CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2. 007 - Bocil


Sepi.


membuat semangat semakin menipis ...


Doakan agar penilaian level novel dan author NT di awal bulan bisa menghibur diri ini ...


Karena kalau tidak ... yah ... begitulah ...


(Catatan Patah Hati💔)


.


.


.


Rudi sedang merapikan setumpuk dokumen manakala pintu ruangan Ceo terdengar diketuk dari luar, kemudian setelah itu sosok Laras muncul disana.


“Kak, pulang aku nebeng lagi yah ...” berucap ringan dan langsung mendekati meja Tian.


Tian mengangkat wajahnya sesaat, sejenak mengawasi sosok Laras yang berdiri dengan begitu percaya diri didepan mejanya tanpa gentar sedikitpun layaknya karyawan-karyawan lainnya saat harus berhadapan dengan Tian.


Melihat pemandangan seperti itu rasanya ingin sekali Rudi menjewer kuping Laras sekuat-kuatnya.


Bukan apa-apa, Rudi selalu saja merasa kesal setiap kali Laras memposisikan dirinya lebih istimewa diantara karyawan lainnya.


Dulu saja waktu bu Arini yang notabene istri pak Tian menjadi sekretaris, tidak pernah sepercaya diri ini.


“Tidak bisa, Laras. Aku masih akan bertemu klien setelah ini."


“Tidak apa-apa, kalau begitu aku ikut saja sekalian. Kak Tian kan tau sendiri aku tadi gak bawa mobil ...” sudah berucap dengan nada bicara sekaligus wajah tanpa dosa.


Tian terdiam sejenak dalam hati ia membenarkan juga jika tadi pagi Laras lagi-lagi menebeng dirinya. Berpikir sejenak sebelum akhirnya berucap seraya menatap Rudi. “Rudi, tolong antar Laras pulang ...”


Mendengar itu Rudi langsung mengangkat wajahnya. “Maaf pak, bukannya saya menolak tapi saya kan harus mendampingi pak Tian ...”


“Tidak apa-apa, nanti saya pergi dengan Sudir saja.”


“Baiklah, pak ...” meskipun tidak menyukai keputusan itu namun seperti biasa tidak ada alasan untuk Rudi menolak titah Tian.


“Dan kamu Laras, malam ini juga aku akan menyuruh orang untuk mengecek mobilmu di bengkel agar besok pagi kamu bisa membawa mobilmu sendiri. Mana mungkin kamu akan mengikutiku setiap hari?" imbuh Tian dengan suara perlahan namun tegas.


Mendengar itu Laras langsung terhenyak.


Baiklah ... ia masih bisa menerima jika pada akhirnya Tian akan mengambil alih urusan mobilnya yang sebenarnya tidak separah yang ia dramakan selama beberapa hari ini.


Pihak bengkel bahkan telah menghubungi Laras berkali-kali untuk memberitahukan bahwa mobilnya sudah selesai diperbaiki, tapi Laras hanya sedang mengulur waktu saja agar bisa terus pergi dan pulang bersama Tian meskipun Tian tidak pernah menggubrisnya selama ini, karena Laras sudah cukup senang bisa berada dekat dengan lelaki yang ia kagumi.


“Pulang dengan orang ini?” Laras menatap Rudi dengan enggan. “Aku akan memesan taxi online saja kak ...”


“Tidak boleh. Ini sudah malam, Rudi yang akan mengantarmu.”


“Tapi kak ...”


“Sudah cukup. Jangan membantah lagi.” kemudian Tian menatap Rudi. “Pergilah, Rud ...”


“Baik, Pak.” Rudi kembali mengangguk takjim kemudian menatap Laras dengan tatapan datar. “Ayo, Laras, kita berangkat sekarang ...”


Rasanya Laras ingin menghentakkan kaki saking kesalnya namun ia tau pasti bahwa ia tidak mungkin melakukan hal itu dihadapan Tian.


Akhirnya Laras memilih berbalik dan berjalan keluar dengan rasa kesal yang tiada tara, sementara Rudi mengikuti langkah wanita itu dari belakang.


XXXXX


Hari mulai gelap dan lobby kantor pusat Indotama Group bahkan mulai lenggang, tidak seramai waktu siang dan sore hari.


Terlihat beberapa orang security yang hanya mengawasi dari kejauhan dua sosok yang sedang bersitegang di lobby tersebut.


Bukannya mereka tidak berusaha melerai kekacauan kecil itu, tapi karena mereka tau persis bahwa orang yang sedang bersitegang dengan salah satu karyawan kantor pusat Indotama Group itu tak lain adalah Rico Chandra Wijaya. Sementara siapa gerangan Rico Chandra Wijaya ... tidak mungkin ada yang tidak mengenalnya.


“Meta, tolong ikut saya ...” Rico yang mulai kehilangan kesabarannya terlihat sudah mencengkram lengan Meta begitu saja.


“Lepaskan!”


Meta menghentakkan tangannya sekuat tenaga namun sia-sia. Tangan kokoh yang mencengkeram lengannya itu terasa semakin meremas kuat, membuatnya meringis seraya menatap Rico dengan tatapan geram.


“Pak Rico apa-apaan sih? ini sakit tau ...!!”


“Makanya kamu diam dulu, dan dan dengarkan saya ...!” hardik Rico.


“Sudah saya bilang dari tadi saya tidak mau mendengar apapun. Sudah cukup saya mendengar begitu banyak tuduhan dan hinaan ... lalu untuk apa lagi hari ini Pak Rico dateng-dateng langsung mau nyulik saya begitu saja ...?!”


“Baiklah, tapi kalau terjadi sesuatu pada Rei karena dirimu ... maka aku tidak akan mengampunimu ...!!” Rico menatap Meta dengan tatapan setajam belati.


“Loh ... loh ...” Meta melotot saat mendengar ancaman Rico. Ternyata lelaki dihadapannya ini, selain memiliki hobby menuduh dan menghina, juga sangat suka menyalahkan dirinya.


Meta baru ingin mengajukan protes manakala perkataan Rico sudah mendahuluinya.


“Rei sakit ...”


Terhenyak.


Untuk sesaat pemberontakan Meta terhenti begitu saja, seiring dengan mengendurnya cengkeraman yang ada di lengannya meskipun Rico tidak serta merta melepaskannya seolah takut Meta akan kabur jika ia melepaskan wanita itu.


“Rei panas tinggi sejak bangun tidur kemarin ... saat ia menyadari bahwa ... kamu ... kamu sudah tidak ada ...”


Meta terdiam. Semua yang didengarnya membuatnya bingung dan bimbang. Meta bahkan tidak mengerti, mengapa sekarang ia justru merasa hatinya seperti sedang menangis saat terbayang wajah polos Rei yang selalu bersembunyi di ceruk lehernya, kemudian setelah itu akan mencium wajahnya seraya memanggilnya ...


‘Mommy ... mommy ...’


Suara kecil Rei seolah berputar di kepala Meta begitu saja, membuat kepala Meta semakin terasa pening.


“Lepaskan saya, Pak Rico ...” pintanya kembali dengan intonasi suara yang lemah, mencoba menepis tangan Rico yang masih bertengger di lengannya.


“Tidak, sebelum saya mendengar sendiri bahwa kamu bersedia ikut aku.”


“Tolonglah Pak Rico ... lepaskan saya ...”


Meta kembali memberontak kecil, membuat hati Rico sedikit melemah. Namun saat Rico mulai mengendurkan cengkeramannya, tubuh Meta malah terhuyung perlahan.


Rudi yang melihat dengan jelas pemandangan tersebut tanpa berpikir dua kali langsung melesat cepat, mengetahui wanita yang awalnya memberontak dan kemudian terkulai dalam pelukan seorang lelaki tersebut tak lain adalah Meta.


Sementara disampingnya, Laras yang juga melihat adegan tersebut refleks mengikuti langkah Rudi yang tergesa bahkan setengah berlari.


Laras sedikit terkejut saat menyadari dua insan yang awalnya seperti sedang berselisih paham itu adalah Meta, mantan sekretaris Tian yang berhasil ia kudeta kedudukannya, dan lelaki yang bersamanya adalah tak lain Rico Chandra Wijaya.


“Pak Rico, hentikan! Ada apa ini?!” Rudi sudah berada disana, menatap Rico yang masih memeluk tubuh Meta dengan pandangan tajam.


Hati Rudi mendadak terasa geram melihat pemandangan tersebut.


Rudi berniat menarik tubuh Meta begitu saja namun sia-sia, karena Rico juga telah menahan tubuh wanita itu dengan lebih kuat.


“Rudi ... ini bukan urusan kamu ...” berucap acuh dengan nada memperingatkan.


“Pak Rico salah. Kalau menyangkut Meta, maka otmatis itu akan jadi urusan saya ...!”


“Oh yah?! Memangnya kamu siapanya? Suaminya ...? Atau ... pacarnya ...?!” ujar Rico lagi dengan intonasi dingin, sedingin tatapannya yang menghunus tajam, cukup membuat Rico tercekat.


Rudi terdiam, sedangkan Rico tertawa sinis.


“Bahkan kamu bukan siapa-siapanya! Minggir!” Rico yang sedang memapah tubuh Meta bergumam dengan intonasi meremehkan. Namun saat ia hendak melangkah ke mobilnya Rudi dengan nekad kembali menghalangi langkah Rico.


“Pak Rico, saya tidak akan membiarkan anda membawa Meta apalagi dalam keadaan tidak sadarkan diri seperti ini!”


Rico melengos. “Tindakanku ini atas sepengatahuan Tian. Kalau kamu masih nekad menghalangiku lagi, maka kamu pasti tahu resikonya!”


Lagi-lagi Rudi terhenyak ditempat begitu mendengar nama Tian, sontak ia langsung merasa tidak berdaya, dan tidak bisa berbuat apa-apa.


“Kalau benar demikian, ijinkan saya untuk memastikannya dulu.” Rudi nekad mengeluarkan ponselnya, berniat menghubungi Tian.


“Cihh..” Rico terlihat melengos.


Rudi memilih tidak peduli dengan sikap Rico. Matanya tak lepas memandangi Meta yang tidak sadarkan diri dan berada dalam pelukan Rico seutuhnya, sementara Laras yang berdiri diantara mereka hanya diam mematung dengan pandangan menatap Rico dan Rudi berganti-ganti.


“Halo Pak Tian ... maaf, Pak, saya hanya ingin memastikan apa benar Pak Tian yang mengijinkan Pak Rico untuk membawa Meta dan ...”


“Iya, Rud ... semua itu benar. Saya mengijinkan Rico karena saya juga tidak bisa berbuat apa-apa. Rei membutuhkan Meta, tolong jangan halangi Rico ...”


“Baiklah Pak Tian, saya mengerti.” Rudi menutup telepon dengan kecewa seraya menatap Rico yang sudah menyeringai sinis kearahnya.


“Bagaimana? Apakah sekarang kamu sudah puas? Hahh..?!”


Kemudian tanpa membuang waktu Rico berlalu dari hadapan Rudi begitu saja dengan membopong Meta menuju mobil sport hitam miliknya yang terparkir didepan lobby.


Rudi hanya bisa berdiri mematung sampai mobil itu meninggalkan lobby kantor pusat Indotama Group dan menghilang dari pandangannya.


Kenyataan yang ada dihadapannya saat ini ... sungguh membuat ulu hatinya terasa nyeri ...


XXXXX


“Demi apa? Aku benar-benar merasa tadi Kak Rico keren sekali ...”


Belum ada lima menit mobil Rudi meninggalkan pelataran lobby kantor pusat Indotama Group saat Laras kembali berkicau.


Rudi hanya melengos, tidak berniat menanggapi Laras yang sangat terlihat sekali sedang berusaha memprovokasi hatinya.


Tapi bukan Laras namanya kalau ia akan menyerah dengan begitu mudahnya, karena setelah merasa Rudi bersikeras tidak menanggapinya, kini wanita berusia dua puluh empat tahun itu nekad merubah arah duduknya hingga menatap Rudi yang sedang memegang setir dengan leluasa.


“Kak Rico ibarat pangeran yang sedang membopong putri tidur dan membawanya keatas kereta kencana ... menuju istana yang megah dan ...”


“Kamu bisa diam tidak?”


Bukannya ciut, Laras malah terlihat terkikik geli menerima kekesalan dalam nada suara Rudi.


“Memangnya kamu siapanya? Suaminya ...? Atau.. pacarnya ...?!” usai menirukan kalimat Rico dengan sempurna Laras kemudian sudah kembali ngakak gila-gilaan. “Damage ...! Kena mental gak sih denger kalimat kayak gitu ...? Wuahahaha …”


Melihat Laras yang terpingkal-pingkal bahkan sampai menekan perutnya, membuat Rudi rasanya ingin menepikan mobil dan mencekik leher wanita itu.


“Kalau kamu tidak diam, aku akan turunkan kamu dijalan.”


“Turunkan saja ... lagian kenapa juga kamu mau repot-repot mengantarku segala?” malah berucap santai.


“Heh! Memangnya kamu pikir siapa juga yang ingin mengantarkan kamu? Mimpi saja ... kalau bukan karena perintah Pak Tian, kamu pikir aku sudi berurusan dengan bocil seperti dirimu ..? nyusahin orang saja bisanya ...”


“Apa kamu bilang? Aku bocil? Egh, dengerin yah ... tahun ini umurku dua puluh empat tahun. Sembarangan ngatain aku bocil ...? Mendingan daripada kamu, udah ketuaan belum punya pacar, gebetan diangkut lelaki lain diem aja ...”


Ciiiittt ...


“Aduhh ...!!”


Laras mengaduh seraya memegang dahinya yang kejedut kaca akibat mobil yang direm mendadak.


“Apa-apaan sih?! Sudah gila yah?!” semprot Laras kearah Rudi yang ada disebelahnya.


Sementara Rudi terdiam, mencengkeram kemudi kuat-kuat seraya mengatur deru napasnya dengan susah payah, berusaha mengontrol emosinya dan mencoba menatanya kembali seperti semula.


Tak dipungkiri kalimat Laras itu benar-benar sempurna menohok bilik hatinya sekaligus harga dirinya.


“Lebih baik aku turun saja daripada mati konyol!” tangan Laras baru akan menyentuh handle pintu mobil manakala ...


Klik.


Bunyi lock otomatis terdengar, membuat usaha Laras yang berusaha membuka pintu mobil akhirnya menyerah.


“Aku akan mengantarmu pulang.” berucap dingin setelah itu langsung menghidupkan kembali mesin mobil, melajukan kembali dengan kecepatan sedang ... tanpa peduli lagi dengan apapun yang dilakukan oleh wanita yang sedang manyun disampingnya itu.


.


.


.


Bersambung..


Like, Vote, Comment seperti biasa yah..🙏 Lophyuu all..♥️