang.. aku ingin ikut denganmu.. aku tidak mau ditinggal sendirian terus..” tanpa sadar Arini sudah terisak. Entah kenapa kali ini ia merasa hatinya begitu sedih, kesedihan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.


“Tidak bisa, sayangku..”


“Kenapa tidak bisa..?”


“Karena aku hanya punya satu tiket.. mana bisa satu tiket dipakai untuk berdua..?” sebenarnya Tian ingin membuat lelucon lagi, tapi yang ada Arini malah semakin sesegukan, membuat Tian akhirnya memilih untuk segera membawa wanita itu kedalam pelukan, membelai rambut Arini dengan lembut guna menenangkannya.


Setelah beberapa saat lamanya tanpa kata perlahan Tian menguraikan pelukannya. “Aku pergi yah..” ujarnya dengan berat hati seraya mengusap wajah yang dipenuhi air mata itu dengan lembut, tak lupa mendaratkan beberapa kecupan singkat diseluruh wajah yang lembab.


Arini menganguk perlahan meskipun dengan hati yang berat, akhirnya ia harus rela melepaskan Tian yang sudah beranjak kembali meraih kopernya yang ada didepan pintu.


“Tidak usah mengantar.. disini saja..” kalimat Tian mengurungkan langkah Arini yang ingin mengekori langkah Tian. Akhirnya lelaki itu benar-benar menghilang dibalik pintu yang mengatup perlahan, meninggalkan Arini yang kemudian memilih menjatuhkan dirinya kembali keatas ranjang, menangis lagi disana.


Arini tidak tau apa yang salah dari semua ini. Seperti ada yang tidak benar.. tapi sekali lagi dirinya sendiri tidak tau dimana letak tidak benarnya ?


Arini merasa Tian sedang menyembunyikan sesuatu.. tapi apa..? lelaki itu terlihat seperti menyimpan semuanya dengan begitu rapat, dan semua itu terjadi sejak tiga bulan yang lalu, tepat saat kedatangan nenek Saraswati yang memergoki dirinya sedang bermesraan dengan Tian diruangan Ceo.


Dan Saraswati Djenar ? sejak saat itu Saraswati Djenar bahkan tidak pernah datang lagi, juga tidak pernah terdengar kabarnya lagi. Tian selalu terkesan menghindar saat dirinya mulai membicarakan hal yang menyangkut Saraswati, hanya mengatakan bahwa Saraswati bersedia memberi waktu.. dan semuanya baik-baik saja..


Sejak kejadian tiga bulan yang lalu itu.. Saraswati Djenar benar-benar tidak pernah terlihat lagi dan tidak pernah terdengar kabarnya lagi, seperti hilang ditelan bumi.


Awalnya meskipun terkesan janggal Arini merasa lega mendengar penjelasan Tian. Ia percaya itu karena Saraswati telah bersedia memberikan mereka kesempatan. Tapi lama kelamaan ia tidak bisa terus meyakini hatinya bahwa semuanya baik-baik saja, meskipun terlihat seperti itu.


Tidak lama setelah peristiwa itu.. Tian berpamitan untuk pergi ke China dalam rangka urusan bisnis.


Memang benar, sebuah perusahaan otomotif swasta terbesar dari negeri tirai bambu baru saja melakukan deal kerjasama dengan menggandeng Indotama Group, terkait pengembangan industry pabrikan otomotif yang menyasar pasar global termasuk Indonesia.


Untuk itulah saat bulan pertama Tian mondar-mandir ke negeri tirai bambu, Arini tidak terlalu menaruh curiga, begitupun dibulan kedua, meskipun ia mulai melakukan sedikit protes karena tidak seperti biasanya Tian terlihat terlal sering pergi meninggalkan dirinya, sementara dibulan ini..?


Barusan bahkan sudah merupakan kali ketiga Tian berpamitan kepada dirinya. Jadwal maskapai penerbangan China Southern Airlines tujuan Guangzhou pada jam 08.20 wib mengharuskan Tian berangkat kebandara sejak hari bahkan belum benar-benar beranjak pagi.


Sesunguhnya hati Arini ingin terus mempercayai..


Tapi entah kenapa disudut hatinya yang lain malah mencurigai..


---


Sementara itu..


Ini sudah menjadi konsekwensi, dari keputusan terakhir Tian meskipun terasa berat, jadi sudah sepantasnya juga jika saat ini dirinya berupaya menjaga agar semua tetap berada ditempatnya, bukan ?


Bagi Tian, nenek dan Arini adalah dua orang wanita istimewa yang menjadi tuan rumah yang menempati hatinya, tempat dimana seluruh perputaran kehidupan serta masa depannya berlabuh disana.


Tidak peduli siapa yang datang lebih dulu..


Siapa yang datang kemudian..


Tian terus berusaha untuk sampai pada tujuan akhir dengan tidak kehilangan salah satunya..


Meskipun semakin hari titik terang itu terasa semakin menjauh.. seiring dengan munculnya sebuah harapan baru, yang bahkan karena hadirnya malah menggerus harapannya yang lain..


--- 


Siang itu Meta baru saja menyelesaikan salah satu dari catatan akhir laporan keuangan Indotama Group. Saking ngototnya Meta untuk menyelesaikan laporan tersebut ia bahkan kehilangan nyaris setengah jam waktu makan siangnya.


Meta baru saja bangkit dari kursinya manakala ia terheran saat matanya menangkap sosok Arini yang masih betah duduk dikursi kerjanya sambil memijit dahi. “Arini, kamu tidak makan siang ?” tanyanya begitu sampai dimeja sekretaris milik Arini.


Arini menggeleng lesu, namun sesungguhnya yang ia rasakan sejak tadi pagi tubuhnya sudah merasa sangat tidak enak. Kepalanya juga sedikit pusing, tapi menyadari mungkin itu karena efek ia menangis terlalu banyak setelah merasakan kesedihan luar biasa yang tak seperti biasanya dengan keberangkatan Tian tadi pagi, ia tetap memaksakan diri berangkat ke kantor.


Tidak disangka semakin siang kondisi tubuhnya bukannya semakin membaik, ia malah merasa semakin pusing dan agak meriang, suhu tubuhnya pun terasa hangat seperti orang yang sedang demam.


“Kamu kenapa, Rin ? sakit ?” ujar Meta lagi mulai khawatir berniat menempelkan tangannya ke dahi


namun Arini keburu menahan tangannya.


“Tidak apa-apa, Meta.. mungkin karena aku kurang tidur, soalnya tadi shubuh Tian harus kebandara dan itu membuat aku bangunnya juga terlalu cepat..” ucapnya perlahan saat mendongak dan mendapati sosok Meta yang sudah berdiri disampingnya dengan raut wajah yang memancarkan kekhawatiran.


Bagaimana tidak ? saat arini menahan tangannya tadi, Meta bahkan bisa merasakan suhu tangan Arini yang hangat.


“Ya sudah.. kalau begitu aku pesankan makan siang yah.. bagaimana kalau kamu istirahat sebentar dikamar pak Tian yang ada didalam ruangan itu ? nanti kalau makananya sudah ada, baru aku bangunin..”


Arini menghembuskan nafasnya sambil menganguk setuju dengan ide Meta. Ia merasa tidak memiliki pilihan lain. Kondisi tubuhnya saat ini jelas-jelas sedang drop dan tidak bersahabat, sepertinya dirinya memang butuh untuk beristirahat sebentar.


“Aku antar yah..” tawar Meta lagi namun Arini menggelengkan kepalanya.


“Tidak usah, Met.. aku bisa sendiri. Nanti pesankan makanan saja yang samaan punya kamu yah.." berucap demikian sambil melangkah lesu memasuki ruangan Ceo, diiringi tatapan khawatir Meta.


.


.


.


.


Bersambung…


Habis baca, jangan lupa untuk LIKE, COMMENT, & VOTE yah.. para kesayangan author sekalian.. 😍😘


See you and lopphyuu… 😘