CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 046


Yang belum Like bab sebelumnya.. yukk bantu author untuk genapin.Like nya dulu biar performa author gak jalan ditempat.. 🤗 Terima kasih.. 😘


Ditunggu kunjungannya di :


‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.


Bantu vote, like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan


kontrak juga kayak CTIR. 🙏


.


.


.


Rico tidak bisa menahan gerak tangannya yang dengan refleks mengusap tengkuknya.


Pemandangan tempat tidur Meta yang besarnya kira-kira tidak sampai setengah ukuran ranjang king size miliknya itu kini sudah seperti medan laga terberat yang entah kenapa bisa lupa ia pikirkan.


Ini bukan pertama kalinya Rico memasuki kamar Meta dan melihat ukuran tempat tidurnya yang sempit, karena sebelumnya saat akan menidurkan Rei waktu insiden kedatangan debt collector beberapa minggu yang lalu, Rico juga sudah pernah berada didala kamar ini. Sialnya, entah kenapa saat mengiyakan permintaan ibu Arum untuk menginap semalam dirumah mereka.. Rico justru malah melupakan bahwa itu berarti mau tidak mau dirinya harus sekamar dengan Meta, bahkan berbagi ranjang yang sama dengan wanita itu.


Mendadak Rico langsung memijit kedua alisnya, mirip seperti gaya khas Tian jika sedang merasakan otaknya yang sedang mumet dan mulai buntu.


“Sudah sejak awal aku merasa keberatan.. tapi pak Rico sendiri yang mengiyakan keinginan ibu..” suara Meta yang meskipun terdengar sedikit berbisik karena tak ingin terdengar oleh siapapun selain Rico, ternyata cukup ampuh memecah kebisuan yang ada diantara mereka sejak memasuki kamar yang berukuran mini itu. Sepertinya Meta memang sudah bisa menebak apa yang sekarang sedang mengganjal di pikiran Rico.


Rico tidak menjawab, namun lebih memilih untuk kembali mengangkat tas berukuran sedang dan menaruhnya disebelah meja kecil yang ada disudut kamar.


“Maaf, pak..” lirih Meta entah kenapa merasa bersalah dengan keadaan rumahnya, terlebih kamarnya yang sangat tidak layak untuk sosok seperti Rico.


“Maaf untuk apa ?”


“Maaf untuk…” mengambang.


“Untuk..?” tanya Rico lagi seraya membalikkan badan guna mendapati Meta yang berdiri dibelakangnya, masih mematung disana dengan tampang bingung. “Jangan mudah minta maaf kalau kamu sendiri tidak tau dimana letak kesalahannya..” berucap demikian sambil ngeloyor begitu saja keluar dari kamar super sempit itu, meninggalkan Meta yang masih berdiri terpaku ditempatnya.


XXXXX


“Nak Rico, Rei biar tidur sama ibu dan Mayra yah..”


Meta nyaris tersedak mendengar permintaan ibu. Saat ini, usai makan malam yang telah disiapkan ibu dengan penuh semangat dan kebahagiaan, Meta, pak Rico dan ibu memutuskan untuk berbincang-bincang ringan diruang tengah, sementara didalam kamar ibu masih terdengar sayup-sayup celotehan lucu Rei yang sedang bercanda dengan Mayra.


“Boleh ya nak Rico.. soalnya ibu kangen banget sama Rei..”


Ibu kembali berucap saat melihat Rico belum juga memutuskan, membuat Meta merasakan nafasnya mulai ikutan sesak menungu jawaban apa yang akan keluar dari mulut lelaki itu.


“Dikamar ibu, ada kasur kecil yang bisa ditiduri Mayra.. jadi ibu dan Rei bisa tidur dengan lapang..”


Dan akhirnya anggukan kecil Rico mampu membuat ibu Arum lega, sementara Meta lemas ditempatnya.


“Boleh saja, bu..” ucap Rico sambil tersenyum, mengacuhkan seraut wajah pias Meta yang duduk dihadapannya.. lebih memusatkan diri pada senyum ibu Arum yang terlihat tulus dan terkembang dengan sempurna.


XXXXX


Malam semakin larut. Seiring dengan obrolan ringan yang terus mengalir.. suara celotehan Rei bahkan tidak terdengar lagi.


“Rei sudah tertidur..” Meta keluar dari kamar ibu usai mengecek keadaan Rei yang ternyata telah pulas memeluk guling, sementara Mayra dengan gerak perlahan turun dari tempat tidur dan mulai membentangkan kasur mini yang terlipat disisi lemari.


Rico melirik jam tangannya sekilas. “Wajar saja.. ternyata ini sudah larut malam..”


“Kalau begitu ibu juga mau istirahat. Kalian juga.. sebaiknya beristirahat juga..” ucap ibu Arum namun tidak serta-merta beranjak melainkan menatap Rico dan Meta berganti-ganti.


“Iya bu..” Rico akhirnya berucap saat menyadari situasi yang terlihat kaku tersebut. Ia akhirnya memutuskan untuk bangkit dari kursi terlebih dahulu.. “Kami duluan, bu..” ujar Rico lagi sambil mengerling kearah Meta yang meskipun gelagapan akhirnya memutuskan hal yang sama, beranjak dari duduknya yang gelisah.


“Bu aku..” ucap Meta mengambang, dengan wajah yang memerah.


“Malah berdiri disini.. sana cepatlah pergi susul suamimu..” ibu Arum malah menghadiahi Meta dengan pelototan kejam, saat melihat putri sulungnya itu masih betah berdiri dihadapannya.


Meta mencebikkan bibirnya sejenak, sebelum akhirnya dengan langkah kaki yang berat akhirnya ia memberanikan diri untuk melangkah.. menuju pintu kamarnya.


XXXXX


“Sejak kapan kalian tinggal dirumah sempit ini ?”


Meta yang memilih duduk di kursi kayu yang merupakan pelengkap dari meja kecil yang ada disudut kamar itu sontak mengangkat wajahnya.


“Tiga tahun terakhir ini..” menjawab sambil mengawasi Rico yang memilih duduk ditepian ranjang, dengan pandangan yang kesana kamari seolah sedang mengabsen seluruh isi kamarnya satu per satu.


“Sebelumnya kalian tinggal dimana ?”


“Almarhum ayah menyicil sebuah rumah di buana permai. Tapi tiga tahun yang lalu ibu terpaksa menjualnya untuk biaya pengobatan Mayra..”


Rico berfikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk kecil. Pantas saja ia merasa tidak asing dengan nama perumahan buana permai yang disebutkan Meta barusan, karena ternyata perumahan dengan cluster masyarakat ekonomi menengah itu letaknya searah jika menuju kawasan mercy green resort.


“Lalu rumah ini ? apa kalian membelinya ?” tanya Rico lagi.


“Tidak, pak Rico.. disini kami membayar kontrak tahunan..”


“Ooo..” Rico manggut-manggut. Kemudian ia sudah menatap Meta lagi. “Kamu tidak tidur ?”


“Egh..?” cukup terhenyak dengan pertanyaan tanpa basa-basi itu.


“Ayo tidur, ini.. aku akan memberi pembatas..” ucap Rico lagi seraya menaruh dua buah guling ditengah untuk membagi dua tempat tidur yang sempit itu.


Meta lagi-lagi terhenyak mendapati sikap Rico yang terlihat tenang-tenang saja, sementara jantungnya sendiri sudah jumpalitan kesana kemari, gugup setengah mati.


“Kalau otakmu tidak memikirkan macam-macam, maka seharusnya kamu tidak perlu risau..”


“Memangnya siapa yang berfikiran macam-macam ?” pungkas Meta cepat.


Rico melirik Meta sekilas. “Kalau begitu kenapa masih disitu..?”


Mendengar kalimat yang nadanya agak mengejek itu Meta langsung bangkit dari duduknya, berjalan dengan gagah berani mendekati tempat tidurnya dan langsung merebahkan diri disisi yang lain. Tatapan Meta kini mengarah kearah Rico yang terbengong melihat responnya yang begitu tanggap.


“Sudah liatkan ? aku tidak berfikir apa-apa.. apalagi berfikir macam-macam..” menatap Rico dengan tatapan penuh percaya diri.


“Baguslah..”


Dan Meta langsung kembali meredupkan matanya yang sontak melotot saat menyaksikan Rico yang juga menghempaskan tubuh disebelahnya dengan tanpa keraguan sedikit pun.


.


.


.


Bersambung..


Pantengin terus, untuk double up, karena next bab-nya lagi on the way review editor. 🥳


Favoritekan novel ini, like dan comment setiap bab-nya, dan berikan hadiah serta vote yang banyak.. adalah harapan author selalu.. 🙏


Thx and Lophyuu all.. 😘