CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 - 107


'Untuk pertama kalinya Han merasa hatinya ikut terluka begitu menemukan kesedihan mendalam dikedalaman mata Laras yang bersinar sendu dan begitu rapuh. Jauh berbeda dengan Laras yang ia temui tadi sore, muda, ceria, usil, sedikit judes, dan penuh keberanian. Membuat Han seperti dihadapkan pada dua sosok yang berbeda pada diri satu orang yang sama.. membuat Han juga meyakini satu hal.. bahwa Laras, sedang tidak baik-baik saja..'


...


"Han, kalau aku tidak salah menilai, apa kamu menyukai Laras?" Hendi terlihat sengaja mendekati Han dibawah panggung saat mereka jeda sebentar, bahkan menarik lengan Han kepojok, sedikit menjauh dari sekitar.


"Kak, aku.."


"Berhenti."


"Apa?"


"Aku bilang berhenti."


"Tapi.."


"Laras bukanlah wanita yang bisa kamu dekati."


"Tapi kak.." Han merasa bingung. Selama ini Hendi bukanlah tipe kakak yang suka mengurusi urusan pribadinya, apalagi jika itu menyangkut urusan wanita. Hendi bahkan tidak pernah peduli meskipun ia sering menggandeng wanita berganti-ganti. "Harus ada alasan mengapa kak Hendi berkata seperti itu.."


"Tentu saja ada alasannya. Pertama karena Laras adalah adik Sebastian Putra Djenar. Siapa Sebastian Putra Djenar, aku rasa aku tidak perlu menjelaskannya panjang lebar karena sudah pasti kamu sudah mengetahuinya. Dan alasan kedua.. karena Laras sudah menikah.."


"Apa?!" Han menolak untuk mempercayai pendengarannya sendiri.


Tidak.. tidak mungkin.. apakah lelaki dewasa disebelah Laras yang lebih pantas jadi pamannya itu adalah suaminya?


"Jadi mereka.."


Hendi terlihat mengangguk, sudah cukup sebagai alasan membuat Han terpekur, tidak berkata apa-apa lagi hingga Hendi beranjak meninggalkannya dan kembali ke meja semula.


"Han, sudah cukup..!" Hill menjauhkan botol yang hendak diraih Han untuk menuangkan isinya kembali kedalam gelas, namun Han malah menangkap tangan Hil dengan sigap dan mengambil alih botol incarannya dengan tangan yang lain.


Melihat itu Hill menggelengkan kepala berkali-kali. Tak berdaya menahan Han yang bahkan telah menenggak minuman tersebut dari botolnya langsung, setelah itu Han terlihat tersenyum getir kearahnya.


"Aku tidak bisa berhenti sekarang, Hil. Sudah jelas-jelas aku melihatnya terluka dan tidak dicintai. Suaminya itu bahkan terlihat tidak cemburu meskipun aku terang-terangan menatap istrinya sendiri. Dasar brengsek..!!"


Umpat Han kesal sambil buru-buru menaruh botol ditangannya keatas meja dengan keras, sebelum ia lepas kendali dan melempar botol itu kedinding.


Hil yang ada dihadapannya terkesiap mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Han itu, namun ia memilih diam seribu bahasa, sambil terus menatap Han yang terlihat semakin nelangsa.


XXXXX


Rudi masih berdiri mematung, menatap semua gerak-gerik Laras yang berakhir dengan rebahnya tubuh itu dibawah selimut.


"Kak, kenapa bengong?" tanya Laras begitu tersadar Rudi yang tidak bergeming dari tempatnya.


Rudi menggeleng, bibirnya tetap mengatup rapat.


"Ayo tidur, bukannya kata kak Tian besok pagi kak Rudi harus kembali lebih dahulu?" Laras berucap lagi seraya menatap Rudi dari balik selimut, seolah mengingatkan Rudi tentang perintah Tian yang memang menyuruhnya kembali ke-ibukota lebih dahulu pada besok pagi, karena harus menghandle sebuah pekerjaan penting yang harus segera ditangani.


Tian sendiri telah memutuskan untuk pulang sesuai planning awal, karena Arini yang tetap menolak kembali sehari lebih awal dari rencana, sehingga Tian memilih pulang pada lusa pagi demi kemauan si nyonya besar yang tidak terbantahkan.


"Bagaimana denganmu?" ujar Rudi sambil melangkah ke-sisi lain ranjang yang berukuran king size itu.


Laras terlihat membisu.


Laras nampak menatap Rudi bimbang. "Aku.. aku terserah.."


"Kamu.. masih betah disini?" Rudi lagi-lagi bertanya, merasa sedikit terkejut meskipun tetap bersikap biasa saja.


Biasanya Laras akan langsung menempel padanya seperti kutu, mengikuti keberadaannya kemana pun ia melangkahkan kaki. Mengingat semua kelakuan Laras itulah sebenarnya Rudi telah memesan dua buah tiket dari penerbangan komersil sekaligus atas nama dirinya dan Laras, tapi ia tak menyangka saat ini jika jawaban pertanyaan isengnya itu malah dijawab Laras dengan kata 'terserah', tidak seperti biasanya yang selalu begitu antusias mengintil kemanapun ia pergi.


Apa karena lelaki muda bernama Han itu sehingga Laras masih betah berada disini? apakah Laras juga menyukai lelaki yang terlihat dengan jelas mengagumi istrinya itu dengan terang-terangan..?


Benak Rudi tak henti menerka-nerka. Tapi terlepas dari rasa kekaguman Han kepada Laras yang begitu besar, Rudi bisa menilai bahwa gelagat Laras justru tidak terlihat seperti itu, meskipun wanita itu memang berlaku sedikit aneh sejak tadi sore, sejak memutuskan meninggalkan kamar hotel dan pergi berjalan-jalan keluar tanpa menunggunya yang terlelap, sejak Laras bertemu dengan Meta.


Rudi menelan ludahnya ketika mengingat, Han bahkan dengan percaya diri mengucapkannya diatas panggung, dihadapan semua orang, bahwa ia mempersembahkan lagu It's you yang memiliki lirik yang sarat dengan ungkapan romantis milik Sezairi Sezali yang katanya sebagai balasan untuk partisipasi lagu dari tamu istimewa kakaknya Hendi.


Mungkin terdengar sebagai kalimat yang diplomatis ditelinga semua orang yang mendengarnya, namun Rudi melihatnya sebagai sebuah pesan terselubung, dari seorang lelaki yang memiliki kekaguman yang cukup besar, sehingga menaruh perhatian yang begitu istimewa untuk istrinya.


Sementara sebaliknya, Laras malah tidak notice dengan kalimat Han, karena ia sibuk meladeni pujian sekaligus godaan dari pak Hendi, pak Tian, pak Rico bahkan ibu Arini usai ia turun dari panggung diiringi applause meriah dari semua pengunjung Bar Dewi Lagoon. Hanya Meta dan dirinya yang terlihat lebih banyak diam dan menyimak.


Yah.. menyimak.


Rudi bahkan benar-benar menyimak setiap tatapan Han yang terus menatap Laras dari atas sana, sementara yang ditatap malah sibuk memainkan ponsel, hanya sesekali terlihat menengadah kearah panggung, dimana Han bernyanyi penuh pesona, dengan iringan band pengiring yang salah satu diantaranya adalah Hil, adik kembarnya Han yang menggantikan posisi awal Han menabuh drum.


"Aku terserah saja, kak. Kalau kak Rudi begitu sibuk dan terburu-buru, aku.. tidak apa-apa, aku akan menyusul saja.."


"Baiklah, kita pulang bersama besok pagi.." putus Rudi begitu saja, sambil naik keatas ranjang setelah memadamkan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur yang temaram. Berbaring menghadap kiri, memunggungi Laras seperti biasa.


Nyaris sepuluh menit berlalu bahkan rasa kantuk mulai dirasakan Rudi, ketika ia memutuskan untuk berbalik menghadap Laras, saat menyadari tidak biasanya lengan mungil wanita itu tidak kunjung melingkari tubuhnya untuk memeluk punggungnya, meskipun seperti biasa Rudi akan tetap tidur tanpa terusik bahkan menoleh, apalagi membalas pelukan.


Laras yang mulai terkantuk-kantuk nampak terkejut ketika menyadari Rudi yang tiba-tiba berbalik menghadapnya, yang awalnya tidur meringkuk memandangi punggung kekar dan dingin milik Rudi terus-menerus, hingga kantuknya mulai tiba.


"Ada apa, kak?" tanya Laras sedikit mengucek matanya, keheranan melihat ekspresi Rudi yang datar, tidak bisa ditebak.


Rudi membisu, hanya sepasang matanya yang menatap Laras lekat seolah ingin mencari sesuatu yang mengganjal.


"Apa kak Rudi haus? mau aku ambilkan air minum?" tanya Laras lagi melihat Rudi tak kunjung bicara, hanya menatapnya tajam, hingga membuat Laras merasa salah tingkah. "Kak, ada apa?" tanya Laras hati-hati, seolah begitu takut jika ia telah melakukan kesalahan lagi meskipun tanpa ia sadari.


"Sejak kapan kamu mengenal, Han..?"


.


.


.


Bersambung..


Jangan ada yang naruh bawang yah! perihh tau..!!


(😅😅😅)


Like , support jangan lupa yah, kalau lupa aq ngambek ! 🤪


Thx and Lophyuuu all.. 😘