
Arini merasa berat melepaskan pelukan pada ayahnya, tapi meskipun dengan terpaksa akhirnya ia tetap harus melepaskannya.
“Sudah.. kasian nak Tian sudah
menunggumu sejak tadi..”
“Ayah, kenapa sih tidak ada rasa
keberatan sama sekali aku pergi ?”
“Untuk apa ayah keberatan ? kamu sudah lima hari menemani ayah. Lagi pula, sudah ayah bilang berkali-kali bahwa sekarang kewajiban utamamu melayani suamimu. Bukan ayah lagi.”
Arini masih cemberut saat mendengar petuah ayahnya yang selalu.
“Dan jangan lupa, cepat kasih ayah kabar yang baik..”
Arini mengerinyit. “Kabar yang baik ?” tanyanya dengan alis masih bertaut.
“Iya , kabar yang baik. Ayah juga ingin merasakan menggendong cucu.. mumpung masih diberi yang di Atas umur yang panjang seperti ini..”
Arini menelan ludahnya kelu.
‘Huhh, boro-boro memberi cucu.. malam pertama saja belum..’
Hatinya bergumam masygul, namun kemudian berdebar-debar aneh.
“Nak, jangan menunda rejeki terlalu lama. Kamu harus ingat, bahwa dengan kehadiran seorang anak bisa membuat ikatan bathin antara suami dan istri menjadi semakin kuat.”
“Ihh, ayah, tidak ada yang menunda, tapi memang belum waktunya kali, yah..” sungut Arini asal, bingung mau mencari alasan agar ayah berhenti membicarakan perihal keinginannya menggendong cucu.
“Ya sudah.. itu nak Tian sudah datang..”
Arini menengok kearah pintu dimana sosok Tian sudah muncul disana, langsung mendekat kearah dirinya dan ayah dengan senyum yang khas.
“Bagaimana ? sudah bisa pergi sekarang ?” Tian bertanya sambil menatap Arini lembut.
Arini menganguk perlahan, kemudian berbalik menatap ayahnya lagi. “Yah, Arini balik dulu yah.. nanti Arini pasti kembali lagi..”
“Iya, nak, pergilah.. hati-hati dijalan, dan selalu dengarkan suamimu,” nasehat Sadana ditanggapi dengan angukan
Arini. “Nak, Tian, tolong jaga Arini..”
“Baik, Yah.. tentu saja.” Tian menganguk mantap, sambil mendekat memeluk mertuanya sebentar, yang disusul oleh Arini yang kembali memeluk ayahnya sekali lagi dengan erat sebelum akhirnya beranjak dari sana dengan langkah berat.
---
Pada ketinggian tiga ribu kaki diatas permukaan laut..
“Sayang, apa kita akan kembali ke
apartemen ?”
“Tidak lagi. Kita akan kembali kerumah tapi sebelum itu temani aku dulu untuk menghargai undangan Ceo PT. Mercy yah.. Jadi setelah peresmian sore nanti, kita akan menginap semalam di Mercy Green Resort dulu sebelum pulang kerumah besoknya,” Tian hanya mengangkat wajahnya sedikit dari laptop saat menjawab, kemudian ia kembali sibuk dengan pekerjaannya.
“Jadi kita akan menginap disana..?” meskipun begitu mata Arini sontak berbinar, ia tidak bisa membayangkan bisa berada ditempat fenomenal yang menjadi trending topik semua berita selama dua pekan terakhir ini.
“Hhmm..” Tian hanya berdehem, masih sibuk dengan laptopnya.
Arini yang awalnya girang mendadak terdiam seolah mengingat sesuatu yang membuat wajahnya murung. “Tapi aku.. apa aku tidak apa-apa berada disana ? aku kan tidak boleh terlihat bersama denganmu..? aku tidak mungkin pergi keacara peresmiannya kan.. ? kalau ada yang mengenaliku bagaimana ? apa itu tidak akan terlihat aneh ? untuk apa orang sepertiku berada diantara orang-orang besar dinegeri ini..?”
Tian mengangkat wajahnya. “Kamu bisa tunggu dikamar, nanti kamu bisa melihat siarannya dari televisi yang ada dikamar resort, mereka telah menyambungkan semua rangkaian acara pada satu channel khusus,”
“Lalu bagaimana caranya aku akan kesana ? aku juga tidak mungkin pergi bersama denganmu kan ? pasti ada banyak wartawan disana..”
Tian tersenyum melihat wajah panik yang ceriwis dihadapannya itu. “Jangan khwatirkan semua itu. Aku sudah mengatur semuanya.” sambil mengacak rambut Arini perlahan.
Mendengar itu wajah Arini kembali
berbinar. Ia tidak segan lagi menggelendot manja dilengan Tian seperti kebiasaannya semenjak hubungan mereka menghangat.
Mendapati kelakuan manja Arini membuat Tian langsung menutup layar laptopnya begitu saja, kemudian menyandarkan tubuhnya dengan tenang di tempat duduk yang berupa sofa empuk yang merupakan fasilitas private jet-nya, lebih memilih menikmati moment indah kebersamaan yang menghadirkan kebahagiaan berlipat ganda direlung hatinya didetik-detik terakhir penerbangan yang tidak akan lama lagi landing ditempat tujuan sesuai dengan pemberitahuan pilot barusan.
Sejenak fikiran Tian yang mengembara kembali terusik oleh pembicaraannya dengan Saraswati tadi pagi. Saat itu Tian baru saja usai menerima telepon penting hingga membuatnya memilih keluar sebentar dari ruangan inap dengan berdiri diluar ruangan, meninggalkan sejenak kesibukan Arini dan beberapa orang ahli yang sedang melakukan terapi fisik rutin pada mertuanya.
Yah.. Saraswati Djenar, yang tak lain adalah neneknya yang super power. Saraswati yang tak lama berselang setelah berhasil memaksanya menikahi Arini, berangkat ke Paris untuk mengurus urusan bisnis perhiasan dengan salah satu partner bisnisnya disana, akhirnya berhasil menggelar launching produk perhiasan terbaru di kota dengan julukan pusat mode dunia itu.
Keberhasilan launching tersebut bahkan bisa dibilang luar biasa sukses karena setelah itu penjualan brand perhiasan mewah itu mendadak meledak dipasaran dunia, membuat kesibukan Saraswati bertambah beberapa kali lipat hingga menunda kepulangannya ke tanah air.
Saat ini Saraswati bahkan tengah
benar-benar sibuk untuk kembali memproduksi produk terbaru mengiringi ledakan popularitas
brand pehiasan yang mendadak diminati para kalangan jet set dunia bahkan sampai artis populer mancanegara.
“Baik. Sepertinya akhir-akhir ini kamu sangat sibuk sampai-sampai kamu melupakan aku..”
“Nenek ini bicara apa ? mana mungkin aku melupakan nenek. Justru nenek yang sangat sibuk dengan urusan perhiasan mewah kan..” kilah Tian.
Saraswati terdengar terdiam untuk beberapa saat, tidak serta merta menanggapi perkataan Tian seperti biasanya sehingga membuat Tian sedikit keheranan.
“Aku dengar operasi Sadana Ramdhan sudah berhasil dilakukan ?”
“Oh itu.. maaf, aku lupa memberitahukan kalau sekarang ayah bahkan sedang dalam masa pemulihan.”
“Apa kondisinya baik-baik saja ?”
“Iya nek, kondisi ayah baik-baik saja. Perkembangan kesehatannya cukup signifikan, tapi menurut dokter Fadli untuk lebih amannya sebaiknya dalam enam bulan kedepan ayah tetap harus mendapatkan perawatan khusus jika ingin memiliki kondisi yang baik dalam jangka waktu yang relatif panjang.”
“Syukurlah kalau begitu. Lalu.. Arini
bagaimana ?”
“Arini..? dia.. baik..”
“Bukan itu yang aku maksudkan. Aku ingin tau mengapa sampai sekarang dia belum juga mengalami tanda-tanda kehamilan ?” ujar Saraswati to the point.
Tian sontak menelan ludahnya.
‘Bagaimana mau hamil, kalau sampai detik ini aku bahkan belum menyentuhnya sama sekali..’
Tian membathin sambil memijit keningnya.
“Kalian sudah dua bulan menikah, kan ?”
“Iya nek.. aku tau,” Tian menjawab lesu.
“Itu sama artinya dengan tinggal empat bulan lagi waktu yang tersisa..”
“M-maksud nenek apa sih..?”
Saraswati terdiam sejenak sebelum kembali berucap dengan intonasi yang terdengar santai namun tegas. “Pertama, aku lega kamu sudah mengambil keputusan yang tepat saat menjauhi Arini dari apartemenmu. Akhirnya kamu pahamkan alasanku sejak awal agar Arini tidak berada di apartemenmu ? itu karena apartemenmu rentan terkoneksi dengan publik.”
Saraswati terdiam sejenak sementara Tian masih terdiam, mencoba mencerna perlahan apa sebenarnya inti dari pembicaraan yang diinginkan Saraswati saat ini.
“Aku mendengar sore nanti kamu akan meresmikan Mercy Green Resort, kan ?”
“Iya, nek..”
“Semua awak media pasti akan memenuhi tempat itu tanpa ampun.”
Tian menelan ludahnya kelu, kali ini ia telah benar-benar paham apa maksud Saraswati menelponnya sepagi ini.
"Aku sengaja ingin mengingatkanmu agar jangan gegabah dan tidak terbawa perasaan hanya karena saat ini hubunganmu dengan Arini semakin membaik. Aku senang mendengarnya.. tapi aku tidak mau kamu sampai kehilangan fokus dengan apa yang harus Arini penuhi sesuai dengan perjanjian kontrak pernikahan yang..”
“Nek, bisa tidak kita melupakan perihal kontrak itu dulu ?”
Saraswati terhenti sejenak mendengar sanggahan Tian, namun detik berikutnya ia kembali berucap dengan nada datar..
“Sesuai dengan isi kontrak, saat ini kamu telah melakukan bagianmu..” Saraswati seperti tidak mempedulikan kalimat Tian yang sepertinya sudah bisa menebak kemana arah pembicaraannya. “Sekarang tinggal Arini yang harus menepati bagiannya..”
“Arini bisa menepati perjanjiannya atau tidak itu juga tergantung pada diriku, nek. Dan sekarang baru dua bulan.. masih ada empat bulan untuk..”
“Aku tau. Karena itulah saat ini aku
mengingatkanmu, Tian. Bahwa kamu pun harus menahan diri untuk tidak ceroboh dengan mencoba membuka hubungan kalian sebelum waktunya. Seperti perkataanmu barusan, empat bulan bukan waktu yang lama, kan ? Mari kita lihat dulu apa yang akan terjadi dalam empat bulan, dan selama itu, kamu.. Sebastian Putra Djenar.. aku sama sekali tidak mengijinkanmu untuk mengakui apapun. Tidak, sebelum aku mendapatkan apa yang sudah kita semua sepakati sejak awal.”
Ting..!
Bunyi pemberitahuan untuk mengenakan sabuk pengaman yang disertai lampu bergambar sabuk pengaman yang menyala, menandakan bahwa private jet berlogo Indotama Group itu sudah tidak akan lama lagi melakukan pendaratan, akhirnya cukup ampuh mengusir segenap lamunan Tian yang sejak tadi terus-menerus membuat fikirannya kalut, terhitung sejak Saraswati menutup pembicaraan ditelpon tadi pagi.
.
.
.
.
.
Bersambung…
Like and Comment jangan lupa ya..🤗🙏
Lophyuu..😘