
*M**ampir yuk.. PASUTRI dan TERJERAT CINTA PRIA DEWASA, jangan lupa untuk meninggalkan dukungan.. 🙏🏿*
.
.
.
Di read, tapi tak kunjung ada balasan.
Padahal Laras telah menunggunya hingga hampir setengah jam, namun seperti biasa, tak ada tanda-tanda chatnya akan dibalas.
Kemarin-kemarin, Laras bahkan tidak peduli. Kenyamanan Rudi bukanlah hal yang penting karena selama ini Laras terus menjadi sosok yang selalu memperhatikan hal terkecil mengenai lelaki itu. Tak peduli Rudi menyukainya atau tidak, tidak peduli Rudi terganggu atau tidak, karena yang terpenting, ia senang melakukannya.
Tapi itu dulu.. sebelum kepercayaan dirinya berubah, mencelos hingga ke titik nadir.
Saat ini, semua hal yang dulunya tidak penting mendadak menjadi begitu penting. Laras bahkan merasa dirinya telah berubah menjadi sosok yang lain, seperti orang yang paranoid.
Ia menjadi begitu takut tindakannya yang terkecil sekalipun akan membuat Rudi kesal.. kemudian semakin merasa terganggu.. semakin tidak nyaman dengan keberadaannya.. lalu akhirnya meninggalkannya..
Astaga.. Laras menggeleng saat tiba-tiba matanya telah dipenuhi air mata. Sungguh ia sangat takut kehilangan Rudi.. takut ditinggalkan..
Membayangkan hal mengerikan itu membuat Laras dengan terburu-buru menekan tombol daya yang ada di ponselnya.
Mematikan ponsel adalah satu-satunya pilihan untuk menghentikan dirinya sendiri, karena biasanya Laras akan langsung menelpon balik, begitu tau info wa Rudi tertulis Online, kemudian ia akan langsung mencecar Rudi dengan semua cerita, pertanyaan, bahkan kecemburuan.
Tidak.. tidak..
Laras merasa sepertinya dirinya harus segera mengubah semua kebiasaannya itu. Laras akan melakukan semua yang Rudi inginkan, dan akan bertahan sekuat yang ia bisa, karena ia bahkan tidak sanggup membayangkan jika semua sifatnya yang tidak disukai Rudi bisa membuat dirinya kehilangan lelaki itu, lelaki yang telah menghuni bilik hatinya sekian lama.
XXXXX
"Sayang, obatnya sudah diminum?"
Arini bergegas menarik tangannya dari dalam tas begitu suara Tian terdengar, langsung meneguk air mineral yang ada dihadapannya.
"Sudah sayang.." ujarnya sambil tersenyum kearah Tian yang terlihat menatap wajah Arini beberapa saat seolah ingin memastikan sesuatu, sebelum akhirnya kembali fokus pada seorang pria paruh baya yang sedang menjadi lawan bicaranya dan Rico di private lounge bandara Pulau Dewi.
Saat ini mereka memang sedang menanti informasi untuk naik ke private jet yang telah terparkir manis di bandara kecil yang ada di pulau Dewi itu, dan sepertinya pria paruh baya yang berhasil mencuri celah waktu Tian yang singkat tersebut nampaknya begitu beruntung karena berhasil mendapatkan perhatian Tian secara khusus.
Meta yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Arini yang mencurigakan sontak berbisik perlahan.
"Kamu tidak meminumnya kan?" todong Meta dengan begitu yakin.
"Obatnya."
"A-appa..? t-tidak.." Arini menggeleng kuat-kuat.
"Jangan bohong, Rin.. mengaku saja karena aku diam-diam terus memperhatikan gerak-gerikmu sejak tadi. Kamu tidak meminum obatnya. Iya kan?"
Mendengar kalimat Meta yang tegas itu akhirnya Arini pun meringis kecil.
"Baiklah, kamu menang.. pliiiss, Meta, jangan mengatakannya kepada Tian. Pliss.."
Alis Meta berkerut mendengar permintaan aneh itu. Yang ia tau sejak semalam Arini memang tidak enak badan. Pak Tian bahkan sampai memanggil dokter untuk memeriksakan kondisi istrinya itu namun yang ada, pagi ini ia malah memergoki Arini tidak meminum obatnya. Meta jadi curiga, tidak menutup kemungkinan Arini juga tidak meminum obatnya sejak semalam.
"Tapi kenapa, Rin? kamu kan sedang sakit.. lalu kenapa kamu malah tidak meminum obat yang diberikan dokter..?" ucap Meta dengan intonasi perlahan, agar pembicaraan mereka tidak sampai di meja ketiga orang yang terpaut dua meja dari meja mereka berdua.
Arini malah membisu menanggapi pertanyaan Meta, membuat Meta semakin dibuat kebingungan mendapati tingkah janggal istri Ceo Indotama Group itu.. sebelum pada detik berikutnya Meta seolah menyadari sesuatu. Refleks ia membekap mulutnya sendiri.
"Astaga. Rin.. jangan bilang kalau kamu.. kamu.." Meta memilih menarik kursinya terlebih dahulu untuk membuat posisinya lebih dekat dengan Arini. "Rin, kamu.. sedang hamil ya..?"
Mendengar bisikan yang diiringi binar-binar kebahagiaan dari sepasang mata Meta membuat Arini tersenyum malu. Ia bahkan belum menjawab apa-apa.. tapi tingkah Meta sudah kesenangan seperti orang yang menang lotere.
"Jadi Pak Tian belum tau? tapi kenapa kamu merahasiakannya sih..?" bertanya dengan wajah antusias.
"Ssstt.." Arini menempelkan jari telunjuk diatas bibirnya. "Aku ingin memastikannya lebih dulu, kalau sudah terbukti benar, baru aku akan mengatakannya kepada Tian.."
"Kenapa harus begitu? seharusnya semalam kamu jujur saja dengan kondisi tubuhmu agar dokter bisa memberikan obat yang aman untuk wanita yang sedang hamil.."
Arini menggeleng perlahan. "Tidak, Meta.. sudah aku bilang bahwa aku akan memastikannya sendiri terlebih dahulu. Aku tidak mau membuat Tian lagi-lagi kecewa seperti yang sudah-sudah."
Arini berucap demikian sambil kembali mengawasi Tian yang berada tidak lebih dari sepuluh meter dari tempat duduknya.
"Meta, hal seperti ini sudah sering terjadi. Aku merasa mual dan tidak enak badan, lalu dalam sekejap Tian akan berubah panik dan mulai berharap setinggi langit.. lalu yang ada kecewa lagi.." Arini menghela nafasnya berat, sebelum kembali melanjutkan kalimatnya dengan intonasi lirih. "Bisa jadi aku hanya masuk angin, makanya aku tidak mau memberi Tian harapan. Aku takut mendapati kenyataan seperti yang sudah-sudah bahwa aku mual, pusing, dan tidak enak badan hanya karena aku sedang sakit sehingga daya tahan tubuhku melemah. Makanya aku menahan semua rasa tidak enak ini untuk mencegah Tian yang khawatir berlebihan. Sejak semalam aku tidak minum obat apapun yang diberikan dokter.. aku takut.."
.
.
.
Sebelum lanjut Part2 - 112
Jangan lupa di LIKE DAN SUPPORT dulu yah.. 🥰