CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 048


Mewakili comment salah satu reader, mungkin ada dari kalian juga yang bertanya dalam hati perihal kenapa Tian-Arini jarang nongol lagi.


Awalnya pada season 2, aq ingin memperkuat konflik Tian-Arini, tapi belum apa-apa sudah dibuat bimbang dengan sebagian besar yang gak mau ada konflik berat apalagi pelakor. Sampai benar-benar ada reader yang unfavorite CTIR karena awal season 2 yang dimulai dengan heavy conflict.


Sedih beud aq ya ampuunn.. di unfavorite loh.. karena mencari pembaca itu sangat susah..  (kalian tentu tau bagaimana perjuangan author yang nyampah di grup setiap waktu), dan kebetulan author tidak


memilik viewer seperti author lain, yang nyampe belasan, puluhan, bahkan ratusan ribu, yang selalu dicari-cari reader dimanapun berada.


Keberuntungan author cuma satu, yaitu memiliki segelintir kalian yang setia dengan novel ini. So, akhirnya alur season 2 di rombak total, nyaris 90%, sehingga muncullah pasangan-pasangan baru yang unyu-unyu berupa Rico-Meta, si Om.. egh, Rudi-Laras. Hehehe.. 😍


Mari kita relakan Tian-Arini bahagia yah.. tapi.. nah, untuk tapi-nya tetap ada. Tinggal menunggu eksekusi. Apa akan tetap diangkat.. atau malah menjadi hidden part.


Who knows ?


Nikmati saja alur-nya yang sekarang yah.. biarkan mengalir ibarat mata air.. karena season 2 benar-benar lahir dari ketikan yang “Ada waktu, ada ide, lanjuutt..” , makanya jangan heran kalau up-nya pun tidak teratur..


.


.


.


Gerah.


Itu yang sedang dirasakan Rico saat ini yang seolah menyiksa seluruh tubuhnya.


Kamar telah hening, namun tidak terhitung entah sudah berapa kali Rico membolak-balikkan badannya diatas ranjang kecil itu, yang sialnya setiap kali ia membuat gerakan sedikit saja, maka ranjang Meta akan langsung mengeluarkan bunyi berderit.


Hal itu cukup membuat Rico merasa salah tingkah sendiri mengingat bagaimana jika ibu Arum atau Mayra mendengar bunyi derit itu, karena kamar mereka terletak pas dan bersebelahan dinding dengan kamar Meta.


Suara ranjang Meta yang selalu berderit itu membuat otak Rico semakin buntu saja, sehingga Rico memutuskan untuk turun dari ranjang.


Begitu ia telah berdiri sempurna Rico pun menatap punggung Meta yang tidur membelakanginya.


“Bisa-bisanya dia tidur nyenyak dengan cuaca sepanas ini..”


Bergumam pelan, dan tanpa berfikir dua kali Rico membuka kaos polos yang ia pakai, membuatnya bertelanjang dada, seraya mengibas-ngibaskan kaos itu kebadannya dengan tujuan untuk


memperoleh tambahan kesejukan, namun sepertinya hal itu pun tidak banyak membantu.


Rico memilih duduk dikursi yang tadi sempat diduduki Meta. Begitu tubuhnya mendarat disana bertepatan dengan itu pula ponselnya yang berada diatas meja ikut berdering.


Nama Sebastian Putra Djenar muncul dilayar ponsel, membuat Rico secepat kilat memakai kembali kaos yang tadi sempat ia lepaskan kemudian meraih benda pipih tersebut dengan serta merta.. seraya beranjak keluar dari kamar Meta dengan perlahan.


“Hhmm… iya bro..”



XXXXX


Kata siapa malam ini Meta bisa tidur dengan nyenyak ?


Seperti halnya kegelisahan pak Rico, yang sanggup membuat tempat tidur Meta senantiasa berderit menandakan betapa seringnya pak Rico membalikkan tubuhnya kekanan dan kekiri, Meta juga tidak bisa tidur sama sekali.


Apakah cuacanya memang sedang gerah atau karena sedang berada sedekat ini dengan pak Rico diruangan yang sempit yang membuat Meta gerah..?


Entahlah..


Yang jelas saat ponsel pak Rico berbunyi Meta masih bisa mendengar suara pak Rico yang menyapa sang penelpon sambil beranjak keluar, mungkin tidak enak jika harus mengganggu Meta yang berpura-pura terlelap.


Sepertinya pak Rico memilih menerima panggilan itu tidak hanya diluar kamar.. melainkan diteras luar, karena tadi Meta juga mendengar bunyi anak kunci pintu depan yang diputar dari dalam untuk dibuka.


Sekian menit berlalu namun lelaki itu tak kunjung kembali, membuat Meta mau tidak mau berinisiatif untuk menyusul pak Rico.


Sejak tadi Meta memang sudah menimbang-nimbang bahwa meskipun ia merasa malu dan enggan.. tapi membiarkan pak Rico duduk sendirian diteras depan selarut ini membuat Meta sedikit merasa tidak enak. Apalagi Meta tau persis bahwa sejak tadi pak Rico tidak bisa tidur karena kondisi tempat tidurnya yang sempit, ditambah dengan hembusan kipas angin kecil diatas langit-langit kamar yang tidak bisa bekerja maksimal untuk menyejukkan udara.


Langkah Meta yang perlahan sontak terhenti, saat sayup-sayup telinganya menangkap suara Pak Rico yang terdengar sudah mulai tertawa pelan dan bergurau ringan, menandakan bahwa lelaki itu ternyata masih berada dalam sebuah pembicaraan.


Melihat gerak-gerik pak Rico yang berbicara dengan santai membuat Meta bisa menebak bahwa sepertinya yang menjadi lawan bicara pak Rico sejak tadi itu tak lain merupakan Ceo Indotama Group, siapa lagi kalau bukan Sebastian Putra Djenar.


Meta bahkan bisa mendengar bagaimana pak Rico menolak ajakan pak Tian untuk bermain golf pada hari minggu pagi dengan alasan sedang berada dirumahnya.


Merasa bahwa tidak seharusnya ia menyela pembicaraan itu membuat Meta hendak membalikkan tubuhnya manakala kalimat pak Rico membuat hatinya tertohok.


“Tidak ada yang seperti itu.. Tian.. semua ini buatku seperti sebuah transaksi barter belaka. Aku memenuhi semua kebutuhan mereka disaat yang tepat, dan begitupun sebaliknya. Its all about a money. Buatku satu milyar bukan apa-apa.. karena aku bahkan mampu memberikan apapun yang mereka mau.. kecuali satu hal.. masa depan..”


Mendengar itu Meta hanya bisa berbalik kembali kekamarnya, seraya menyusut ujung matanya yang telah tergenang.


XXXXX


Meta baru saja menyalakan kompor gas yang akan ia pakai untuk membuat nasi goreng sederhana, manakala ibu mendekatinya dengan tergopoh-gopoh. “Meta, Meta.. bangunkan suamimu dan katakan kalau barang-barang yang dipesan semuanya sudah ada didepan..”


“Barang-barang yang dipesan..? barang-barang apa..?”


“Jadi kamu tidak tau ?” tanya ibu Arum lagi dengan tatapan linglung, kemudian dengan cepat mengambil alih spatula yang ada ditangan Meta. “Sebaiknya kamu melihatnya sendiri..” ujar ibu Arum lagi mengisyaratkan bahwa dia yang akan meneruskan pekerjaan Meta untuk membuat nasi goreng.


Tangan Meta meraih sarbet bersih diatas meja untuk melap tangannya seraya bergegas keluar untuk melihat barang-barang apa yang dimaksud ibu sehingga merasa perlu untuk membangunkan Rico yang saat ia tinggal tadi pagi masih terlelap diatas tempat tidurnya.


Meta tidak tau jam berapa Rico masuk kedalam kamarnya, karena yang jelas sampai Meta tertidur dengan pengantar air mata Rico bahkan belum juga masuk kedalam kamarnya.


“Ini.. apa-apaan semua ini ?” Meta terhenyak mendapati begitu banyak kardus barang elektronik yang nyaris memenuhi ruang tamu.


“Aku yang memesannya..” Rico muncul dari balik pintu kamar masih dengan wajah penuh kantuk.


Meta melotot mendengar jawaban itu. “Semua ini ?” ulangnya masih tidak percaya dengan apa yang sedang ia saksikan, dimana beberapa orang pria belum juga berhenti memasukkan beberapa kardus dengan label salah satu brand elektronik yang barusan di launching oleh best electro, perusahaan Rico.


Rico yang tidak menghiraukan wajah protes Meta malah berucap santai. “Tolong ac-nya langsung dipasang saja..” berucap pada pria yang baru saja menurunkan kardus ac yang kedua.


“Pak Rico.. apa maksud semua ini ?” Meta menatap Rico dengan aura yang menandakan penolakannya yang kentara atas semua barang-barang elektronik yang sudah membuat sesak seisi rumahnya dalam sekejap.


“Kamu tidak lihat ? ini barang-barang elektronik..” Rico berucap santai masih dengan wajah bantalnya yang entah kenapa masih saja terlihat menawan.


“Maksudku ada apa dengan semua ini..? mengapa tiba-tiba membawa begitu banyak barang..?”


“Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin membelinya untuk melengkapi semua fasilitas yang ada didalam rumahmu. Itu saja.”


“Tapi..” mengambang, karena Rico sudah mengibaskan tangannya sambil kembali kedalam kamar dengan langkah terayun acuh, sanggup membuat seluruh adrenalin Meta memacu sehingga nekad menyusul langkah Rico kedalam kamarnya.


“Pokoknya aku tidak mau, angkat kembali semua barang-barang itu.. aku tidak sudi menerimanya !"


.


.


Bersambung..


TRIPLE UP-nya untuk hari ini.. 🥳


Doain author biar bisa capai 60k 🙏


Favoritekan novel ini, like dan comment setiap bab-nya, dan berikan hadiah serta vote yang banyak.. adalah harapan author selalu.. 👍


Thx and Lophyuu all.. 😘