
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat Arini menginjakkan kakinya di pelataran lobby apartemen. Seperti biasa malam ini Arini pulang dengan menggunakan ojek online yang ia pesan dari sebuah aplikasi yang ada di ponselnya.
Arini baru saja mengembalikan helm yang ia pakai kepada tukang ojek online yang barusan ditumpanginya manakala seorang lelaki berbadan tegap tiba-tiba saja sudah berada disampingnya.
“Selamat malam ibu Arini, perkenalkan saya Haris, saya kepala keamanan yang ditugaskan khusus oleh Pak Tian di lingkungan apartemen ini. Sebelumnya saya meminta maaf tapi bisakah bu Arini ikut saya..?” kalimat yang cukup panjang dan diucapkan dengan sedikit tergesa-gesa itu sanggup membuat Arini keheranan.
“A-Appa..? t-tapi..” Arini tergeragap mendengar penuturan lelaki berbadan tegap namun berpenampilan klimis ini.
“Tolong bu Arini, ikutlah saya
sebentar,”
Wajah Arini sontak berubah pias saat mendengar perkataan dengan kesan memaksa didalamnya. “Tapi kamu siapa...?”
“Saya pengawal khusus keluarga Djenar. Dan tolong ikuti saya saja bu, semua ini perintah langsung dari pak Tian, demi keamanan bu Arini..”
“Apa buktinya kalau aku harus
mempercayaimu ?”
Haris mengeluarkan sebuah id card berlogo Indotama Group kepada Arini yang langsung menerimanya dan mencermati kartu itu dengan seksama, tapi tetap saja Arini merasa ia tidak bisa serta merta percaya begitu saja.
“Bu Arini, saya harus membawa bu Arini ke rumah Pak Tian.?
“Tapi kenapa ?”
“Saya tidak punya waktu untuk
menjelaskannya sekarang, bu. Ikutlah dengan saya dulu, nanti diperjalanan ibu boleh mencoba untuk memastikannya kembali.”
Bertepatan dengan itu sebuah mobil fortuner nampak berhenti tepat disamping mereka, Haris membuka pintu mobil itu dengan cepat dan dengan terpaksa akhirnya Haris harus sedikit mendorong tubuh Arini yang masih mencoba bersikeras kedalam mobil yang langsung melaju meninggalkan pelataran apartemen begitu saja.
Arini yang mendadak panik sontak
mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dengan tangan gemetar.
“Maafkan saya karena tadi saya sudah berlaku sedikit kasar mendorong bu Arini kedalam mobil. Tapi saya tidak punya pilihan lain,” ucap Haris yang duduk disampingnya dengan mimik wajah bersungguh-sungguh.
Arini yang ada disampingnya tidak
menanggapi kalimat lelaki yang katanya bernama Haris itu. Ia malah sibuk berkali-kali menekan tombol panggilan untuk menelpon Tian masih dengan tangan yang gemetar dan berkeringat dingin namun sialnya justru selalu dijawab oleh suara operator seluler.
Haris yang ada disamping Arini yang melihat tangan bahkan sekujur tubuh Arini bergetar hebat merasa was-was.“Bu Arini mau menelpon Pak Tian yah ?” tanyanya melihat kebingungan Arini yang kentara. Ponsel itu bahkan sempat tergelincir berkali-kali kepangkuannya menandakan betapa paniknya si nyonya besar.
“Bu Arini..”
“Diam !!!”
Haris tentu saja sedikit terlonjak
mendapati bentakan keras yang tiba-tiba itu.
“Maaf bu, saya hanya ingin mengatakan kalau saat ini ibu tidak bisa menghubungi Pak Tian karena..”
“Karena kamu tidak ingin saya tau bahwa sekarang kamu sedang berusaha menculik saya kan ? Dasar penjahat !! untuk apa kamu melakukan semua ini ? siapa yang menyuruhmu…?!!”
“Tapi bu Arini, saya hanya ingin bilang kalau ibu ingin mendapat kepastian tentang saya.. sebaiknya ibu menelpon Pak Rudi..”
‘Rudi ?’
‘Astaga.. ide penjahat ini benar juga. Kenapa tidak terfikir untuk menelpon Rudi ?’
Tepat saat Arini menyadari kebodohannya, ponselnya sontak berbunyi, dan nama Rudi terpampang jelas dilayar ponsel Arini.
Tidak membuang waktu lagi Arini langsung mengangkat panggilan tersebut. “Halo Rudi ?”
“Bu Arini, apa ibu sudah bersama Haris ?” Arini bisa menangkap nada suara Rudi yang biasanya terdengar selalu tenang dalam berucap kali ini sedikit tergesa.
“Haris..?” ulang Arini sambil mengerling sekilas kearah lelaki bertubuh tegap yang ada disampingnya. Hati Arini langsung mencelos, ia lega bukan main saat menyadari sepengal kalimat Rudi sudah cukup sebagai jawaban, bahwa ternyata lelaki bertubuh kekar disampingnya ini, bukanlah orang jahat yang sedang berusaha menculiknya seperti yang ada difikirannya sejak awal. "I-iya, Rud.. ini.. ada apa sebenarnya ?”
“Bu Arini, saya minta maaf karena saat ini saya tidak bisa menjelaskan apapun. Tapi yang pasti apa yang sedang dilakukan Haris saat ini adalah perintah langsung dari Pak Tian untuk membawa bu Arini malam ini kerumah pribadi Pak Tian,”
“Tapi ini ada apa Rudi ? kenapa
sepertinya terburu-buru ?”
“Bu Arini, sekali lagi saya minta maaf.. saya tidak bisa menjelaskan apapun selain mengatakan bahwa semua ini atas perintah Pak Tian.”
“Eghh tapi..”
“Baiklah, bu Arini.. selamat malam.”
Klik.
Panggilan itu diputus sepihak begitu saja oleh Rudi.
‘Ada apa sih ini sebenarnya ??’
Arini ngedumel dalam hati, kemudian serta merta menengok kearah Haris yang hanya duduk diam disampingnya. Arini menatapnya tajam, sedikit galak.
“Maaf bu, tolong bantulah saya dengan cara jangan bertanya apa-apa..” Haris yang sepertinya bisa menebak maksud Arini yang ingin memberondongnya dengan sejuta pernyataan berucap sambil menunduk takjim.
“Huhh..!”
Arini membuang nafasnya jengkel. Ia tau bahwa jika ia masih nekad membuang energy untuk bertanya maka ia pun tidak akan mendapatkan informasi apa-apa. Orang-orang kepercayaan Tian ini pasti akan lebih menuruti perintah majikan mereka tanpa syarat daripada harus menuntaskan dahaga yang ada difikirannya.
“Baiklah.. saya tidak akan bertanya
apa-apa, tapi bagaimana dengan barang-barang saya yang ada di apartemen ?”
“Bu Arini tidak perlu khawatir, semua barang-barang yang ibu butuhkan semuanya sudah tersedia dirumah pak Tian,” Haris berkata tanpa mengangkat wajahnya.
“Baikah,” Arini mengalah. Kemudian mengerling lagi sedikit kearah Haris sebelum berucap.. “Dan angkat saja kepalamu sekarang. Dari tadi menunduk terus seperti itu.. apa lehermu tidak sakit ?” imbuhnya.
“Baik bu, terima kasih,”
Haris mengangkat wajahnya sedikit meski
ragu-ragu.
“Begitukan lebih baik..” kilah Arini
cuek, sedetik kemudian ia mengalihkan wajahnya keluar kaca jendela mobil yang pekat, menatap hiruk pikuk jalanan ibukota yang tak pernah tidur, dengan fikiran yang masih diliputi sejuta pertanyaan.
‘Ada apa gerangan semua ini..?’
Saat mobil yang ditumpangi Arini sudah memasuki gerbang utama, dengan melewati sebuah pos keamanan lengkap dengan penjagaan yang ketat, sejak itu pula Arini sudah tidak bisa menyembunyikan rasa keterpukauannya. Arini benar-benar dibuat takjub dengan semua yang ada disana.
Bagaimana tidak ?
Mobil yang dikendarai mereka itu harus melintasi halaman yang begitu luas dulu sebelum sampai di teras rumah yang luar biasa megah. Dan halaman yang mereka lintasi itu adalah hamparan rumput yang meskipun sekarang adalah malam hari tapi Arini yakin bahwa hamparan rumput itu pasti berwarna kehijauan yang indah. Penataan taman bunga didepannya sangat artistik.. ditambah dengan adanya sebuah kolam lengkap dengan air yang memancar dari celah bebatuan buatan.
Pemandangan menakjubkan itu serentak membuat ingatan Arini seperti kembali pada masa kecilnya dulu, saat ia begitu gemar membaca buku cerita dongeng tentang seorang putri raja yang tinggal didalam sebuah istana seperti yang ada didepannya matanya ini, dan kemudian ia akan berkhayal bahwa dirinya adalah seorang putri.
Arini merasa ia seperti mengalami déjà vu, karena ingatan masa kecilnya begitu sama persis dengan yang ada dihadapan matanya saat ini.
Mobil berhenti sempurna diteras istana itu, seorang lelaki paruh baya dan seorang wanita yang juga paruh baya berdiri disana seperti memang sengaja ingin menyambut kedatangan Arini.
Arini melangkahkan kakinya ragu-ragu mendekati dua orang yang juga tergopoh-gopoh menyambut kedatangannya. Sejenak mereka menunduk hormat sebelum akhirnya lelaki paruh baya itu membuka suara.
“Selamat datang bu Arini.. perkenalkan saya pak udin dan ini istri saya panggil saja bik sumi. Selama ini kami berdua yang menjaga dan bertanggung jawab atas semua yang ada didalam rumah ini.”
Arini menganguk masih dengan tampang bingung. “oh.. eh.. saya Arini Ramdhan. Panggil saja saya Arini..”
Arini tidak punya pilihan lain selain
mengikuti langkah dua orang paruh baya itu, memasuki istana megah milik Tian yang membuat matanya tak henti-henti mengagumi keindahan dan kemewahan rumah Tian didalam hati.
Usai makan malam, bik sumi langsung mengantar Arini kesebuah kamar besar yang letaknya dilantai dua. Ragu Arini memutar gagang pintu perlahan, dan lagi-lagi dirinya harus terkesima mendapati pemandangan kamar yang begitu luas dengan nuansa maskulin yang kentara. Arini bahkan bisa mencium sebuah aroma yang khas dari dalam sana.
‘Egh.. ini..? ini bukannya..? kenapa aroma yang tercium dari kamar ini sama persis dengan aroma kamar Tian yang ada di apartemen..?’
Bathin Arini.
“Bik, ini kamar siapa ?” Arini tidak
bisa menahan rasa ingin tahunya.
“Ini kamar Pak Tian. Maksud bibik.. ini kamar bu Arini juga..”
“Tapi.. ini..”
“Ini perintah pak Tian, bu..”
‘Okeehh.. baiklah.. ini perintah pak Tian. Of course.. semuanya perintah si tuan besar kan ?’
Arini tersenyum kecut.
“Tapi pakaian saya dan semua kebutuhan saya..”
“Semuanya sudah tersedia, bu. Didalam sana bu Arini sudah punya wadrobe sendiri khusus untuk semua kebutuhan pribadi bu Arini,”
“Baiklah, bik.. terima kasih, kalau
begitu saya mau mandi dulu. Badan saya sudah lengket semua ini.”
“Baik bu, bibik kebawah dulu, kalau ada yang bu Arini perlukan, ibu tinggal pakai interkom atau tekan tombol yang ada disamping interkom saja, nanti saya atau pelayan yang lain akan datang kesini untuk membantu bu Arini,”
“Ohh.. iya, baiklah bik.. saya mengerti,”
“Saya permisi dulu, bu Arini, selamat beristirahat..”
Arini menganguk kecil sebelum akhirnya bik sumi undur diri dari hadapannya.
Arini memasuki kamar tersebut dan kemudian menutup pintu yang ada dibelakangnya. Tatapan Arini mengembara kesetiap sudut kamar yang besar itu.
Jadi ini kamar Tian ? astaga.. bahkan kamar ini jauh lebih besar dari kamar besar Tian yang ada di apartemen. Arini berdecak kagum sambil melangkah mengitari setiap sudut kamar itu, bahkan kamar Tian ini punya ruangan khusus untuk walk in closet. Arini nyaris tersedak melihat isi ruangan walk in closet yang berisi dua lemari super besar yang kelihatan sekali bahwa yang satunya itu milik Tian dan yang satunya lagi.. apa ini semua miliknya ??
Arini terhenyak melihat jejeran
aksesoris dan perhiasan yang berjejer rapi di etalase kaca. Apa semua ini miliknya ?
Arini menggeleng kuat-kuat. Tidak.. Tidak mungkin..
Arini memalingkan wajahnya dari jejeran perhiasan yang menyilaukan itu. Ia membuka lemari, berniat mencari baju tidur dan menyiapkannya terlebih dahulu sebelum ia mandi.
“Astaga..? apa ini..?”
Arini yang baru menyadari jejeran baju tidur yang ada dilemarinya semuanya berupa lingerie sexy itu serentak bergidik ngeri.
“Apa-apaan sih ini ? masa aku harus tidur dengan baju kekurangan bahan seperti ini ? Bisa-bisa besoknya aku langsung masuk angin !”
Arini ngedumel panjang pendek tapi akhirnya dengan terpaksa ia mencomot salah satu lingerie dan membawanya kembali kedalam kamar, menaruhnya diatas ranjang.
“Baiklah, Bodo amat, mau bagaimana lagi ? aku pakai ini saja.. lagian siapa juga yang akan melihat aku tidur memakai ini ? besok sepulang kantor, sepertinya aku harus beli piyama baru yang bentuknya lebih waras..!” lagi-lagi ia nyerocos sendiri panjang lebar sambil melenggang kedalam kamar mandi.
Tidak butuh waktu lama bagi Arini untuk mandi dan membersihkan diri, sesaat kemudian ia sudah bersiul-siul kecil keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe serta handuk yang melilit dikepalanya. Melakukan gerkakan menggosok-gosok rambutnya sebentar sebelum kemudian ia menanggalkan bathrobe dan mulai mengenakan pakaian dalam serta baju tidur yang semuanya kekurangan bahan itu.
Arini mematut dirinya dicermin besar yang ada dimeja rias.
“Ternyata kalau seperti ini aku bisa
kelihatan sexy juga..” ia tertawa kecil sambil kembali mematut dirinya didepan cermin, menghadap kanan kemudian ganti menghadap kekiri agar bisa melihat penampilannya secara utuh.
Sejenak Arini termanggu menatap pantulan dirinya. Fikirannya mengembara pada sosok Tian..
‘Apa Tian akan tertarik padanya kalau melihatnya berpakaian seperti ini ?’
Arini tersentak oleh lamunannya sendiri.
‘Astaga.. aku ini sedang memikirkan apa ? sudah jelas lelaki sedingin balok es itu tidak mungkin tertarik padanya. Tian bahkan sudah terang-terangan mengatakan bahwa ia sama sekali bukan tipe lelaki itu..!’
Kemudian ia tercenung lagi..
‘Jadi tipe lelaki itu seperti apa..? seperti Lila ? Ceo cantik yang kaya dan bertalenta itu ? yang memiliki kaki panjang dengan lingkar pinggang yang kecil seperti boneka barbie..? Huhh..!’
Arini merasakan dadanya kembali sesak saat ingatannya kembali pada Lila. Wanita yang sekarang sedang digembar-gemborkan seisi kantor pusat Indotama Group karena memiliki hubungan isimewa dengan Tian.
Arini bahkan sempat melirik kakinya sendiri. Ia menyadari dengan tinggi tubuhnya yang seratus enam puluh centimeter dirinya juga tidak tergolong wanita pendek. Tapi jika pembandingnya adalah Lila.. sudah jelas ia pasti kalah. Tinggi Lila sangat proposional.. setara model-model ternama yang biasa berjalan di catwalk.
Arini enggan mengakui kalau sisi hatinya yang lain bahkan mengakui bahwa wanita seperti Lila memang merupakan pasangan yang cocok dan ideal untuk seseorang yang maha sempurna seperti Sebastian Putra Djenar, kan ?
Lalu bagaimana dengan dirinya nanti ?
Apakah nanti Tian akan meninggalkannya demi Lila ?
Tapi.. tapi bagaimana nanti jika itu
benar-benar terjadi ? apa ia mampu untuk menghadapi kenyataan ?
Arini merasa dadanya semakin sesak. Perlahan ia memutuskan untuk menghempaskan tubuh lelahnya kesisi ranjang dengan perlahan. Arini bahkan tidak tau apa penyebab ia berada dirumah Tian sekarang ? Apa di apartemen terjadi sesuatu ?
Sepertinya memang begitu. Kalau tidak bagaimana mungkin Arini dievakuasi seperti itu, bahkan ia sempat menyangka bahwa tadi ia sedang berusaha diculik oleh pria kekar bernama Haris.
Tapi apa yang terjadi sebenarnya ?
kenapa semua orang tidak mau membuka mulut untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya ? Apa ada yang curiga dengan keberadaannya, dan Tian sedang berusaha menyembunyikan dirinya lagi sekuat tenaga seperti biasanya juga ?
Hhhhhh.. bahkan ponsel Tian pun tidak bisa dihubungi.
Arini berusaha memejamkan matanya. Mencoba mengusir semua persoalan serta pertanyaan yang berseliweran dengan liar dibenaknya karena ia menyadari satu hal, bahwa memikirkan semuanya tidak serta merta meringankan persoalannya, dan tentu saja tidak akan bisa menjawab satu pun pertanyaan yang ada diotaknya.
Hari sudah begitu larut, gelapnya malam telah berganti dengan dini hari yang masih pekat.
Arini bahkan sudah terseret mimpi sejak beberapa jam yang lalu, manakala pintu kamar itu terbuka perlahan.
Sebuah sosok tinggi tegap masuk kedalam kamar tanpa suara, bahkan ia memperlambat langkahnya agar tidak terdengar gaduh.
Matanya menangkap bayangan Arini yang terlelap diatas ranjangnya. Pemandangan bahu dan paha yang tersingkap membuatnya berpaling, menelan ludah, dan memijit keningnya perlahan sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk kekamar mandi guna membersihkan dan merefresh tubuhnya yang lelah dan jet lag setelah melewati perjalanan panjang London-Jakarta yang seharusnya bisa ditempuh kurang lebih delapan belas jam menjadi lebih dari dua puluh satu jam akibat delay yang menyebalkan pada saat transit di Dubai.
Beberapa saat kemudian sosok itu sudah berdiri didepan ranjang dengan memakai kaos dan celana boxer. Ia tersenyum saat menyadari bahwa tidak sia-sia ia memerintahkan pak udin untuk mengeluarkan sofa dari dalam kamarnya, dan menyingkirkannya jauh-jauh. Karena dengan tidak adanya penampakan sofa panjang didalam kamar akan membuat wanita keras kepala ini tidak memiliki pilihan lain untuk merebahkan tubuhnya selain diatas ranjangnya.
Sosok itu tersenyum penuh kemenangan dibalik temaramnya lampu kamar, sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya perlahan diatas ranjang yang sama, tepat disebelah tubuh Arini yang terlelap dalam buaian mimpi masa kecil, tentang seorang putri raja.. yang sedang berdansa dengan seorang pangeran tampan, dibawah sinar bulan yang syahdu..
Bersambung...
like,
comment,
vote.. buruu ahh ..!! 😁😁😁
lophyuuuu readerrrss.. 😘