CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Kebenaran?


Tolong di Like setiap bab-nya yah.. 🙏 jangan bolong-bolong, karena kalau bolong like-nya pop novel ini akan lebih susah naiknya.. 😅 terima kasih.. 😊


.


.


.


“Aku ingin memberitahukanmu alasan, mengapa aku mengatakan bahwa mereka sudah menikah..”


Rico menautkan alis tak percaya. “Apa itu? cepat katakan..”


Lila menarik nafasnya sejenak, sambil menatap Rico dengan serius. “Saat launching Mercy Green Resort, Tian meminta layanan room service full selama dua hari. Aku mendapati informasi lewat petugas room service yang membawa rolling table sampai didepan pintu kamar Tian, karena barisan pengamanan Indotama Group tidak memperkenankan siapapun masuk kedalam, tapi dihari kedua, petugas pengantar rolling table itu secara tidak sengaja melihat sosok dengan ciri-ciri yang mengarah pada Arini. Dia juga sempat mendengar barisan keamanan Indotama Group menyebut kata ‘nyonya besar’ sebagai sebutan untuk seseorang yang sedang disembunyikan Tian didalam kamar.”


“Lila.. apa semua itu benar..?” Rico terlihat sedikit terusik.


“Tentu saja. Apalagi sekali lihat aku sudah bisa merasakan betapa mereka saling mencintai. Kamu sering bilang Arini wanita baik-baik kan? aku setuju, Arini itu bukan hanya wanita baik-baik, dia bahkan sangat polos. Aku tidak bisa percaya kalau wanita seperti Arini bisa menggoda seorang pria apalagi jika dia sendiri sudah bersuami..”


Lila melihat Rico yang masih tanpa ekspresi berarti. Hanya tercenung.


“Kamu pernah bilang Tian bukanlah seorang lelaki yang bisa melakukan komitmen dengan wanita manapun. Dia bahkan tidak pernah bersama wanita yang sama untuk kedua kalinya. Lalu bagaimana dengan Arini..? bukankah semua sikap Tian itu sudah terpatahkan? Tian bahkan rela mengambil resiko yang besar untuk sekedar melindungi Arini. Intinya dimata seoang Tian.. Arini itu istimewa. Status Arini bukan seperti wanita-wanita yang selama ini berseliweran didalam hidupnya. Dan kamu, Co, sudah saatnya kamu melakukan sesuatu untuk Tian. Karena kalau semua ini terbukti benar.. dan Tian bahkan tidak bisa jujur padamu.. itu pasti karena ada sesuatu yang menahannya..”


Hati Rico seperti tertohok dengan ucapan istrinya.


‘Apa semua yang diucapkan Lila ini benar?’


Rico masih tidak bisa berfikir jernih. Yang sekarang ada difikirannya hanya satu, jika semua ini terbukti benar memang sudah seharusnya dia mendukung Tian, dan apapun yang terjadi dia akan selalu berdiri disamping Tian. Saat ini Rico bahkan berharap semua ini adalah kemungkinan terbaik.. karena tidak bisa dipungkiri dan sangat terlihat betapa istimewanya Arini dimata seorang Tian.


“Apa aku perlu menelponnya?” Setelah berjenak-jenak tenggelam dalam lautan fikirannya sendiri akhirnya Rico berucap perlahan.


Lila menggeleng.


“Apa besok aku harus menanyakannya secara langsung pada Tian?”


Lila kembali menggeleng.


“Lalu apa yang harus aku lakukan?” bertanya kepada Lila dengan tampang bodohnya.


“Berikan saja Tian waktu.. hargai privacynya. Aku yakin dia akan mengatakannya padamu kebenarannya jika waktunya tepat. Yang bisa kamu lakukan sekarang cukuplah memberikan dia kenyamanan dan berhenti mengusik hubungan mereka..”


Rico menelan ludahnya dalam diam. Dan ucapan Lila selanjutnya cukup membuat rasa bersalah tiba-tiba merebak begitu saja dihatinya..


“Seperti Tian yang selalu mendukungmu.. lakukanlah hal yang sama untuknya..”


XXXXX


Arini membuka wadrobe miliknya, berencana mengambil satu set piyama tidur yang akan dibawanya kedalam kamar mandi untuk mengganti dress yang dipakainya sekaligus menjalani rutinitas membersihkan diri sebelum tidur.


Begitu Arini berbalik ia malah mendapati Tian malah berniat membuka laptopnya. Suaminya itu memang sudah membersihkan dirinya terlebih dahulu bahkan sudah mengganti pakaiannya dengan kaos polos dan celana rumahan.


Melihat Tian yang masih ingin bekerja selarut ini, entah pemikiran gila apa yang melintas begitu saja dibenak Arini, yang tiba-tiba sudah berbalik lagi menghadap wadrobe, mengembalikan piyama tidur andalannya ketempat semula menggantinya dengan salah satu dari setumpuk ‘pakaian haram’ yang awalnya tidak sekalipun Arini berniat menyentuh apalagi memakainya lagi.


Masih lekat dibenak Arini bagaimana malunya ia saat pertama kali tidur dikamar Tian sewaktu Haris membawanya dari apartemen pada malam itu. Saat itu karena tidak ada alternative lain Arini nekad memakai pakaian kurang bahan tersebut, tak mengira sama sekali bahwa Tian akan tiba dari London pada dini hari dan memergoki dirinya tertidur dengan pakaian seronok.


Tapi kali ini situasinya berbeda. Dan Arini merasa ingin mencobanya lagi.. memakai ‘pakaian haram?’


Baiklah.. hitung-hitung menyenangkan hati suaminya yang selalu omes sambil menindak lanjuti apa yang dimaksud Tian tadi saat diperjalanan.. ‘Berusaha lebih keras lagi dari yang sudah-sudah’..


Arini masuk kedalam kamar mandi dengan langkah penuh keyakinan.


Sesampainya didalam ia melakukan rutinitas seperti yang sudah-sudah, bahkan kali ini ia melakukannya dengan ekstra hingga benar-benar yakin akan kebersihan dirinya, kemudian Arini mulai menanggalkan dress hitam yang membalut tubuhnya sejak tadi, menggantinya dengan pakaian kurang bahan yang juga berwarna hitam.


Meskipun merasa sangat malu saat mematut dirinya sendiri dicermin besar yang ada dikamar mandi, tapi ia berusaha untuk tetap percaya diri. Tubuhnya cukup proposional dan pantas mengenakannya. Saat ini kenekadan Arini sudah tidak bisa ditawar. Akhirnya ia memberanikan diri keluar dari kamar mandi sambil terus menetralisir degup jantungnya yang seolah ingin melakukan break dance.


Sementara itu.. sedari tadi Tian memang tidak terlalu mempedulikan aktifitas Arini. Bahkan sampai Arini keluar dari kamar mandi Tian masih saja terus sibuk dengan layar laptop yang menampilkan setumpuk pekerjaan yang tidak pernah ada habisnya.


Ibaratnya saat sebuah pekerjaan selesai, sudah ada lagi dua atau tiga pekerjaan baru yang telah mengantri dibelakang. Terus-menerus seperti itu sampai-sampai semua pekerjaan Tian jangankan selesai.. bahkan pekerjaannya tidak bisa berkurang meskipun setiap hari, setiap waktu, dan seharian penuh Tian bekerja.


Arini menelan ludahnya sendiri. Memberanikan diri mendekati Tian karena Arini sudah terlanjur bertekat menyenangkan suaminya. Meskipun awalnya ragu akhirnya ia tetap memilih menghempaskan tubuhnya disamping Tian.


“Sayang..” melingkarkan tangannya dilengan kokoh Tian sebagai permulaan dari usahanya untuk merayu.


“Hemm..” tidak menoleh.


“Sebentar lagi..”


Arini menggigit bibirnya. Bingung harus melakukan apa karena dirinya sungguh tidak pintar merayu. Selama ini hanya Tian yang selalu merayunya.


‘Haihh.. seharusnya sebelum melakukan hal nekad begini, aku mencari referensi dengan membuka mbah google terlebih dahulu, mencari hal yang apa yang harus dilakukan oleh seorang istri untuk menggoda suami..’


Arini merutuk dalam hati. Rasanya ingin menyerah saja saking terlalu malunya, tapi mengingat tekadnya untuk bisa hamil seperti Lila, semangat Arini kembali berkobar.


‘Bodo amat. Sama suami sendiri ini.. ngapain malu..? come on Arini..’


Usai menyemangati dirinya sendiri, Arini langsung bangkit dari duduknya dengan serta merta, kemudian menjatuhkan dirinya lagi keatas pangkuan Tian yang sontak terperanjat, tidak menyangka akan kejatuhan rejeki nomplok tepat dipangkuannya.


Sepasang mata Tian nyaris keluar dari cangkangnya saat melihat penampilan Arini yang ada dipangkuannya, terbalut lingerie super seksi berwarna hitam. Ia menelan ludahnya serta merta.. kalau tidak mau liurnya meleleh dengan sendirinya.


“S-sayang.. kamu.. kamu..”


“Mau tidur sekarang atau masih mau bekerja..?” Arini bertanya dengan ekspresi menggoda.


‘Glek!’


Lagi-lagi Tian menelan ludahnya.


“Kalau masih mau bekerja.. aku tidur duluan yah, sayang..” tersenyum semanis madu seraya tak lupa mengecup perlahan dagu Tian yang terasa mulai sedikit kasar. Sengaja melakukan tindakan provokasi sebelum kemudian dirinya bergerak seolah hendak bangkit dari pangkuan Tian.


Tentu saja Arini hanya berpura-pura.. bagaimana mungkin ia tidak bisa merasakan sesuatu yang sudah mengganjal dibawah sana sejak tadi..?


“Tentu saja aku mau tidur sayang.. untuk apa lagi bekerja?!” Tian berucap buru-buru, menahan pinggul Arini agar tidak keburu menjauh sambil menatap wajah istrinya dengan tatapan yang sudah dipenuhi kobaran *****.


Dalam hati Arini tersenyum penuh kemenangan.. seharusnya dia tau bahwa menggoda suaminya yang mesum ini adalah perkara yang teramat sangat mudah.


Tanpa membuang waktu, Tian mengangkat tubuh Arini begitu saja, membawanya ketempat peraduan mereka yang berukuran besar.


Meskipun diburu ***** yang menggelora Tian tetap menaruh Arini diatasnya dengan perlahan terlebih dahulu, sebelum akhirnya seperti orang yang sedang marathon langsung melepaskan semua penghalang mereka secepat yang ia bisa.


Arini yang melihat pemandangan itu tidak bisa menahan tawa kecilnya. Seperti biasa.. Tian memang selalu seperti itu. Terburu-buru, bergerak cepat, pantang menyerah kalau sudah menyangkut urusan peraduan.


“Malam ini.. aku tidak akan melepaskanmu..” Tian berbisik ditelinga Arini dengan nafas yang memburu.


“And I will not give up on you..”  Arini tersenyum, membuat Tian menatapnya dalam-dalam.


“Really?”


“Just prove it..”


Tian tersenyum smirk mendengar tantangan itu. Dengan semangat menggebu ia melabuhkan diri dipusat kelembutan Arini.. mema gut lama disana hingga membengkak, turun keceruk yang harum.. juga terbenam lama hingga berwarna merah keunguan.


Seperti hendak piknik,


Melewati gunung..


Hingga lembah..


Menemukan beberapa keajaiban..


Dan bermain-main disana sepuasnya..


Diiringi syahdu.. desah irama.. nafas yang kadang tertahan kadang tercekat.. seperti memompa semangat Tian untuk terus menjelajah..


.


.


.


Bersambung…


Sudah mau bulan puasa.. 😁 hitung-hitung buat bonus.. 😂


Tolong like yah.. 🤗


Lophyuu my readers.. more and more.. 😘