
“Uhukk !”
“Astagaa.. maaf.. maaf..” Arini terhenyak saat melihat wajah Tian yang memerah karena tersedak, dengan gerakan secepat kilat ia bangkit dari duduknya, menuang air mineral kedalam gelas dan menyodorkannya kearah Tian yang langsung meraih gelas itu dan meneguknya hingga tandas.
“M-Maaf..” ulang Arini lagi benar-benar menyesal. Ia kembali ke duduknya dengan kepala tertunduk.
“Tidak apa-apa.. ini akibatnya karena aku makannya terlalu bersemangat..” Tian berucap asal separuh ngeles, mencoba mengalihkan perasaannya yang mendadak seperti tertohok karena sepenggal kalimat Arini barusan.
Arini menatap Tian lagi, membuat tatapan mereka berdua terkunci satu sama lain. “A-Apakah boleh aku bertanya ?” akhirnya ia memutuskan memberanikan diri untuk terus menentang manik mata kelam Tian yang gelap.
“Ada apa ?” suara Tian terdengar lunak, tidak seperti hari-hari sebelumnya seharian ini Arini seperti melihat sisi lain dari Tian, dan itu membuatnya bertanya-tanya dalam diam.
“K-Kenapa seharian ini kamu.. kamu berubah seperti orang yang berbeda..” tanya Arini hati-hati.
“Berubah ??” ulang Tian sambil mengerinyit alis, mencoba memahami apa maksud perkataan Arini yang sesungguhnya.
“Kamu.. kamu tidak seperti biasanya. Saat ini aku bahkan sampai harus meyakinkan diriku sendiri kalau nyaris seharian ini kamu adalah orang yang sama dengan orang yang sudah menikahiku,” Arini harus menguatkan hati saat harus berucap apa yang menjadi pertanyaan besar dibenaknya seharian ini.
Tian yang baru selesai melap mulutnya dengan selembar tissue terdiam sejenak, tentu saja dia sangat memahami maksud pertanyaan Arini. “Kalau hari ini sikapku berubah, apa kamu tidak senang dengan perubahan itu ?”
“T-Tidak.. aku senang.. tapi aku.. aku hanya merasa..” Arini terbata, tak mampu mencari kalimat yang pas untuk ia ucapkan agar bisa mewakili perasaannya sekarang.
“Arini..“
Panggil Tian lembut, membuat Arini seperti tidak bisa mempercayai pendengarannya sendiri.
“Aku hanya mencoba berusaha membuat semuanya sederhana, karena diantara kita sudah seharusnya ada yang berubah. Kalau aku berkeras hati, dan kamu tetap keras kepala, aku rasa itu tidak akan mengantarkan kita kemana-mana, apalagi ke tujuan awal kita menikah. Bukankah begitu ?”
Arini tercenung mendengarnya.
‘Tujuan awal menikah ? apa itu artinya.. Tian sedang membahas tentang pewaris keluarga Djenar, seperti yang tercantum dengan jelas dalam perjanjian awal sebelum pernikahan mereka ? jadi itu sebabnya Tian berubah ? itu sebabnya lelaki ini berusaha baik padanya..?’
“Kamu pernah bilang bahwa kamu ingin kita saling mengenal terlebih dahulu, kan ? It’s okay.. mari kita mencoba..”
Tian menatap Arini yang masih tertunduk diam dihadapannya.
“Arini..” panggil Tian perlahan, mencoba mendapatkan perhatian penuh dari istrinya itu.
“Aku.. tentu saja aku mau kita mencoba saling mengenal. Tapi seperti yang aku katakan tempo hari, bisakah.. bisakah kita memulainya dengan perlahan ?”
Sesungguhnya hatinya masih terasa sakit saat menyadari tujuan Tian saat ini. Tapi Arini tau bahwa ia berada pada posisi dimana ia tidak mungkin bisa mengelak lagi, kecuali mengulur waktu.
Arini menelan ludahnya saat melihat Tian yang belum merespon permintaannya. “Aku.. aku minta maaf atas sikapku yang keras kepala selama ini, tapi bisakah aku meminta sedikit kesempatan ? tolong berikanlah aku waktu, karena sejujurnya aku.. merasa belum siap untuk.. ” Menggantung. Arini tidak bisa berkata apa-apa lagi. Di sudut hatinya ia bahagia menerima sikap Tian yang melunak padanya, tapi disisi lain ia tidak bisa mencegah jika hatinya juga terluka disaat yang sama.
Arini tidak bisa memungkiri perasaan bimbang yang masih menggelayut di ruang hatinya yang lain. Entah kenapa perasaan dihatinya sudah campur aduk, bahkan perasaan takut pun berbaur didalamnya tanpa Arini mengerti apa yang ia takutkan saat ini..? bukankah sejak awal mengetahui perjodohan ini ia sudah menyiapkan hati dari jauh-jauh hari ?
Mendadak bayangan saat Tian mencuri sekaligus ciuman pertama dan ciuman keduanya tadi pun melintas. Arini memahami, bahwa Tian adalah suaminya yang tentu saja memiliki hak penuh atas dirinya. Ia tidak bisa memungkiri betapa dirinya bahagia dan berdebar menerima perlakuan lelaki itu, tapi tetap saja disudut hatinya yang lain dirinya tetaplah seorang wanita yang mendambakan untuk dicintai, diberikan kasih sayang, serta rasa ingin dimiliki dan diingini oleh suaminya sendiri. Perasaan yang tulus, bukan hanya menjadi pelampiasan nafsu sesaat lalu.
Tian yang berusaha mencerna apa maksud Arini akhirnya memilih untuk menekan egonya. Harga dirinya tertohok saat menyadari bahwa secara tidak langsung Arini sudah dengan jelas menyiratkan sebuah penolakan, disaat Tian sendiri sudah menaruh harga dirinya untuk dipertaruhkan.
Apakah itu karena Arini memang belum memiliki perasaan yang mendalam pada dirinya..?
Jadi saat ini apakah hanya dirinya seorang yang selalu merasakan perasaan jungkir balik karena setiap inchi fikirannya selalu dihantui dengan bayangan istrinya ini ?
Bahkan Tian harus mengakui bahwa lambat laun tanpa ia sadari kehadiran Arini bahkan mampu mengubah pola pikirnya, menghancurkan pengendalian dirinya, bahkan mengendalikan moodnya.
Saat ini Tian bahkan ingin menertawakan dirinya sendiri.
‘Hehh.. demi apa ?’
Bahkan wanita ini bisa dengan mudah menolak begitu saja seorang Sebastian Putra Djenar, yang jelas-jelas sudah
menjadi suaminya. Seorang Sebastian Putra Djenar yang digilai semua wanita, dan tidak pernah ditolak oleh wanita manapun, kecuali wanita tanpa kelebihan yang ada dihadapannya ini.
Tidak ada cara lain.. Tian hanya memiliki satu tujuan untuk seorang Arini Ramdhan, yaitu menjadi pemenang atas wanita ini. Karena kalau tidak ? mungkin ia bisa menjadi gila seperti Rico !
“Baiklah, kalau seperti itu maumu, aku setuju. Memang sudah sepantasnya kita saling mengenal dulu sebelum aku melakukan.. sesuatu yang lebih..” ujar Tian akhirnya.
“M-Maaf..” tertunduk.
“Tidak apa-apa. Aku yang terlalu gegabah tidak menjelaskan apa-apa sebelumnya, sehingga wajar saja jika kamu terkejut bahkan mungkin merasa takut dengan semua sikapku seharian ini..” ucap Tian seperti bisa membaca apa yang sedang berkutat dibenak Arini. “Dan maafkan aku yang juga sudah lancang menciummu tadi, aku janji mulai sekarang aku tidak akan bertindak semena-mena lagi. Apa itu cukup sebagai jaminan ?”
Arini menatap Tian sebelum akhirnya menganguk perlahan. Senyum Tian yang tulus mampu membuat hati Arini merasa sedikit lega. Setidaknya ia bisa membalas senyum itu dengan tanpa beban meskipun ia tidak bisa menebak gambaran masa depan seperti apa yang akan dilaluinya dengan Tian nanti.
“Baiklah, bagaimana kalau kita mulai dengan berteman dulu ?” Tanya Tian mengerling kearah Arini yang menatapnya seraya mengangguk kecil.
“Apakah dengan berteman, kesepakatan tentang hukuman sudah tidak berlaku ?” Tanya Arini kemudian.
Tian mengerinyit, seolah ingin mengingat sesuatu. “Hukuman ?”
“Iya, hukuman.. hukuman yang itu.. egh tadi..”
Mata Tian sontak membulat saat memahami arah pembicaraan Arini. “Tidak, itu tidak termasuk. Hukuman tetap hukuman. Kalau tidak nanti kamu akan memanggilku dengan semena-mena..” tukas Tian berapi-api.
‘Semena-mena ? astaga.. memangnya kapan aku begitu ?’
“Mana mungkin aku semena-mena ?” protes Arini.
“Pokoknya aku tidak mau mendengar keberatan lagi. Kamu hanya boleh memanggilku ‘Pak’ dan berbicara formal hanya saat sedang di kantor. Coba saja kalau berani melanggar..!”
“Tapi kamu baru saja berjanji tidak akan bertindak semena-mena, sementara hukuman yang kau bicarakan ini sudah termasuk perbuatan yang semena-mena..”
“Apa kamu lupa kalau pada hukuman itu kamu yang harus menciumku, dan bukan aku. Jadi aku sama sekali tidak melakukan hal yang kau bilang semena-mena itu. Mengerti ?” bersikeras.
Arini menelan salivanya. Menatap Tian dengan tatapan protes tapi lelaki itu malah balik memelototinya.
“Iya baiklah.. baiklah.. ” Akhirnya. Tidak ada pilihan lain bagi Arini selain mengalah. Si Tuan besar dihadapannya ini ternyata tidak pernah berhenti menjadi seorang pemaksa kehendak.
‘Baiklah.. jadi selanjutnya aku harus lebih berhati-hati kalau tidak mau menanggung malu karena harus mencium lelaki licik ini terlebih dahulu.’
Arini sedang mengingatkan dirinya sendiri dalam hati.
Sesaat kemudian mereka hanya berdiam diri, sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Kamu belum berkemas untuk keberangkatan besok pagi kan. Mau aku bantu ?” Arini membuka suara setelah beberapa menit diantara mereka hanya dikuasai keheningan.
“Boleh,”
“Baiklah. Kalau begitu aku akan bereskan ini dulu, “ Arini tersenyum sambil bangkit dari duduknya. Membereskan meja makan yang baru saja mereka pakai untuk makan dan membawa peralatan makan yang kotor ketempat cuci piring.
“Sini aku bantu..”
“Tidak.. biar aku saja, sebentar juga beres,”
Dan akhirnya Tian benar-benar hanya menjadi penonton gerakan gesit Arini yang begitu terampil membereskan meja makan dan dapur.
Pemandangan itu begitu menyejukkan hati Tian yang seperti baru tersadar bahwa ternyata hanya dengan menatap seorang istri di dapur yang sedang mencuci piring dan membereskan beberapa kekacauan kecil di dapur bisa membuat relung hatinya merasakan kebahagiaan asing yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Bersambung...
Like, Comment, Favorite-kan, Vote, dan Subscribe profil author adalah bentuk dukungan untuk novel ini.
Lophyuu Readers yang setia..