CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 - 126


Time to say goodbye.. 🙏


Arini menaburkan bunga tabur yang tersisa didalam keranjang rotan kecil keatas gundukan tanah merah yang lembab. Ia bahkan menggunakan ujung selendang pashminanya untuk melap nisan yang bertuliskan nama Saraswati Djenar itu.


"Waktu cepat berlalu, yah..?" ujar Tian sambil menatap nisan Saraswati yang sedang diusap oleh tangan halus milik Arini. "Meskipun semua persoalan terus datang, kemudian terlewati.. tapi lebih dari semua itu aku sangat berharap semoga Nenek selalu tenang di alam sana.."


Kepala Arini terlihat mengangguk menanggapi ucapan lirih Tian. Dalam hati juga membenarkan.


Pada akhirnya mereka memang harus menjalani hidup ini dengan berani, meskipun tidak semuanya berjalan lancar.


Telah begitu banyak kebahagiaan yang tercipta.. tapi toh tidak serta merta menjamin bahwa semuanya tidak pernah dihadapkan pada persoalan.. tantangan.. begitupun dengan kebesaran hati menerima kekecewaan.


Untuk hal yang terakhir, Arini meragu. Tentang kebesaran hati menerima kekecewaan.


Entahlah.. bahkan hingga detik ini ia masih saja bimbang. Apakah semua hal memang harus dibicarakan dengan terbuka..? bisakah hal yang menyakitkan terus saja disimpan selamanya?


Cinta Arini untuk Tian memaksa kebesaran hatinya untuk menerima semuanya, menguburnya pun tak mengapa. Tapi sayangnya cinta Tian untuknya justru sebaiknya.. membuat lelaki itu selalu ingin terlihat sempurna, sehingga setitik pun kekecewaannya seperti sebuah cambuk untuk Tian.


Arini tau, bahwa Tian telah berusaha sekian lama. Bertahan dalam keputusan yang entah benar atau salah, memikul sebuah kebohongan besar hanya karena tidak ingin menyakiti hatinya.


Arini tau bagaimana rasanya. Karena Tian bahkan tidak tau, seberapa besar lelaki itu berusaha, sebesar itu pula Arini juga berusaha. Sebesar apa Tian tidak ingin dirinya terluka oleh kebenaran.. Arini bahkan lebih takut Tian terluka karena tidak bisa terlihat menjadi lelaki sempurna dimatanya.


"Apakah Rudi jadi pergi..?" tanya Arini menghentak hening.


Tian mengangguk, kemudian terpekur. "Aku tidak bisa mencegahnya.." warna suaranya terdengar dipenuhi kesedihan.


Yah.. Rudi telah pergi hari ini, lewat penerbangan pertama menuju London. Setelah memutuskan rencananya yang akan fokus mengurus bisnis yang baru dibangunnya disana, dan Tian meskipun dengan berat hati akhirnya harus mengijinkan, sembari ikut menitipkan bisnisnya yang berada di London sepenuhnya ke tangan Rudi.


Rudi menolak untuk membicarakan persoalan pribadinya, saat Tian menyinggung masa depan hubungannya dengan Laras yang retak begitu saja.


Mengetahui keputusan tersebut awalnya Tian cukup panik. Arini bahkan bisa melihat bagaimana tidur Tian pun ikut terganggu selama beberapa hari. Karena meskipun Laras terdengar baik-baik saja ditelepon, namun mengingat watak dan temperamen Laras selama ini rasanya wajar jika Tian merasa khawatir.


"Nenek pasti kecewa padaku. Aku yang telah membuat semuanya menjadi seperti ini. Andai saja aku bisa lebih tegas.."


Arini mendongak, mendapati wajah Tian yang dipenuhi kesedihan.


"I'm just a human.." ucap Arini sambil menatap Tian lekat. "Dulu.. kamu sering sekali mengatakan kalimat itu, sekarang.. aku bahkan tidak pernah lagi mendengarnya sama sekali.."


"Karena itu hanyalah kalimat kesombongan."


Alis Arini bertaut sempurna. Tidak menyangka akan menerima ucapan datar yang diwarnai sedikit rasa kecewa.


"Dulu.. aku selalu merasa bisa mengatur segalanya. Dan aku mengatakan kalimat itu hanya sebagai alasan untuk menolak sesuatu yang enggan aku lakukan.." Tian tersenyum getir. "Aku terkejut karena akhirnya aku sadar bahwa kalimat i'm just a human.. itu benar. Aku memang hanya manusia biasa, yang tidak ada supernya sedikitpun. Aku terlalu banyak melakukan kesalahan.. dan kegagalan.."


Usai berucap itu Tian bangkit sambil mengulurkan tangannya, mengajak Arini untuk ikut bangkit dari sana.


Tian hendak mengajak Arini untuk beranjak, namun lengannya telah keburu ditahan, membuatnya menatap Arini dengan tatapan heran.


"Lepaskanlah.."


Alis Tian semakin bertaut.


"Semua bayangan gelap yang selalu mengejarmu selama ini.. kesalahan, rasa bersalah, lepaskanlah.. dan tinggalkan saja ditempat ini.."


Tian menelan ludahnya. Ia masih berusaha meraba kemana arah dan maksud kalimat Arini, tidak ingin lagi salah menebak.


"Aku telah memikirkannya ribuan kali." ujar Arini seraya menatap lekat sepasang mata Tian. "Sayang.. aku sudah cukup puas menerima semua kebenaran, hatiku pun telah lama mengikhlaskannya. Semua yang terjadi, apapun itu, semua itu sudah cukup untukku.. aku menerimanya."


Tian membisu. Matanya nyaris tak berkedip.. menatap nanar Arini yang berdiri tegak dihadapannya.


"Setiap orang harusnya lebih tau dengan persis.. apa yang bisa membuatnya lebih bahagia, karena pada dasarnya hidup ini telah ada takarannya. Hari ini aku ingin mengatakan semuanya dihadapan Nenek, biarkan aku melakukannya untukmu.."


Suara Arini mulai bergetar.


"Entah itu karena Nenek, entah itu karena Laras, Sayang, tolong.. jangan hidup seperti ini terus-menerus. Jangan lagi merasa bersalah karena sesuatu yang tidak bisa berjalan sesuai dengan keinginanmu. Katakanlah aku adalah istrimu yang egois.. tapi aku harus mengatakannya. Semua itu bukanlah kesalahanmu. Bukan salahmu jika tidak bisa membahagiakan semua orang.."


Tian tertunduk dalam diam, saat meresapi kalimat Arini yang begitu panjang.


"Hatiku sakit sekali, tapi aku memaafkanmu. Aku justru tidak bisa memaafkan diriku.. kalau demi menjaga hatiku tidak terluka, kamu bahkan memilih melukai hatimu sendiri. Sayang, tolong berhenti.. jangan menanggung semuanya seorang diri. Ajak aku juga menangis bersamamu.. karena aku bersedia melalui semuanya.. dan aku ingin menjadi istri yang mulia karena bisa menggenggam tanganmu hingga akhir.. seperti keinginan terakhir Nenek Saraswati.."


Kemudian tanpa Tian sadari, sudut matanya telah tergenang. Ia menatap Arini tak berdaya.. detik berikutnya ia telah kembali bersimpuh didepan gundukan tanah merah, dengan kedua lututnya yang menyentuh tanah.


"Sayang.. tolong ampuni aku.. aku telah melakukan kesalahan besar.. aku telah membohongimu sekian lama.. tolong ampuni aku.."


Tanggul pertahanan Arini roboh seketika. Arini beranjak mendekat, ikut bersimpuh disebelah Tian, memeluk bahu yang bergetar itu kuat-kuat..


XXXXX


"Malam itu di villa.. aku pikir kamu akan mengatakannya.. tapi ternyata.." mengambang.


Saat ini mereka berdua sudah berada didalam mobil, yang meskipun mesinnya telah menyala agar hembusan air conditioner bisa menyejukkan suhu mobil, namun mobil itu tidak juga berpindah dari bawah sebatang pohon akasia yang rindang, sementara diluar sana, Sudir dan Haris terlihat berbincang sambil menunggu mereka selesai membicarakan semuanya.


"Malam itu di villa aku juga berencana untuk mengatakannya.. tapi ternyata.." Tian pun membisu, sebelum kalimatnya selesai, menyadari seberapa pengecut dirinya saat itu.


Kebenaran itu telah terkuak, dari usaha gigih Arini yang nekad mencari kebenarannya lewat Laras, dimalam saat Laras hendak menikah dengan Rudi.


Laras yang begitu ingin mendapatkan 'maaf' Arini akhirnya tidak bisa mengelak saat Arini memojokannya sedemikian rupa.


Seharusnya Tian merasa lega, karena selama ini Arini bahkan telah menyiapkan hatinya.


Tapi saat menyadari meskipun dengan hati yang terluka, Arini memilih menahan kesedihannya, memendamnya dalam diam sekian lama.. dan justru mendahulukan untuk memikirkan harga diri, keegoisan, serta kepengecutannya yang ia sembunyikan sekian lama.. hatinya malah terasa semakin sakit, seolah diiris belati.


Yah.. tepat dihari yang sama setelah deal antara dirinya dan Saraswati terjadi, hari yang sama ketika Saraswati terlihat begitu gusar saat memergoki dirinya dan Arini yang tengah bermesraan diruangannya, hari yang sama ketika Tian mengetahui kenyataan akan kesehatan Saraswati yang menderita kanker ovarium stadium empat.


Semua itu telah membuat Tian gelap mata, sehingga yang ada dibenak Tian hanyalah satu, membujuk Saraswati menjalani terapi di Rumah Sakit khusus kanker yang ada di Guangzhou China, setelah Saraswati telah menolak semua upaya pemulihan yang ia tawarkan.


Tian bahkan berfikir ia bisa melakukan apa saja demi kesembuhan Saraswati, asalkan dirinya tidak kehilangan Arini, meskipun itu berarti Tian harus mencurangi wanita itu.


Sementara itu Saraswati tidak bisa lagi ditawar, ketika malam itu juga memutuskan menikahkan dirinya dengan Laras.


Tian masih mengingatnya dengan jelas, bagaimana Laras terus menangis sepanjang prosesi singkat itu. Gadis itu bahkan tidak menyangka Tian dan Saraswati akan memaksanya dengan gigih, disaat ia kembali ke tanah air untuk memperjuangkan cinta yang lain.


Itu adalah janji Tian untuk Laras. Memberikan apapun yang Laras inginkan, yang ternyata hingga detik ini gagal Tian penuhi.


Sementara Tian tidak perlu menunggu lama untuk membebaskan Laras dari pernikahan yang tidak diinginkan itu. Tidak sampai menunggu Saraswati sembuh, karena begitu therapi pertama dimulai, Tian benar-benar nekad melepaskan Laras dari ikatan pernikahan diatas kertas itu, sibuk dengan tahapan kesembuhan Saraswati, dan bahkan melupakan janjinya sendiri.


Sejak dulu yang diinginkan Laras hanyalah cinta Rudi Winata. Keinginan yang sangat mustahil, karena pada kenyataannya hati dan cinta seorang Rudi Winata tidak bisa dimiliki oleh siapapun lagi, selain dirinya sendiri tentunya.


Itulah yang membuat Laras merasa dicurangi dan tidak terima. Laras bahkan memilih menjadi wanita yang sangat menyebalkan dan merepotkan, suka menuntut dan semena-mena, semua itu adalah semata-mata bentuk protesnya, karena Tian tidak menepati janjinya.


Bahkan meskipun Tian bisa memaksa Rudi menikahi Laras, tetap saja Tian gagal memberikan apa yang diinginkan Laras. Karena yang diterima Laras bukanlah hati Rudi Winata yang sesuai keinginannya, melainkan sakit hati berkepanjangan, cinta yang selalu saja tidak berbalas, yang kemudian semuanya berakhir pada perpisahan yang tak terlelakkan.


"Aku merasa sangat malu. Aku terlihat sebagai lelaki pengecut.."


"Dimataku kamu adalah satu-satunya lelaki terhebat didunia ini.."


"Aku telah membohongimu, karena aku takut jika kamu akan menghilang.."


"Aku telah melupakannya, karena aku hanya ingin mengingat semua hal yang baik.. yakni saat aku berada disisimu, untuk bisa saling menguatkan disetiap saat. Aku tidak akan menghilang.. karena aku pun tidak akan pernah sanggup kehilanganmu.."


Tian mengusap kedua pipi Arini yang berhiaskan parit, sebelum kembali berbisik perlahan.. penuh penyesalan yang mendalam..


"Aku sungguh lelaki yang buruk. Aku bahkan sanggup mempermainkan hidup Rudi dan Laras.."


"Tidak. Karena jangankan dirimu, Laras bahkan telah memaksakan dirinya sekian lama, tapi pada akhirnya cinta bukanlah hal yang bisa dipaksakan. Sementara Rudi pun harus bertanggung jawab karena perbuatannya kepada Laras. Itu semua diluar kendalimu, sayang.. kamu hanya melakukan sesuatu yang menurutmu baik, meskipun hasilnya tidak sejalan dengan apa yang kamu harapkan.."


Tian terpekur, sisi hatinya yang lain pun mengakui apa yang diucapkan Arini itu semuanya benar, bukan hanya sekedar pembelaan untuk menguatkan hatinya.


"Aku yakin setelah ini Laras pasti akan baik-baik saja. Dia masih muda.. tapi sungguh berani memutuskan bahwa sudah seharusnya ia menatap masa depannya sendiri, tanpa harus berjuang lebih lama demi orang yang tidak ingin membagi hatinya.."


Kemudian Arini memegang kedua jemari Tian yang terkulai lemah diatas pangkuannya.


"Mulai detik ini, kita akan memulainya dari awal. Tanpa kebohongan.. tanpa rahasia.. tanpa ada lagi yang disembunyikan.."


Tian terlihat mengangguk yakin. "Aku berjanji akan membagi semuanya denganmu, meskipun itu hal yang terburuk sekalipun. Arini aku lelah.. aku lelah menjadi tumpuan semua orang sendirian.. aku butuh teman.. aku butuh orang yang bisa diajak memikul semua itu bersama-sama.."


"Selama ini aku selalu ada. Tinggal bagaimana dirimu melihatku.. apakah aku cukup pantas menjadi seseorang yang bisa kamu andalkan..?"


Tian merengkuh tubuh Arini begitu dalam. "Hanya kamu yang pantas. Sayang, mari siapkan diri kita untuk menghadapi hari esok. Demi Sean dan demi adik Sean yang ada didalam sini.. aku berjanji untuk menjadi Daddy yang terbaik untuk mereka berdua.."


"Dan aku juga akan menjadi Mommy yang baik untuk mereka berdua.." lirih Arini.


Setiap kata dan ikhtiar terasa menyejukkan, mengalir lembut kedalam nadi.


Tian tidak tahan untuk membungkuk, hanya demi bisa menjangkau perut Arini yang masih terlihat sangat datar, melabuhkan ciumannya yang dalam dan lama disana.


Arini mengelus rambut halus Tian yang terlihat meriap disekitar area perutnya yang rata. Terus-menerus mengelus dengan lembut.. dengan penuh rasa sayang yang mengalahkan semesta..


...


Cinta memang hanyalah sebuah kata, yang mewakili sebuah perasaan yang tidak bisa terjabarkan oleh kata itu sendiri.


Cinta adalah sesuatu yang istimewa..


Cinta juga adalah sesuatu yang sederhana..


Cinta bisa hadir karena terbiasa..


Tapi cinta juga merupakan perasaan yang tidak bisa dipaksa..


Begitu indah..


Begitu rumit..


Berbagai macam rasa..


.


.


.


TAMAT.-


"I'm just a human.." seperti kata Tian.


Maaf, karena pada kenyataannya, Tian dan Laras memang pernah menikah meskipun hanya diatas kertas.


Maaf, karena pada kenyataannya, Laras lah yang dipaksa Tian dan Saraswati untuk menikah.


No body's perfect.. bahkan orang sehebat Sebastian Putra Djenar pun bisa melakukan kesalahan, tinggal apakah kita bisa menjadi wanita seperti Arini, yang berbesar hati untuk bisa menerimanya.. 🤗


"Kok tamat sih thor..?"


(Iya.. udah tamat.)


"Kok tamatnya begitu saja..?"


(Sedih..? sama aq juga sedih.)


"Padahal pengen liat babang Tian sama bebeb Rico yang menghadapi ngidamnya Arini dan Meta.."


(Baiklah.. tungguin saja BONUS CHAPTERNYA yah..)


See you.. my reader.. my kesayangan.. my lope-lope.. 🥰


Harapan Author cuma satu, kita akan terus bersama, di karya Author yang lain. Tak rela kehilangan kalian.. 🥺


Thx and always Lophyuu all.. 😘😘😍