
Dering ponsel Laras bergema diruang kerjanya. Mengusik ketenangannya yang sedang tenggelam dalam laporan transaksi penjualan SWD Fashion.
Laras terhenyak saat melihat nama penelpon yang tertera disana.
'Hubby..'
Laras bahkan baru tersadar jika dirinya memang belum mengubah nama kontak tersebut setelah sekian lama.
Nyaris diujung panggilan, barulah Laras memberanikan diri untuk menerimanya.
"H-halo.."
"Aku pikir kamu begitu marah, sampai tidak ingin mengangkatnya.."
Suara itu.. masih seperti delapan bulan yang lalu. Tidak ada yang berubah, berucap lepas seolah tak pernah terjadi apa-apa.
"Laras..?"
"Hhmm, i-iya kak.." detik berikutnya Laras mengutuk nada suaranya yang tergeragap, meskipun tidak bisa menolak betapa ia bahagia bisa mendengar suara yang ia rindukan selama ini.
"Kenapa diam..?"
"Egh.. A-aku.." lagi-lagi tergeragap.
"Bagaimana kabarmu..?"
"B-baik, kak.." rasanya Laras ingin memukul kepalanya keatas meja, putus asa karena tak kunjung bisa menyembunyikan seberapa gugup dirinya saat ini.
Kemudian hening bertahta untuk beberapa saat lamanya, sebelum akhirnya..
"Kak Rudi, ada apa tiba-tiba menelpon..?"
Laras memberanikan diri untuk bertanya. Setelah itu Laras bahkan bisa mendengar tarikan nafas lelaki itu diseberang sana. Terdengar berat.
"Aku.. kangen.."
Tubuh Laras mengejang sesaat begitu mendengarnya, namun. memilih untuk kembali menetralkan perasaan, tidak ingin baper.
"Aku serius.."
Suara Rudi terdengar lagi, seolah ia tau bahwa Laras sedang menyangsikan apa yang barusan didengar Laras.
Kangen..?
Sejak kapan..?
Menyadari hal itu Laras tersenyum getir.
"Kak.." Laras menghembuskan nafasnya gundah. "Jangan lagi.."
Betapapun Laras ingin dicintai, tapi ia tidak ingin kejadian yang lalu terulang kembali. Mendengar Rudi mengatakan kalimat itu setelah delapan bulan menghilang tanpa kabar, ternyata tidak langsung serta merta bisa membuatnya senang seperti yang ia kira, malah sebaliknya, terasa perih disudut hati yang lain.
"Haruskah aku kembali menemuimu?"
Laras membisu.
"Kita berdua bahkan tidak membicarakannya dan langsung mengambil keputusan satu sama lain.."
Laras tersenyum kecut. "Setelah sekian lama, kenapa baru membahasnya sekarang, Kak..? delapan bulan yang lalu, aku bahkan telah menandatangani surat perceraian yang selalu kamu idam-idamkan sejak lama.."
Kalimat Laras penuh luka, cukup menohok, membuat Rudi terdiam lama.
"Setelah delapan bulan, aku tidak percaya jika secepat itu kamu berubah.."
Laras menggeleng, padahal Rudi bahkan tidak bisa melihatnya. "Aku tidak tau apakah hatiku sudah berubah atau tidak. Tapi yang pasti.. aku tidak ingin kembali ke awal. Aku lelah. Langkahku sudah cukup jauh, kak.. aku tidak mungkin kembali ke garis start lagi.."
XXXXX
Jam dengan merk Alexander Christie yang melingkar manis dipergelangan tangan Laras telah menunjukkan pukul delapan malam.
Seperti biasa, di jam seperti itulah Laras akan tiba di apartemen, seperti hari-hari kemarin.
Yah.. rutinitas pekerjaan adalah satu-satunya obat yang cukup ampuh menunda semua kegundahan hatinya selama beberapa bulan ini.
Kenapa disebut menunda..? karena setelah nyaris satu purnama telah terlewati kenyataannya Laras tak juga bisa melupakan satu inchi pun kenangan masa lalu dari ingatannya.
Laras tidak lagi berusaha menghilangkan rasa cintanya untuk seorang Rudi Winata, melainkan membiarkan cinta itu sendiri hidup dan tinggal dengan dirinya dalam kenangan yang abadi.
'Kamu masih sangat muda, berubahlah demi dirimu.. bukan demi aku atau orang lain. Kamu harus tau bahwa diluar sana, diluar duniamu saat ini, ada dunia yang lebih indah yang bahkan belum pernah kamu lihat. Dunia yang benar-benar sesuai dengan masa mudamu..'
Kalimat Rudi di LA delapan bulan yang lalu, sampai disetiap titik dan komanya bahkan masih terpatri jelas dibenak Laras. Begitu membekas.
Lelaki itu pasti tidak pernah tau bahwa belakangan ini, Laras telah berusaha melakukannya. Berubah seperti yang diinginkan Rudi, tapi sepertinya tidak semudah itu. Karena pada akhirnya dirinya tetaplah seorang Laras yang penyendiri.. introvert.. dan angkuh. Selama ini Laras telah mencintai Rudi dengan seluruh keangkuhan sekaligus kelemahan hatinya.. karena itulah dirinya bahkan tak sudi berubah.
Setelah ikrar berpisah mereka di LA, tanpa perlu menunggu lebih lama, pulang dari tempat itu Rudi nekat kembali ke ibukota malam itu juga.
"Begitu dokumen perceraiannya siap, aku janji akan langsung menandatanganinya, Kak. Aku juga akan mengirimkannya kepadamu.."
Laras telah menguatkan hatinya terlebih dahulu sebelum benar-benar mengucapkan kalimat itu sambil memasang senyum palsu, padahal yang ada hati dan jantung Laras ibarat sebuah kota yang baru saja diterjang tsunami hebat, porak-poranda.
Saat itu Rudi sedang mengemasi beberapa barangnya kedalam bag, tidak mengatakan apa-apa. Hanya diam dan air mukanya bahkan tidak bisa terbaca oleh Laras.
"Aku pergi.. jaga dirimu.."
Tanpa ucapan selamat tinggal, tanpa sentuhan, bahkan tanpa menoleh, Rudi Winata benar-benar berlalu dari hadapannya.
Kira-kira tiga minggu setelah kepergian Rudi yang kembali ke ibukota, Laras benar-benar menepati janji untuk mengirimkan semua lampiran dokumen perceraian yang telah ia tandatangani sebelumnya.
Kemudian waktu terus berlalu, namun Laras belum juga menerima kembali dokumen itu. Yang Laras terima justru kabar keberangkatan Rudi ke London.
"Kak.. apa maksudnya semua ini? apa kamu benar-benar akan pergi..?" saat itu Laras tidak tahan untuk tidak menelpon lelaki itu langsung, menuntaskan rasa ingin tahunya.
Rudi terdengar tertawa kecil. "Siapa yang mengatakannya kepadamu..? Tian?"
"Tidak penting siapa yang mengatakannya. Aku ingin memastikan bahwa semua itu tidak benar.."
"Itu benar."
"Kak..?"
"Aku bahkan sudah berada dibandara. Tinggal menunggu announcement untuk naik ke pesawat."
Laras terhenyak ditempat, rasanya separuh nyawanya dicabut paksa dari tubuhnya, tapi Laras tidak bisa melakukan apa-apa, selain terduduk pasrah dengan bulir air mata.
Sesaat setelahnya suara announcement yang dimaksud Rudi benar-benar bergema, seolah memberitahukan dirinya secara tidak langsung bahwa lelaki itu memang tidak berbohong.
"Jaga dirimu.." suara berat Rudi seolah terbang terbawa angin, sebelum akhirnya Laras menyadari dirinya telah terkulai dipenuhi tangis, menyadari betapa tidak berarti dirinya untuk seorang Rudi, betapa dirinya sama sekali tidak bisa menjadi alasan untuk untuk Rudi tinggal, apalagi menawarinya memperbaiki hubungan.
Mendapati kenyataan itu hati Laras tiba-tiba menjadi sangat marah. Seolah keadaan itu menjadi titik kulminasi tertinggi dari seluruh akumulasi kekecewaan dari cintanya yang bertepuk sebelah tangan selama ini.
Dan terhitung sejak saat itu.. komunikasi mereka terputus total, tanpa ada yang berusaha membangunnya kembali. Waktu demi waktu berlalu dengan begitu berat. Namun harga dirinya yang terakhir telah menahan Laras untuk tetap bertahan.
Setelah menekan sederet angka di panel pintu apartemennya, Laras baru saja hendak mendorong pintu apartemennya.. manakala ujung matanya menangkap sosok yang tengah berdiri bersandar didinding, tak jauh dari tempatnya saat ini.
Laras seolah tidak bisa mempercayai penglihatannya sendiri, namun sosok yang saat ini telah mengayunkan langkahnya untuk mendekat terlihat semakin nyata, dengan wajah yang begitu tampan dipenuhi senyuman.
"Kak Ru.. di.."
Kalimat Laras telah tertelan dalam sekejap, karena detik berikutnya tubuh mungilnya telah berada dalam rengkuhan Rudi, yang telah menarik tubuh Laras begitu saja, kedalam dekapannya.
.
.
.
Bersambung..
Jangan Lupa mampir di yang HOT !!!
π₯TERJERAT CINTA PRIA DEWASAπ₯
Like and Support jangan lupa yah.. π€
Thx and Lophyuu all.. π