CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 - 120


Part2 - 119 nya sudah di-LIKE belum? jangan lupa di LIKE dulu yah.. πŸ‘


.


.


.


Saat Meta memasuki kamar, yang dilihatnya pertama kali adalah sosok Rico yang termanggu didepan jendela kamarnya yang besar sambil menatap ponsel ditangan.


"Ada apa, Dadd..?" tanya Meta sambil mendekati lelaki itu yang langsung menoleh begitu mendengar suaranya.


Rico terlihat menggeleng perlahan. "Rei sudah tidur?" bukannya menjawab pertanyaan Meta malah menanyakan keadaan Rei karena ia yakin Meta pasti baru dari kamar putranya itu. Selalu mengambil bagian untuk menidurkan Rei terlebih dahulu meskipun ada suster yang telah dibayar full time untuk mengawasi setiap gerak-gerik Rei.


"Iya, barusan.." jawab Meta seala kadarnya, kini ia telah berdiri tegak dihadapan Rico yang menatapnya nanar. "Katakan padaku ada apa? siapa yang bicara denganmu ditelpon tadi..?" berondong Meta lagi, mengisyaratkan bahwa Rico tidak boleh menyimpan apapun sesuai keinginan yang pernah Rico utarakan sendiri padanya.


"Ibu.."


Sebenarnya Meta cukup terkejut, tapi ia berusaha menahannya dengan tetap bersikap tenang. "Lalu..? apa kata Ibu?"


Rico menggeleng perlahan. Tidak ada.."


Meta mengerinyit. "Masa tidak ada? kalau benar tidak ada lalu mengapa semua itu seolah menjadi beban pikiranmu..?"


"Justru karena seolah tidak terjadi apa-apa, dan ibu tidak membahasnya, makanya aku malah berbalik heran.."


Rico mengalihkan tatapannya kembali keluar jendela yang menyuguhkan malam yang pekat, pandangannya mengembara kedepan tanpa batas.


"Ibu hanya memberitahu bahwa setelah kemarin kesehatan asam lambung ayah sempat memburuk, sekarang keadaan ayah sudah semakin membaik. Kemudian Ibu hanya menanyakan keadaan Rei, tapi tidak menyinggung apapun tentang dirimu padahal mustahil jika cerita Shela belum sampai ditelinganya.." ujar Rico perlahan sambil menaruh dua buah tangannya kedalam saku celana yang ia kenakan. Tatapannya terlihat jauh, menembus pekatnya malam.


Yah.. Rico merasa harus berfikir keras karena ia meyakini satu hal, bahwa sikap ibu yang terkesan sangat tenang saat tadi bicara dengannya ditelpon, tidak menjamin semuanya baik-baik saja. Ibu adalah tipe yang tidak suka mengalah, serta terbiasa dituruti keinginannya oleh Ayah, juga dirinya.


"Dadd.. boleh aku menyarankan sesuatu..?" tanya Meta perlahan. Sedikit enggan, tapi ia tetap memilih mengungkapkannya.


"Katakan saja, sayang.."


"Kenapa Daddy tidak memulainya lebih dahulu..?"


"Maksudnya..?"


"Seperti kata Daddy, saat ini, mustahil jika Ayah dan Ibu tidak mengetahui kebenarannya, kan?"


Rico mengangguk dengan fokus yang kini tertuju penuh pada wajah Meta yang selalu mampu menenangkan jiwanya.


"Apakah mungkin mereka malah sengaja menunggu Daddy untuk lebih dahulu mengakui semuanya dengan jujur?"


Rico tercenung. Ia baru tersadar dengan semua itu setelah Meta mengatakannya.


"Kamu benar sayang.. memang sudah seharusnya, sebagai anak, aku yang mengakuinya, sekaligus meminta restu mereka, juga maaf.." lirihnya yang disambut anggukan Meta yang penuh keyakinan. Kemudian ia menatap Meta lekat. "Kamu sendiri.. apa kamu sudah siap menghadapi semuanya..? lalu bagaimana kalau mereka tidak bisa menerima.."


"Demi Daddy dan Rei aku akan menghadapinya. Aku akan berusaha membuat diriku pantas mendapatkan kalian, meskipun aku juga tidak tau harus melakukan apa. Aku hanya meyakini satu hal saja, Dadd.. bahwa aku tidak mau kehilangan kalian berdua, jadi aku tidak mungkin menyerah.."


Mendengar kalimat yang penuh keyakinan itu Rico langsung menarik tubuh Meta begitu saja kedalam rengkuhannya.


"Menyenangkan sekali mendengarmu mengatakan semua itu. Aku merasa diriku dan Rei sangat berharga sehingga diperjuangkan sebegitu rupa.." kilah Rico bangga.


"Kalian berdua memang sangat berharga, karena kalian berdua adalah hartaku satu-satunya.." ucap Meta lirih.


Mendengar itu mendadak timbul keinginan Rico untuk menggoda Meta. "Bukannya Mommy sudah punya harta yang banyak..? di Best Elektro saja sekarang aku hanya seorang anak buah, Mommy yang menjadi bosnya.."


"Ishhh.." Meta merenggut mendengarnya. "Daddy.. aku tidak mau semua itu, cepat ambil kembali..!" rajuk Meta dengan wajah cemberut campur merah padam menahan malu, mengingat dirinya dimasa lalu yang terlihat begitu serakah dan mata duitan.


"Biar saja. Biar semua itu jadi milikmu.."


"Daddy..!"


Meta melotot saat menyadari Rico telah menarik tali piyama miliknya, menandakan maksud dari lelaki itu yang tengah berhasrat seperti biasanya.


"Dadd.. kita kan belum membahas kapan akan menemui Ayah dan Ibu.." protes Meta mulai kesulitan menghadapi serangan Rico yang mulai mencumbu.


"Nanti saja.." kilah Rico sambil mengangkat tubuh Meta dengan enteng seolah sehelai kertas, dan menaruhnya di tengah peraduan. "Kamu pasti sudah tau kan, bahwa Sean mau punya adik lagi..?" tanya Rico sambil tersenyum kearah Meta.


Alis Meta mengerinyit. "Arini sudah mengatakannya, memangnya kenapa?"


"Cihh.. masih bertanya, sejak dulu Tian tidak pernah menang dariku jika menyangkut hal seperti ini. Sekarang pun begitu, aku tidak mau kalah terlalu jauh darinya.." usai berucap demikian Rico langsung melu mat bibir Meta tanpa ampun, tak peduli dengan tatapan mata Meta yang membulat menerima ucapan sombong yang bermuatan plus tingkat tinggi.


Tak hanya sampai disitu, kini tangan Rico dengan lincah telah mempreteli semua yang melekat ditubuh Meta dan tubuhnya sendiri dalam waktu singkat, setelahnya Rico dengan mudah membuatnya terbang melanglang buana.. lupa segala-galanya..


"Dasar dewa mesum.." lirih Meta sambil terengah begitu Rico mengangkat kepalanya untuk kembali mendaratkan ciuman, setelah beberapa saat terbenam disebuah tempat, yang sukses membuatnya kelabakan seiring terpenuhinya hasrat yang terlepas tanpa bisa ditahan lebih lama.


Rico menyeringai senang mendapati umpatan penuh kepuasan, yang terlontar dari pemilik wajah yang memerah dan berkeringat.


"Itu baru appetizer*) Mommy sayang, belum sampai di main course*) apalagi dessert*).." bisik Rico dengan suara berat, membuat Meta memutar bola matanya.


"Dasar serakah.."


Rico tertawa kecil. "Tapi suka kan..?" pungkas Rico percaya diri, sambil mengangkat tubuhnya sedikit untuk menaruhnya diposisi yang tepat.


Meta tidak berniat menjawab pertanyaan nakal yang hanya bertujuan untuk menggodanya itu. Karena Rico, pasti tidak lagi membutuhkan jawabannya, dan karena lelaki itu pasti tau apa yang Meta inginkan..


Disaat seperti ini untaian kalimat memang tidak lagi dibutuhkan, karena mereka lebih fokus pada tujuan yang sama. Mereguk manisnya cinta sebanyak-banyaknya, sehingga bisa secepatnya memetik hasilnya juga.


Rico benar. Sean sudah mau punya adik. Rico tidak mau kalah start terlalu jauh dari Tian, sama halnya dengan Meta, yang juga tidak mau merasa iri berkepanjangan dengan Arini.


Rei harus secepatnya punya adik.


Itu keinginan Rico..


Itu keinginan Meta..


Itu juga keinginan Semua Reader CTIR.. πŸ€ͺ


(Astaga.. bisa-bisanya reader nyempil disini.. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚)


.


.


.


Bersambung..


Appetizer*) \= hidangan pembuka yang disajikan dengan porsi kecil, atau hidangan pembangkit selera makan sebelum main course.


Main Course*) \= Makanan utama, adalah hidangan pokok dari suatu susunan menu lengkap, dihidangkan pada waktuΒ lunchΒ maupunΒ dinner, ukuran porsinya lebih besar dariΒ appetizer.


Dessert*) \= Hidangan penutup, adalah hidangan yang disajikan setelah main course atau biasa disebut dengan istilah pencuci mulut.


Happy Sunday all. Yang mau kenal author lebih dekat, author bagi akun sosmed asli. Di follow boleh, di intip doang juga boleh.. πŸ€—


Ig. khaldiakayum


fb. Lidia Rahmat


t t. lidiaaa121


Like, Comment, Vote, Tip, Subscribe, Rate 5. Author banyak maunya.. 🀭


Thx and Loophyuu all.. 😘