CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 079


Yang belum Like bab sebelumnya.. yukk bantu author untuk genapin Like nya dulu biar performa author gak jalan ditempat.. πŸ€— Terima kasih.. 😘


.


.


.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam saat Meta menekan beberapa digit angka di door acces lock control yang ada didepan pintu panel apartemennya.


Pintu apartemen tersebut terpentang, dan Meta sedikit terheran saat menyadari apartemennya yang terlihat terang benderang karena semua lampu ruangan yang menyala.


β€˜Apa tadi pagi aku lupa mematikan lampu ?’


Bathin Meta bertanya keheranan pada dirinya sendiri. Tapi manakala kakinya telah melangkah, baru pada langkah ke-lima Meta kembali mematung ditempatnya.


β€˜Aroma parfum ini..’


Detik berikutnya kepala Meta kembali menggeleng kuat-kuat.


β€˜Sebentar.. aku pasti sudah tergila-gila, sampai-sampai aku bisa mencium aroma parfum pak Rico yang berseliweran di udara..’


Bathin Meta lagi-lagi merutuk kesal, menyadari ke-bucinannya yang telah begitu akut sehingga telah mempengaruhi semua system dan syaraf yang ada diotaknya untuk selalu tertuju pada obyek yang sama.


Meta kembali memutuskan untuk melangkahkan kakinya kedalam, menuju kamar tidurnya.


Hari ini sangat melelahkan, karena pekerjaan di kantor pusat seolah tak pernah ada habisnya, terlebih di minggu ini. Namun meskipun demikian semua karyawan, tidak hanya dirinya, akan selalu menikmati setiap kesibukan yang ada karena pak Tian tidak akan pernah lupa memperhitungkan setiap waktu, tenaga dan fikiran setiap karyawan yang terbuang demi kemajuan Indotama Group.


Saat Meta akan melewati ruang tengah, tubuhnya tiba-tiba mengejang dan mematung ditempatnya.


Tidak.. matanya tidak mungkin salah melihat. Karena disana, disalah satu sofa yang melengkapi ruang tengah tersebut, dengan dibalut hoodie polos warna hitam, lengkap dengan kaca mata model safety fashion bening, serta topi berwarna light brown, sosok Rico terlihat duduk menyilang kaki dengan tenang sambil mengutak-atik ponsel ditangan.



Sebenarnya, hanya dengan mendengar bunyi khas dari door acces lock control yang terbuka Rico sudah menyadari kehadiran Meta. Ia hanya berpura-pura saja saat terus menyibukkan diri dengan ponselnya.


β€œKenapa larut sekali pulangnya ?” tanya Rico dengan nada dingin seperti biasa, tanpa mengangkat wajahnya.


Menyadari Meta yang malah membisu tanpa menjawab pertanyaannya itu membuat Rico mau tak mau mengangkat wajahnya.


"Kamu tau tidak sekarang jam berapa ?"


Meta membuang nafasnya berat. β€œAda keperluan apa sehingga pak Rico datang kesini..?”


Rico menyimpan ponselnya ke saku, seraya memperhatikan sosok Meta yang berdiri mematung ditempat yang sama. β€œPertanyaanku tadi belum dijawab.”


β€œSebaiknya pak Rico pulang. Ini sudah mulai larut malam..”


β€œJawab dulu. Kenapa kamu baru pulang se-larut ini..?” ujar Rico, lagi-lagi kembali mengacuhkan setiap kalimat Meta, membuat mereka berdua bertatap-tatapan dengan pandangan yang tidak mau mengalah satu sama lain.


Meta menghembuskan nafasnya kembali, berfikir bahwa memang sudah seharusnya dirinya-lah yang mengalah karena menunggu Rico untuk mengalah padanya, sama artinya dengan menunggu pintu hati lelaki itu terbuka untuknya. Mustahil, impossible, dan tidak mungkin.


β€œAku lembur untuk membenahi laporan rekapan terakhir dari semua produk SWD Fashion. Puas..?” akhirnya memilih menjawab pertanyaan Rico terlebih dahulu.


Rico berdiri dari duduknya, mendekati Meta dan berhenti tepat dihadapan Meta yang berdiri gelisah saat menyadari tubuh Rico yang mendekat.


Meta segera memilih menatap ubin diantara kaki mereka begitu menyadari tubuh jangkung itu kini berada tepat dihadapannya, ia bahkan juga mundur selangkah untuk memberi jarak saat menyadari betapa dekatnya jarak kaki mereka dibawah sana.


β€œPak Rico untuk apa datang kesini..?" lirih Meta lagi, benar-benar merasa tidak nyaman dengan kehadiran Rico yang diluar perkiraannya.


β€œApartemen ini masih milikku. Aku berhak datang kapan pun aku mau.”


Meta tersenyum kecut mendengar kalimat datar yang terkesan angkuh itu. Sekarang ia malah memberanikan diri menatap Rico, sedikit menengadah karena perbedaan tinggi tubuh mereka yang berjarak. β€œTentu saja. Aku lupa kalau aku belum jadi pemilik seutuhnya..” sindir Meta lagi, sambil menatap Rico tanpa senyum.


.


.


.


Sebelum next bab. 80 tolong di support dulu yah.. terima kasih.. 😘