
Pliiisss.. yang belum Like bab 1 s.d.
bab kemarin, yukk bantu author genapin Like nya untuk menambah performa. 😍 Terima kasih.. 🤗
.
.
.
Tian sama sekali tidak mau terusik oleh apapun dari aktifitasnya saat ini, apalagi oleh ponselnya yang sudah berdering sejak tadi. Untuk apa menukar kesenangannya dengan mengangkat sebuah panggilan telpon ? mungkin begitu kira-kira yang ada difikiran Tian. Sultan mah bebas..
Namun semua itu berbanding terbalik dengan Arini yang justru merasa betapa bunyi ponsel Tian sangat mengganggunya.
“Sayang, ponselmu berbunyi terus sejak tadi..”
Tian melengos kesal. “Biarkan saja.”
Tapi gerakannya yang bersemangat langsung terhenti saat tangan Arini sudah menahan wajahnya untuk memberi jarak, kali ini Arini terlihat bersungguh-sungguh saat menggelengkan kepalanya, membuat Tian lagi-lagi melengos dan langsung meraih benda pipih yang tergeletak diatas meja kerjanya. Wajah Tian semakin terlihat keruh saat menyadari nama Rico terpampang dengan jelas dilayar ponsel.
“Halo.. ada apa, Co ?”
Ekspresi malas Tian membuat Arini tersenyum geli melihatnya. Ia mengambil kesempatan itu untuk bangkit dari pangkuan Tian serta mengacuhkan tatapan protes lelaki itu. Tian bahkan hanya bisa pasrah saat Arini malah membuat isyarat bahwa dia ingin kembali bekerja sambil benar-benar beranjak keluar setelah sebelumnya merapikan penampilannya yang sedikit berantakan.
“Astaga Tian.. akhirnya aku menemukanmu ! Kamu tau tidak kalau sejak kemarin aku susah payah menghubungimu. Kenapa ponselmu tidak aktif sih..?” Rico langsung memberondong Tian dengan kalimat panjang kali lebar.
‘Haihh.. dasar sahabat gak ada akhlak !’
Dalam hati Tian ngedumel saat mengingat sudah seberapa seringnya Rico menggagalkan kesenangannya.
“Cihh.. untuk apa segitunya mencariku ? Lagian saat hari minggu sebaiknya memang tidak mengaktifkan ponsel, kan..? Mengganggu waktu libur saja..”
“Alahh.. bilang saja kalau kamu sedang bersenang-senang dihari minggu.”
“Jangan banyak bicara, cepat katakan ada hal penting apa sampai mencariku ?”
Rico menarik nafas dalam-dalam, seolah mencari kalimat yang tepat untuk menggambarkan kebahagiaanya namun yang keluar
malah kalimat bertele-tele yang membuat Tian semakin tidak sabar. “Tian.. saat ini aku sangat senang..”
“Susah payah menelponku cuma mau mengatakan itu ?” semprot Tian kesal membuat Rico yang ada diseberang sana langsung meringis.
“Ahh.. aku tidak bisa mengatakannya sekarang..”
“Ya sudah, kalau tidak bisa mengatakannya sekarang katakan saja tahun depan !”
Rico malah tergelak. “Ehemm.. aku hanya bisa mengatakan bahwa saat ini aku sedang berbahagia..”
Tian melengos lagi. “Mau bilang sudah baikan dengan Lila saja kalimatmu sudah muter-muter.. ”
“Eitt.. jangan salah. Bukan hanya itu saja tapi.. aakhh.. my bro, mari kita bertemu. Aku sudah tidak sabar ingin mengatakannya agar tidak lagi bersusah payah menahan diriku seperti ini. Apa kamu punya waktu..?”
“Tidak..! Aku tidak punya waktu untukmu !” menjawab spontan tanpa perasaan.
“Tian, pliss.. aku ingin mengundangmu kerumahku. Mari kita buat perayaan kecil-kecilan.. serius, bro.. aku benar-benar sedang mendapat durian runtuh..”
“Durian runtuh ? ada yang kena kepalamu tidak ?”
“Tian, kamu ini !” Rico terdengar
ngedumel. “Baiklah.. aku hanya ingin mengatakan clue-nya bahwa saat ini kamu sudah kalah berpuluh-puluh langkah dari diriku..” berucap sesumbar dengan bangganya.
“Cihh.. sejak kapan..” gumam Tian dengan intonasi meremehkan yang sangat kentara.
“Tidak percaya kan ? mau bukti ? makanya, datanglah kerumah ku sebentar malam.. sekalian makan malam dirumah, oke ?”
Tian berfikir sejenak. “Apa kamu mengundang orang lain selain aku, Co..?”
“Tenang saja, aku tau posisimu sekarang sedang naik daun.. aku tidak mengundang siapa-siapa.. special for my best friend forever..”
“Jangan membuatku mual !”
“Hahaha..!” Rico malah terpingkal-pingkal mendengarnya.
“Baiklah, kalau begitu aku akan datang, tapi dengan satu syarat,”
“Apa ?”
“Aku akan membawa seseorang,”
Mendadak Rico tercenung, sebelum akhirnya bertanya dengan ragu-ragu.. “S-siapa.. ?”
“Sekretarisku. Bagaimana ? deal ?”
Rico terdiam sejenak. Padahal dia sudah berburuk sangka bahwa Tian akan mengajak Arini. Tapi ternyata..
“Kalau tidak boleh, aku tidak akan da..”
“Baiklah..! baiklah bos ku ! whatever you want..!” Rico langsung menyambar cepat sebelum kalimat Tian usai. Bodo amat-lah, kalau Tian mau membawa Vera atau siapapun itu, yang penting tidak membawa Arini atau siapapun yang berstatus istri orang lain, fikir Rico.
“Deal ! Jam tujuh aku sudah ada dirumahmu.”
Tian langsung menutup sambungan telpon itu sebelum Rico bicara terlalu banyak, bertanya terlalu banyak, serta menginterogasinya. macam-macam, karena semua itu hanya akan membuat Tian menjadi sakit kepala.
---
Hati Arini tidak bisa tidak untuk tidak mengagumi sosok yang terbalut kemeja hitam polos slim fit yang menggambarkan dengan jelas tubuh atletis Tian yang dipadu dengan celana trousers bahan kain.
Didukung oleh oufit casual berkesan semi formal seperti itu bagaimana mungkin Arini bisa mengingkari ketampanan Tian yang semakin hari terlihat semakin maksimal dimatanya..?
Dan lelaki impiannya sejak awal mengenal perasaan ketertarikan dan mendamba pada lawan jenisnya itu adalah benar suaminya yang sempurna, pangeran impiannya.
Ahh.. seperti mimpi saja jika Arini
mengingat gambaran kelam diawal pernikahan mereka, yang seperti ingin dibayar Tian dengan cepat karena saat ini Tian terlihat sangat mendambakan dirinya, membuatnya tersanjung setiap saat dengan semua sikap manis dan memuja Tian kepadanya.
Arini sudah selesai dengan wajahnya yang terbalut make up natural yang begitu ala kadarnya. Ia berdiri dari duduknya yang sedari tadi kemudian melihat pantulan dirinya didepan cermin besar. Sebuah dress selutut dengan warna dominan hitam karya seorang designer kenamaan sudah membalut tubuh proposionalnya.
“Sayang, begini sudah cukup tidak sih..?” merasa seperti ada yang kurang, padahal ia sudah berusaha maksimal.
Arini meminta pendapat Tian yang sontak mengangkat wajahnya, menatap keseluruhan sosok Arini dengan balutan dress yang terlihat sangat sempurna membalut tubuh istrinya.
“Bagus tidak sih ? aku memilih ini karena tadi kamu bilang bahwa ini hanya makan malam biasa yang tidak terlalu..”
“Perfect.” Berucap singkat sambil
bangkit dari duduknya, menyimpan ponsel disaku celananya sambil mendekati Arini
tanpa melepaskan tatapannya sedetikpun. “Kamu cantik sekali, sayang..” berucap perlahan tanpa ingin menyembunyikan rasa terpesonanya.
Arini tersipu mendengarnya. “Sudah.. sudah.. jangan menatapku seperti itu, nanti fikiranmu sudah mau merancang hal yang aneh-aneh..!” ia cepat menengahi sebelum Tian melakukan hal yang tentu saja sama-sama mereka inginkan.
Tian melenguh kecil. “Belum juga jam tujuh,” protesnya sambil meraih pinggang Arini begitu saja, mendekatkan tanpa jarak dengan dirinya. “Huh, aku jadi menyesal sudah mengiyakan keinginan Rico.. kalau tidak aku kan sudah bisa kejar setoran lagi..”
Arini memutar matanya mendengar keluhan itu. “Angkot kali kejar setoran.” ujarnya nyeleneh namun sepertinya Tian sudah berada di fase yang sudah tidak bisa lagi diajak bercanda.
“Istriku sayang..” ucapnya dengan tatapan serius namun sarat makna.
Arini langsung menggeleng berkali-kali. “Astaga sayang.. jangan mulai deh..”
“Sebentar saja,”
“Kamu pikir aku bodoh mau percaya begitu saja ? mana pernah cuma sebentar..?” kilah Arini, berusaha mengurai pelukan Tian.
“Aku janji tidak akan sampai dua jam..”
Mendelik mendengar kalimat itu.
‘Cihh.. jadi dia pikir dua jam itu waktu yang sebentar..?’
Rutuk Arini mulai kesal.
“Baik, satu jam.”
“Sudah gila yah ?!”
“Setengah jam,” pantang mundur untuk tetap bernegosiasi, namun gelengan Arini terlihat semakin yakin.
“Tidak.”
“Baiklah.. sepuluh menit..?”
Arini melirik tajam mendengar tawaran terakhir itu, dan entah setan apa yang sedang merasukinya.. “Aku tidak mau ! Sepuluh menit ? apa-apaan.. kalau hanya begitu kemampuanmu, aku akan membunuhmu !”
“Ap-pa.. kamu.. bilang..?” Tian terhenyak, sungguh mati tidak menyangka jika bisa mendengar kalimat vulgar namun terucap dengan nada arogan itu.
‘Astaga.. darimana istriku yang polos ini mampu merangkai kalimat segila itu ?’
Tian belum berhenti terpukau.
“Ayo berangkat sekarang !” Arini langsung keluar begitu saja dari kamar mereka tanpa berniat menatap wajah shock suaminya itu berlama-lama. Tidak menyangka bahwa dia mampu mengucapkan hal yang begitu tidak tau malu seperti itu. Mau menyesal, tapi ia sudah telanjur mengucapkan kalimat gila yang sudah dapat dipastikan akan membuatnya sekarat sebentar malam.
Sudah terlambat ! bathin Arini masygul.
Tian yang sepertinya baru tersadar dari keterpukauannya sontak bergegas mensejajari langkah Arini yang sudah berjalan cepat. “Sayang, kamu sudah mengatakan hal seperti itu, awas saja sebentar, jangan mencari alasan untuk menyerah yah..” ujarnya mewanti-wanti.
Dalam diam Arini tersenyum kecut, memilih tidak menanggapi kalimat Tian yang seolah memberinya peringatan sejak dini agar dia harus menerima segala konsekwensi akibat dari ucapan tidak tau malunya nya barusan.
‘Aku benar-benar sedang cari mati..’
Gerutunya dalam hati, tapi apa boleh buat dirinya sudah telanjur nekad menyulut api.
.
.
.
.
.
Bersambung…
Maaf baru bisa up 1 bab per hari, author lagi sok sibuk.. hehe.. 😁
Jangan lupa Like, Comment, and VOTE ya.. 😊 terima kasih dukungan nya yang selalu.. 🤗
Lophyuu.. ALL.. 😘