
Shela sudah berlalu, meninggalkan dua orang yang masih betah berdiri tegak dan saling memandang satu dengan yang lain.
Rico yang masih setia menatap Meta dengan tatapan menyelidik, sedangkan Meta tetap berdiri dengan menunjukkan sikap kepercayaan diri yang kuat meskipun tanpa sepengetahuan Rico yang ada Meta telah merasa sangat gugup dengan irama jantung yang berdegup riuh.
Meta sungguh merasa ia nyaris mati ketakutan. Wajah Rico yang mengeras dihadapannya seolah memberi Meta signal bahaya yang jelas seberapa besar kekekesalan lelaki itu yang sepertinya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk meledak.
Rico terdengar menghembuskan nafasnya berat.
“Jadi.. apa yang kamu inginkan sekarang ?” tanya Rico setelah lelah menunggu beberapa jenak namun Meta tetap mematung tanpa kata.
“M-makan.”
“Apa ?” Rico terhenyak dengan alis yang mengerinyit.
“Tidak dengar ?” masih berucap dengan nada sok galak.
Rico mengira-ngira sejenak sebelum berucap ragu karena mengira jangan-jangan tadi ia salah mendengar. “Makan..?” ulangnya.
Meta mengangguk cepat, berusaha menghalau kegugupan yang sedang melandanya.
"I-iya.. makan. Aku lapar.” kenyataannya kali ini Meta benar-benar tidak berbohong. Selain ingin menghilangkan kegugupan yang melanda perutnya juga telah menjadi sangat lapar usai adrenalin yang terpacu dalam tubuhnya meledak barusan.
Rico menatap wajah sedikit pucat itu sejenak.
‘Bagus. Jadi setelah membuat kekacauan sekarang wanita ini malah kelaparan..’
Dumel Rico dalam hati namun tak urung ia beranjak juga ke-mejanya, menekan interkom sejenak untuk menghubungi Winda, namun setelah beberapa saat tidak direspon Rico baru tersadar kalau sekarang masih jam makan siang. Sekretarisnya itu pasti sedang mempergunakan waktu makan siangnya juga.
Rico meletakkan gagang interkom kembali ketempatnya dan ganti menyambar ponsel yang tergeletak diatas meja, mencoba kembali menghubungi Winda lewat panggilan telpon.
Sambil menunggu panggilannya tersambung Rico pun memilih bersandar di meja kerjanya seraya mengawasi Meta yang masih berdiri ditengah ruangannya.
Meta terlihat manis dengan mengenakan rok model flared skirt yang sedikit dibawah lutut dipadu blouse dengan model peplum top warna hitam. Rambut Meta yang berpotongan bob pendek itu membuat bagian tengkuknya yang jenjang terekspos sempurna, sangat menarik perhatian, apalagi untuk lelaki yang mantan playboy seperti dirinya.
‘Wanita ini boleh juga..’
Dalam hati Rico melakukan penilaian singkat. Untung saja panggilannya cepat direspon oleh Winda, karena kalau tidak otak Rico sudah pasti bakal travelling kemana-mana melihat pemandangan tengkuk jenjang disertai punggung belakang yang sedikit terbuka itu.
“Winda, kamu ada dimana ?”
…
“Kantin ? kebetulan.. tolong pesankan makanan, dan perintahkan ob untuk mengantarkannya keruanganku sekarang.”
…
Kemudian Rico menatap Meta lagi seraya berucap. “Mau makan apa ?”
Meta mendongak sejenak. “Terserah.”
“Terserah saja, Win.. untuk dua orang yah..” ujar Rico lagi akhirnya, kali ini sepasang matanya tidak lagi berpindah dari Meta yang terlihat berjalan perlahan kesalah satu dinding, nampak memperhatikan sebuah lukisan abstrak yang menghiasinya.
Begitu Rico selesai bicara dengan Winda, Meta nampak membalikkan tubuhnya serta merta menatap Rico yang masih setia bersandar diujung meja kerjanya seraya mengawasinya.
Melihat pemandangan itu Meta sedikit terpaku. Penampilan Rico yang layaknya eksekutif muda, mapan dan tampan, tersaji dengan begitu sempurna dipelupuk matanya.
Meta menggelengkan kepalanya berkali-kali demi mencegah fikirannya yang mulai terkontaminasi akibat visual bernilai plus dihadapannya itu.
“Kenapa untuk dua orang ? memangnya kamu belum makan siang juga ?” akhirnya memilih melontarkan pertanyaan aneh, lengkap dengan ekspresi wajah yang terlihat sulit dimengerti oleh Rico yang berada diujung sana.
Rico yang mendapati pertanyaan absurd itu sontak melengos kesal.
“Huhh..! masih bisa bertanya ? kamu lupa kamu sudah menyuruh Shela membawa kembali jatah makan siangku ?!”
Glek !
Mendengar kalimat ketus itu Meta menelan ludahnya. Ia cepat-cepat berbalik kembali menghadapkan tubuhnya ke-dinding setelah menyadari, seberapa kesalnya lelaki yang masih bersandar cuek disudut meja kerjanya itu. Lelaki tampan.. nan arogan..
XXXXX
“Rudi.. laporan akhir untuk Fashion Milan kan sudah dikirim, tapi kenapa aku belum menerima print outnya...”
Rudi yang barusan menaruh beberapa tumpukan map baru diujung meja Tian nampak berfikir sejenak sebelum menjawab. “Tadi pagi sepertinya sudah di meja Meta, pak..”
“Ohh..” Tian hanya ber-oh ria, namun kemudian memilih mengambil salah satu berkas teratas yang baru saja dibawa Rudi, dan fokusnya langsung tenggelam disana.
“Biar saya yang akan menghubungi Meta, pak.. karena sepertinya saya belum melihat Meta sejak jam makan siang tadi..”
Tian memang tidak perlu mencari tau kemana perginya sekretarisnya itu yang bahkan tidak kembali setelah jam makan siang, karena Rico Chandra Wijaya, sahabatnya yang tengil itu telah memberi tau dirinya bahwa Meta sedang bersama dengannya, di kantor pusat best electro.
XXXXX
Rudi baru saja keluar dari ruangan Tian saat matanya langsung tertuju pada kursi kosong yang ada di meja sekretaris.
“Meta kemana yah ?” tanyanya bemonolog pada dirinya sendiri dengan suara perlahan.
Rudi tau persis bahwa Meta adalah tipe orang yang ceria dan lucu. Wanita itu bahkan sangat mudah bergaul dengan siapa saja dan sangat suka berkumpul dengan karyawan-karyawan lainnya terlebih di jam makan siang.
Namun demikian Meta juga adalah seorang karyawan yang memiliki loyalitas yang tinggi, rajin dan juga disiplin. Tidak biasanya Meta belum kembali di saat jam makan siang telah selesai seperti ini.
“Dion, kamu lihat Meta tidak ?” tanya Rudi kearah Dion, salah seorang karyawan dari di divisi keuangan yang kebetulan melintas dihadapannya.
Dion terlihat berfikir sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Tadi saat kelar meeting kayaknya Meta pergi terburu-buru..”
“Oh ya ? dia tidak bilang mau kemana ?”
Dion terlihat menggeleng. “Tapi kelihatannya sih terburu-buru gitu, pak..” pungkas Dion lagi sebelum kembali melanjutkan langkahnya kearah kubikel miliknya.
Rudi masih terdiam usai mendengar penjelasan Dion.
‘Meta terburu-buru ? memangnya dia mau kemana ? atau.. jangan-jangan terjadi sesuatu..?’
Berfikir tentang hal itu membuat Rudi sontak merogoh ponselnya, menekan sebuah kontak yang ada disana, mencoba menghubungi Meta.
Tersambung, namun hingga dering nada sambung terakhir panggilan Rudi tidak direspon sama sekali. Hal itu membuat Rudi semakin penasaran, sehingga memutuskan untuk men-dial lagi nomor yang sama.
Rudi menunggu sejenak. Tersambung lagi, namun lagi-lagi seperti panggilannya yang pertama, panggilan kedua Rudi pun tidak kunjung direspon, membuat Rudi tidak lagi hanya merasa penasaran belaka.. namun mulai sedikit khawatir.
Kembali Rudi mendial nomor Meta untuk yang ketiga kalinya, menunggu sejenak nada dering yang terdengar satu persatu itu dan nanti pada dering kelima… panggilannya akhirnya direspon.
Rudi menarik nafas lega begitu panggilannya tersambung.
“Meta.. syukurlah, kamu hampir membuatku gila karena berfikir kalau terjadi sesuatu denganmu. Kata Dion tadi kamu pergi dengan terburu-buru, sebenarnya ada apa ? kamu ada dimana ?”
Hening.
Kalimat beruntun Rudi yang tidak juga mendapat respon membuat alis Rudi semakin bertaut. Saat ini ia sudah benar-benar khawatir.
“M-Meta..?” panggil Rudi perlahan.
“Ini aku.”
Tenggorokan Rudi nyaris tercekat, ia tidak mungkin tidak bisa mengenali suara berat diseberang sana yang meskipun terucap tanpa emosi, namun sangat jelas nada datarnya.
‘Pak Rico.’
Rudi menghembuskan nafasnya dengan sangat perlahan. Sungguh, ini diluar dugaannya, bahwa ternyata Meta menghilang karena menemui suaminya sendiri.
Pantas saja pak Tian terlihat tenang-tenang saja bahkan melarangnya saat ia berkata ingin menghubungi Meta. Rupanya sang bos besar sudah tau persis dimana sekretarisnya itu berada.
Hhh.. diam-diam Rudi menyesali tindakannya yang begitu gegabah saat memutuskan menghubungi ponsel Meta, namun apa boleh buat.. semuanya sudah telanjur.
“Rudi..”
"Iya pak Rico..” jawab Rudi pelahan, berusaha tetap berlapang dada menerima keadaan yang sedang tidak memihaknya.
Hening sejenak. Rudi tidak bisa melakukan hal yang lain selain pasrah menerima kalimat apapun dari seberang sana, yang pasti hanya akan membuat dirinya tidak berkutik.
“Kamu.. jangan berlebihan..”
Skak mat..!!!
.
.
.
Bersambung..
Masih meminta pengertiannya karena tidak bisa up banyak. Mohon maaf reader, author benar-benar sibuk, ditambah dengan keadaan kurang fit. sekali lagi maaf.. 🙏
Thx and Lophyuu all.. 😘