
Nyomot kalimat seorang author kondang NT, kalau suka novel ini jangan cuma berhenti di kamu ya, sebarkan dan ajak juga teman-teman dan orang-orang terdekat.. 😍
(Salam dari author remahan peyek 😜)
.
.
.
Dari sofa yang terletak didekat jendela kamar, Rudi tak henti menatap Laras yang mematut dirinya didepan cermin.
'Cantik..'
Memuji dalam hati, namun begitu tersadar dengan suara hatinya sendiri Rudi memilih membuang pandangannya keluar jendela yang langitnya telah gelap sempurna, menandakan malam yang telah benar-benar tiba.
Senandung kecil yang keluar dari bibir Laras lagi-lagi mengusik perhatian Rudi untuk kembali menoleh dan terpaku pada objek yang sama.
Sosok Laras terbalut mini dress warna putih gading dengan aksen bandul-bandul kecil yang melekat pas ditubuhnya yang ramping. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, dan senyumnya tak pernah surut setiap kali pandangan mereka bertemu tanpa sengaja di permukaan cermin.
Rudi masih ingat betul insiden tadi sore, begitu pak Rico menelpon untuk memberitahu bahwa telah menemukan Laras yang sedang bersama Meta disebuah kedai kopi. Detik itu juga Rudi berlari seperti orang yang kesetanan, menuju ketempat yang dimaksud.
Meskipun sejenak hatinya merasa lega karena akhirnya pak Rico menemukan dua wanita itu secara bersamaan, namun kekhawatiran Rudi menjadi berlipat ganda begitu mengetahui Laras dan Meta juga berada ditempat yang sama.
Membayangkan bagaimana kesalnya Laras selama ini atas kehadiran Meta membuat berbagai pemikiran buruk mau tidak mau berlompatan kesana kemari dalam pikiran Rudi.
Rudi baru bisa bernafas lega begitu melihat pemandangan pak Rico bersama dua wanita itu yang berjalan beriringan menapaki jalan paving block tersebut, kemudian sepanjang perjalanan yang tersisa sebagian besar dipenuhi kebisuan, meskipun diam-diam Rudi disibukkan dengan terus mencuri pandang kearah Meta yang terlihat tenang, seolah ingin memastikan bahwa wanita itu tidak apa-apa, dan bahwa Laras tidak melakukan hal buruk.
"Kamu darimana saja, Ras?" tanya Rudi, begitu mereka tiba dikamar, sengaja menahan keinginannya untuk bertanya saat masih ada pak Rico dan Meta karena Rudi tau betul seperti apa tabiat Laras.
Sungguh dirinya akan merasa sangat malu jika Laras akan membalasnya dengan kalimat ketus meskipun sinar wajah Laras sore itu terlihat begitu datar, tanpa cebikan yang biasa mewarnai permukaan bibirnya yang sensual. Tapi meskipun demikian, Rudi tetap tidak ingin mengambil resiko mengingat betapa cepatnya mood Laras berubah.
"Hanya berjalan-jalan menikmati pantai sejenak, lalu tertarik untuk melihat beberapa cenderamata.."
"Kenapa bisa bersama Meta..?"
"Kami tidak sengaja bertemu.."
Rudi terdiam sejenak. "Aku hanya menyuruhmu menunggu satu jam, dan kamu sudah pergi begitu saja.."
"Aku tidak tega membangunkanmu, kak.. tidurmu terlihat lelap sekali.."
Rudi terdiam lagi.
"Sebentar malam kita harus pergi ke Bar Dewi Lagoon.."
Laras tercenung, mendadak ia teringat akan janjinya dengan Han tadi sore.
'Seperti sebuah kebetulan yang terencana..'
Laras membatin lega, karena akhirnya ia tidak perlu merengek mencari alasan untuk pergi ke Bar Dewi Lagoon demi memenuhi janjinya kepada Han yang sudah telanjur terucap.
"Tian mengajak kita semua makan malam. Pak Hendi, pemilik hotel ini telah mengundang pak Tian dan kami semua secara khusus." ujar Rudi lagi saat itu.
Dan begitulah awal mulanya, situasi saat ini, dimana dirinya sejak tadi duduk termanggu menatap Laras yang tengah berdandan dengan cantik.
Sepintas tidak ada yang berbeda dari Laras namun entah kenapa Rudi seperti merasa ada sesuatu yang tidak beres.. ada sesuatu yang aneh.. dan ada sesuatu yang hilang.. tapi entah apa.
Sejak insiden tadi sore Laras seolah berubah menjadi pribadi yang lain, bahkan istri kecilnya itu belum ngambek sama sekali.
Jika biasanya Rudi selalu dibuat pusing dengan ocehan Laras yang terdengat lebih banyak tidak bermutunya, serta gemar mencari cela untuk berdebat, anehnya sejak tadi Laras tidak melakukan semua itu. Wanita itu bahkan terdengar beberapa kali sedikit bersenandung kecil.. dan seolah berhenti mengusiknya sama sekali.
Ada apa dengan Laras?
Apa terjadi sesuatu?
Atau.. apa dia telah melakukan sesuatu kepada Meta dan sekarang sedang berusaha menghilangkan jejaknya?
XXXXX
Seperti biasa, Rico selalu menjadi orang terakhir yang tiba.
"Maaf.. sepertinya aku hampir terlambat.."
"Selalu saja kamu, Co. Sepertinya tidak ada lagi orang lain yang sangat menyukai injury time selain dirimu.." gerutu Tian dengan intonasi menyindir sambil menatap kesal Rico yang cengengesan.
"Sorry my bro.. seperti biasa, pekerjaan rumah selalu membutuhkan waktu yang panjang.." berseloroh acuh seperti kebiasaannya.
Tian melengos mendengarnya, sementara Meta yang berdiri agak terhalang punggung Rico sontak blush.
"Cieee.." Arini berbisik perlahan ditelinga Meta, semakin menambah rona merah dipipi Meta. "Berapa ronde nih..?"
"Apaan sih.." Meta melotot galak kearah Arini yang telah terkikik disampingnya, kini tidak hanya pipinya, seluruh permukaan wajahnya bahkan telah merona sempurna.
"Hen, sudah kenal Rico kan?" Tian berucap sambil mengamit bahu Rico.
"Rico Chandra Wijaya.. tidak ada yang tidak mengenalnya.." Hendi tersenyum kearah Rico yang tertawa kecil mendengar kalimat ramah pengusaha hotel yang kalau mau jujur merupakan salah satu dari sekian banyak pesaing Rico dalam bisinis perhotelan.
Namun seperti yang sudah-sudah, dalam dunia bisnis kawan dan lawan itu adalah satu hal yang berbanding lurus satu sama lain, atau bisa dibilang seiring sejalan. Lawan adalah kawan dan kawan adalah lawan. Saling bertukar tawa dan sapa, namun dalam benak masing-masing selalu mempunyai trik dan cara agar lebih unggul dalam melakukan terobosan dan inovasi. Persaingan tetap harus berjalan.. tapi harus dalam ranah yang sehat dan wajar.
"Hendi Prawira Atmadja, bagiku adalah kawan lama yang jarang bersua. Bagaimana keadaannya bro? sehat?" sapa Rico dengan gaya yang lepas.
"Alhamdulillah.. sehat, Co.." balas Hendi sumringah. "Oh iya.. kata Tian kamu baru menikah ya?"
"Iya, ini istriku.. perkenalkan.." Rico menarik lembut pergelangan tangan Meta yang sedari tadi berdiri dibelakangnya, kemudian mengamit pinggang Meta dengan mesra.
"Armetha..?" Hendi terhenyak saat mengenali Meta.
"Sudah kenal?" Rico menatap Hendi kemudian beralih pada Meta yang tersenyum kikuk sambil mengangguk kecil.
"Sekretaris pak Tian, bagaimana aku tidak mengenalnya.." Hendi menjawab diplomatis, kemudian tersenyum tipis untuk menutupi keterkejutannya. "Selamat atas pernikahan kalian yah.. semoga terus bahagia hingga sepanjang masa.."
"Amin.. terimakasih, Hen.." balas Rico, tetap memeluk pinggang Meta dengan posesif.
"Oh iya.. bagaimana kalau kita langsung makan malam saja?" tawar Hendi mengalihkan pembicaraan.
"Ide yang tepat.." Tian mengangguk, karena perutnya juga mulai terasa lapar.
"Mari silahkan.." Hendi mempersilahkan mereka semua menuju sebuah private room, yang letaknya berada didepan, dekat panggung live music.
Mereka semua memasuki private room tersebut, dimana sebuah jamuan makan malam besar yang super mewah, dari seorang Hendi Prawira Atmadja telah tersaji disana. "Tian.. semuanya.. mari silahkan duduk.." ajak Hendi lagi begitu mereka tiba disana.
"Si kembar mana, Bim..?" Hendi terlihat bertanya pada asistennya.
"Kata Han tadi sudah menuju kesini, pak.. egh, itu mereka berdua.." Bima menunjuk kearah pintu masuk, dimana si kembar yang dimaksud berjalan tergesa mendekati sang kakak.
"Kalian kenapa lama sekali?"
"Seperti biasa, kak, menunggu tuan putri berdandan itu sudah pasti memakan waktu yang lama.."
"Han.. jangan mulai yah.." Hil terlihat mencebik, yang disambut tawa kecil Han dan Hendi.
"Semuanya, perkenalkan ini adik kembarku, Han dan yang ini Hil.."
"Halo semuanya.." Han dan Hil menyapa ramah nyaris berbarengan.
"Halo juga Han.. Hil.."
Sapaan senada, nyaris berbarengan juga, meluncur dengan nada masing-masing.
Sejenak tatapan Han dan Hil yang awalnya mengembara satu persatu pada tamu istimewa sang kakak terlihat mengarah penuh kepada Laras, yang sudah lebih dulu terkejut menatap kedua kembar tersebut sejak tadi.
.
.
.
Bersambung..
Yang belum kepoin 100 HARI MENGEJAR CINTA REI, buruaann.. 🥰
Jangan kasih kendor dukungannya yah.. my reader, my kesayangan.. 🥰
Thx and Lophyuu all .. 😘