CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Mengetahui segalanya


Sejak tadi Arini tidak bisa berhenti


mencuri pandang kearah Tian yang sedang memakan sarapannya dengan lahap. Hatinya sungguh senang bukan main. Tadi pagi dengan sedikit memaksa, Arini akhirnya berhasil membujuk Bik Sumi untuk membiarkan dirinya menyiapkan sarapan.


Dan sepertinya memang tidak sia-sia pagi ini Arini berusaha ‘melengserkan’ Bik Sumi dari area dapur yang selama ini menjadi daerah kekuasaan wanita paruh baya itu, jika imbalannya ia bisa menikmati pemandangan menyejukkan hati di pagi hari seperti saat ini.


Dihadapan Arini, Tian makan tanpa suara meskipun ia tau sejak tadi wanita yang duduk persis dihadapannya tidak berhenti mencuri pandang, tapi ia terus saja berpura-pura terlihat cool.


‘Hehh ... sedang melihat apa? Sebegitu bangganya melihatku sarapan dengan lahap? Kamu pikir aku tidak tahu, kalau nasi goreng dengan telur ceplok setengah matang yang kemarin pernah membuatku terbayang-bayang sampai di kantor ini adalah hasil karyamu?'


'Sudah pasti aku tahu ...! Aku hanya pura-pura tidak tahu agar kamu jangan terlalu senang ...!’


Begitu kira-kira isi otak usil Tian tentang Arini, istri polosnya yang sedari tadi terus menatapnya tanpa henti ini.


“Kamu tidak makan?” Tian mengangkat wajahnya tiba-tiba, sengaja ingin memergoki sepasang mata Arini yang awalnya terlihat berbinar sambil menatapnya namun serentak berganti kegugupan.


“Ahh ... t-tidak, aku sudah kenyang ...” menggelengkan kepala dengan wajah bersemu.


“Apa wajahku bisa membuatmu kenyang?”


“Egh, apa?” sontak mendelik.


Tian tersenyum mengejek. Sejenak ia kembali tenggelam dalam aktifitas awalnya, menikmati sarapan istimewa yang dibuat oleh istrinya.


Detik berikutnya hanya ada hening yang bertahta, hingga Tian usai melahap habis sarapan dan meneguk segelas air mineral hingga tandas.


"Semalam sampai rumah jam berapa ...?" tiba-tiba sebuah pertanyaan lirih menyapu gendang telinga Tian.


"Jam dua." singkat.


"Ooh,"


“Oh, ya .... siang nanti kamu dan Rudi harus menemuiku secara langsung di ruanganku.” ucap Tian, tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.


Alis Arini mengerinyit samar. “Untuk apa?”


“Kamu lupa kemarin kalian sudah


melakukan deal besar dengan Mr. Edward ...? Setelah semua itu aku butuh pertanggungjawaban kalian secara langsung.”


Tentu saja itu hanya alasan Tian, karena pada kenyataannya semua pertanggungjawaban te tek-bengek yang dijadikan Tian sebagai alasan itu sudah di laporkan secara keseluruhan oleh Rudi begitu meeting dengan Mr. Edward selesai.


Rudi sudah membeberkan semuanya bahkan mengenai kecakapan Arini dalam menghadapi meeting tersebut, serta tak lupa mengirimkan semua datanya lewat email.


“Oh, baiklah kalau begitu ...” Arini manggut-manggut.


Tian bangkit dari duduknya, namun sebelum benar-benar beranjak ia terhenti sejenak seolah kembali mengingat sesuatu sehingga membuatnya menatap Arini lagi.


“Tidak usah membawa bekal makan siangmu, karena setelah itu kita akan sekalian makan siang bersama ...”


Arini kembali mengangguk kecil saat Tian menatapnya.


“Pergilah ke kantor, tapi mulai sekarang ... kemanapun kamu pergi kamu akan diantar Mang Asep. Aku tidak mau lagi melihatmu kemana-mana dengan para tukang ojek kesukaanmu itu.” kali ini Tian langsung ngeloyor begitu saja kearah anak tangga manual dan menaikinya menuju lantai dua.


“Egh? T-tapi ...” Arini yang belum sempat mengajukan protes dengan keputusan sepihak itu tentu saja berusaha mengekori langkah Tian yang sudah menaiki anak tangga satu demi satu, tapi Tian diam saja.


“Aku sudah terbiasa naik ojek, memangnya apa yang salah dengan semua itu ...?”


Tian urung memutar gagang pintu kamar mereka, ia menatap Arini kesal, membuat Arini langsung menciut hanya dengan menerima tatapan setajam belati itu.


“Masih bertanya?! Apa kamu tidak risih duduk berboncengan sedekat itu dengan seorang pria?!”


“Hahh ...?”


Arini melongo, sementara Tian mendengus jengkel sambil masuk kedalam kamar.


“Kamu ini bicara apa? Yang namanya ojek ya harus berboncengan, kan ...? Memangnya aku melakukan hal yang aneh?”


“Sudah, jangan membantah terus. Kamu ini selalu begitu naïf. Memangnya kamu bisa tahu jika ada orang yang berniat buruk padamu? Apa kamu bisa tahu kalau ada orang yang dengan sengaja ingin mengincarmu?”


“Aku tidak mengerti, sebenarnya kamu ini sedang bicara tentang apa sih ...?” pungkas Arini dengan wajah yang keheranan.


“Arini, kamu ini benar-benar keras


kepala ... aku dengan jelas mengatakan jangan percaya kepada siapapun, tapi kenyataannya Haris saja bisa dengan mudah membawamu!” semprot Tian dengan raut jengkel.


Kali ini Arini benar-benar melotot


mendengarnya. “Haris? Tapi dia kan benar-benar anak buahmu!”


“Tapi tidak seharusnya juga kamu begitu mudah percaya dengan orang lain.”


“Kata siapa aku percaya dengan begitu mudah? Aku bahkan mengira dia sedang berusaha menculikku. Kamu pikir aku tidak takut? Semalam aku bahkan hampir mati ketakutan! Aku sudah berusaha menelponmu berkali-kali ... tapi ponselmu diluar jangkauan ...”


“Tentu saja diluar jangkauan. Saat itu aku sedang berada dalam penerbangan, bagaimana bisa menerima telponmu?”


“Kalau begitu kenapa menyalahkan aku? Bahkan sampai detik ini aku masih tidak tahu-menahu apa maksudmu melakukan semua ini. Kamu menyuruh Haris membawaku kesini dengan tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Sebenarnya ada apa?”


Tian terdiam. Sejujurnya dirinya


benar-benar tidak ingin membahas hal ini dengan Arini, karena tidak ingin membuat Arini khawatir.


Arini terlalu polos untuk menyadari betapa sebenarnya hidup wanita itu tidak akan pernah lagi se-sederhana yang ada dalam pikirannya selama ini. Karena setelah ia menjadi istri seorang Sebastian Putra Djenar, maka sejak saat itu pula tanpa ia sadari kehidupan naifnya telah terhenti, dan tidak mungkin kembali.


Memikirkan hal itu Tian sedikit terenyuh ... Tian merasa ia telah sangat egois.


Mengapa?


Karena sekarang ... bahkan hatinya sendiri sudah tidak bersedia lagi melepaskan dan mengembalikan kehidupan Arini, seperti rencana awal saat ia menikahi wanita itu dulu.


“Astaga. .. aku benar-benar tidak mengerti apa maumu. Memangnya siapa yang mau berniat jahat padaku? Memangnya aku orang penting sampai ada yang berniat mengincarku?” Arini yang merasa tidak sabar melihat Tian yang terdiam cukup lama, benar-benar tidak bisa mendapatkan petunjuk sama sekali tentang apa yang diinginkan Tian sebenarnya.


Tian mendengus. “Apa salahnya kalau kamu lebih berhati-hati?” kilahnya tidak tahu harus berucap apa lagi untuk memuaskan rasa penasaran Arini agar wanita itu berhenti bertanya dan mendebatnya.


“Orang biasa sepertiku, siapa juga yang mau membuang waktunya untuk merancang hal yang buruk?”


Mendengar kalimat pongah itu mau tidak mau membuat Tian merasa semakin jengkel.


"Atini, kamu ini benar-benar bodoh atau pura-pura bodoh ...? Kamu harusnya menyadari bahwa sejak kamu memutuskan menikah denganku, kamu pikir kamu bisa seenaknya?! Kamu lupa aku siapa ?!” Tian nyaris meledak saat menghadapi wajah polos Arini.


Tapi bukannya menciut kali ini sepasang mata bulat itu bahkan berani menentang manik mata Tian yang sudah menggelap.


"Aku tidak mengerti. Selama ini kamu tidak pernah seperti ini. Lagian kemana saja kamu selama lima hari? Kamu bahkan tidak mempedulikan aku sama sekali, lalu kenapa sekarang tiba-tiba terlihat begitu peduli ...?” imbuh Arini acuh.


“Apa ...? Jadi selama ini kamu pikir aku tidak peduli, begitu?"


"Hhmm ..."


"Astaga ... kepalaku bahkan jadi sering sakit sejak menikah denganmu, kamu pikir karena apa? Karena aku selalu berusaha mengikuti semua kebiasaan anehmu! Naik ojek sembarangan, pulang kantor berjalan kaki, ke supermarket semaumu ...! Kamu seperti anak kecil yang tidak tahu betapa bahayanya duniamu diluar sana! Kamu pikir mudah bagiku mengikuti semua kebiasaanmu ...?!“ meledak sudah amarah Tian.


Arini yang mendengarnya terperanjat. “K-kamu ... kamu ... kenapa kamu tahu persis apa yang aku lakukan setiap hari?”


“Karena aku harus mengawasimu, 'Nyonya Sebastian Putra Djenar'. Ingatlah namamu baik-baik, karena sepertinya kamu selalu lupa siapa dirimu sekarang.”


Tian yang sengaja menekan kata 'Nyonya Sebastian Putra Djenar' cukup membuat Arini terdiam.


Arini menelan ludahnya, kelu. “Jadi itu artinya ... kamu telah memata-matai diriku setiap hari?”


Tian melengos. “Aku bahkan tahu apa yang kamu lakukan setiap detik!”


Arini semakin membelalak.


“Setiap detik? Egh ... t-tunggu dulu. Apa maksudmu dengan setiap detik? K-kamu ... kamu ... tidak ... tidak mungkin ...”


Sepasang mata Arini sontak menengok kesana kemari, dan lidahnya semakin kelu saat melihat benda yang dicarinya itu benar-benar berada disana, sebuah cctv disudut kamar!


Tian tidak menjawab, namun diamnya lelaki itu justru membuat Arini semakin panik. Berbagai macam pikiran horor pun langsung bergelayut diotaknya.


'Bagaimana dengan kamar mandi? Jangan bilang lelaki aneh ini memasangnya juga ...! Oh, tidak ...!'


Tian menatap Arini sejurus. “Baiklah, agar kamu tidak penasaran, aku akan mengatakannya dengan jujur bahwa aku memang mengetahui semua yang kamu lakukan, selain apa yang kamu lakukan dikamar mandi. Yah ... meskipun sebenarnya aku juga penasaran dengan apa yang kamu lakukan didalam sana, sehingga sempat terbersit keinginan untuk memasang cctv di semua kamar mandi yang kamu datangi. Tapi tenang saja, aku tidak melakukan itu ...”


Wajah Tian yang tadinya sempat mengeras kini mencair sudah, berganti dengan wajah yang dipenuhi senyum usil penuh kemenangan.


'Arini ... wanita ini .... ternyata benar-benar bisa mengendalikan moodku hanya dengan mimik wajah naifnya ...'


Diam-diam, Tian telah membuat sebuah pengakuan jujur di dalam hati.


“Dasar mesum!! Kamu sudah gila ya?!”


Tanpa sadar Arini langsung menghujani lengan Tian dengan tinju kecilnya. Ia benar-benar tidak bisa menahan rasa dongkolnya saat mendengar niat mesum Tian yang diucapkan dengan ekspresi wajah tengil yang terucap santai sambil menerawang dan tersenyum-senyum aneh dihadapannya.


“Apa sih? Aku kan sudah bilang kalau aku tidak jadi memasangnya!”


Tian berusaha menghindar dari amukan wanita mungil yang sedang meninjunya dengan kalap.


“Arini, hentikan. Kamu ingin membunuhku, ya?!” Tian menangkap kedua tinju kecil yang melayang bertubi-tubi di lengannya itu dengan sekali tangkap.


“Iya, aku memang ingin membunuhmu! Lepaskan!” Arini memberontak dengan menghentakkan kedua tangannya berkali-kali, memaksa Tian yang akhirnya membebaskan kedua tangan itu.


“Keterlaluan. Bisa-bisanya kamu memasang cctv di dalam kamar ..."


Tian menggaruk tengkuknya serba salah.


“Dasar mesum. Jadi selama ini kamu pasti melihat saat aku berganti pakaian ...?!”


Mendengar itu Tian sontak menggeleng. “Selama ini? Tidak ... tidak ... meskipun kamar ini dan kamar di apartemen terpasang cctv, tapi sungguh, aku baru mengaktifkannya sebelum aku pergi ..."


Arini melotot geram mendengar pembelaan diri Tian.


"Aku kan hanya ingin memastikan keadaanmu saja, seharusnya kamu berterima kasih karena aku begitu peduli padamu ...”


“Apa? Jadi aku harus berterima kasih setelah mengetahui bahwa semalam kamu pasti sudah mengintipku berganti pakaian?!”


Arini ingin melayangkan kembali tinjunya manakala Tian sudah berkelit dengan lincah.


Lelaki itu langsung menyelamatkan dirinya kedalam kamar mandi sambil menyisakan tawa jahatnya yang membahana, tepat di saat Arini hampir menangis menahan malu.


Membayangkan bahwa sejak Tian berangkat lima hari yang lalu, saat itu juga lelaki mesum itu bisa menyaksikan seluruh lekuk tubuhnya di setiap prosesi dirinya berganti pakaian, apalagi mengingat semalam saat ia mengenakan lingerie sialan itu, ia bahkan sempat mematut-matut dirinya kesana kemari didepan cermin bak seorang model dadakan ... oh, my ...


‘Aaaakhh ...!! Tiaaaannn ..., aku benar-benar benci padamu ...!!’


Teriak Arini dalam hati, sambil


menghentakkan kakinya ke lantai berkali-kali sebelum memutuskan untuk beranjak keluar, meninggalkan kamar dengan rasa kesal yang luar biasa.


 XXXXX


Diperjalanan menuju kantor pusat Indotama Group.


Arini sudah tersesat jauh ke dalam lamunannya sejak mobil yang dikendarai Mang Asep meninggalkan gerbang megah rumah Tian, terus memikirkan perdebatan sengit mereka pagi tadi.


Arini benar-benar tidak menyangka jika dibalik sikap Tian yang teramat sangat jutek di awal mereka menikah, ternyata Tian telah mengawasinya sampai sebegitu detail.


Tapi apa motivasi lelaki itu melakukan semuanya?


Apakah itu bentuk perhatian Tian kepada dirinya?


Apakah Tian benar-benar mengkhawatirkannya?


Atau ... apakah itu hanya sebagai bagian dari rasa tanggung jawab Tian?


Ternyata sebagai Ceo perusahaan raksasa sekelas Indotama Group, hidup Tian tidak se-sederhana orang biasa, dan Arini baru menyadari bahwa hal yang teramat kecil yang menyangkut kehidupan Tian, pasti akan sangat berpengaruh pada reputasinya.


Mungkin karena itulah alasan mengapa Tian selalu berhati-hati, meskipun tingkah Tian terlihat wajar dalam menjalani kesehariannya, kenyataannya lelaki itu selalu waspada dalam segala hal.


Entahlah ...


Apapun alasannya, satu hal yang pasti bahwa saat ini Arini sangat menyesali ketidak-pekaannya. Mengapa ia tidak memahami posisinya sebagai istri Tian meskipun keberadaannya sebagai istri berstatus istri rahasia, tapi tetap saja tidak seharusnya dirinya bertindak sesuka hati sehingga membuat Tian kesulitan selama ini.


Sungguh, Arini tidak menyangka bahwa Tian bahkan memikirkan keselamatannya lebih dari kesadaran dirinya sendiri.


“Mang Asep, bolehkah saya bertanya sesuatu?” ucap Arini memecah keheningan.


“Memangnya Ibu Arini ingin bertanya apa?” jawab Mang Asep, yang merupakan salah satu sopir pribadi keluarga Djenar, yang sekarang telah ditugaskan khusus oleh sang majikan mengantar jemput Arini kemanapun, termasuk pergi dan pulang kantor.


“Benarkah selama ini Pak Tian telah memata-matai semua aktivitas saya setiap hari?”


Mang Asep nampak terdiam sejenak guna memikirkan jawaban seperti apa yang layak ia berikan kepada sang nyonya besar yang terlihat begitu polos ini, sebelum akhirnya ia berucap santun ...


“Sebenarnya, semua yang dilakukan Pak Tian sudah merupakan standar keamanan dan keselamatan untuk Ibu Arini. Ibu Arini kan tahu sendiri, bahwa Pak Tian bukanlah orang sembarangan. Jadi keselamatan dan keseharian beliau dan siapapun yang berada dalam lingkup kehidupan Pak Tian, pastilah harus senantiasa menjadi prioritas utama Pak Tian. Apalagi Ibu Arini adalah istri beliau ...”


“Kalau dia bisa mengetahui apapun aktifitas saya setiap hari, bagaimana bisa dia melakukannya tanpa membuat saya curiga sama sekali?” tanya Arini lagi, benar-benar ingin tahu.


“Mungkin karena Pak Tian tidak ingin Ibu Arini merasa tidak nyaman jika mengetahui, kalau sebenarnya akan selalu ada orang yang menjaga, kapanpun dan dimanapun Ibu Arini berada.”


 Arini terdiam sejenak. Semua ini seperti belum bisa diterima akal sehatnya.


Arini bahkan tidak pernah menaruh curiga sama sekali, jika ternyata selama ini hidupnya senantiasa diawasi sedemikian rupa oleh seorang Sebastian Putra Djenar.


“Mang Asep, sebaiknya saya turun didepan saja.” Arini berucap saat tersadar bahwa gedung kantor pusat Indotama Group sudah terlihat menjulang di kejauhan.


Mang Asep sontak menggeleng pelan.


“Wah ... maaf, kalau seperti itu tidak bisa. Saya harus mengantarkan Ibu Arini sampai didalam lingkungan kantor pusat. Begitulah perintah Pak Tian.”


Arini menghembuskan napasnya pelan, sekarang ia tidak lagi memiliki keinginan untuk melakukan kemauannya seperti kebiasaanya yang nyeleneh selama ini.


Bukan apa-apa, Arini hanya merasa ia berada diposisi yang tidak seharusnya menyulitkan Mang Asep, karena menyulitkan Mang Asep sama saja dengan menyulitkan Tian.


“Kalau begitu kita ke-parkiran basement saja, Mang, nanti saya bisa turun disitu.” ucap Arini akhirnya.


“Kenapa tidak di lobby sekalian, Bu ?”


“Jangan mang, saya tidak enak kalau sampai dilihat karyawan yang lain. Lagian mana ada karyawan biasa seperti saya datang ke kantor diantar sopir pribadi, dan pakai mobil mewah seperti ini? Apa nanti kata mereka ...?”


“Ya sudah, kalau begitu saya akan mengantarkan Ibu Arini ke-parkiran basement, nanti pulangnya saya jemput disitu lagi yah, Bu."


Arini mengangguk, mengiyakan. “Iya, Mang, begitu lebih baik.”


Mobil yang dikendarai Mang Asep bergerak perlahan saat memasuki area gedung kantor pusat Indotama Group dan akhirnya berhenti sempurna saat tiba di parkiran basement.


“Saya turun dulu, Mang,”


“Baik, hati-hati Ibu Arini,”


“Iya, Mang, terima kasih.”


Arini turun dari mobil setelah terlebih dahulu menengok kiri, kanan, muka dan belakang, memastikan semua kondisi sekitar dalam keadaan aman sebelum akhirnya benar-benar membuka pintu mobil dan berjalan cepat kearah pintu masuk samping basement, gedung kantor pusat Indotama Group yang menjulang megah.


...


Bersambung ...


Alhamdulillah, 1 bulan mengudara, 3 kali ditolak, akhirnya semalam dpt pemberitahuan dari NT lulus kontrak juga 😍. Terima kasih atas semua doa dan dukungan kalian selama ini yah.. 😇 Terbaiikkk dehh.. 😘


Lophyuuu.. my Readers.. 😘