
Pagi ini, bertempat diruangan Ceo
Indotama Group, Rudi baru saja selesai melakukan pemaparan tentang hasil meeting yang terjadi kemarin siang dengan Mr. Edward untuk yang kedua kalinya.
Yah.. setelah kemarin usai meeting
dengan Mr. Edward, Rudi sudah melaporkan semuanya kepada Pak Tian via telpon langsung dan mengirimkan keseluruhan data via email. Saat itu terlihat sekali bahwa sepertinya Pak Tian juga sudah puas dengan hasil kerja mereka, yang Rudi tidak mengerti apa yang membuat Pak Tian membuang waktu sehingga kembali mengharuskan dirinya dan Arini untuk melakukan persentasi kembali pada hari ini.
‘Sepertinya ini hanya trik Pak Tian saja untuk lebih dekat dengan istrinya sendiri..’
Mau tidak mau akhirnya Rudi memikirkan kemungkinan tersebut. Karena sudah jelas terlihat bahwa Pak Tian selama ini diam-diam sangat memperhatikan semua hal yang menyangkut istrinya hingga bagian yang terkecil, tapi anehnya justru begitu gengsi untuk memperlihatkannya.
“Saya sangat puas dengan hasil pekerjaan kalian ini. Kalian berdua ternyata tim yang hebat,” puji Tian.
“Terima kasih, Pak Tian,” Arini dan Rudi menjawab nyaris berbarengan.
Arini menarik nafas lega setelah
semuanya selesai. Tidak dipungkiri ia begitu gugup saat tadi Tian sempat melontarkan beberapa pertanyaan terkait meeting kemarin yang untung saja bisa ia jelaskan dengan sebaik-baiknya.
“Pak Tian, sebaiknya kita ke hotel mercy sekarang. Tadi pagi asisten bu Lila sudah menghubungi saya untuk mengkonfirmasi sekaligus memastikan pertemuan saat ini. Mereka juga sangat mengharapkan bisa sekalian menjamu Pak Tian untuk makan siang nanti,”
Mendengar kalimat Rudi yang menyebut nama Lila yang tak lain adalah Ceo PT. Mercy, Arini yang sedang membereskan map file yang ada diatas meja sontak membeku sejenak, tapi sedetik kemudian setelah.ia tersadar ia memilih untuk meneruskan kegiatannya membereskan dokumen tersebut dengan cepat dan berniat segera angkat kaki dari ruangan Tian.
Sungguh, Arini tidak sanggup mendengar Tian membahas apapun tentang wanta itu didepan hidungnya.
“Baik kita kesana sekarang.” Kemudian ia menatap Arini yang terlihat sedang bergerak terburu-buru. ”Arini.. ikutlah dengan kami,”
Arini nyaris terlonjak mendengar namanya disebut tiba-tiba. “Egh, iya Pak, baiklah..” Arini menganguk sambil berucap lesu. Sebenarnya hatinya enggan dan ingin menolak, namun melihat wajah dingin Tian yang sedang menatapnya dengan dua pasang mata yang menyorot tajam Arini akhirnya tidak berani mengungkapkan keberatannya.
“Kita akan sekalian makan siang disana, setelah pembahasan garis besar dari pelaksanaan peresmian MGR yang akan dilaksanakan sabtu minggu depan,”
Arini menyembunyikan senyum masam mendengar penjelasan itu.
‘Cihh.. apa maksudnya tuan besar ini ? Sengaja mengajakku bertemu Lila, untuk apa ? Mau pamer pacarnya yang cantik itu padaku ? Mau membuatu jealous ?! Huhh.. menyebalkan !!’
Arini ngedumel dalam hati.
---
Pembahasan tentang konsep pelaksanaan peresmian Mercy Green Resort ternyata tidak hanya berjalan dengan lancar, namun juga memakan waktu yang cukup singkat. Hal itu dikarenakan tidak ada lagi pembahasan spesifik tentang bagaimana pelaksanaan acara tersebut, karena semuanya sudah ditangani oleh event organizer yang sudah dipercayakan bu Lila selaku Ceo PT. Mercy.
Arini malah bisa menyimpulkan bahwa pertemuan kali ini hanya seperti sekedar undangan makan siang khusus dari bu Lila selaku pemilik Mercy Green Resort kepada Tian. Sepertinya apresiasi Tian yang lumayan besar sangat menggugah rasa terima kasih Lila, namun sejauh ini yang Arini lihat interaksi antara mereka berdua, baik Lila maupun Tian terlihat sangat wajar. Tidak ada sedikitpun yang mencerminkan sesuatu yang bisa disangkut pautkan dengan persoalan asmara seperti isu yang berhembus kencang dihampir seluruh karyawan kantor pusat Indotama Group.
Melihat kenyataan itu membuat Arini merasa hatinya sedikit lega, meskipun disisi hatinya yang lain tetap saja menyangsikan jika bisa saja mereka berdua memang memiliki hubungan istimewa, hanya saja mereka pandai dalam bersikap professional. Tentu saja.. Tian dan Lila, keduanya sama-sama Ceo perusahaan. Urusan profesional pekerjaan tentu sudah menjadi makanan sehari-hari untuk orang-orang seperti mereka, bukan ?
Whatever.. yang jelas sedari tadi Arini juga tidak yakin entah apa yang dilakukannya sekarang.. diempat ini.. untuk apa Tian mengajaknya ikut serta sementara ia sama sekali tidak melakukan apa-apa, sejak tadi hanya diam, menyimak pembicaraan ringan mereka, ikut tertawa saat mereka tertawa meski tidak ada yang membuatnya merasa lucu. Bahkan Arini merasa ia seperti sedang berada ditempat yang salah.
Sesekali ia menatap Lila dan Tian
berganti-ganti. Huhhff.. baiklah, tidak sesekali, tapi lebih tepatnya sering kali. Saking seringnya Arini bahkan bisa tau, bahwa setiap kali Lila tertawa, kedua sudut bibir wanita itu akan tertarik secara simetris sehingga menampakkan lesung, yang uniknya bukan pada pipinya.. melainkan didagunya yang runcing sempurna.
‘See ?’
‘Bahkan Lila mempunyai keunikan yang sangat jarang dimiliki wanita cantik lainnya..’
Sementara Tian bukannya tidak tau peperangan apa yang sedang terjadi didalam otak Arini saat ini. Tian bahkan tau isu hoax yang menggelinding ditengah para karyawannya tentang hubungannya dengan Lila.
Disisi lain Tian merasa geram dengan isu tersebut, tapi disisi lain ia juga bisa mengambil keuntungan. Butuh sebuah bola liar untuk Tian jika ingin membuat Arini meyakini perasaannya, kan ? meskipun dengan begitu Tian sudah berlaku sedikit curang pada Lila yang tidak tau apa-apa, dan berharap bahwa Rico tidak akan pernah mendengar semua berita bohong ini, karena jika sampai Rico tau, sahabatnya itu pasti akan kembali mengamuk seperti banteng gila.
Tentang perasaan Arini untuknya saat ini, Tian bukan orang naïf yang tidak bisa meyakini isi hati Arini yang sederhana setelah lima hari terakhir sengaja mengabaikan istrinya yang pernah menolak dirinya itu begitu saja.
Tidak.. bukan karena semua perasaan Arini padanya tidak berarti apa-apa, tapi karena saat ini tidak hanya perasaan cinta Arini saja yang harus Tian perjuangkan, melainkan sudah lebih dari itu. Untuk menjadi istri seorang Sebastian Putra Djenar, bahkan perasaan cinta saja tidak cukup. Arini harus benar-benar meyakini apa yang diingini hatinya, serta sebongkah kepercayaan diri yang kuat untuk bisa berdiri disisi Tian jika benar-benar ingin mendampinginya.
Yang dilihat Tian saat ini adalah Arini bahkan tidak bisa berdiri dengan kepercayaan dirinya sendiri. Wanita itu masih memiliki terlalu banyak keraguan, bahkan belum sanggup berjuang untuk apa yang dirindukan hatinya sendiri.
Tian menikmati pemandangan ekpresi Arini yang berubah-ubah setiap kali menatap sosok Lila yang ada dihadapannya. Gemas saat menyadari kilatan cemburu berpendar dimatanya, dan geram saat menyadari berkali-kali wanita itu membiarkan dirinya kalah karena rasa rendah dirinya.
---
Rico Chandra wijaya meletakkan sebuah gelas yang nyaris tandas keatas meja. Ia baru saja menyesap Americano pesanannya sebelum berniat beranjak dari salah satu sudut co-working space hotel mercy, tempat dirinya yang didampingi asistennya selesai menemui klien.
“Lain kali jangan memilih tempat ini
lagi untuk menemui klien,” ucap Rico dingin kearah Dani, asistennya.
“Bukan saya yang memilih tempat ini, Pak Rico, melainkan Pak Hardi Buana sendiri yang menginginkan untuk mengadakan meetingnya disini.” Dani menjelaskannya kepada Rico seraya menyebut nama Hardi Buana, klien yang mereka temui barusan.
Rico membuang nafasnya, ia tidak heran kenapa kliennya memilih tempat ini, karena sudah jelas nuansa cozy yang ditawarkan dari co-working space milik hotel mercy terkenal sangat nyaman untuk sebuah tempat pertemuan bisnis yang tidak terlalu formil.
Mata Rico mengembara lagi kesetiap sudut co-working space hotel mercy yang terlihat asri.. dan ia terkesiap saat melihat sosok Tian tengah berada disudut yang lain. Tian tidak sendiri, karena Rico bisa melihat dengan jelas kalau disana juga ada Rudi, dan Lila istrinya yang juga ditemani asistennya.
“Dani, sebaiknya kamu kembali lebih dulu kekantor, nanti saya akan menyusul.” ucap Rico sambil terus menatap meja Tian tanpa berkedip.
“Baiklah, Pak Rico, kalau begitu saya pamit duluan,”
“Iya pergilah..”
Dani pun beranjak meninggalkan Rico sendirian yang masih menimbang-nimbang apa yang seharusnya ia lakukan, sebelum akhirnya memutuskan untuk mendekati meja Tian yang juga terlihat baru saja selesai dengan meeting mereka, yang Rico yakini pasti tidak jauh dari pembahasan launching MGR yang tinggal beberapa hari lagi.
“Hei, bro.. kebetulan sekali bisa
bertemu denganmu disini.”
pemilik suara itu sontak mengangkat wajahnya. Dan bukan hanya Tian saja, suara itu bahkan serentak mengusik semua penghuni meja yang ada disana termasuk Lila, yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya yang terkejut mendapati Rico suaminya, yang tiba-tiba sudah berdiri menjulang dihadapan mereka.
“Oh sorry, sepertinya waktunya tidak tepat..? baiklah.. kalau begitu aku pergi saja..”
“Rico !” suara Tian cukup ampuh menahan gerak tubuh Rico. “Duduklah. Kebetulan kami baru saja selesai. Berhubung kamu sudah ada disini bagaimana kalau kita makan siang bersama..” ucap Tian yang disambut Rico dengan senyum yang sumringah.
“Baiklah, kalau kamu memaksa,” dengan sikap tidak tahu malunya yang seperti biasa, Rico langsung menghempaskan tubuhnya disalah satu kursi kosong yang sebelumnya diduduki oleh salah seorang manager Lila yang beberapa saat yang lalu telah pamit untuk beranjak lebih dahulu karena memiliki sebuah urusan yang lain.
Rico sama sekali belum menyadari bahwa saat ini ia duduk tepat disebelah Arini yang terlihat lebih banyak diam sejak awal meeting. Tian yang melihat itu sempat mengerling sedikit meskipun berusaha untuk tetap tenang, sementara Lila yang berada dihadapan Rico belum bersuara sedikitpun.
“Kamu sedang apa disini, Co ?” Tian membuka percakapan, mencoba mengusir rasa jealous yang hinggap dihatinya tiba-tiba melihat Rico yang kini duduk bersisian langsung dengan Arini yang malah kelihatan tidak begitu peduli dengan kehadiran Rico.
“Aku baru saja bertemu klien,” jawabnya membuat Tian manggut-manggut. “Kapan kamu kembali ?”
“Semalam. Oh yah, Co.. kamu juga harus hadir diacara peresmian Mercy Green Resort nanti, aku akan memberikanmu undangan khusus,” Tian mengerling kecil kearah Rico. Sebenarnya ia merasa sedikit lucu berada ditengah situasi dimana Rico yang berusaha keras bersikap cool, dan dihadapannya Lila justru bersikap masa bodoh.
“Baiklah, berikan undangannya, aku pasti datang,” jawab Rico santai.
Tian menatap Lila, “Bu Lila, saya ingin Pak Rico masuk dalam daftar tamu vip, boleh kan ?”
Lila nyaris tersedak mendengarnya, tapi ia tetap menganguk. “Tentu saja, Pak Tian. Saya akan pastikan sendiri bahwa Pak Rico akan berada di daftar tamu vip,” sambil menatap Rico yang berada tepat dihadapannya dengan tatapan datar, yang dibalas lelaki itu dengan tatapan dingin, yang membuat Lila memalingkan wajahnya. “Yun, jangan lupa nama Pak Rico untuk daftar tamu vip,”
Yunita, asisten Lila sontak menganguk tanda mengerti. “Baiklah, berarti Pak Rico juga akan menerima fasilitas menginap semalam di Mercy Green Resort..”
“Menginap semalam ?” tanya Rico seolah ingin memastikan pendengarannya akan infomasi yang barusaja ia terima dari asisten Lila.
“Ia, Pak Rico, karena acara resmi untuk launching akan dilaksanakan pada sabtu depan, maka para tamu vip akan difasilitasi untuk bisa menghabiskan weekend sampai pada besok hari minggu. Selama dua hari akan ada berbagai event menarik yang akan dilaksanakan di Mercy Green Resort,” Rico terkesima mendengar penjelasan Yunita yang panjang lebar. “Tentu saja Pak Rico juga bisa membawa pasangan untuk menikmati fasilitas MGR kami..”
“Ehhem..” mendengar kalimat terakhir Yunita, Lila justru merasa hampir tersedak mendengarnya. Untung saja ia masih bisa mengendalikan dirinya dengan mengalihkannya dengan berdehem kecil.
“Wahh.. hebat sekali. Mendengar semua itu aku jadi tidak sabar untuk menikmati semua fasilitasnya..” Rico tersenyum jumawa sambil mengalihkan pandanganya pada Tian. “Kamu akan ada disana juga-kan, bro..?” tanyanya spontan.
“Begitulah..” Tian berucap santai sambil menatap Arini sekilas, yang entah kenapa wajah wanita itu terlihat sedang tidak bersemangat sejak tadi.
‘Apa dia lapar..?’
Tian menebak-nebak dalam hati.
“Tian, apa nanti kamu akan membawa pasanganmu juga ?”
“Uhukk !”
Arini yang barusaja meminum air mineral yang ada dihadapannya sontak tersedak begitu saja membuat semua mata yang ada dimeja itu sontak menatap kearahnya, termasuk sepasang mata Rico yang langsung berbinar saat menyadari siapa gerangan yang sedang duduk disisinya saat ini.
“M-maaf.. maaf..” Arini sontak menunduk dengan ekpsresi wajah yang tak karuan. Beruntung saat ia tersedak ia tidak sampai menyemburkan air yang ada didalam mulutnya.
“Eh, Arini kan ? wah, tidak menyangka kita bisa bertemu lagi disini. Bagaimana kabarmu..?”
Arini yang menunduk disamping Rico akhirnya mengangkat wajahnya sedikit mendapati teguran Rico disertai senyum yang cerah.
“Aku.. baik-baik saja, Pak..” ucap Arini sedikit terbata, mencoba membalas senyum Ceo Best electro yang baru saja menyapanya itu masih dengan mimik salah tingkah.
“Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi disini. Tadinya aku pikir Tian hanya bersama Rudi, ternyata kamu juga ikut serta..” seperti biasa Rico selalu saja bersikap sok kenal sok dekat acap kali bertemu dengan Arini.
“Ehemm,” Tian berdehem sembari
menghembuskan nafasnya perlahan. Tentu saja ia merasa kesal melihat Rico yang
tiba-tiba bersikap sok akrab dengan Arini didepan hidungnya.
Untunglah kehadiran beberapa orang pelayan yang datang menghidangkan aneka menu andalan para chef hotel mercy berhasil mengalihkan situasi di meja tersebut.
“Baiklah, karena semuanya sudah siap, sebaiknya kita makan siang dulu. Mari Pak Tian, semuanya.. silahkan..” ucapan Lila seolah memutuskan situasi canggung yang ada, sekaligus mengalihkan rasa jealous yang ada dihatinya saat menyaksikan suaminya seperti sengaja berakrab ria dengan karyawan Tian yang bernama Arini itu.
‘Bahkan cara Rico menyapa Arini seperti ingin mengesankan bahwa ia sudah sangat mengenal Arini sejak satu abad yang lalu..!’
Bathin Lila, menekan emosi yang sedang menyeruak direlung hatinya.
Sementara Rico yang bisa menangkap ekspresi wajah Tian yang sontak menggelap itu malah tersenyum penuh kemenangan.
‘Sebastian Putra Djenar.. I Got you !’
Diotak Rico saat ini sudah dipenuhi
beberapa asumsi tentang sikap Tian dalam memaknai karyawannya yang bernama Arini ini.
‘Hehe.. Tian.. melihatmu seperti ini membuatku semakin mencurigaimu..’
Rico membathin lagi.
Bukan apa-apa, Rico hanya merasa jika kecurigaannya selama ini terbukti benar, maka Rico sungguh tidak bisa membayangkan, bagaimana mungkin seorang seperti Sebastian Putra Djenar, Ceo Indotama Group, yang awalnya sangat tidak ingin terlibat skandal apapun dengan bawahannya, hari ini bisa menaruh hatinya dengan begitu mudah pada seorang wanita sederhana bernama Arini, yang notabene adalah karyawan biasa di kantor pusat Indotama Group.
Tidak hanya itu saja, bahkan dengan status Arini yang sudah menikah.. bagaimana mungkin Tian bisa memiliki perasaan istimewa seperti itu, menyukai istri orang lain dengan begitu dalam, ck.. ck.. ck.. Tian tidak mungkin tidak mengetahui kalau status Arini sudah menikah, bukan ?
Astaga.. bahkan Rico yang selama ini merasa dirinya seorang casanova sejati pun tidak pernah memiliki keberanian untuk menyukai wanita bersuami.
‘Hehh.. sepertinya sahabatku ini benar-benar perlu di ruqiyah !!’
Rico membathin.
Bersambung...