CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 - 098


Cinta Eleana dan Panglima Perang butuh kehadiran reader CTIR. 🙏


yuk!!!


.


.


.


Han tidak berhenti tergelak sepanjang jalan begitu mendengar cerita Laras tentang penyebab mengapa Laras sampai berurusan dan diuber-uber oleh sekomplotan gadis cantik dengan tambahan satu orang waria itu.


Demi apa?


Wanita disampingnya ini dimata Han sangat menarik secara keseluruhan. Luar biasa cantik, lucu, dan ada aura-aura juteknya. Benar-benar perpaduan yang sangat mahal, limited edition.


"Jadi penyebabnya hanya karena kaleng bekas sofdrink?" Han masih terkikik geli.


Laras mengangguk. "Aku bener kan? lhaaa, aku memang gak lempar kok.. tapi aku tendang, eh, wanita itu malah mau nampar aku.."


"Hahh? trus.. trus.."


"Trus aku pelintir aja tangannya, aku dorong sampai dia jatuh terjerambab keatas pasir, dan kemudian aku lari bersembunyi dibawah mejamu dan Hil.."


"Wuahaha..." lagi-lagi Han tidak bisa menahan tawanya, apalagi saat melihat Laras yang juga ikut tertawa.


Jadilah sepanjang jalan tersebut mereka berdua menjadi tontonan penuh keheranan dari setiap pasang mata orang-orang yang ada disepanjang jalan.


"Jadi kamu menginap di Dewi Beach Lagoon?" tanya Han lagi sambil menyebutkan nama sebuah hotel termewah yang ada di pulau Dewi, setelah beberapa saat kaki mereka mulai menyusuri sepanjang jalan paving block yang kiri kanannya dipenuhi dengan kios-kios kecil yang berjejer rapi.


"Iya, aku bahkan baru tiba beberapa jam yang lalu.."


Han nampak mengangguk-anggukkan kepala sebelum akhirnya kembali bertanya. "Kamu pasti baru kali ini ke pulau Dewi. Iya kan?" tebak Han.


"Kok tau?"


Han tersenyum. "Karena kamu tidak mengenalku." imbuh Han lagi.


"Memangnya kamu siapa? artis?"


Mendengar kalimat cuek itu Han justru tersenyum kalem.


"Coba lihat yang benar.. ada tampang artis tidak diwajahku yang tampan ini?" goda Han, namun diluar dugaan, dengan polosnya Laras malah benar-benar menghentikan langkahnya dan memperhatikan wajah Han hingga sekujur tubuhnya, membuat Han tidak bisa menahan tawanya.


"Ada sih.. tapi.." Laras kembali menatap wajah Han yang sumringah, sehingga semakin menambah ketampanan lelaki itu. "Aku jarang menonton infotainment, nyaris tidak pernah.. maaf ya, aku benar-benar tidak mengenalmu, Han.." ucap Laras begitu jujur.


"Hahahhaha..."


"Kenapa tertawa?"


"Jadi kamu benar-benar menganggapku artis ya?"


"Jadi bukan?" Laras terhenyak dengan tampang blo'on.


"Hahaha..."


"Ish.. usil banget sih kamu, Han!" Laras merenggut, rasanya ingin ia mencubit lelaki tampan berkulit putih bersih itu, kalau saja ia tidak cepat tersadar bahwa ternyata mereka baru saja saling mengenal.


"Maaf.. maaf.." ujar Han begitu mendapati tampang cemberut Laras.


"Tapi kamu memang tampan kok. Pantas kalau jadi artis.."


"Iya kah?"


"Hhmmm.."


"Kalau begitu sebentar malam, kalau punya waktu dan kalau tidak keberatan.. aku tunggu kamu di Bar Dewi Lagoon." ujar Han dengan nada berubah serius, seraya melangkahkan kakinya kembali menapaki sepanjang jalan paving block itu.


Bar Dewi Lagoon yang dimaksud Han adalah sebuah bar yang ada di hotel Dewi Beach Lagoon. Bar tersebut sangat terkenal sebagai tempat hiburan malam paling berkelas yang ada di pulau Dewi.


"Egh, untuk apa?"Laras yang melihat tubuh Han yang mulai menjauh buru-buru mensejajari langkah Han yang panjang.


"Makan, nongki.. dan yang paling utama disana ada live music-nya. Keren bangetlah pokoknya.."


"Boleh saja, tapi yang nyanyi harus kamu yah.. biar aku bisa request khusus.." seloroh Laras asal, dengan niat menggoda Han, namun yang ada Han malah tersenyum mendengarnya.


"As you want.." jawab lelaki itu sambil mengerling dengan senyum yang super manis namun membuat Laras kembali terhenyak.


"Whattt..?"


"Kebetulan, aku memang vokalis band-nya.."


XXXXX


Apakah pantas jika saat ini dirinya marah?


Meta bertanya dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya menyusuri sepanjang jalan paving block yang dikiri kanannya berjejer kios-kios yang menjajakan aneka barang, mulai dari baju-baju dengan corak pantai, cenderamata, jajanan, bahkan kedai-kedai untuk bersantai.


Meta merasa saat ini dirinya begitu konyol. Marah atas kenyataan tentang Rico dan Shela..? hehh, bukankah selama ini Rico memang seperti itu? dengan Shela atau dengan wanita manapun..?


Pada kenyataannya.. Rico dan wanita adalah dua hal yang rasanya tidak bisa dipisahkan. Dan nyaris seumur hidupnya, Meta bahkan selalu melihat hal yang sama, tentang suaminya itu. Lalu kenapa saat ini ia harus terkejut dan marah? salahnya sendiri kenapa harus menjatuhkan hati pada seorang lelaki yang sudah nyata-nyata tidak bisa dipegang hatinya.


Membayangkan dirinya akan bersama lelaki itu sepanjang hidup seperti yang digombalkan Rico saat berada di private jet tersebut membuat Meta bergidik. Kalimat itu tadinya begitu romantis.. tapi ternyata hanya berlaku jika Rico bisa setia padanya, seperti pak Tian kepada Arini.


Sedangkan dirinya?


Apakah iya dia akan seberuntung Arini? yang dicintai dengan begitu besar oleh pak Tian? dan dihadiahi kesetiaan?


Meta menggeleng sendu.


Mustahil.


Saat ini Meta bahkan merasa kepercayaan dirinya semakin mencelos hingga ke dasar jurang. Menyadari ia tidak seindah itu untuk bisa membuat Rico hanya melihatnya.. tanpa pernah lagi berpaling pada wanita lain.


"Mari kakak.. aksesorisnya.. ada kalung, gelang, ganci.. silahkan dilihat-lihat dulu.." seorang gadis manis berumur belasan tahun yang merupakan penjaga kios aksesoris menyapa Meta dengan senyum yang merekah.


Kios kecil yang memajang berbagai macam cenderamata berupa pernak-pernik yang terbuat dari cangkang kerang itu nampak menarik perhatian Meta, membuat Meta langsung menepikan langkahnya guna menghampiri kios tersebut.


Meta tersenyum sambil mengambil salah satu kalung yang terlihat unik, namun baru dua detik kalung tersebut berada ditangannya.. tiba-tiba saja kalung itu sudah kembali berpindah tangan..


"Aku pilih ini..!"


Si penyerobot terlihat langsung menyerahkan kalung tersebut kearah gadis penjaga kios yang terlihat bimbang, menatap dua orang wanita yang berdiri bersisian tepat dihadapannya.


"T-tapi kak.. kakak ini yang lebih dulu.."


"Berapa harganya? aku bayar." ujar si penyerobot lagi dengan acuh, seolah tidak peduli dengan kalimat keberatan gadis penjaga kios cenderamata.


Meta membuang nafasnya kesal sebelum akhirnya berbalik guna mendapati siapa gerangan wanita yang tidak punya sopan santun itu, sehingga begitu berani menyerobot kalung yang sudah nyata-nyata telah berada ditangannya terlebih dahulu.


Namun manakala tubuhnya berbalik sempurna, belum apa-apa Meta sudah terhenyak ditempatnya.


"K-kamu..??"


Meta sedikit tergeragap.. tak menyangka jika bisa bertemu kembali dengan wanita dihadapannya, yang ternyata sudah sedari tadi sedang tersenyum remeh padanya.


"Nice to meet you, 'wanita yang bukan siapa-siapa'.. semoga kamu tidak melupakanku, karena adalah sebuah keajaiban, bisa bertemu denganmu kembali ditempat seindah ini.."


XXXXX


Wajah Tian terlihat sangat kesal ketika muncul dari balik pintu kamarnya, terlebih lagi ketika melihat dua wajah menyebalkan yang entah kenapa bisa berada didepan pintu kamarnya secara bersamaan.


"Mau apa kalian?" tanyanya dengan nada dingin, sambil menatap berganti-ganti kearah Rico dan Rudi. "Bukankah sejak awal sudah aku peringatkan agar jangan saling mengganggu? berani-beraninya kalian berdua malah mengganggu kesenanganku..!"


"Istriku tidak ada dikamar.." Rudi memberanikan diri untuk berucap terlebih dahulu.


"Istriku tidak berada dimana-mana.." pungkas Rico cepat.


Mendengar itu kekesalan Tian semakin naik keubun-ubun.


"Istrimu tidak ada, dan istrimu juga tidak ada. Lalu mencariku untuk apa? kalian pikir aku ini kolektor istri orang?!" sentak Tian dongkol.


"Tian, bukan begitu.. tapi.."


"Menjaga istri sendiri saja tidak becus..! pergi sana!! mengganggu saja.." usir Tian hendak membanting pintu namun Rico nekad menahannya.


"Kami berdua memiliki pemikiran yang sama, mungkin Arini tau sesuatu.." ujar Rico lagi sambil meringis menerima pelototan Tian akibat ulahnya yang nekad menahan lajunya daun pintu yang ingin dihentak sang pemilik kamar.


"Jangan melibatkan istriku dalam kekacauan. Awas saja kalau sampai Arini mengurusi persoalan kalian dan mengabaikan aku..!" ancam Tian lagi, kali ini dengan nada perlahan, takut terdengar Arini yang untungnya masih berada di toilet.


"Tian, tapi aku.."


"Pergilah dan hubungi saja ponsel mereka.."


Mengambang.


Kalimat Tian belum selesai namun rasanya Tian sudah ingin memukul kepalanya sendiri ke daun pintu, manakala secara bersamaan pula Rudi dan Rico melakukan hal yang sama.. masing-masing mengacungkan sebuah ponsel ditangan.


"Laras meninggalkan ponselnya.."


"Meta juga meninggalkan ponselnya.."


.


.


.


Bersambung..


Support jangan kasih kendor yah kesayanganku..🤗


Thx and Lophyuuu..😘