
Selalu Like, Comment, Vote, Subscribe, jangan lupa yah.. 🤗
.
.
.
Sejak awal tekad Tian memang sudah bulat, bahwa dia tidak akan mungkin mengalah meskipun Rico akan merengek dihadapannya seperti kebiasaan sahabatnya itu selama ini.
"Tian.. hatimu benar-benar sudah menjadi batu yah? tega sekali kamu tetap tidak bergeming disaat aku telah memohon seperti ini.."
Tian mengerling kecil kearah Rico yang duduk dihadapannya dengan wajah terlipat. Rico terlihat mulai putus asa, lelah mengemis sejak tadi namun tetap mendapat penolakan Tian.
Lagipula Rico benar-benar keterlaluan. Masa iya dia mau membawa Meta jalan-jalan disaat pekerjaan di kantor pusat indotama grup sudah mencapai level puncak dalam menghadapi launching produk pada besok hari.
"Tian.."
"Hhmm.."
"Hubunganku dengan Meta baru saja membaik.. aku tidak mau kalah langkah. Lagian kalau kamu terus memberikan Meta pekerjaan yang berat, sepertinya aku juga akan mempertimbangkan untuk menyuruhnya berhenti bekerja seperti Arini.."
"Seenaknya saja. Memangnya Meta mau mengikuti permintaanmu..?" ucap Tian acuh sambil memperhatikan salah satu dokumen yang dibawa Rudi sebelum kehadiran Rico.
"Apa maksudmu ?"
"Aku mau lihat, dia lebih memilih mendengarkanmu atau aku..? bosnya..?"
Sebenarnya Tian hanya berucap asal saat berucap demikian, namun tak disangka mendengar kalimat yang memprovokasi itu Rico langsung melotot kesal.
"Tentu saja dia harus mendengarkan aku. Karena dia istriku..!!"
Tian tertawa keras. "Istri? semoga telingaku ini sedang tidak salah mendengar.."
Rico menatap Tian kesal, membuat Tian akhirnya mengalah dalam upaya menggoda Rico. Tian kembali menaruh dokumen yang tadi sempat dibacanya, kali ini dia benar-benar fokus pada wajah Rico yang terlihat memelas.
"Bersabarlah.. dan tolong jangan mengganggu istrimu dulu untuk hari ini. Aku tidak mengada-ngada, Co, karena aku benar-benar sangat memerlukan Meta baik itu waktu, tenaga, maupun pikirannya."
"Huhh..!"
Tian menatap Rico dengan tatapan menduga-duga. "Co, sikapmu ini.. kamu sedang tidak ber-akting kan..? apa kamu benar-benar sebersemangat ini hanya karena Meta..?"
"Apa kamu bilang? hanya?" Rico tersenyum kecut. "Apa kamu tau pengorbananku untuk sekretarismu yang keras kepala itu? semalam aku bahkan telah kehilangan lima puluh persen saham best elektro karena wanita yang menurutmu 'hanya' itu.." pungkas Rico yang dari ekspresi wajahnya jelas terlihat separuh kalut, separuh putus asa, separuh senang.. tapi Tian yang melihat pemandangan ekspresi wajah yang berubah-ubah itu justru berfikir keras.
"Lima puluh persen saham best elektro? apa kamu benar-benar sudah gila, Co?!" Tian terhenyak mendengar penuturan itu.
Rico terlihat bersandar di kursi dengan pasrah. "Sebenarnya dia hanya minta empat puluh persen, tapi aku malah terbawa perasaan kemudian menantangnya untuk menjadi lima puluh persen.."
"Unboxing..?" tanya Tian tidak bisa menahan diri atas rasa penasaran yang menderanya begitu melihat gelagat Rico yang semakin mencurigakan.
Dan detik berikutnya Tian telah berdecak saat mendapati bahwa kali ini senyum Rico terkesan sangat mesum saat mengangguk tanpa ragu.
"I am a lucky man.." wajah Rico terlihat songong saat menepuk dadanya dengan bangga dihadapan Tian.
"Cihh.."
Ejek Tian, nyaris tak percaya jika Rico bisa senekad itu hanya demi seorang wanita. Kehilangan lima puluh persen saham hanya agar bisa meniduri istri sendiri? amazing.. akal sehat Tian masih enggan untuk mempercayai.
"Dasar bucin bodoh, apa kamu sudah memikirkan dengan baik keputusanmu?" tanya Tian lagi masih tak habis pikir.
"Mana bisa berfikir dengan baik? fikiranku bahkan selalu buntu setiap kali menghadapi wanita itu."
Ternyata cinta memang se-dashyat itu, kan ? sehingga bisa membuat manusia kehilangan nalar juga akal sehat begitu saja.
"Kenapa Meta bisa sampai meminta sebanyak itu? maksudku.. kalau dia mencintaimu, seharusnya kalian tidak butuh kesepakatan konyol seperti itu, kan..?" tanya Tian kali ini dengan nada berhati-hati, takut menyinggung perasaan Rico yang terduduk pasrah dihadapannya. Mendadak Tian merasa iba.. meskipun di sisi lain tidak bisa percaya begitu saja dengan Rico.
Sahabatnya ini terlalu banyak bermain-main disepanjang hidupnya. Terlalu sulit untuk mempercayai jika Meta mampu menjinakkan Rico secepat itu.
"Hal yang sama yang selalu mengusik pikiranku." Rico diam sejenak sebelum akhirnya kembali berucap lirih. "Aku bahkan tidak tau apa yang Meta rasakan. Dia tidak pernah berusaha terlalu keras untuk menolakku, tapi disisi lain.. aku bisa miskin jika tidak bisa membuatnya menerimaku dengan tulus." rutuk Rico dengan wajah yang tanpa gairah.
"Aku tidak percaya Meta telah melakukan semua ini padamu." Tian bahkan tidak tau bahwa disaat seperti ini apa dia harus iba atau malah tertawa mengetahui nasib Rico yang sebenarnya.
"Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus bisa menghamilinya dulu.. kalau sudah begitu, dia meminta best elektro untuk menjadi miliknya sekalipun rasanya aku tidak keberatan.."
Mendengar itu Tian menatap Rico dengan takjub. Kali ini sepertinya Tian harus mempercayai bahwa sahabatnya yang tengil ini sedang benar-benar jatuh cinta.
Tapi apa iya..?
"Begini saja.. aku akan memberimu hadiah spesial, siapa tau bisa membuka peluang untukmu agar bisa menaklukkan Meta. Lagipula ini termasuk upayaku untuk menyenangkan wanita tercantik di dunia ini.." ucap Tian akhirnya, begitu mengingat keinginan Arini pada beberapa hari yang lalu, tentang rencana konsep honeymoon berjamaah yang digagas Arini dengan semangat empat lima.
"Wanita tercantik didunia ini ? siapa..? Arini maksudmu?"
Tian mengangguk penuh percaya diri, tanpa mempedulikan ekspresi wajah Rico yang mencebik.
Bukan apa-apa, Rico tau persis bahwa jika Arini sedang menginginkan sesuatu maka tidak ada jalan lain untuk menghindarinya. Tian pasti tidak akan segan mengambil nyawanya sekalipun jika Rico berani menolak.
"Jangan cemberut, Co.. tenang saja, kali ini istriku yang cantik telah membuat rencana yang sangat menyenangkan untuk mendukung niat jahatmu.."
"Kenapa perasaanku menjadi tidak enak yah..?" Rico bergumam pelan.
"Apa maksudmu ??!" pungkas Tian sambil menatap galak. "Kamu sedang berburuk sangka dengan niat baik istriku yah..?"
"Ahh.. tidak.. tidak.." Rico sontak mengelak seraya menggaruk kepalanya sambil cengengesan.
"Seharusnya kamu berterima kasih kepada Arini yang sudah berhasil membujukku untuk setuju melakukan honeymoon berjamaah dengan mengajakmu dan Meta ikut serta.." pungkas Tian kesal begitu menyadari Rico telah memandang sebelah mata rencana keinginan Arini, wanita pemilik dunia serta nafas hidup yang dipuja Tian tanpa jeda.
"Benarkah..?! kapan ?! wahh.. rasanya aku sudah tidak sabar.." mendengar itu mata Rico kini berbinar penuh kejora.
"Jangan senang dulu.. kamu tidak bisa leluasa bersama Meta, karena syarat dari Arini sudah sangat jelas, yakni harus mengajak Rei juga.."
"Kalau itu gampang.. kita hanya perlu mengajak suster agar Rei dan Sean ada yang mengawasi sedangkan kita bisa mempunyai waktu untuk.. ehem.." Rico menaik turunkan alisnya membuat Tian sontak terhenyak, tidak menyangka jika Rico bisa memiliki rencana secemerlang itu dengan mudahnya, yang awalnya tidak terpikir oleh Tian.
Rico benar.. mereka memang harus mengajak suster karena itu satu-satunya cara agar bisa membuat mereka berdua mempunyai quality time yang sesungguhnya dengan istri mereka masing-masing, apalagi di malam hari.
"Wah.. otakmu itu benar-benar tokcer jika sudah berurusan dengan wanita yah.." ujar Tian takjub.
"Rico jangan dilawan, sob.." ujar Rico kemudian, dengan ekspresi songong yang khas..
.
.
.
Bersambung..
Berikan support yah gais.. 🤗
Thx and loopphyuu.. my kesayangan.. 😘