CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Kebersamaan


Arini yang sedang menata bahan makanan di lemari pendingin bukannya tidak tau jika sedari tadi tatapan Tian terus lekat padanya meskipun lelaki itu hanya duduk diam di meja dapur dengan kedua tangan terlipat dan bertumpu di meja.


Sedangkan Tian, sebenarnya Tian juga menyadari bahwa wanita didepannya ini mengetahui bahwa ia sedang diawasi, tapi tetap berusaha tidak menoleh dan berpura-pura tidak tau. Membuat Tian gemas saja, tapi Tian memilih membiarkannya.. seraya menikmati setiap gerak-gerik kikuk Arini yang masih berpura-pura sibuk dan fokus menata isi lemari pendingin, dan terus berpura-pura tidak peduli padanya.


Dalam diam Tian menyimpan senyumnya dalam hati.


Mereka baru saja tiba dari supermarket yang letaknya tidak begitu jauh dari apartemen, sehingga tadi mereka bersepakat untuk berjalan kaki karena jarak supermarket itu memang cukup dekat, hanya bersebarangan jalan saja dengan apartemen Tian.


Kurang lebih satu jam mereka habiskan untuk membeli beberapa keperluan harian yang sebagian besar adalah kebutuhan dapur.


Lagi-lagi Tian tersenyum dalam hati saat mengingat kebersamaan mereka tadi, karena antara dirinya dan Arini kembali bisa memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu bersama, bahkan beberapa kali mereka sampai harus berdebat tentang hal-hal kecil, seperti pada saat Arini yang memaksa untuk menaruh beberapa bungkus mi instan kedalam trolly belanjaan dan Tian keberatan karena hal itu.


Tapi bukan Arini yang keras kepala kalau dia tidak bisa membuat Tian menyerah.


“Arini.. tidak perlu membeli itu,” protes Tian saat melihat Arini menaruh begitu banyak bungkusan mi instan kedalam trolly.


“Hanya beberapa bungkus saja.. ini untuk berjaga kalau aku sedang tidak sempat masak..”


“Sebanyak ini kamu bilang beberapa bungkus saja ?!” Tian mendelik melihat isi trolly yang nyaris dipenuhi mi instan beraneka rasa itu.


“Baik, aku kurangi..” Arini bersungut, namun yang ada Arini hanya mengambil dua bungkus mi instan dari sekian banyak jumlahnya dan mengembalikannya kembali ke rak supermarket yang ada disamping mereka.


Tian melotot melihatnya. “Tidak. Aku bilang tidak, berarti tidak.” Putusnya.


“Aku tidak akan memakannya setiap hari, aku janji. Plisss..”


Tian memalingkan wajahnya kesal.


“Pliissss..”


Tetap diam.


“Sayang.. pliiss..”


Tian menelan ludahnya mendengar panggilan itu. Menoleh sejenak keasal suara yang telah berhasil merayu telinganya dan mendapati senyum penuh permohonan disana, membuat Tian membuang nafas, menyerah.


Akhirnya Tian kembali mendorong trolly kedepan, diikuti senyum kemenangan Arini.


‘Cih, dia sudah mendapati kelemahanku..!’


Rutuk Tian sejenak kesal, namun akhirnya tersenyum kecil saat menyadari hatinya malah menghangat setelahnya.


Saat didepan kasir Tian buru-buru mengeluarkan credit card untuk mengambil alih proses pembayaran, menghentikan niat Arini yang terlihat baru akan mengeluarkan uang tunai dari dalam dompetnya.


“Kenapa tidak pernah menggunakan credit card yang aku berikan kemarin ?” Tian bertanya saat mereka menyusuri trotoar yang lumayan lenggang, hanya terdengar bising kendaraan yang berlalu lalang.


Kedua tangan Tian memegang dua buah kantong belanjaan sekaligus sedangkan Arini hanya berjalan disamping Tian seraya memeluk dada.


Tadi setelah membayar, Arini sudah beritikad untuk mengambil bagian memegang salah satu kantong belanjaan tersebut tapi tentu saja Tian tidak membiarkannya.


“Aku terbiasa berbelanja dan membayarnya dengan uang tunai,” kilah Arini yang berjalan disamping Tian,  beralasan.


“Memangnya apa susahnya membayar dengan credit card ? Hanya meyerahkannya kepada kasir saja seperti kamu menyerahkan uang.”


Arini terdiam.


“Lagian kalau kamu lebih suka membayar dengan uang tunai lalu kenapa tidak pernah menarik uang dari kartu atm yang aku berikan kemarin.. ?”


Arini masih terdiam, namun otaknya sibuk mencari alasan yang tepat, karena sebenarnya entah itu kartu atm maupun credit card, sejujurnya Arini merasa bahwa pada dasarnya ia memang enggan menggunakan uang Tian untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, apalagi mengingat statusnya yang seperti seorang istri yang tidak diinginkan.


Selama ini Arini bahkan belum benar-benar melakukan kewajibannya sebagai istri Tian, lalu bagaimana bisa ia menikmati semua fasilitas dan kenyamanan serta menggunakan uang yang diberikan Tian padanya ?


“Kalau keduanya tidak kamu pergunakan, maka sepertinya aku harus benar-benar memecatmu,”


Langkah Arini serentak terhenti. Saat ini mereka sudah berada pas di pintu masuk apartemen “Kenapa selalu mengancamku dengan memecat..?” ia menatap Tian dengan kesal.


Tian ikut berhenti. “Kamu menjadi angkuh karena merasa punya penghasilan sendiri.”


“Bukan seperti itu..” sungut Arini.


“Aku tidak mau mendengar apapun. Mulai sekarang aku akan memantau transaksi kartu atm dan credit card yang aku berikan. Kalau dalam seminggu kamu tidak pernah menggunakannya, maka kamu harus siap-siap menjadi pengangguran..” pungkas Tian.


“Baik. Baik. Akan aku gunakan. Dan berhenti mengancamku seperti itu.”


“Bagus.” Tian melangkahkan kakinya menuju lift, mau tak mau Arini mengikuti langkah lelaki itu.


“Jangan marah kalau besok aku akan membeli sesuatu yang mahal,”


“Kamu bisa membeli apapun yang kau inginkan.”


Mereka masuk kedalam lift. Arini menekan angka lima karena kedua tangan Tian masih memegang kantong belanjaan mereka barusan.


“Dan aku akan menghabiskannya dalam sehari.” Pungkasnya lagi.


“Aku tidak keberatan.”


Arini melotot. “Aku bersungguh-sungguh. Aku akan menghabiskannya dalam sehari..!”


“Aku punya banyak uang. Kalau kamu mampu menghabiskan isi atm-mu, maka aku tinggal mengisinya lagi kan..?” berucap angkuh. Arini terbelalak mendengarnya, namun sedetik kemudian ia mencibir kesal saat melihat Tian yang menatapnya sambil tersenyum pongah.


Tian bukannya tidak tau bahwa Arini hanya sengaja memprovokasinya dengan mengatakan hal-hal konyol seperti itu. Rupanya wanita itu ingin menguji ke-Sultanan seorang Sebastian Putra Djenar ? Tian tertawa dalam hati saat menyadari betapa menyenangkannya saat ia bisa terlihat se-keren itu dimata Arini.


 ---


Setelah menaruh dua buah kantong belanjaan diatas meja dapur, Tian menghempaskan tubuhnya disalah satu kursi, mengawasi Arini yang bergegas mengambil alih isi kantong-kantong belanjaan mereka tersebut, sibuk


Tian terus mengawasi Arini yang masih berpura-pura sibuk meskipun gerak-geriknya yang jengah begitu terlihat dimata Tian.


“Aku lapar,”


Gerakan Arini terhenti sejenak, menatap Tian lamat-lamat. “Mau order delivery lagi..?” tanyanya polos.


Tian melengos. “Barusan belanja sebanyak ini, kenapa tidak membuat sesuatu untuk dimakan ??”


“Ohh, “ Arini menganguk-angukkan kepala sambil tertawa kecil. “Aku pikir sudah lapar sekali,” ujarnya tanpa dosa, mengabaikan tatapan kesal Tian diseberang meja. “Mau makan apa..?”


“Apa saja.”


“Mi instan mau ?”


“Appa..??!!”


“Hahaha.. jangan kesal seperti itu.. aku cuma becanda..” tergelak.


‘Astagaahh… benar-benar..’


Tian memijit keningnya. Tian merasa sepertinya ia harus punya cadangan kesabaran karena Tian tidak akan pernah tau kapan saja Arini akan selalu bersikap normal sebelum sifat absurd nya yang kerap muncul tiba-tiba.


“Sepertinya aku harus membuat sesuatu yang cepat.. “ Arini berfikir sejenak, kemudian ia menatap Tian. “bagaimana dengan sop sayuran..?” tanyanya meminta persetujuan.


“Boleh juga,” anguk Tian.


“Oke boss,” sambil mengangkat tangan seperti orang yang sedang melakukan hormat kepada bendera.


Tian menahan tawa melihat pemandangan lucu itu.


Detik berikutnya Arini sudah tenggelam dalam kesibukannya di dapur itu. Tian yang semula hanya mengawasi dari tempatnya duduk akhirnya memutuskan untuk melihat dari dekat apa saja yang dilakukan Arini.


“Ada yang bisa aku bantu ?”


“Tidak perlu.. sebentar lagi sudah siap,” sambil menunjuk panci yang ada diatas kompor gas dengan dagunya. Aroma sop yang segar mulai tercium dari sana.


Ponsel Tian berbunyi. Tian mengambil ponselnya dari saku celana dan melihat sebuah notifikasi dari Rudi disana dan ia langsung membukanya.


Rudi memberitahukan bahwa jadwal keberangkatan Tian ke Singapore pada besok malam akhirnya harus dimajukan pada penerbangan dinihari, karena meeting yang akan dilakukan Tian dengan salah satu pengusaha terkemuka di Asia itu dimajukan besok siang.


Tian menyimpan ponselnya kembali ke saku celananya, menatap Arini lekat yang sedari awal saat Tian mengecek ponselnya terus memperhatikan gerak geriknya.


“Ada apa ? apa terjadi sesuatu..?” tanya Arini ragu-ragu saat melihat Tian yang hanya menatapnya lekat, tak kunjung bicara.


‘Apa dia akan pergi lagi begitu saja seperti sebelumnya ?’


Arini membatin, sedikit trauma saat mengingat kebiasaan Tian diwaktu yang lalu yang akan meninggalkannya begitu saja, menghilang hingga berhari-hari lamanya dan menjadi dingin setiap kali ponselnya berbunyi.


“Arini.. kamu mau tidak kalau kita pindah ke rumahku saja ?”


Arini balas menatap Tian bingung, mengapa tiba-tiba Tian mengajaknya pindah ke rumahnya ? bukankah selama ini Tian tidak berkeinginan untuk membawanya tinggal dirumahnya ? Lalu sekarang mengapa Tian berubah fikiran ?


“Kita bisa mengemasi barang yang diperlukan, lalu sisanya nanti biar Rudi yang akan mengurusnya,” putus Tian selanjutnya tanpa menunggu respon Arini terlebih dahulu.


“Eh.. tapi.. kenapa terburu-buru..?” Tanya Arini semakin bingung.


“Aku hanya tidak ingin kamu sendirian disini,”


Mendengar kalimat itu Arini terdiam.


‘Apa Tian lupa kalau selama ini dia bahkan selalu meninggalkanku seorang diri di apartemen ini ?’


Bingung Arini membatin.


“Seharusnya besok malam aku akan berangkat ke Singapore, tapi barusan Rudi memberitahukan bahwa  meetingnya dimajukan pada besok siang,”


“Lalu..?” tanya Arini hati-hati saat Tian mengambil jeda.


“Penerbanganku dimajukan pada dini hari.”


Tian terdiam sejenak menatap Arini yang belum juga menanggapi kalimatnya.


“Aku akan berada disana selama beberapa hari kedepan sampai semua urusanku selesai. Maksudku.. kalau dirumah, kamu tidak akan merasa kesepian karena disana ada Bik Sumi dan Pak Udin yang bisa menemani kamu.”


Arini hanya termanggu mendengar penjelasan panjang lebar itu. Benaknya masih diliputi pertanyaan seputar mengapa sekarang Tian berubah fikiran. Apakah ini alamat baik untuk hubungan mereka berdua ? Apakah Tian mulai bisa menerimanya ?


Mendapati Arini yang masih terdiam untuk beberapa saat lamanya Tian hanya bisa menghela nafas berat.


Tian sedikit menyesal memutuskan hal itu begitu saja karena sepertinya keputusannya yang terburu-buru itu cukup membuat Arini menjadi bingung.


“Ya sudah.. kalau kamu merasa ini terlalu cepat.. tidak apa-apa, kita bisa membicarakan kepindahan kita nanti setelah aku kembali,” putusnya akhirnya karena tak kunjung menerima respon.


“Eh.. iya.. aku.. aku terserah saja,” Arini tergeragap kecewa namun semaksimal mungkin ia berusaha meredam warna perasaannya. Sisi hatinya menyesali mengapa keraguannya disalah artikan Tian sebagai rasa keberatan. Sejujurnya Arini merasa sangat senang mendengar tawaran Tian tapi keterkejutannya membuat Tian malah berfikir sebaliknya.


Bersambung...


Bantu, like, comment, subscribe profil author 😊


Yang mau nambah kasih vote, poin, koin.. ya Alhamdulillah.. gak nolak..😃


Terimakasih masih disini 🤗Lophyuu all.. 😘