
Rico baru saja keluar dari ruang kerjanya saat ia melewati kamar Rei yang telah hening, tidak seperti beberapa jam yang lalu saat ia sayup-sayup masih mendengar suasana kamar itu masih begitu ceria dipenuhi suara celoteh dan gelak tawa Rei yang renyah, bersenda gurau bersama wanita yang entah kenapa selalu diyakini Rei sebagai mommy-nya itu.
Rico melongokkan kepalanya lewat pintu yang tidak terkunci, diatas ranjang ia melihat Meta tertidur sedikit menyamping, dengan Rei yang juga tertidur dengan posisi meringkuk rapat disampingnya.
Sebenarnya Rico enggan untuk mendekat, mengingat sepertinya ia tidak sopan jika mendekati Meta yang sedang tertidur pulas, namun melihat pemandangan begitu manis yang sanggup menggetarkan jiwanya itu membuat langkahnya terayun begitu saja tanpa ia kehendaki.
Rico menarik kursi tunggal yang ada didekat meja, menaruhnya lebih dekat disisi ranjang. Kemudian setelahnya ia telah terduduk disana ..., terpekur lama.
Nyeri dihati Rico terasa nyata saat ingatan membawanya kembali pada kenangan.
Bersama Lila, Rico bahkan terlalu sering melihat pemandangan serupa. Mendapati Rei dan Lila yang telah tertidur saat menunggunya pulang bekerja.
Sampai detik ini Rico bahkan belum bisa mempercayai, jika pada kenyataannya ... saat ini ... dirinya dan Rei telah kehilangan Lila untuk selama-lamanya ...
XXXXX
Meta baru selesai menelpon ibu, yang ternyata bahkan sudah tahu bahwa ia sedang berada diluar kota karena tugas urgent dari perusahaan.
“Memangnya ibu tau darimana kalau aku sedang berada diluar kota?” tanya Meta keheranan saat menyadari apa yang dikatakan Pak Rico ternyata benar.
Ibu memang tidak mengkhawatirkan lagi perihal dirinya yang tak lagi pulang ke rumah, bahkan untuk tiga hari kedepan, karena ternyata ibu telah mengetahuinya sebelum Meta memberitahu.
“Nak Rudi yang memberitahukan ibu tadi sore."
“Jadi Rudi menelpon ibu? Tapi ... kenapa dia bisa menelpon ibu ...?” tanya Meta lagi saat mengingat lelaki itu bahkan belum menghubungi dirinya sama sekali.
Biasanya sesibuk apapun Rudi minimal selalu mengirimkan pesan untuk Meta, meskipun hanya berupa ucapan selamat tidur atau mengingatkan dirinya agar tidak telat makan.
Meta bahkan telah mengecek kotak masuk semua media sosial yang ia punya tapi hasilnya nihil. Rudi benar-benar tidak pernah menghubunginya sampai malam ini dan itu membuat Meta merasa sedikit kehilangan.
Meskipun sudah jelas-jelas diantara mereka belum ada ikatan apapun ... tapi kedekatan mereka belakangan ini membuat Meta merasa terbiasa dengan kehadiran Rudi beserta perhatiannya yang minim itu.
‘Apakah lelaki itu sangat sibuk ...?’
Meta membatin.
“Tentu saja bisa. Calon menantu idaman ibu bisa menelpon ibu kapan saja ...” lamunan Meta terputus saat mendengar kalimat diseberang yang terucap dengan nada penuh kebanggaan.
“Ibu! Ibu ini bicara apa ...?” Meta memekik tertahan, sebelum kemudian refleks menutup mulutnya saat menyadari Rei yang tertidur disampingnya terlihat menggeliat, mungkin merasa sedikit terusik dengan intonasi suaranya yang tiba-tiba meninggi.
Kalimat ibu yang selalu bersemangat saat menganugerahkan gelar calon menantu idamannya kepada Rudi itu membuat kepala Meta menjadi semakin pening saja.
“Kenapa kalian tidak pergi keluar kota bersama-sama ...?”
“Ibu!” Meta merasa benar-benar harus memutuskan kalimat ibunya yang terdengar semakin under control.
“Meta, kamu tidak perlu meneriaki ibu seperti itu. Ibu kan hanya bertanya ...”
“Tapi pertanyaan ibu sungguh aneh. Kalau Rudi tau apa yang sedang ibu bicarakan saat ini ... apa ibu tidak akan merasa malu ...?”
“Tidak. Untuk apa ibu malu? Ibu sangat menyukai Nak Rudi, dan Nak Rudi juga sangat menyukaimu. Kamu saja yang selalu berpura-pura bodoh ...”
“Astaga ibu ...” Meta bergumam nyaris putus asa, tanpa sadar kepalanya sudah menggeleng berkali-kali. “Hhh ... baiklah ... terserah ibu, dan sebaiknya aku harus mengakhiri pembicaraan ini secepatnya karena ibu semakin tidak bisa diajak bicara ...”
Tanggapan diseberang terdengar seperti sedang melengos namun Meta tidak lagi mengambil peduli. Karena yang penting saat ini ibu sudah tahu bahwa dirinya sedang berada diluar kota dan tidak mungkin pulang ke rumah seperti skenario awalnya Pak Rico yang selalu mengatasnamakan Pak Tian dalam segala tindakan semena-menanya agar bisa menekan dirinya yang pasti tidak lagi memiliki keberanian melontarkan protes.
“Iya ... iya ... bekerjalah dengan baik. Karena jika besok kamu menikah, belum tentu Nak Rudi masih mengijinkanmu bekerja apalagi sampai tidak pulang berhari-hari seperti saat ini ...”
“Ibu!” suara Meta kembali tercekat mendengar kalimat ibunya lagi-lagi. ”Akh ... baiklah ibu, aku akan menutup telponnya sekarang. Assalamu alaikum, bu..”
Meta buru-buru mengakhiri pembicaraan itu sebelum kepalanya benar-benar akan meledak jika terus menerus meladeni ibu.
Belum ada beberapa saat setelah pembicaraan itu berakhir, tiba-tiba saja ekor matanya menangkap bayangan Pak Rico yang mendekati kamar yang ditempatinya, yang pintunya memang sedikit terpentang itu.
Mendadak tanpa alasan yang jelas Meta malah langsung memejamkan kedua matanya, berpura-pura tertidur seperti Rei tepat saat lelaki itu berdiri diambang pintu.
Kedua mata Meta memang tertutup, namun telinganya yang awas bisa mendengar jelas bunyi langkah halus yang mendekat, menyusul derit suara kursi yang ditarik samar.
Meta bahkan bisa merasakan hawa disekitarnya tiba-tiba menjadi gerah seketika, begitu hidungnya lagi-lagi menangkap aroma khas Pak Rico yang entah kenapa terasa sangat
menyenangkan untuk dihirup, dan kemudian lagi terasa mendebarkan saat udara yang memenuhi rongga hidungnya itu mengirimkan signal aneh ke otaknya.
Selanjutnya adegan tanpa kata dan tanpa gerak didalam kamar itu semakin lama terasa semakin menyiksa. Membuat Meta harus mengutuk dirinya berkali-kali mengapa tadi ia begitu bodoh saat memutuskan untuk melakukan acting berpura-pura tidur, karena yang ada posisinya yang sekarang telah membuat beberapa bagian tubuhnya terasa keram dan mulai mati rasa saking takutnya ia melakukan pergerakan sekecil apapun yang bisa membuat pak Rico curiga bahwa dirinya sedang menipu lelaki itu dengan berpura-pura terlelap.
Dalam keheningan yang terus merajai ... tanpa disadari, ingatan Meta dan Rico tiba-tiba tertuju pada kejadian yang sama.
Kejadian beberapa jam yang lalu, yang diawali oleh rengekan Rei yang semakin lama semakin menuntut.
‘Daddy ... ayo cium mommy ...’
‘Daddy ... come on, dadddyyy ...’
Saat itu sepasang mata Rei yang awalnya berbinar ceria telah berganti dengan tatapan memohon saat melihat permintaan awalnya tidak direspon kedua orang dewasa dihadapannya.
Dan saat Rico dan Meta masih membeku tanpa kata tatapan Rei kembali berubah menjadi sendu.
Sambil menatap Rico dan Meta berganti-ganti tiba-tiba tangis Rei sudah pecah begitu saja..
‘Daddy ... huuhuu ... daddy tidak mau cium mommy lagi ...? daddy tidak sayang mommy lagi ...? daddy tidak sayang Lei ... daddy ...’
‘Cup.’
Deg ...
Deg ...
Deg ...
Waktu terasa berhenti.
Dua buah detak jantung yang masing-masing bunyinya tidak lagi seperti sebuah detak, namun sudah lebih mirip dengan bunyi tambor yang sedang dipukul orang gila, saking begitu kuat debarannya ...!
Mata mereka bertatapan, pupilnya masing-masing saling melebar satu sama lain.
Terhenyak. Terdiam tanpa kata ... dan mereka terus seperti itu sampai beberapa jenak lamanya.
Bahkan saat tangis Rei telah berganti dengan senyum yang terkembang sempurna ...
Disusul dengan gelak tawa riang Rei yang terdengar begitu bahagia memenuhi seluruh sudut ruangan ...
Bahkan setelah Rei yang tanpa mereka sadari telah melompat-lompat kecil diatas ranjang karena tidak lagi berada diantara mereka ...
Rico yang tersadar lebih dulu memilih berpaling membuang muka, sebelum akhirnya bangkit dari duduknya, tanpa bicara melangkah keluar kamar dengan langkah yang terlihat terayun datar.
Tak ada yang tahu bahwa didalam sana ... jantung Rico seolah ingin berteriak menyerah karena tak kuat lagi menahan kerasnya adrenalin yang sedang menguasai dirinya.
Yang dirasakan Rico sesungguhnya merupakan perpaduan dari rasa terkejut yang bercampur amarah ... dan bercampur lagi dengan sebuah rasa aneh yang entah apa namanya ...
Sementara Meta yang tersadar setelahnya refleks menutup kedua matanya kuat-kuat, seraya dalam hati langsung mencaci dirinya sendiri.
‘Aku sudah gila!’
‘Aku benar-benar sudah gila!!’
‘Kenapa tadi aku berani sekali menciumnya??’
‘Apa yang saat ini ada dibenak **P**ak Rico menerima perbuatan memalukan yang aku lakukan? Lelaki itu pasti merasa marah! Lalu bagaimana kalau lelaki itu menganggap aku murahan ... karena perbuatan nekad ku ini?’
Terus membathin penuh penyesalan saat sekelabat bayangan adegan yang entah mendapat dorongan setan darimana yang membuat dirinya nekad mendekatkan wajahnya dengan Pak Rico dan menempelkan bibirnya begitu saja dipipi lelaki itu kembali terputar ulang.
Meta bahkan bisa melihat dengan jelas dan begitu dekat bagaimana kedua mata Pak Rico membelalak sempurna dan lelaki itu bahkan melakukan hal yang sama seperti dirinya ... yakni berhenti menarik nafas untuk beberapa saat.
Bahkan betapa lembutnya kulit Pak Rico saat tersentuh permukaan bibirnya masih jelas terasa ... astaga ...
‘Kenapa, Tuhan? Kenapa aku bisa dengan mudahnya melakukan kebodohan yang memalukan seperti itu?!’
Bathin Meta berteriak, belum juga berhenti dan merasa puas menyalahi diri sendiri saat mengingat entah kenapa setiap rengekan Rei selalu membuat dirinya luluh tak berdaya dan selalu ingin melakukan apa saja agar bisa dengan segera mengembalikan keceriaan bocah itu?
Hati Meta terasa seperti sedang menangis darah menyadari betapa memalukan dirinya yang telah melakukan kebodohan terbesar yang paling memalukan diatas bumi ini..
.
.
.
Bersambung..
Tolong di Like 🙏
Tolong di Comment 🙏
Tolong di Vote 🙏
Bantu author mempertahankan level karya novel yang gak famous ini diakhir bulan yah ... pliss ... 🙏 karena dukungan kalianlah yang akan mempengaruhi performa level novel diawal bulan Juni nanti.
Jangan sampai turun lagi levelnya, karena level karya, merupakan moodboster setiap author. Thx and Lophyuu all. 😘