
Jangan lupa kepoin novel author lainnya :
"CINTA ELEANA DAN PANGLIMA PERANG"
Masih sepi soalnya, butuh pasukan bantuan dari CTIR untuk meramaikannya.. 🤭
.
.
.
Rico menghempaskan tubuhnya keatas ranjang king size begitu saja, membuat Meta yang menyusul dibelakangnya seraya menggendong Rei mengulum senyum melihat sikap Rico.
Meta mendekati ranjang untuk menurunkan Rei yang sedang manja dengannya itu.
"Rei, turun dulu yah.." pinta Meta seraya menaruh Rei keatas ranjang, tepat disebelah tubuh Rico yang sedang rebahan malas diatasnya.
Tidak bisa dipungkiri, bobot tubuh Rei yang semakin berat membuat Meta sedikit kesulitan saat harus menuruti keinginan bocah itu jika sedang manja minta digendong. Untung saja Rei sudah tidak semanja dulu, saat diawal kepergian almarhumah Lila yang membuat bocah itu seperti trauma kehilangan, sampai-sampai tidak mau lepas dari Meta sedetik pun.
Kedua kaki Rei sudah menapak sempurna pada permukaan ranjang, namun tangan bocah itu masih setia melingkar erat dileher Meta.
Melihat pemandangan kolokan putranya itu membuat Rico berubah gemas. Rico bangkit dari rebahannya kemudian memeluk pinggang Rei, menariknya kebelakang sehingga belitan tangan bocah itu di leher Meta terlepas.
"Sudah gede masih digendong saja.." goda Rico yang kemudian bergulingan diranjang yang berukuran besar dengan membawa serta Rei dalam pelukannya, tak lupa menghujami Rei dengan ciuman diperut bertubi-tubi, membuat Rei tertawa keras kegelian dengan ulah nakal Rico.
Keadaan lucu itu terus berlanjut hingga beberapa saat dan sempat membuat Meta terkikik geli sebelum akhirnya memilih melerai dua makhluk dengan perbedaan ukuran yang sangat jauh itu, yang tidak kunjung berhenti bergulat diatas ranjang super besar.
"Daddy.. sudah..!" Meta menarik bahu Rico untuk menjauhkannya dari Rei.
Bukan apa-apa, dirinya merasa sesak sendiri melihat pemandangan Rico yang tidak juga berhenti mengusili Rei meskipun Rei sudah memukul-mukul kepala Rico sebagai bentuk perlawanan dari pergulatan yang tidak seimbang itu sambil tergelak keras.
Rico yang terlentang akibat dorongan Meta refleks meraih pergelangan tangan Meta dan menariknya sehingga jatuh keatas tubuhnya.
"Ih.. apa sih, jangan seperti ini.. ada Rei.." lirih Meta sambil berontak melepaskan diri, tapi yang ada malah sebaliknya, Rico justru semakin membelitkan pelukannya ketubuh Meta.
"Rei, ayo sini.. kita peluk mommy.." ajak Rico yang tentu saja dipenuhi modus pribadi.
Mendengar ajakan itu, Rei yang semula bengong melihat tubuh Meta yang jatuh menimpa Rico, dan kemudian telah dibelit sempurna sehingga tidak bisa meloloskan diri, langsung tersenyum sumringah menyambut hangat rencana licik Rico.
"Mau daddy.. aku juga mau peluk mommy.." ucap Rei polos dengan mata berbinar-binar.
"Ya sudah.. ayo kesini cepat, kita main permainan baru, namanya bermain peluk-pelukan mommy.." ucap Rico lagi makin ngaco, namun malah membuat Rei semakin bersemangat dan kegirangan.
Tanpa menunggu lebih lama Rei dengan serta merta ikut memeluk tubuh Meta yang kini telah sesak terjepit diantara daddy dan anak, yang keduanya sama-sama terlihat ingin memonopoli tubuhnya lewat pelukan. Bedanya pelukan Rei terasa begitu murni ditubuh Meta.. sementara pelukan Rico penuh dengan modus tersembunyi.
Bagaimana tidak?
Belum apa-apa Meta sudah bisa merasakan bahwa tangan Rico yang awalnya bertengger ringan diperutnya mulai mengusap-usap perlahan membuat Meta menahan nafas. Tidak hanya sampai disitu, karena kemudian tangan besar itu mulai berpetualang, merangkak perlahan semakin keatas.. menuju dua buah gundukan yang menantang tegak.
"Daddy.." Meta menoleh kearah Rico yang malah tersenyum nakal.
"Hemm.."
"Jangan begitu didepan anak kecil.." bisik Meta lagi sangat lirih, berusaha keras menahan degup jantungnya yang mulai menggila akibat sebuah penjajahan lembut yang bukannya berhenti mendapati aksi protesnya malah terlihat semakin bergerak lincah tak terkendali.
"Hemm.." lagi-lagi hanya berdehem, tapi tidak rela berhenti.
"Daddy.." ucap Meta lagi, kembali berucap protes.
"Rei tidak lihat.." bisik Rico dengan suara berat.
"Lihat daddy.."
"Hahh ?!"
Tangan Rico sontak terlepas begitu saja dari objek jajahannya, membuat tawa Meta pecah mendengar selorohan polos Rei yang semula hanya memeluknya kemudian bangkit dan memilih meloncat-loncat kesana kemari khas kelakuan bocah pada umumnya.
Meta mengangkat bahu masih sambil tertawa, kemudian ia juga bangkit dan meraih pergelangan tangan Rei, menjaga bocah kecil itu saat melihat Rei yang tidak berhenti meloncat kesana kemari.
"Rei, memangnya kamu lihat apa sih sayang?" tanya Rico masih kepo juga dengan selorohan Rei barusan.
"Aku lihat.. daddy peluk mommy.. teeluuuss.." mengambang, masih sibuk meloncat-loncat penuh semangat.
"Terusss..?"
Rico ikut-ikutan bangkit saking penasarannya dengan kalimat mengambang Rei, membuat Meta terkikik geli apalagi melihat tingkah Rei yang masih meloncat kesana kemari seolah tak peduli usai membuat Rico salah tingkah dan kepo setengah mati.
"Rei, teruuss..?" cecar Rico tak sabar, sepertinya kali ini Rico benar-benar pantang menyerah.
"Teluuss.. daddy.. peluk mommy lagi..!" Rei berucap polos dengan wajah tanpa dosa.
Rico terbengong saat harus merangkai kalimat Rei yang terdengat aneh ditelinganya.
'Daddy peluk mommy.. terus.. daddy peluk mommy lagi?'
'Egh? begitukan maksud Rei?'
'Haih.. dasar bocah! bikin panik saja!'
Dumel Rico sambil mengusap pelipisnya seraya menggeleng beberapa kali. Separuh hatinya lega karena ternyata ulah bejadnya yang nekad melakukan pendakian terselubung tidak sampai ketahuan putranya sendiri.
"Rasain.. makanya kalau ada anak kecil tangannya jangan suka travelling. Panik gak?" bisik Meta membuat Rico menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Rei, stop sayang.. jangan loncat-loncat terus nanti malah muntah.." larang Meta yang akhirnya memutuskan untuk merengkuh tubuh mungil Rei guna menghentikan aktifnya pergerakan bocah itu apalagi saat tersadar bahwa mereka baru saja dijamu makan siang bersama disebuah restoran mewah yang berada di tepi pantai oleh pak Tian begitu mereka semua tiba di pulau Dewi.
Rico yang melihat Meta memeluk Rei seperti biasa tidak mau kalah, akhirnya ikut-ikutan juga memeluk Meta dari belakang. Lengannya yang kokoh sanggup merengkuh Meta dan Rei sekaligus kedalam pelukannya.
Berada dalam keadaan seperti itu membuat Rico merasa sangat bahagia tidak terkira. Sulit terlukiskan dengan kalimat apapun.
"Rei, asik yah main peluk-pelukan mommy?" bisik Rico lagi dengan nada usil, yang karena Rei terlihat menenggelamkan wajahnya diceruk leher Meta sebelah kanan, membuat Rico lagi-lagi tidak mau kalah, ikut menaruh dagunya diatas bahu kiri Meta, membuat Meta bisa merasakan dengan jelas terpaan nafas hangat Rico yang menerpa telinganya, membuat tengkuknya seketika meremang, dan perutnya seolah kesemutan.
"Asik daddy.." jawaban polos Rei terdengar lugas dari balik ceruk leher Meta. "Daddy.." panggil Rei lagi sambil sedikit mengintip saat mengacungkan jari kelingkingnya kearah Rico.
Rico langsung mengaitkan jari kelingkingnya begitu saja ke jari Rei meskipun masih terlihat bingung dengan apa yang sedang diinginkan putranya itu. Tautan dua jari kelingking itu bertaut erat, tepat didepan hidung Meta.
"Daddy janji.."
"Janji apa?" tanya Rico dengan alis bertaut.
"Cuma boleh main peluk-pelukan dengan mommy.. tidak boleh yang lain.."
Mendengar kalimat Rei, baik Rico maupun Meta serentak tersenyum kecil mendengar permintaan polos itu.
"Iya, daddy janji.." ucap Rico dengan yakin dan penuh percaya diri, sebelum kemudian kalimat Rei selanjutnya telah membuat Rico nyaris melarikan diri dan bersembunyi kelubang batu.
"Janji yah daddy.. jangan main peluk-pelukan dengan aunty Shela lagi.."
.
.
.
Bersambung..
"Rei.. Rei.." 😅
Like, Comment, Vote, Subscribe, Tip.. apapun yang kalian berikan.. terima kasih tak terhingga.. 🙏
Loophyuuu my reader kesayangan yang paling hebat.. 😘