
Ditunggu kunjungannya di :
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu like, comment,
dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR.. 🙏
.
.
.
Mata Rudi masih terpejam saat ia menggeliat kecil. Tangannya refleks meraba permukaan ranjang disampingnya dan dengan serentak terjingkat bangun saat menyadari bahwa permukaan ranjangnya telah kosong melompong.
Rudi mengedarkan pandangannya pada sekeliling kamar namun hanya keheningan yang ia dapatkan. Detik berikutnya ia bergegas turun dari ranjang.. mendekati pintu kamar mandi sambil mencoba mencari tau jika saja ada aktifitas dari dalam sana namun nihil. Bahkan saat Rudi nekad membuka pintu kamar mandi.. lagi-lagi hanya keheningan yang ia dapatkan.
“Apa dia sudah pergi ? tapi.. tanpa memberitahu lebih dahulu ?” bergumam sendiri sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana boxer Rudi hendak menuju ke dapur untuk mendapatkan beberapa teguk air mineral.
Mendadak ia baru menyadari bahwa dirinya memang belum makan apapun malam ini saat merasakan perutnya yang agak melilit minta di isi sesuatu. Namun saat Rudi tiba di dapur minimalis apartemenya Rudi malah menemukan pemandangan yang lain.
Disana.. disalah satu kursi kitchen set mini bar-nya, ia malah menemukan sosok yang sejak tadi ia cari sedang duduk dengan sebuah gelas kaca beserta sebotol besar air mineral dingin diatas meja yang setengahnya telah tandas.
Laras yang menyadari kehadiran Rudi yang tiba-tiba juga nampak sedikit terkejut, namun secepat kilat ia langsung memalingkan wajahnya lagi kearah lain begitu melihat penampilan Rudi yang setengah na ked tersebut. Laras merasa malu saat menyadari jantungnya berdegup aneh akibat pemandangan yang harus ia akui begitu indah itu.
Rudi menghempaskan tubuhnya dengan acuh di kursi kosong yang berada tepat disamping Laras. Dengan gayanya yang cuek ia mengambil gelas kosong yang masih berada didalam genggaman Laras, mengisinya dengan air mineral dalam botol yang ada diatas meja kemudian mulai meneguknya hingga tandas.
“Kenapa kamu minum air sebanyak itu ?” Rudi menatap Laras yang hanya membisu seraya mengawasinya sesekali.
“Tidak apa-apa..” menggeleng malas.
Rudi menatap Laras lagi. Perutnya yang kembali melilit menyadarkan Rudi tentang sesuatu.. bahwa sama seperti dirinya.. sepertinya Laras juga belum sempat makan apa-apa sejak tadi.
Tentu saja.
Sejak bertemu di taman kota menjelang malam mereka berdua langsung menuju apartemen ini. Dan selanjutnya seperti yang sudah-sudah.. lagi dan lagi.. mereka tenggelam dalam samudera luas yang maha dalam.. yang penuh keindahan namun menyesatkan..
“Kamu lapar yah ?”
Laras menelan ludahnya kelu. Ingin mengangguk mengiyakan tapi merasa sangat malu. Sesungguhnya Laras memang merasa sangat lapar, makanya ia nekad membuka kulkas milik Rudi yang terletak disalah satu sudut dapur apartemen lelaki itu.
Tapi ternyata.. selain air mineral kemasan yang ada didalam beberapa botol besar, Laras hanya menemukan beberapa kaleng bir didalan kulkas. Tidak ada lagi selain itu, sehingga dengan terpaksa ia harus mengganjal perutnya dengan beberapa gelas air mineral sekaligus.
“Aku akan berganti pakaian sebentar, lalu kita akan keluar untuk mencari makanan..” tak kunjung mendapat jawaban akhirnya Rudi memutuskan untuk beranjak dari duduknya, hendak masuk kekamar untuk memakai baju dan mengambil kunci mobilnya.
“Tidak usah..”
Rudi mengibaskan tangannya, membuat Laras kembali terdiam. Ia hanya pasrah menatap punggung Rudi yang kembali menuju kamarnya. Tidak sampai dua menit lelaki itu sudah keluar lagi dari dalam kamar dengan penampilan casual serta kunci mobil ditangan.
“Ayo cepat. Memangnya cuma kamu saja yang belum makan ? aku juga lapar..” ujar Rudi saat melihat Laras yang masih diam sambil mengawasinya.
Kembali terhenyak mendengar kalimat ketus itu akhirnya Laras bangkit juga dari duduknya.. melangkah gontai mengikuti langkah lebar Rudi yang sudah berjalan mendahuluinya.
XXXXX
“Mau tambah lagi..?” tanya Rudi sambil menyembunyikan senyum saat mengawasi Laras yang nampak sangat menikmati sate ayam pinggir jalan ditempat favoritnya itu. “Mau aku pesankan lagi ?”
Laras menggeleng cepat. “Tidak.. tidak.. aku sudah kesulitan bernafas saking kenyangnya..” seraya meletakkan sisa tusuk sate terakhir kedalam piringnya.
Laras melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul sebelas malam. Mendapati kenyataan itu ia hanya bisa menghembuskan nafasnya berat.
Sebenarnya Laras sangat tidak suka makan terlalu malam seperti saat ini. Ia bahkan terbilang jarang sekali makan malam. Demi apa lagi kalau bukan demi menjaga berat badan yang proposional idaman semua wanita..?
Tapi mengingat sejak siang ia bahkan belum makan apa-apa.. alhasil perutnya juga merasa tersiksa karena dililit rasa lapar.
“Setelah ini aku akan pulang kerumah..” ucapnya sambil meneguk sedikit air mineral.
“Kata siapa boleh pulang kerumah ?” Rudi berucap acuh tanpa mengangkat wajahnya dari layar ponsel yang tadi berbunyi notifikasi menandakan ada sebuah pemberitahuan yang masuk.
Mendengar jawaban pongah itu membuat Laras melotot tajam. “Kak, kalau kamu seperti ini terus, lama-lama kak Tian akan tau..”
“Aku juga sangat ingin tau, memangnya apa yang membuatmu sangat takut ? berharap pak Tian akan cemburu.. atau malah takut pak Tian akan mencabut semua fasilitas yang ada padamu..?”
Mendengar kalimat pedas tersebut sepasang bola mata Laras nyaris keluar karena membeliak. Bibirnya gemetar menahan sakit yang terasa seperti menohok langsung ke jantung, terlebih lagi saat melihat Rudi yang bisa dengan mudah mengucapkan kalimat itu dengan santai bahkan masih berkonsentrasi penuh pada layar ponselnya.
Dengan kemarahan yang membuncah Laras meraup jaket Rudi yang ada dipangkuannya kemudian melemparkannya kewajah lelaki itu yang tak kuasa menahan rasa terkejut mendapati perlakuan bar-bar Laras.
Rudi buru-buru bangkit, merogoh dompetnya dan mengeluarkan selembar uang ratusan ribu dari sana, menyerahkannya pada penjual sate ayam favoritenya tersebut.
“Ambil saja kembaliannya bang..” teriak Rudi seraya setengah berlari menyusul langkah cepat penuh amarah milik Laras yang tadi telah meninggalkannya lebih dahulu begitu saja, usai menghadiahi sebuah timpukan manis dari jaketnya sendiri.
“Laras, berhenti..”
Rudi berucap setelah berhasil mensejajari langkah wanita itu.
“Laras, jangan seperti ini. Ini sudah malam. Tidak aman berkeliaran dijalan..”
“Apa urusanmu ?” berteriak tanpa berniat menghentikan langkahnya yang cepat, membuat Rudi dengan terpaksa harus menahan pergelangan tangan Laras guna mencegah wanita itu semakin jauh melangkah.
“Urusanku ? tentu saja itu urusanku karena kamu datang kesini bersamaku..! kalau kamu ingin berlari-lari tengah malam dijalan boleh saja.. tapi jangan sekarang ! jangan saat bersamaku !”
Mendengar kalimat itu lahar yang ada didalam diri Laras semakin mendidih. Laras menghentakkan pergelangan tangannya dari cengkeraman tangan besar itu namun sia-sia. Yang ada sekarang Laras malah tidak bisa berbuat banyak saat Rudi telah menarik pergelangan tangannya berlawanan arah.. menuju kearah mobil-nya yang terparkir dipinggir jalan dekat tempat penjual sate ayam tadi.
“Masuk.” titah Rudi dingin begitu sampai didepan pintu mobil.
Meskipun dengan kedongkolan yang luar biasa akhirnya Laras tetap mengikuti perintah Rudi.
“Kalau kamu mencoba keluar lagi.. aku benar-benar tidak akan mengampunimu !” ancam Rudi
sebelum akhirnya menutup pintu yang ada disebelah Laras dan berjalan mengitari mobil kesisi yang lain.
Sepanjang perjalanan tak ada lagi yang bicara diantara mereka. Rudi memegang setir dengan wajah mengeras dan mata yang terus lurus menatap jalanan malam, sedangkan Laras yang ada disebelahnya memilih membuang pandangannya keluar kaca jendela mobil yang ada disampingnya.
Beberapa menit berkendara Laras baru menyadari bahwa mobil Rudi sudah mengarah kejalan menuju rumahnya.
“Berhenti disini saja.” Laras berucap datar tepat saat jarak mereka sudah sekitar dua puluh meter dari pagar rumahnya yang menjulang.
Tanpa berkata apa-apa Rudi menepikan mobilnya begitu saja. Namun saat Laras melepaskan seat belt bersiap untuk turun tiba-tiba Rudi sudah menaruh jaketnya lagi kepangkuan Laras.
“Pakai itu.”
“Tidak perlu !” Laras nyaris mengembalikan kembali jaket itu kepada pemiliknya manakala..
“Aku bilang pakai !!” suara Rudi terdengar dua kali lebih tegas dari biasanya.
Mendengar itu Laras menelan ludahnya. Menyadari bahwa sosok disampingnya telah benar-benar sangat marah Laras memutuskan untuk memakai jaket itu sesuai dengan kemauan Rudi sebelum akhirnya membuka pintu mobil yang ada disampingnya.
“Aku akan tetap disini sampai aku bisa memastikan kamu benar-benar sudah masuk kedalam..”
“Terserah !” Laras membanting pintu tersebut dengan geram, selanjutnya telah berjalan cepat menuju pagar rumahnya.
Laras merapatkan jaket dengan aroma maskulin khas Rudi tersebut saat menyadari bahwa ternyata udara malam itu terasa sangat dingin. Pantas saja lelaki sombong itu bersikeras menyuruhnya memakai jaket.
“Pak tolong bukakan pintunya..” ucap Laras kepada penjaga yang berada digerbang depan rumahnya.
“Loh.. non Laras ?” lelaki paruh baya itu terkejut saat melihat Laras berdiri didepan gerbang. Dengan gerakan secepat kilat ia membuka gerbang tersebut untuk majikannya. “Kenapa berjalan kaki, non ?” tanya penjaga itu keheranan ketika melongok keluar dan tidak menemukan apa-apa.
“Ohh.. t-tidak.. tadi aku naik taxi online koq.. bapak saja yang gak liat..” berucap sedikit gugup sambil bergegas masuk kedalam rumah.
Akhirnya penjaga itu hanya bisa bengong seraya memperhatikan punggung Laras yang menjauh, namun lagi-lagi ia kembali melongokkan kepalanya keluar untuk memastikan..
Bahwa sejak tadi tidak pernah ada taxi online atau ojek online yang berada diluar sana.. selain sebuah mobil berwarna hitam pekat yang terparkir ditepi jalan dengan mesin yang masih menyala kira-kira dua puluh meter dari pintu gerbang.
Dan mobil berwarna hitam pekat itu langsung berputar arah, begitu memastikan bahwa majikannya telah benar-benar memasuki gerbang yang ia jaga...
.
.
.
Bersambung..
Haiii.. up lagi nih..!! 🔥
Jangan lupa bantu author buat naikin
“pop”menuju 1,0 M.. Chayoo..! 💪
Untuk hidden reader jangan lupa membagi like-nya dan tekan icon favorite untuk novel ini. 🥰
Please give me your Like, Comment, and Vote. Thx and Lophyuu all.. 😘