CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 053


Yang belum Like bab sebelumnya.. yukk bantu author untuk genapin Like nya dulu biar performa author gak jalan ditempat.. 🤗 Terima kasih.. 😘


Ditunggu kunjungannya di :


‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.


Bantu vote, like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 🙏


.


.


.


Rasanya sudah lama sekali. Dan gedung yang menjulang itu masih terlihat sangat kokoh, tegak dan angkuh, menandakan sebuah kekuatan besar yang tak terbantahkan.


Menginjakkan kaki kembali di lobby gedung kantor pusat Indotama Group untuk yang pertama kalinya, setelah sekian waktu yang terlewat membuat Meta tidak bisa menahan berbagai rasa luar biasa yang bercampur satu didalam hatinya.


Antara rasa senang.. berdebar.. rindu.. bersemangat.. semua rasa positif tersebut teraduk dengan sempurna sehingga seolah menciptakan sebuah rasa baru yang unik.. perasaan menyenangkan yang aneh.. namun Meta menyukainya.. membuatnya tidak sabar untuk bisa kembali berada ditempat ini kembali seperti sedia kala.


Dulu ditempat ini.. hidup Meta hanya dipenuhi dengan warna pelangi yang berwarna-warni. Indah dan ceria, hanya berisikan canda tawa tanpa ada persoalan berarti. Setiap hari bisa bersua dengan semua teman-teman karyawan lainnya tanpa beban dan tanpa batas.. seolah kemarin, hari ini dan hari esok.. selalu bisa terlalui dengan mudah.


Meta sendiri tidak menyadari bahwa ternyata waktu telah sekian lama berputar. Dan setelah beberapa bulan yang telah terlewat.. Meta bahkan nyaris melupakan ciri khas dirinya yang dipenuhi keceriaan.


Langkah Meta terayun lebar, senyum dibibirnya tidak sedetik pun ia lekangkan, karena hampir setiap orang yang berpapasan dengannya langsung mengenali Meta dan menyapanya ramah.


Didepan lift nampak cukup lenggang saat Meta tiba disana, menunggu pintu lift terbuka seraya merogoh ponselnya yang berdering samar, sedikit kesulitan karena selain tas yang tersampir dibahu kiri, tangan kanannya pun sedang menenteng sebuah map file yang berisikan dokumen-dokumen yang diperlukan sebagai bahan presentasi, yang beberapa bagian inti dari dokumen tersebut telah digandakan sesuai jumlah yang diperintahkan sang tuan arogan. Siapa lagi kalau bukan Rico Chandra Wijaya..?


Nama ‘pak Rico’ menghiasi layar ponselnya, ia langsung menggeser icon hijau masih dengan gerakan yang kesulitan namun toh ia tetap berhasil melakukannya.


“Halo ?”


Ucap Meta begitu panggilan tersebut berhasil ia terima dengan susah payah.


“Saya sudah di kantor pusat, pak.. sedang menunggu lift dilantai satu..”


“Sini.. biar aku yang memegangnya..”


Sebuah suara berat yang sangat dikenali Meta cukup membuatnya terhenyak dan langsung menoleh kesamping, keasal suara.


‘Rudi Winata.’


Berdiri dengan tegak dengan seulas senyum khas, setelah berhasil memindah tangankan map file yang sedari tadi mengacaukan setiap pergerakan Meta.


“Terima kasih..” Meta berucap perlahan, seraya menyimpan ponselnya yang telah diputuskan sang lawan bicara dengan begitu saja. Ia berniat mengambil alih kembali map file tersebut manakala Rudi malah bergerak mundur satu langkah demi menghindarinya.


“Jangan sungkan.. ini lumayan berat loh, biar aku bantu bawakan sampai ke meeting room. Mau ikut meeting juga kan ?”


Meta mengangguk sedikit jengah, bertepatan dengan terbukanya pintu lift. Ia akhirnya mengikuti langkah Rudi yang masuk kedalam sana, dan mereka berdiri bersisian tanpa kata.


Lama dirinya tidak pernah lagi berjumpa dengan Rudi kembali sejak kali terakhir lelaki itu muncul tiba-tiba dirumahnya disuatu sore, mengantarkan agenda dan power bank miliknya yang tertinggal dilaci meja kerjanya yang saat itu telah ditempati Laras.


Komunikasi diantara mereka bahkan telah terputus jauh lebih lama dari itu.. kira-kira sejak awal Rei mencuri hatinya.. sejak itu pula Rudi seperti menghilang begitu saja dari perputaran kesehariannya. Ditambah lagi dengan jarang bertemu setelah Meta diberikan tugas khusus oleh pak Tian, dalam rangka menghandle semua data pekerjaan sekaligus laporan dari pembangunan akhir indotama times square.


Belakangan ini pekerjaan Meta bahkan bertambah.. karena ia juga didaulat untuk menangani proses seleksi awal kerjasama dengan para tenant yang jumlah penawarannya saat ini sudah mencapai enam ribuan lebih, sementara lapak yang ditawarkan hanya dua ribu unit, dengan dua puluh anchor tenant*). Belum lagi pekerjaan Meta yang harus menangani publikasi dan tata kelola awal managemen pengelolaan mall kedepannya.


Meta bahkan berfikir, bahwa Pak Rico pasti sengaja ingin menyiksanya, membuatnya mati perlahan-lahan dengan banyaknya beban pekerjaan. Lelaki tanpa hati nurani itu tentu tidak akan membiarkan karyawan sekaligus istri palsu yang telah ia bayar mahal duduk santai sambil menghirup udara segar.


“Bagaimana kabarmu ?” Rudi bertanya tanpa menoleh.


“Baik..”


Rudi terlihat tersenyum samar. Dan saat lelaki itu menoleh padanya.. pandangan mereka bertemu begitu saja.


“Bagaimana kabar Rei..?”


“Baik juga..”


Pintu lift terbuka, Meta melangkah lebih dahulu, diikuti Rudi yang langsung mensejajarkan dirinya. “Lunch nanti, ketempat biasa yah..”


Langkah Meta terhenti.


“Jangan salah paham.. hanya ingin ngobrol sebentar..”


“Tapi..”


“Benarkah ?” bola mata Meta langsung membola.


“Nah.. belum tau kan ?” wajah Rudi berbinar begitu melihat tatapan mata Meta yang seolah tak percaya. “Sebulan yang lalu, pak Tian menyulap rooftop itu menjadi mini garden. Makanya kamu harus melihatnya..”


Yang dimaksud Rudi adalah bagian paling atas dari kantor pusat indotama group. Dulu mereka berdua memang sering kesana hanya sekedar menghabiskan waktu sebentar saat merasa suntuk dengan pekerjaan. Tak jarang mereka berdua membawa makan siang mereka kesana.


“Bagaimana ? penasarankan..?”


Meta mengangguk dengan bersemangat. “Baiklah, aku jadi penasaran juga mendengar ceritamu tentang mini garden itu..”


Rudi tertawa kecil. “Deal.. after lunch.. atau sekalian lunch disana saja..?”


“After lunch.”


Rudi tertawa lagi mendengar jawaban yang secepat kilat itu. Terlihat sekali bahwa Meta enggan berada disana dan berlama-lama dengannya. Mungkin merasa tidak enak dengan status mereka berdua yang sama-sama telah berbeda.. ?


Boleh jadi..


“Baiklah..” Rudi mengangguk setuju. “After lunch ya.. “ ucap Rudi lagi memastikan, masih dengan menyisakan senyum dibibirnya, yang dibalas Meta dengan senyum serta anggukan kecil, sebelum akhirnya mereka memutuskan masuk kedalam ruangan meeting room yang telah berada dihadapan mereka.


XXXXX


Saat Tian keluar dari ruangan pribadinya ia melihat Rico masih berada ditempatnya sebelum ia pamit ke toilet. Masih duduk di kursi didepan mejanya, bersandar disana dengan tangan kanan yang menggenggam ponsel. Tatapan Rico nampak mengarah penuh ke dinding kaca yang tirainya terbuka.


‘Tuk.. tuk.. tuk..’


Bunyi lirih yang timbul akibat ujung ponsel yang beradu dengan permukaan mejanya berkali-kali terdengar jelas di ruangan Tian yang hening, membuat alis Tian mengerinyit melihat pemandangan sosok Rico yang mematung dihadapannya, bahkan sampai-sampai tidak menyadari kehadirannya.


Tian menoleh kearah objek tatapan sahabatnya itu, dan akhirnya ia tau apa penyebab Rico terdiam sehingga melupakan sekitar karena sepintas Tian masih bisa menangkap pemandangan Rudi dan Meta yang berdiri diluar sana, saling melempar senyum sebentar sebelum akhirnya masuk kedalam meeting room.


Sementara itu, Rico yang melihat secara langsung interaksi yang begitu akrab dari balik dinding kaca ruangan Tian tidak bisa lagi mengontrol rasa kesalnya.


Rico memang sudah bisa menebaknya sejak awal, tinggal menunggu buktinya saja.


Of Course.


Tadi Rico menelpon Meta untuk menanyakan keberadaan wanita itu yang belum juga menampakkan batang hidungnya, padahal setengah jam lagi meeting yang telah ditentukan akan dimulai, dan semua orang tau bahwa Tian bukanlah orang yang suka berkompromi dengan waktu.


Tapi tak dinyana alih-alih ingin memastikan keberadaan Meta yang ternyata sudah berada di gedung yang sama dan telah berada dilantai satu hendak menaiki lift menuju lantai lima belas, sayup-sayup Rico malah mendengar sebuah suara berat yang menawarkan bantuan untuk memegang sesuatu.


Dan rasa penasaran Rico terjawab sudah saat tadi dengan jelas ia melihat Meta berdiri diluar sana dengan hanya membawa sebuah tas yang tersampir dibahu, sementara Rudi yang bersamanya terlihat memegang sebuah map file yang sepertinya memang lumayan berat untuk seorang wanita.


‘Cihh.. dasar pahlawan kesiangan..’


Detik berikutnya Rico malah terhenyak sendiri saat menyadari ia telah membathin dengan rasa dongkol yang bukan kepalang, sudah mencapai ubun-ubun, terlebih saat menyaksikan bagaimana kedua orang itu saling melempar senyum dengan begitu akrabnya.


“Are you jealous ?”


Rico tersentak dengan suara berat yang tiba-tiba menyeruak dalam keheningan. Tian sedang menghempaskan tubuhnya dikursi kebesarannya dengan senyum mengejek yang kentara.


“Are you kidding me ?!” balas Rico sengit sambil tersenyum masam. Bukannya menjawab Tian malah tertawa keras, membuat Rico mendengus kesal.


“What the hell..” gerutunya kemudian, memutuskan untuk segera beranjak, tidak ingin memberi Tian peluang untuk melemparkan bully-an.


“Hey, co.. mau kemana ? ini masih lima menit lagi.. lebih malah..”


Tian berucap dibelakang sana sambil terus tertawa, namun tak urung Ceo tampan itu akhirnya beranjak juga dengan tergesa, memburu langkah panjang Rico yang keluar dari ruangannya.. langsung menuju meeting room..


.


.


.


Bersambung..


*Anchor tenant*) \= Penyewa utama*


Favorite-kan novel ini, like dan comment setiap bab-nya, dan berikan hadiah serta vote yang banyak.. karena apapun dukungan kalian merupakan penyemangat author untuk terus berkarya.. 🙏


Thx and Lophyuu all.. 😘