
Yang belum Like bab sebelumnya.. yukk bantu author untuk genapin Like nya dulu biar performa author gak jalan ditempat.. 🤗 Terima kasih.. 😘
Ditunggu kunjungannya di :
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu vote, like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 🙏
.
.
.
Mobil yang dikendarai Rico melesat meninggalkan gedung kantor pusat indotama group dengan kecepatan sedang. “Kenapa wajahmu cemberut seperti itu ?”
“Tidak apa-apa. Memangnya ada apa dengan wajahku ?!” Meta menjawab acuh dengan tatapan yang mengarah keluar kaca yang ada disebelahnya.
“Dari tadi menaikkan bibir setinggi itu apa mulutmu tidak pegal ?”
Meta menoleh serentak seraya melotot mendengar kalimat Rico, namun sepertinya meskipun ia melotot sampai kedua bola matanya keluar pun tidak ada gunanya karena tatapan lelaki itu sedari tadi hanya fokus pada jalanan, seolah tidak sudi menoleh padanya meskipun sejenak.
“Apa pak Rico tau rasanya menunggu sampai berjam-jam ?” ucap Meta pada akhirnya, mengutarakan sumber kejengkelannya yang diakibatkan oleh perintah Rico yang melarangnya pulang dengan taxi online seusai meeting, namun yang ada Meta bahkan hampir ketiduran di lobby, saking lamanya menunggu lelaki itu keluar dari ruangan pak Tian.
Yang membuat Meta jengkel adalah tak lain karena ia telah kehilangan waktu lumayan banyak untuk bersama Rei hanya karena harus menunggu urusan lelaki itu selesai.
“Hanya menunggu sejam saja, kamu sudah ribut begini !” dumel Rico kesal.
“Tentu saja. Karena waktuku itu berharga !” semprot Meta tak tanggung-tanggung.
Mendengar kalimat Meta, Rico malah tersenyum sinis. “Kamu ini gemar sekali bermain hitung-hitungan denganku yah.. tapi kepada orang lain kamu sangat murah hati..”
“Apa maksud pak Rico ?”
“Maksudku sudah aku katakan dengan jelas. Bahwa kepada orang lain kamu sangat murah hati. Buktinya tubuhmu bahkan bisa dengan bebas dipeluk lelaki lain. Apa itu namanya bukan murah hati..?”
Meta terkesiap mendengar kalimat pedas yang terkesan sangat merendahkan dirinya itu. “Dan pak Rico juga selalu begitu baik pada orang lain, tapi kepadaku hanya bisa menyudutkan, membuat aku susah, menuduh yang tidak-tidak..”
“Menuduh yang tidak-tidak itu jika aku mengarang sesuatu untuk sengaja menyudutkanmu. Tapi saat ini aku tidak sedang mengarang sesuatu. Aroma parfum lelaki itu bahkan masih menempel dibajumu !”
“Menempel dibajuku ? tidak mungkin !!” Meta melotot, namun kemudian dia malah refleks mencium kesana kemari, pada seluruh bagian baju yang bisa ia jangkau untuk ia cium, tapi Meta sama sekali tidak menemukan aroma parfum Rudi disana.
Melihat pemandangan itu Rico tidak bisa menahan dirinya untuk melengos kasar. Mana mungkin aroma parfum Rudi masih menempel dibaju Meta ? tentu saja itu hanya bisa-bisanya Rico saja untuk memberikan sindiran halus kepada Meta yang malah menanggapinya dengan polos. Rico sendiri bahkan tidak tau mengapa ia telah menjadi begitu kesal sehingga bisa mendramatisir keadaan sampai sebegitunya.
Meta yang seolah baru tersadar dari kepolosan atau katakanlah dengan kebodohannya hanya bisa pasrah. Ia baru menyadari bahwa pada kenyataannya parfum Rudi memang tidak mungkin tertinggal dibajunya tapi pak Rico mengatakan hal itu sudah pasti secara tidak langsung ingin menyatakan bahwa lelaki itu mengetahui dengan pasti kejadian tadi siang di rooftop kantor pusat indotama group.
“Aku bahkan merasa bingung bagaimana aku harus membela diriku. Tapi kalau sekiranya pak Rico benar-benar tau dengan kejadian tadi siang di rooftop, seharusnya pak Rico juga tidak seharusnya menghakimi aku seperti ini..”
“Whatever !” pungkas Rico secepat kilat. Saking kesalnya tangan kanannya telah menghantam permukaan setir yang sedang dikuasainya.
Meta terkesiap mendengar kemarahan lelaki itu, sementara Rico memilih menepikan mobil demi keselamatan menyadari seluruh tubuhnya tiba-tiba saja sudah bergejolak dipenuhi amarah, terlebih lagi ketika potongan adegan dimana tangan besar Rudi meraup pinggang Meta yang membuat tubuh mereka terlihat begitu rapat.
“Meta, dengarkan ini baik-baik yah. Aku tidak peduli kamu mau memeluk siapa pun dibelakangku ! terserah ! yang aku peduli adalah bagaimana pandangan orang lain melihatmu makan siang berduaan di rooftop dan kemudian dipeluk oleh lelaki lain..”
“Aku tidak hanya berduaan dengan Rudi. Disana bahkan ada begitu banyak karyawan..”
“Lalu insiden yang dia memelukmu ?”
“Itu karena ada yang menabrakku dan aku hampir jatuh. Rudi hanya ingin menolong..”
“Kamu mau membuatku malu ? istri Rico Chandra Wijaya dipeluk oleh mantan kekasihnya di rooftop kantor pusat dan…”
“Untuk apa pak Rico merasa malu ? aku hanya istri rahasia, tidak ada yang tau kalau aku istrinya pak Rico..”
“Bagus !”
Pungkas Rico dengan nada suara yang sudah naik satu oktaf.
“Rudi bukan mantan kekasihku !”
“Tapi kalian saling menyukai kan ? karena alasan itu kamu membutakan diri dari kenyataan bahwa Rudi juga sudah beristri, istrinya bahkan adik dari Ceo indotama group. Kalau kamu sudah tidak bisa lagi menghargai dirimu, setidaknya hargai Tian. Apa kamu sudah tidak punya harga diri sama sekali ?! apa semua harga dirimu sudah habis terjual..?!”
“Pak Rico !!” sepasang mata Meta telah menyala. Ia membuka seatbeltnya dengan marah hanya agar bisa dengan leluasa untuk memukul lengan Rico yang ada disampingnya dengan membabi buta.
“Meta, hentikan.. kamu sudah gila yah ?” mekipun awalnya tidak berasa namun lama-kelamaan dihantam dengan tinju kecil Meta terus-menerus membuat lengan Rico mulai terasa mati rasa.
“Aku benci padamu ! dasar tidak punya perasaan !!”
“Aku bilang hentikan !!”
Rico membuka seatbeltnya yang masih terpasang, dan begitu tubuhnya terbebas dengan sekali gerakan kedua tinju Meta sudah berada dalam genggaman Rico.
“Lepas !!”
Meta memberontak dengan sekuat tenaga, namun yang ada Rico malah menekan kedua tangan Meta yang terkunci dengan kedua tangannya ke tubuh wanita itu hingga merapat kekursi yang sedang ia duduki. Tubuh Rico ikut tertarik kesana, mempersempit ruang yang ada diantara mereka.
Wajah Meta yang memerah berada beberapa inchi dibawah Rico membuat rahang kokoh Rico nyaris menyentuh pucuk hidung Meta.
Meta memberontak, namun Rico menekannya. Ia memberontak lagi.. dan Rico kembali menekannya.
“Dasar lelaki tidak berperasaan..!” umpat Meta sedikit kesakitan karena kedua pergelangan tangannya yang terkunci semakin ketat
“Dan kamu wanita egois.” Balas Rico dengan intonasi dingin.
“Jangan mimpi kamu bisa mengaturku..!”
“Tentu aku bisa mengaturmu.. karena kenyataanya semua yang ada pada dirimu sudah aku beli.”
“Tidak semudah itu !”
“Jangan membuatku marah, Armetha Wulansari.. You’re mine..!”
Usai berucap geram penuh penekanan Rico menundukkan wajahnya dengan cepat, merampok sesuatu yang sejak awal begitu gemar membantahnya. Sesuatu yang tidak disangka bahwa rasanya ternyata begitu manis.. kenyal.. dan membuatnya dahaga. Sehingga setiap kali Rico merasa dirinya ingin berhenti.. tapi rasa hausnya terus menuntut, dan setiap kali ia menerima pemberontakan, maka ia akan terus menekan..
Meta merasa semua dunianya telah berputar, jungkir balik hingga seratus delapan puluh derajat.
Rico telah mengambil sesuatu yang berharga dari dirinya dengan penuh paksaan. Yang awalnya memicu benci tak terkira sehingga ingin rasanya ia memukuli lelaki itu kalau perlu sampai mati.
Tapi penolakan dan rasa enggannya yang selalu dipatahkan, membuat mau tak mau terpaksa harus terus merasakan bagaimana setiap inchi salah satu indera dirinya yang selama ini ia jaga dengan sepenuh hati telah dijadikan sarana yang tepat untuk menghukumnya, sekaligus pemuas kebencian lelaki itu.
Rico menarik dirinya sedikit, melepaskan hasil rampokan sekaligus mengendurkan cengkeraman kedua tangannya yang sejak tadi memborgol kuat kedua pergelangan tangan Meta hingga meninggalkan tanda yang terlihat sedikit memerah disana.
Dengan jari telunjuknya Rico menyingkirkan cairan bening dikedua pipi Meta yang mengalir dalam diam, setelah itu tangannya seperti bergerak sendiri mengusap bibir yang baru saja ia singgahi dengan seenaknya.
Meta menoleh, menatap Rico tanpa kata, namun tatapannya dipenuhi luka.
“Ingat ini baik-baik, jangan pernah membuatku marah, Armetha Wulansari.. You’re mine..!”
Bisik Rico lagi dengan tatapan yang menghujam tanpa perasaan sedikitpun, sebelum kembali memegang rahang Meta yang membisu.. lagi-lagi memaksa untuk bisa menguasai sesuatu yang telah ia rampas tanpa rasa iba..
.
.
.
Bersambung..
Favoritekan novel ini, like dan comment setiap bab-nya, dan berikan hadiah serta vote yang banyak.. karena apapun dukungan kalian merupakan penyemangat author untuk terus berkarya.. 🤗
Thx and Lophyuu all.. 😘