
Yang belum nyamperin cerita TERJERAT CINTA PRIA DEWASA dan PASUTRI mampir dan jangan lupa untuk meninggalkan dukungan.. 🙏🏿
.
.
.
"Are you ready to fight..?"
Tian memalingkan wajahnya kearah Rico yang masih membisu usai kepergian Arini dan Meta yang memilih kembali lebih dahulu ke hotel untuk melihat Rei dan Sean yang telah lebih dahulu kembali bersama suster.
"Siap tidak siap, harus siap.." pungkas Rico seraya menghempaskan tubuhnya keatas sofa duduk, yang berada tepat disamping Tian.
"Apakah kamu sudah bisa memprediksi langkah orangtuamu nanti?"
Rico mengedikkan bahu. "Entahlah.."
"Aku rasa tidak ada celah karena posisimu sangat kuat.. tapi, who knows..?" pungkas Tian. "Waspada lebih baik.." imbuh Tian lagi.
Rico menghembuskan nafasnya perlahan, karena sesungguhnya pemikiran Tian sama persis dengannya.
Dalam Tiga tahun terakhir ayahnya memang nyaris menarik diri dari semua urusan perusahaan dan bisnis keluarga, jadi secara hitung-hitungan, Rico tau persis ayah dan ibu sudah tidak bisa menekannya lebih banyak.
Dalam tiga tahun juga pencapaian yang ia lakukan untuk karirnya cukup signifikan. Perusahaan konstruksi yang ia rintis dari nol berkembang pesat seiring dengan keberhasilannya menangani beberapa mega proyek milik Indotama Group dan beberapa perusahaan besar lainnya. Tidak hanya swasta, beberapa proyek besar milik Pemerintah baik di pusat maupun beberapa daerah, bahkan cukup sukses melambungkan nama perusahaannya.
Tapi bagaimana pun hebatnya dirinya sekarang, Rico tetaplah seorang anak tunggal Ahmad Wijaya, yang keberhasilannya saat ini tidak lepas dari tangan dingin ayahnya, serta seluruh alur kehidupannya telah terbiasa diatur secara menyeluruh oleh Yunita Wijaya, ibunya.
Untuk itulah, jika hati ayah dan ibu tidak bisa Rico menangkan dalam persoalan ini, maka itu artinya ini adalah kali pertama dalam hidup Rico, dirinya membantah keinginan kedua orangtuanya.
"Lalu bagaimana dengan PT. Mercy..?" tanya Tian lagi. Ia menahan diri untuk tidak membahas Best Electro, karena entah Meta memintanya dengan sungguh-sungguh, atau hanya berkata sambil lalu.. tapi pada kenyataannya, Rico tetap mewujudkannya. Rico telah membalik namakan lima puluh persen saham Best Electro miliknya menjadi atas nama Meta.
'Cinta yang luar biasa..'
Tian membathin, salut dengan kebulatan tekad Rico yang berkorban begitu banyak demi Meta dalam waktu yang relatif singkat.
"Kalau itu aku tidak yakin.."
"Co, bagaimana pun kamu harus memperjuangkannya demi Rei. Itu adalah hasil jerih payah Lila.."
Rico mengedikkan bahu. "Entahlah.. aku malah merasa malu jika harus ngotot tentang segala sesuatu yang behubungan dengan kepemilikan PT. Mercy. Mau ditaruh dimana mukaku, Tian.. aku bahkan telah menikah kembali disaat tanah kuburan Lila belum kering.."
"Tapi ini bukan tentang kamu, Co, melainkan Rei. Kamu tidak boleh lemah dan menyerah karena Rei punya hak penuh pada semua aset atas nama Lila. Kalau kamu lemah.. bisa-bisa kamu akan kehilangan PT. Mercy. Ingat, Co.. PT. Mercy adalah salah satu kenang-kenangan Lila untuk Rei. Jangan karena kamu merasa gengsi.. kamu melepaskannya untuk dikuasai pemegang saham yang lain.."
Rico kembali membisu, seolah hanya bisa meresapi setiap kalimat Tian, namun tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankan apa yang seharusnya memang menjadi kewajibannya untuk memperjuangkan hak Rei, jika kedua orangtua Lila nekad dan tidak berkenan mempercayakannya lagi kepada dirinya seperti selama ini.
Tian paham betul, jika hati kecilnya saja tidak rela.. lalu bagaimana dengan Rico yang notabene memiliki kewajiban untuk melindungi asset masa depan putranya sendiri..?
Tian yakin Rico juga tidak ingin PT. Mercy lepas darinya.. tapi disisi lain Rico juga tidak mau dicap serakah karena ngotot menguasai harta bawaan milik mendiang istrinya.
Melihat keraguan yang masih bergelayut dalam diri Rico membuat Tian menarik nafas berat, sebelum akhirnya berucap penuh penekanan.
"Aku bisa menahan Mercy Green Ressort untukmu, tapi untuk jaringan hotel Mercy yang lain, aku akan berusaha, tapi tidak bisa menjanjikan yang muluk-muluk.."
Mendengar itu nafas Rico terdengar berhembus lega. Hatinya mendadak terasa lapang bisa mendengar langsung dukungan Tian kepadanya.
"Tian.. terima kasih. Sungguh aku hanya bisa berharap padamu. Karena kalau tidak, aku tidak tau harus mengandalkan siapa lagi.."
XXXXX
"Kenapa kembalinya lama sekali, sih?" Arini menyambut kedatangan Tian dengan wajah masam.
"Baru juga pisah sebentar segitu kangennya.."
"Siapa juga yang kangen..?" desis Arini kesal sambil naik keatas ranjang, langsung masuk kedalam selimut tebal.
Tian yang melihat pemandangan itu sontak melongo. Kakinya terayun mendekati ranjang king size dimana tubuh Arini telah terbenam didalam sana.
"Sayang.. kamu kenapa? sakit?" tanya Tian refleks menempelkan punggung tangannya kedahi Arini yang tengah meringkuk dibawah selimut dengan mata terpejam.
Tian terhenyak ketika menyadari suhu tubuh Arini yang memang terasa sedikit hangat.
"Sayang.. sepertinya kamu demam?"
"Aku tidak demam, hanya sedikit tidak enak badan.."
"Sama saja. Tunggu sebentar, aku akan menelpon Hendi untuk menanyakan dokter yang bisa dihubungi.." ujar Tian sambil merogoh ponselnya yang masih berada disaku celana.
Arini berucap lirih namun Tian tidak menggubris kalimat Arini sedikitpun. Tian tetap menghubungi Hendi untuk menanyakan kepadanya keberadaan dokter yang bisa memeriksakan kondisi tubuh Arini secepatnya.
XXXXX
Jam telah menunjukkan pukul sembilan malam ketika Rudi tiba di apartemennya.
Keheningan langsung menyapa begitu ia melangkahkan kaki kedalam, langsung menuju kamarnya. Rudi menaruh ponselnya keatas nakas, kemudian jemarinya mulai membuka kancing kemeja yang diapakainya satu persatu. Namun belum ada keseluruhan kancing ia buka, manakala Rudi seolah teringat sesuatu.
Rudi kembali menyambar ponselnya yang tergeletak diatas meja, langsung membuka chat wa seseorang yang telah ia abaikan sejak tadi siang.
'Kak.. aku memutuskan untuk langsung ke kota B saja. Jangan telat makan yah..'
Sebelas jam yang lalu.. itu artinya chat tersebut terkirim sekitar jam sepuluh tadi siang.
'Kak, aku sudah sampai..'
Empat jam yang lalu, sekitar jam lima sore.
'Jangan lupa makan, kak.. kalau sampai apartemen langsung istirahat yah..'
Dua jam yang lalu, sekitar jam tujuh malam.
'Kamu juga. Jangan lupa makan.'
Rudi menaruh ponselnya lagi keatas nakas, begitu mengetikkan lima kata tersebut. Ia berniat beranjak kekamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang mulai terasa lengket karena telah beraktifitas tanpa henti sejak tadi pagi.
Usai mengguyur tubuhnya dibawah shower, Rudi keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit dipinggang. Membuka wadrobe dan menyambar kaos polos berwarna putih dan celana pendek diatas lutut. Rambutnya yang masih basah hanya ia sisir ala kadarnya dengan jari, kemudian Rudi langsung menyambar ponsel kembali yang ada diatas nakas.
Rudi ingin mengecek apa laporannya sudah diterima oleh Pak Tian terlebih dahulu, namun sebuah notifikasi masuk kembali mengalihkan fokusnya sejenak.
'Selamat tidur, kak.. have a nice dream..'
Emoticon love menghiasi akhir dari kalimat tersebut.
Rudi tersenyum, namun memilih untuk tidak langsung membalasnya, malah kemudian membuka balasan email Pak Tian atas laporan dua hasil meeting penting yang ia lakukan tadi, dalam rangka mewakili kehadiran Ceo Indotama Group yang tidak bisa memimpin langsung jalannya meeting karena masih berada di Pulau Dewi.
Beberapa menit tenggelam dalam laporan yang telah ia kirimkan itu, konsentrasi Rudi kembali terusik saat menyadari panggilan telpon Laras yang ia nanti tidak kunjung terdengar deringnya. Padahal biasanya Laras akan sangat antusias dan segera menelpon balik saat mengetahui ia telah membaca chat.
Tanpa berpikir panjang Rudi menekan icon panggilan pada nomor kontak Laras. Memutuskan untuk menghubungi wanita itu terlebih dahulu begitu menyadari Laras tak kunjung menghubunginya.
Menunggu sejenak, namun yang ada alis Rudi semakin bertaut sempurna, saat menyadari nomor ponsel Laras bahkan sudah tidak aktif sehingga tidak bisa ia hubungi lagi.
'Aneh..'
Seolah tidak yakin dengan informasi yang didengar oleh telinganya sendiri, yang terus-menerus mendengar informasi yang sama, Rudi memutuskan untuk kembali menekan nomor Laras untuk yang kesekian kalinya.
Dan setelah menunggu beberapa jenak, kembali suara operator seluler menginformasikan hal yang sama..
'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan..'
.
.
.
Bersambung..
Like
Comment
Vote
Tip,
Subscribe,
Rate 5,
Author banyak maunya.. 🤭
Thx and Loohyuu all.. 😘