
Setelah molor setengah jam dari waktu yang telah ditentukan, akhirnya Tian mengakhiri meeting dengan Best Electro di siang itu dengan menandatangani kontrak kerjasama yang telah dipersiapkan kedua belah pihak.
Dikontrak kerjasama itu, selain tertulis bahwa Indotama Group bersedia mendanai penuh beberapa produk baru yang akan diproduksi oleh Best Electro dalam waktu dekat. Indotama Group juga memiiki peran yang lumayan besar dalam strategi pemasaran dan penjualan produk-produk tersebut nanti dipasaran.
Rupanya kali ini Rico benar-benar memanfaatkan koneksi pribadinya sebagai sahabat satu-satunya Ceo Indotama Group, yang tak lain adalah Sebastian Putra Djenar.
Setelah semuanya selesai tak ayal senyum Rico mengembang sempurna saat menatap Tian, namun sebaliknya Tian membalasnya dengan tatapan membunuh yang dingin campur kesal, membuat Rico refleks menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Mati aku..”
Desis Rico salah tingkah, menyadari bahwa kekesalan Tian pasti diakibatkan karena kedatangannya yang terlambat sekitar setengah jam.
Rico bukannya tidak tau bahwa Tian adalah tipe orang yang sangat tepat waktu.. tapi mau bagaimana lagi ? semalaman Tian tau sendiri bahwa mereka berdua sama-sama meninggalkan club diatas jam dua dini hari. Rico
sampai dirumah tepat pukul tiga pagi dan brengseknya bukannya langsung tidur dan beristirahat ia malah mengganggu Lila dan mengajak istrinya itu berolahraga sampai matahari terbit seperti kebiasaanya setiap hari.
Dan meskipun Rico sudah menyalakan alarm pada jam sembilan, saking lelah dan mengantuk tak sengaja Rico malah tertidur lagi nyaris setengah jam yang menyebabkan ia terlambat setengah jam pula saat menghadiri
meeting dengan Tian di siang ini.
Huhhff, untung saja Tian masih berbaik hati tetap mau menerima dan menandatangani kontrak kerjasamanya, kalau sampai sahabatnya itu menolak maka kacaulah seluruh dunia persilatan Rico.
Tian sudah melangkahkan kakinya keluar dari ruangan diikuti Rudi asistennya. Rico yang melihat itu buru-buru berniat mengikuti langkah Tian keluar. Mencoba mencuri kesempatan untuk mendapatkan perhatian Tian yang pastinya masih kesal dengan kasus keterlambatannya tadi.
“Pak Rico, bukannya kita akan kembali ke kantor ?” Asisten Rico bertanya saat Rico hendak beranjak.
“Kalian pergilah lebih dahulu, masih ada hal yang lebih penting yang harus saya tangani..” bisik Rico kepada asisten dan salah satu manager Best Electro yang bersamanya saat meeting berlangsung. Kedua anak buahnya langsung menganguk paham terlebih saat Rico memberi kode kearah Tian yang sudah keluar dari bingkai pintu meeting room kantor Indotama Group.
Rico setengah berlari kecil agar bisa menyusul langkah Tian yang diikuti Rudi dibelakangnya.
“Pak Tian, ini sudah lewat jam makan siang, sebaiknya Pak Tian makan siang dulu karena setelah makan siang kita ada jadwal untuk mengontrol proyek pembangunan Resort yang ada di pinggiran kota.” Rudi berucap mengingatkan Tian akan jadwalnya untuk meninjau hasil final Mercy Green Resort yang rencananya sudah mau diresmikan dalam waktu dekat.
Tian melirik arlojinya sejenak. Sudah hampir setengah satu, sebaiknya dia memang mengikuti apa yang yang disarankan Rudi meskipun sebenarnya perut Tian masih belum merasa begitu lapar.
Tadi pagi Tian sudah melahap habis seporsi nasi goreng lengkap dengan telur ceplok setengah matang yang dibelikan Rudi tanpa tersisa sedikitpun. Sarapan yang luar biasa berat, tapi apa boleh buat, hebatnya Arini..
wanita itu tidak pernah tau bahwa dirinya bahkan bisa mengubah mood dan selera Tian menjadi tidak terkendali dengan begitu mudah.
“Kita makan siangnya diluar saja, Rud, nanti kita mampir di restoran yang akan kita lewati diperjalanan. Biar hemat waktu juga.”
“Baik, Pak,”
Tian merogoh saku celananya, mencari ponselnya yang tidak ia temukan disana. Sepertinya ia meninggalkan ponselnya di ruangannya.
“Rudi, kamu duluan saja kebawah sambil hubungi Sudir agar bersiap di lobby, saya mau ke ruangan dulu, mau ambil ponsel.”
“Baik Pak,”
Rudi menganguk, langsung berhenti didepan lift sedangkan Tian terus berjalan menuju keruangan kerjanya untuk mengambil ponselnya yang tertinggal, tentu saja dengan Rico yang tetap bersikeras mengekor dibelakang Tian.
Melewati ruangan dengan beberapa kubikel, suasana terlihat hening, sekarang memang masih jam makan siang jadi wajar saja kalau kubikel-kubikel itu terlihat kosong melompong tak berpenghuni.
Tian bergegas masuk ke ruangannya, ia sengaja mengacuhkan Rico yang masih setia menguntit dibelakangnya.
“Ngapain lagi sih kamu ?”
“Bro, sori.. aku benar-benar minta maaf, aku ketiduran.. pliisss.. kamu kan tau sendiri jam berapa kita pulang semalam..?” Rico berucap beruntun sambil menatap Tian dengan pandangan memohon agar sahabatnya itu luluh dan berhenti mendiamkannya.
“Aku tau kita pulangnya jam dua. Trus masalahnya dimana ? bisa-bisanya kamu terlambat setengah jam..? kamu kan tau sendiri kalau aku paling kesal dengan orang yang gak on time..”
“iya, aku tau.”
“Huhh.. kalau saja Best Electro bukan perusahaan kamu, Co, sudah aku batalin kontrak itu..! seenggak-enggaknya aku pending dulu..!”
“Sori deh, bro.. pliiss..”
Tian menghela nafas, masih kesal. “Lagian sudah tau ada meeting penting kamu malah bangun telat..”
Lagi-lagi Rico menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kali ini dirinya memang sudah pasrah menerima omelan Tian.
“Aku kira setelah menikah bakal tambah profesional dalam pekerjaan, ternyata malah begini..” cibir Tian lagi.
“Nahh, justru itu, bro. Justru karena itu aku telat..” cetus Rico yang langsung bersemangat saat Tian menyinggung soal status pernikahannya.
Tian menghempaskan tubuhnya dikursi sambil menatap Rico. “Apa hubungannya ? ada-ada saja kamu, Co..”
Rico ikut menghempaskan tubuhnya keatas kursi yang ada dihadapan Tian. Mereka duduk berhadapan dengan antara meja biro Tian yang besar. “Biasalah bro.. ritual menafkahi istri secara bathin..”
Tian mendelik mendengar alasan Rico yang malah cengengesan dihadapannya. “Alasan saja.” Tian memilih membuang muka.. alhasil hatinya makin kesal mendengar alasan Rico.
‘Apa katanya..? menafkahi istri secara bathin.. ? Sialan.. Rico ini sengaja mau mengejeknya atau apa..??’
Tian ngedumel dalam hati. Apalagi saat mengingat kesialannya yang harus mengguyur tubuhnya tengah malam hanya untuk menidurkan juniornya yang memang sudah cukup lama tidak berpetualang.
Yah.. semalam Tian memang harus menjinakkan si Junior yang bergegas bangun hanya karena tak sengaja menyaksikan betapa ranumnya bibir Arini yang disusul dengan pemandangan gundukan gunung kembar Arini yang
terlihat sekali masih sangat kencang seolah sengaja mengundang untuk dijamah.
“Serius, bro.. gaspol sampe pagi deh judulnya..”
“Haihh, sudah.. sudah.. pergi sana !” potong Tian dongkol, tak sanggup rasanya mendengar petualangan mesum Rico lebih lama. Bisa-bisa ia mati kesal karena sudah jelas ia sudah kalah banyak langkah dari sahabat mesumnya ini.
“Ngusir nih ?? Tega banget kamu, bro..”
Tian menghembuskan nafas kesal. “Kontrak kerjasama sudah ditanda tangani.. lalu mau apalagi sekarang ??!”
Rico nyengir. “Mau ngerayain lah..”
Saat Tian akan beranjak keluar, tanpa sengaja matanya melirik kearah dinding kaca yang tirainya terbuka, langsung tatapannya tertuju pada sebuah kubikel yang berada tepat diseberang sana. Alisnya mengerinyit melihat sosok Arini yang masih berada di dalam kubikelnya.
‘Kenapa dia masih ada disana ? Apa dia tidak makan siang ?’
Tian menatap sosok Arini lekat, dengan fikiran yang diliputi tanya. Bodohnya, Tian seperti lupa bahwa Rico masih ada dihadapannya lengkap dengan wajah penasaran tingkat dewa.
Rico yang melihat Tian yang tertegun sontak memutar kepalanya kearah objek yang berhasil mencuri perhatian lelaki itu.
Disana Rico jelas melihat bahwa yang menjadi objek Tian adalah seorang wanita disalah satu kubikel yang ada diluar ruangan yang pastinya salah satu karyawan Indotama Group.
“Ck.. ck.. target baru rupanya..”
Tian tersentak mendengar gumaman Rico.
“Karyawan sendiri jangan ditidurin, bro.. kasian.. tau sendiri kan kamu mana mau nengok perempuan dua kali,”
“Bicara apa sih kamu ? Pergi sana.. ”usir Tian semakin dongkol.
Mendapati kalimat ketus itu Rico malah tergelak dan dengan santai bersandar di sandaran kursi. “Jadi.. sekarang kamu mengincar tipe yang seperti itu yah ?” imbuhnya.
“Huhh,”
“Aku jadi penasaran juga..”
“Mau mati ya ?”
“Hahaha…!”
“Apa kamu benar-benar sudah bosan hidup, Co ?!”
“Astagah.. kenapa kamu galak sekali sih ?” protes Rico masih keras kepala.
Tian kembali
menghembuskan nafasnya keras kemudian menatap Rico tajam. “Pergi sekarang, atau aku batalkan kontrak tadi,” ucap Tian dingin.
Rico langsung terlonjak dari duduknya. “Egh, jangan gila kamu, bro..! “
“Yasudah.. kalau begitu pergi sana !”
Mendapati tatapan membunuh itu membuat Rico kembali terkekeh. “Okeeehh.. okeeh.. aku pergiiii..,” meskipun terpaksa akhirnya ia melangkahkan juga kakinya keluar ruangan Tian meskipun mulut usilnya tidak serta merta berhenti tergelak.
Tian menggelengkan kepalanya kesal begitu Rico hilang dari balik pintu. Tian sudah hafal betul tindak tanduk Rico, lelaki itu sangat suka membuatnya dongkol. Sepertinya itu sudah jadi kebiasaan dan hiburan si songong Rico, yang tak lain sahabatnya itu.
Tapi sejauh ini Tian selalu bisa memahaminya karena meskipun Rico terlihat sangat usil namun sejujurnya Rico adalah sahabat yang baik bahkan bisa dibilang terbaik, hanya saja yah itu tadi.. karena sudah lama bersahabat, Rico jadi terlalu mudah untuk memahami gerak geriknya. Tian jadi sering kesulitan jika harus menyembunyikan sesuatu apalagi meladeni semua keusilan Rico.
Menyadari Rico yang sudah benar-benar berlalu barulah Tian bergegas keluar. Sesampainya dipintu kepala Tian menengok ke kanan dan ke kiri.
Sebenarnya Tian ingin langsung menghampiri kubikel Arini, mencari tau apa yang sedang Arini lakukan disana sampai-sampai ia tidak mempergunakan jam makan siangnya seperti karyawan lain pada umumnya. Tapi akhirnya
Tian mengurungkan niatnya itu sendiri karena merasa khawatir jika nanti ada karyawan lain yang memergoki aksi nekadnya.
Selama ini Tian memang dikenal sebagai atasan yang hanya peduli pada hasil kinerja perusahaan pada umumnya dan tidak pernah tertarik sama sekali untuk mengurusi hal-hal yang ia rasa tidak penting seperti yang sedang ia lakukan saat ini, peduli pada salah satu karyawan biasa hanya karena tidak makan siang di jam makan siang..? ck.. ck.. memang terdengar terlalu berlebihan untuk seorang Sebastian Putra Djenar yang selama ini dikenal dengan sikapnya yang dingin dan acuh.
“Arini..” panggil Tian sedikit berbisik.
Tidak ada sahutan.
Tian menarik nafas dongkol saat menyadari tidak ada reaksi dari satu-satunya kubikel yang berpenghuni itu.
“ARINII !!” Tian mengeraskan suaranya hingga sedikit menggema diruangan yang hening itu.
“Eghh.. appa..??!” kepala Arini muncul dari balik kubikelnya, terkejut setengah mati saat mendengar seseorang tiba-tiba meneriaki namanya disaat suasana sedang begitu sunyi.
Dan Arini lebih terkejut lagi saat tersadar begitu melihat seraut wajah kesal Tian tengah berdiri didepan pintu ruangan Ceo lengkap dengan sinar matanya yang menyorot tajam. Bahkan makan siang yang sedang dikunyahnya hampir saja menyembur dari mulutnya.
“Maaf Pak, ada apa ??” Arini kesulitan bicara karena mulutnya sendiri masih dipenuhi makanan. Ia bahkan harus sedikit membuat gerakan seolah-olah menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.
Tian terhenyak mendapati pemandangan itu. Ia baru ingat bahwa tadi pagi Arini memang mengatakan bahwa ia tidak pernah makan siang di kantin perusahaan karena selalu membawa bekal makan siangnya ke kantor.
Jadi rupanya wanita ini benar-benar sedang memakan bekalnya makan siangnya ?
‘Astaga.. Arini ini.. benar – benar..’
Tian tidak habis fikir.
“Pak Tian, ada apa..?” setelah menelan makanan yang ada di dalam mulutnya akhirnya Arini mengulang pertanyaannya saat menyadari bahwa lelaki yang berdiri kira-kira lima meter dari kubikelnya tidak kunjung bicara.
“Tidak ada. Teruskan saja makanmu.”
Arini melongo melihat Tian yang beranjak begitu saja dengan ekspresi seperti biasa. Dingin.
‘Ada apa lagi dengannya..?’
Batin Arini bingung, namun tidak ingin berlama-lama memikirkan sikap dingin Tian, akhirnya Arini memutuskan untuk kembali duduk dan meneruskan makannya yang tertunda meskipun sepertinya saat ini selera makan Arini seperti sudah menguap entah kemana.
Bersambung..
Alhamdulillah.. sudah masuk bab 29.
Spoiler dikit :
Demi lebih mewujudkan dunia per-halu-an, maka saat ini author sedang membuat visual para tokoh yang ada di dalam novel ini. Rencananya untuk next bab, visual itu mau author bikin bonus. Setuju..?
Tapi tolong jangan lupa support author newbie ini yah.. biar bisa meningkatkan level dan bisa nyusul author-author hebat yang sudah duluan hits. Amin.. Ya Rabbal Alamin..