
Kisah cinta para anak-anak CEO Tampan dan Istri Rahasia, check profil Author ya.. kisah cinta Rei sudah launching disana dengan judul : *PASUTR**I*
Ada juga yang HOT 🔥 : TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
Jangan lupa favoritekan ! 🤗
.
.
.
Dua buah cangkir hot chocolate yang mengepul diatas meja seperti menjadi sebuah kenyataan baru yang terasa aneh.
Laras membisu, Meta juga.
Beberapa menit yang lalu seorang pelayan kedai kecil itu menghampiri meja bulat yang terbuat dari kayu, tempat mereka berdua kini duduk saling berhadapan.. lalu siapa sangka jika mereka berdua juga menyerukan request yang sama.
"Hot chocolate..!"
Dan detik berikutnya baik Meta maupun Laras sama-sama terhenyak, yang berakhir dengan Laras yang memutar bola matanya masih menunjukkan aura permusuhan, sementara Meta lebih luwes karena merasa lucu dengan situasi tersebut.
"Ada tidak hal yang ingin kamu sampaikan?" Meta memutuskan untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.
Mendengar itu Laras menatap Meta dengan tatapan aneh, namun seperti biasa mulutnya senantiasa mencebik. "Bukannya tadi kamu yang mengajakku untuk bicara?" desis Laras cuek.
"Memang, tapi sebelum aku bicara aku ingin memberi kesempatan kepadamu terlebih dahulu.."
Laras terlihat masih setia membisu, membuat Meta kembali berinisiatif, tetap berusaha untuk membangun komunikasi yang baik dengan wanita keras kepala dihadapannya ini.
"Kita harus punya alasan sebelum memutuskan untuk membenci seseorang.." ucap Meta perlahan yang langsung dibalas dengan ekspresi wajah Laras yang sungguh tidak enak dipandang.
"Aku malah sebaliknya. Aku bisa menyukai dan membenci seseorang tanpa alasan. Kalau aku suka.. ya aku suka. Kalau aku tidak suka ya tidak suka. Simple. Jadi kalau aku tidak menyukaimu.. ya karena aku memang tidak suka.."
"Bohong.."
"Kamu..
"Cemburu."
"Apa?!"
"Kamu cemburu."
"Cih.." Laras tertawa. "Pede banget. Punya kaca gak sih?"
Meta menarik nafas perlahan. Kesal menerima penghinaan Laras yang selalu dan selalu.. tapi menyerah saat ini, sepertinya sudah terlambat.
"Kenapa tadi membantuku?" pungkas Meta, mencoba mencari topik yang sekiranya bisa membuat dirinya bisa meraba seperti apa isi hati juga isi fikiran Laras yang selalu melompat kesana kemari.. tidak bisa ditebak sama sekali.
"Jangan ge-er. Aku punya persoalan pribadi dengan wanita itu dan juga teman-temannya, sama sekali tidak berniat membantumu. Aku hanya merasa kesal wanita itu bisa mendapatkan keinginannya dengan semena-mena.. dan itu karena kamu terlalu lemah!!"
"Dimataku sama saja.."
"Cihh.." Laras bahkan merasa kesal hanya karena melihat tampang Meta yang datar seolah tidak terpancing dengan keadaan. Laras mengibaskan tangannya. "Forget it..! karena pada kenyataannya kamu telah mengalah begitu saja dan memberikan sesuatu kepada wanita tadi tanpa perlawanan. Dasar lemah.."
Mendengar itu Meta mengulum senyum, berusaha keras untuk tidak tersinggung. "Laras, kamu memang melihatnya seperti itu, tapi kamu harus tau satu hal bahwa aku hanya bisa bermurah hati, dan memberikan apa yang tidak terlalu aku suka. Karena untuk beberapa hal.. aku cukup serakah."
"Apa sekarang kamu sedang menyindirku?" Laras menatap Meta dengan jutek.
Meta belum sempat menjawab tapi Laras sudah memberondongnya lagi.
"Kamu mau bilang kalau kamu tidak terlalu menyukai kak Rudi jadi kamu bisa memberikannya juga?"
"Astaga Laras, saat ini aku sedang membicarakan diriku, bukan dirimu atau Rudi.." Meta terlihat nyaris putus asa.
Laras membuang wajahnya, tapi begitu ia berbalik menatap wajah Meta, wajah wanita itu kini terlihat sendu.
"Wanita tadi adalah wanita yang telah dijodohkan dengan Rico oleh kedua orangtua Rico. Dia adalah sepupu jauh dari Lila.."
"Untuk apa mengatakan semua itu kepadaku?" balas Laras cuek.
"Untuk membuatmu mengerti bahwa persoalan rumah tanggaku cukup rumit. Jadi berhentilah selalu menambahkan diriku dalam persoalan hubunganmu dengan Rudi lagi. Pliss Laras.."
Laras terdiam, tapi kemudian ia menatap menatap Meta lekat, kali ini tatapannya telah jauh berbeda dari sebelumnya.
"Baiklah.. aku mengerti apa yang sedang ingin kamu sampaikan. Namun sepertinya kamu juga tidak pernah tau, bagaimana rasanya menyukai seseorang setelah sekian lama, sementara orang itu malah sibuk menyukai orang lain.."
.
.
.
Sementara itu..
Beberapa meter dari meja bulat tempat dimana Meta dan Laras duduk berhadapan dengan dua cangkir hot chocolate diatas meja.
Rico berdiri sambil menarik nafas lega melihat seseorang yang telah membuatnya kelimpungan itu tengah berada disebuah kedai kopi bersama Laras.
Rico mengeluarkan ponselnya untuk menekan nomor Rudi.
"Bagaimana? sudah ketemu?"
Suara Rudi terdengar menyapa tidak sabar.
"Iya.. aku menemukan mereka berdua.."
XXXXX
"Masih marah?"
Rico tidak bisa menahan diri untuk langsung merengkuh wanita yang nyaris membuatnya gila beberapa saat yang lalu itu begitu pintu kamar mereka tertutup.
Meta mencoba mengelak dengan halus, namun Rico tidak semudah itu melepaskannya. Akhirnya ia pasrah saja menerima pelukan lelaki itu yang rasanya semakin lama semakin erat.
"Siapa juga yang marah.." lirih Meta.
"Tidak mau disentuh.. pergi diam-diam.. meninggalkan ponsel.. apa itu namanya kalau bukan marah?"
Meta memalingkan wajahnya yang memerah, hembusan nafas Rico yang menampar-nampar tengkuk dan pelipisnya sekaligus sanggup membuatnya merona, sementara jantungnya ikut berdebar resah.
"Lalu kenapa meninggalkan ponsel?"
"Tidak sengaja tertinggal.." kilah Meta lagi.
Rico terdiam, Meta juga diam. Tapi lengan kokoh Rico masih terus melingkari tubuh mungil Meta.
Dalam hati Rico mengutuk dirinya sendiri, mengapa dalam keadaan seperti ini, mulutnya yang biasanya begitu pintar mengeluarkan bujuk, rayu, akal bulus, bisa-bisanya kehilangan kemampuan untuk merangkai kalimat yang baik.
"Jangan seperti ini lagi.." akhirnya kalimat itu yang keluar. Lirih, perlahan, seolah tidak memiliki kekuatan didalamnya.
"Seperti ini, seperti apa maksudnya?"
"Pergi tanpa mengatakan apa-apa. Kamu sengaja ingin membuatku gila? kalau begitu pukul saja kepalaku ini sekalian.."
"Ish.. daddy, bicara apa sih?" protes Meta sedikit bergidik mendengar kalimat ngaco Rico.
Rico menaruh dagunya dipundak Meta, kemudian mengecup kecil ceruk leher Meta sejenak, membuat Meta seolah kesetrum listrik voltase rendah mendapati perlakuan kecil yang diam-diam meluluhkan hatinya dalam sekejap.
'Anak sama daddy sama saja.. dua-duanya pintar mencuri hati..'
Bathin Meta, entah kenapa selalu merasa tindakan Rico dan Rei itu selalu terasa begitu manis disudut hatinya.
"Tentang Shela.. aku minta maaf.."
Mendengar nama 'Shela' disebut membuat Meta ingin melepaskan diri kembali, namun lagi-lagi usahanya gagal karena Rico kembali mengetatkan pelukannya.
"Mommy.. aku janji tidak akan mengulanginya lagi.." merengek manja seperti seorang bocah, membuat Meta merasa gemas namun tidak ingin menampakkannya.
"Apa aku harus percaya begitu saja?"
"Harus percaya. Kan aku sudah berjanji.." rengek Rico lagi.
"Lalu apa jaminannya?"
Rico terdiam sejenak sebelum akhirnya membalikkan tubuh Meta sehingga posisi mereka kini berhadap-hadapan.
"Apapun yang kamu mau."
"Tapi aku sudah punya semua yang ingin aku minta.." Meta kembali membuang mukanya dengan jengah.
"Lalu bagaimana? kalau aku bilang hatiku ini jaminannya nanti aku dibilang gombal.."
"Kalau begitu aku mau itu saja." pungkas Meta cepat, cukup membuat Rico terhenyak.
"Baiklah.. karena semua yang ada didalam sini memang sudah jadi milik mommy semua.." Rico menunjuk dadanya dengan senyum jumawa, namun mendengar kalimat puitis itu Meta diam saja, bahkan kemudian mencebik. "Tuh kan.. kalau aku mengatakan seperti itu, pasti bawaannya tidak percaya.."
"Makanya tidak perlu dikatakan, tapi dibuktikan.."
"Baiklah.. kalau begitu aku akan membuktikannya.." berucap demikian sambil tersenyum mesum, serta-merta meraih tangan Meta, menariknya perlahan kearah ranjang dengan ukuran king size.
"Egh.. apa ini..?" Meta gelagapan begitu membaca apa yang sedang berada dibenak Rico saat ini.
"Katanya mau bukti?"
"Kalau seperti ini bukan bukti namanya, tapi modus."
"Ya sudah, anggap saja bukti sekalian modus.." Rico telah mendudukkan tubuh Meta yang gelisah ditepi ranjang, namun Meta terlihat menggeleng berkali-kali.
"Tidak.. tidak.."
"Katanya cinta, tapi diajak bercin ta nolak.." seloroh Rico separuh kecewa.
"Bukan menolak tapi itu.." Meta menunjuk tirai yang terbuka lebar sehingga matahari sore terlihat masuk dengan leluasa disana.
"Oh, itu.. tinggal ditutup saja kan..?" Rico bergerak cepat menyambar remote tirai yang terletak diatas nakas dan menekannya hingga tirai tersebut tertutup secara otomatis. Setelah itu Rico melempar remote tersebut begitu saja keatas ranjang, kembali mendekati Meta dan langsung melabuhkan ciu man, membuat Meta kembali gelagapan.
"D-daddy t-tunggu sebentar.. ini.. ini.."
"Astaga.. ini apa lagi sih..?" Rico menggaruk kepalanya frustasi, karena Meta tidak juga berhenti mencari cela untuk menolaknya.
Wajah Meta merona ketika mendapati tatapan Rico yang lekat hanya berada kurang dari lima centi dari wajahnya. "Ini.. masih siang.."
"Ini sudah sore, bukan siang lagi.."
"Tapi.. aku.. bisa tidak aku mandi dulu?" Meta meringis ketika mendapati tatapan kesal Rico padanya.
"Aku juga belum mandi.. lagian ini juga belum waktunya mandi!" Rico menggerutu, mulai tidak sabar dengan Meta yang terlihat sekali hanya mencari alasan untuk ngeles.
"D-daddy.. bagaimana kalau nanti malam saja.." tawar Meta lagi kembali berusaha mengulur waktu.
Sejujurnya Meta merasa sangat resah, malu dan.. sedikit takut. Bukan apa-apa, karena jika saat ini Rico nekad menyentuhnya, maka ini akan menjadi moment kedua dalam hidup Meta setelah malam pertama yang panas di apartemen Rico beberapa hari yang lalu.
"Malam ini pemilik hotel telah mengundang Tian dan kita semua untuk makan malam. Jadi sebelum makan malam.. aku mau makan kamu dulu.." bisik Rico tidak bisa lagi ditawar.
Detik berikutnya Rico telah melabuhkan ciu man panjangnya yang hangat, lembab, dan menggai rahkan, yang tidak bisa lagi ditolak Meta.
Perlahan namun pasti terus memberikan sentuhan yang menenangkan, yang membuat rasa malu dan takut yang sedang bergelayut dijiwa Meta lambat laun menghilang, berganti dengan rasa menuntut penuh damba.
Rico menatap lekat wajah Meta yang terlihat menutup mata dan mengigit bibirnya begitu ia telah memposisikan dirinya ditempat yang tepat dan mulai menekan perlahan. Refleks menurunkan wajahnya hanya untuk mendapatkan bibir yang meringis dan bergetar itu.
"S-sakit.."
Rico tersenyum saat menatap sepasang mata yang mengerjap indah dibawahnya.
"Tidak apa-apa. Hanya sebentar.." ucap Rico, mencoba menenangkan lewat beberapa kecupan, meskipun lengannya sendiri terasa semakin perih dengan adanya kuku Meta yang menancap disana.
Rico melu mat bibir Meta dengan penuh kelembutan, sambil terus menurunkan tubuhnya dengan sabar. Begitu masuk sempurna, mendiamkannya dulu sebentar, sebelum mulai bergerak perlahan.. terus bergerak dengan tempo yang semakin meningkat, seiring ******* merdu Meta yang mulai terdengar ditelinganya, seolah membakar habis gairahnya agar meningkatkan kecepatan, menghentak keras.. terus melaju dengan irama yang beragam..
Meta membelai wajah Rico yang terus memacu bersimbah peluh.. namun sepertinya lelaki gagah itu belum juga menemukan titik akhir, meskipun telah membuatnya luluh lantak berkali-kali.
Rico terus mengajak Meta berlayar melewati samudera cinta yang maha luas seolah tak bertepi.. dan bersama mereka melewati sore itu dengan penuh cinta yang menggetarkan..
.
.
.
Bersambung..
Pagi yang panas yah, pemirsahh.. 🤪
Support dulu bebb.. 🥰 Lophyuu all.. 😘