
Follow my Ig. @khalidiakayum
...
Bukan hanya juragan Nurdin beserta tiga orang anak buahnya yang menatap Rico tak percaya, tapi ibu Arum dan Meta juga tak kalah terhenyak sambil menatap sosok Rico yang masih berdiri dengan posisi yang sama, menggendong Rei.
“Tuan ... anda yakin mau membayar dua kali lipat?” juragan Nurdin nampak mengawasi tas berisi penuh uang tunai itu dengan seksama, kemudian menatap Rico kembali.
Pria tua itu masih sulit mempercayai kenyataan, bahwa malam ini ia bisa membawa pulang uang cash satu milyar rupiah yang kini berada tepat dihadapannya.
Rico mendengus menanggapi kalimat juragan Nurdin. Ia lebih memilih menatap Dani yang duduk berhadapan dengan juragan Nurdin di kursi yang ada diruangan tamu tersebut.
“Dani, berikan surat perjanjiannya, lalu cepat selesaikan semuanya. Aku mau menidurkan Rei dulu.” titah Rico dengan intonasi suara dingin.
“Baik, Pak.” Dani menjawab seraya mengeluarkan beberapa surat perjanjian pelunasan hutang sekaligus pernyataan yang harus ditandatangani oleh juragan Nurdin untuk memutuskan semua urusan hutang piutang dengan ibu Arum.
Sesuai kesepakatan, juragan Nurdin memang harus menandatangani surat bermeterai itu terlebih dahulu, kalau ingin mendapatkan uang pelunasan hutang sebesar dua kali lipat dari Rico.
Rico menatap Meta yang masih mematung ditempatnya. “Dimana aku harus membaringkan Rei? dia sudah tertidur ...”
“Di ... kamarku ...”
Rico terdiam sejenak.
“Ibu Arum, tolong duduk disini saja. Karena semua urusan hutang piutang semuanya atas nama ibu, maka kita akan menyelesaikan segala urusannya sekarang agar tidak lagi berbuntut panjang dikemudian hari.” Dani berucap panjang lebar seraya menatap ibu Arum yang akhirnya mengangguk dan mengambil tempat duduk tepat disisi Dani.
Meta menatap Rico yang masih berdiri mematung ditempatnya. Seperti memahami kebingungan yang berkecamuk didalam otak Rico akhirnya Meta kembali berucap meski terdengar sedikit ragu.
“Mari ikutlah denganku, Pak Rico..” bisik Meta seraya beranjak terlebih dahulu yang kemudian diikuti Rico dengan langkah yang juga meragu.
Memasuki kamar yang sempit, dengan sebuah ranjang yang tidak terlalu besar, akhirnya masih tanpa berkata apa-apa Rico meletakkan Rei yang sudah tertidur pulas keatas ranjang.
Meta menyalakan kipas angin kecil yang tergantung dilangit-langit kamar, kemudian mengambil beberapa buah guling dan menaruhnya dikiri dan kanan Rei.
Rico terus mengawasi setiap gerak-gerik Meta, namun ia langsung mengalihkan wajahnya dengan cepat manakala Meta menoleh kepadanya begitu aktifitasnya usai.
Dengan berpura-pura sibuk mengamati sekeliling kamar, Rico sedikit terhenyak saat menyadari bahwa selama seminggu terakhir putranya yang selama ini hidup bergelimang kemewahan telah tidur dikamar super sempit dengan bunyi suara kipas angin yang terdengar semakin berisik disaat keadaan hening.
“Pak Rico ... kenapa Pak Rico memberikan begitu banyak uang kepada juragan Nurdin?” Meta kini sudah berdiri tegak dihadapan Rico dengan ekspresi wajah protes yang kentara.
Namun meskipun demikian intonasi suara Meta tetap terdengar rendah, dengan tujuan agar tidak mengusik Rei yang terlelap pulas sambil memeluk guling dengan nyaman.
“Memangnya kenapa? anggap saja aku sedang bersedekah dengan juragan tua itu ...” Rico menjawab asal-asalan, dengan intonasi suara yang juga rendah.
Meta mendengus kecil. “Tidak bisa
begitu Pak Rico. Kalau caranya seperti itu Pak Rico bukannya membantu, tapi malah balik menyusahkan ...”
“Aku ...? memangnya aku telah menyusahkan siapa?!” Rico hampir tidak bisa mengontrol volume suaranya mendengar kalimat menjengkelkan yang keluar dari bibir Meta barusan.
“Tentu saja menyusahkan diriku. Memangnya menyusahkan siapa lagi?”
Rico terlihat membuang nafasnya kesal mendengar pernyataan yang seolah semakin ingin menyudutkannya.
“Apa Pak Rico tidak sadar? hutang yang tadinya hanya lima ratus juta rupiah sekarang berubah menjadi satu milyar rupiah dalam sekejap. Bagaimana aku harus membayarnya? aku menjual ginjalku saja kepada Pak Rico harganya tidak akan sampai satu milyar kan?”
Rico menatap wanita dihadapannya
tanpa berkedip.
“Kau mau menjual ginjalmu kepadaku? memangnya ginjalmu terbuat dari berlian sehingga harganya satu milyar rupiah?” ujar Rico dengan nada kesal.
“Justru karena itu. Lalu apa yang
harus aku lakukan untuk membayarnya? bekerja sampai mati pun, aku tetap tidak akan bisa mengumpulkan uang sebanyak itu ...”
“Kata siapa kamu tidak bisa membayarnya? tentu saja kamu bisa..”
“Bisa? tapi bagaimana caranya, Pak Rico?” Meta merasa nyaris gila memikirkannya.
“Dirimu.”
“A-appa ... m-maksud ...”
“Aku mau dirimu. Aku mau menikahimu. Untuk apa bekerja sampai mati dan menjual ginjal ...? kamu hanya perlu menjadi istriku, dan menjadi mommy untuk Rei. Itu saja.”
Lagi-lagi Meta terhenyak.
Inikah yang disebut lamaran?
Meta tidak pernah dilamar sebelumnya. Tapi drama korea kesukaannya terlalu sering menggambarkan adegan manis yang begitu uwwu dari moment tersebut.
Bukankah sebuah lamaran biasanya identik dengan hal yang romantis? Tapi yang barusan itu apa? kenapa kesannya seperti sebuah transaksi tawar-menawar dipasar tradisional?
“Jadi ... untuk menjadi istri Pak Rico harganya satu milyar rupiah ...?” Meta tertawa tanpa suara, sebelum kembali berucap. “Ternyata hargaku mahal sekali ...” mendesis sambil tersenyum miris.
Harga diri Meta merasa terluka mendapati kenyataan, bahwa ternyata lamaran Pak Rico untuk dirinya tidak lebih dari sebuah transaksi.
“Jangan salah paham ...”
Meta menggeleng sendu. “Menikah bukanlah bahan lelucon, Pak Rico. Jangan bermain-main dengan ...”
"Usiaku sekarang tiga puluh empat tahun. Apakah saat ini aku terlihat sedang bermain-main? apakah kamu pikir aku seorang remaja labil yang memutuskan sesuatu tanpa memikirkannya dengan baik terlebih dahulu?”
Meta tertunduk menerima kalimat
tegas itu. Tiba-tiba air bening mengalir begitu saja dikedua pipinya, seolah sedang berlomba-lomba untuk jatuh lebih awal.
Meta tertunduk dalam. Kalau sudah seperti ini, jika Meta menolak, dirinya merasa sudah seperti orang yang tidak tau pamrih.
“Baiklah, Pak Rico, apapun yang
Pak Rico inginkan, aku setuju."
Rico terhenyak, tidak menyangka
akan semudah itu mendapat persetujuan Meta. Namun melihat Meta yang terus menunduk dengan bulir air mata yang terus jatuh dengan deras hatinya justru merasa tidak nyaman.
“Untuk berapa lama?" ucapan Meta selanjutnya terdengar sangat lirih.
“Untuk berapa lama aku diperlukan untuk menyandang status sebagai istri Pak Rico?” kemudian Meta menatap Rico dengan tatapan berurai air mata. “Apakah sampai Rei menyadari bahwa aku bukan mommy-nya?”
Pertanyaan itu menohok tepat sasaran hati sesuai di ulu hati Rico, karena memang seperti itulah kenyataan yang ada diotak Rico.
Rico memang membutuhkan Meta hanya sampai Rei terbiasa menjalani hidup tanpa kehadiran Meta. Tidak seperti saat ini, meskipun setiap hari Rei bisa melihat foto Lila yang ada di hampir disetiap sudut rumah mereka, tapi entah kenapa Rei selalu kembali kepada Meta.
Hal itu merupakan sesuatu yang
masih menjadi misteri besar bagi Rico, tentang penyebab yang membuat Rei berfikir demikian.
Hingga detik ini.tak ada seorang pun yang tau termasuk dirinya pun belum mengetahui jawabannya..
“Apakah aku juga membutuhkan kontrak perjanjian seperti Arini dulu?” berucap sendu.
Rico membuang pandangannya,
menguatkan tekadnya dengan tidak membuat hati kecilnya melemah.
Ia tidak mungkin mundur sekarang
kan ...?
Karena semuanya bahkan seperti
sudah ter-skenario dengan baik oleh 'semesta alam', seperti istilah andalan Tian.
“Aku tidak mau membahasnya
sekarang. Saat ini aku hanya perlu mendengar apakah kamu setuju atau tidak, dan tadi aku sudah mendapatkan jawabannya.” Rico berucap dingin, sambil keluar dari kamar sempit milik Meta, meninggalkan Meta yang kembali merasakan kedua matanya yang menghangat begitu saja.
XXXXX
Juragan Nurdin dan tiga orang
anak buahnya yang berbadan kekar telah pergi meninggalkan rumah ibu Arum dengan membawa satu tas penuh uang tunai sebesar satu milyar.
Sesaat setelah kepergian keempat
orang itu Dani asistennya Rico pun ikut pamit terlebih dahulu. Kepergian Dani bertepatan dengan kedatangan Mayra, adik perempuan Meta yang muncul dibingkai pintu seraya mengucapkan salam.
“Ibu ... kenapa ... kenapa semuanya berantakan?” Mayra tercengeng saat melihat kekacauan di teras rumah mereka. Ia menatap sejenak seorang lelaki dewasa dengan wajah tampan dan penampilan formil yang duduk diruang tamu bersama ibunya dengan tatapan was-was.
“Itu ulah preman-preman yang
sering datang menagih hutang kesini, Nak.”
“J-jadi ...”
“Tidak apa-apa Mayra, masuklah kedalam dulu, karena sekarang ibu sedang menerima tamu..” pungkas ibu Arum memupus rasa ingin tahu yang bercampur satu dengan rasa kekhawatiran Mayra.
“Baik, bu..” Mayra akhirnya menganguk patuh dan masuk kedalam.
Mayra yang baru saja pulang dari
mengikuti bimbel persiapan ujian nasional, berniat ingin mandi terlebih dahulu namun langkahnya urung saat mendengar isakan lirih dari kamar kakaknya. Ragu akhirnya ia memilih mengetuk pintu itu perlahan sebelum melongokkan kepalanya.
Mayra terkejut saat menyadari bahwa telinganya tidak salah mendengar, kakaknya Meta sedang duduk dipinggir ranjang dengan suara isak tertahan, sementara dibelakangnya Rei telah tertidur dengan pulas.
“Kak ... ada apa? kenapa kakak menangis?” Mayra masuk kedalam kamar dan ikut duduk ditepian ranjang.
Meta menggeleng berkali-kali, namun tak kunjung berucap sepatah katapun. Hanya air mata yang terlihat terus mengalir dikedua belah pipinya.. membuat Mayra beringsut mendekat hanya untuk bisa memberi pelukan kepada kakaknya, berharap pelukannya mampu mengurangi kesedihan yang ada meski ia tidak tau dengan pasti duduk persoalannya.
Sementara itu ...
Diruang tamu ibu Arum masih terdiam ditempat duduknya. Ia belum bisa berucap apapun setelah mendengar apa yang dikemukakan oleh Rico barusan tentang niat lelaki itu untuk menikahi putri sulungnya Meta sesegera mungkin.
“P-Pak Rico, apa boleh ibu bertanya?”
“Tentu saja, Bu, tapi sebelumnya,
aku harap aku tidak dipanggil 'Pak' lagi oleh ibu.”
“B-baiklah, kalau begitu ibu panggil Nak Rico saja, boleh?”
Rico mengangguk takjim.
“Begini Nak Rico.. pertama-tama ibu ingin mengucapkan terima kasih karena Nak Rico sudah membantu ibu dan Meta menghadapi kesulitan besar dengan juragan Nurdin. Tapi mengenai niat Nak Rico ingin menikahi Meta, ibu merasa perlu tau alasan apa yang membuat Nak Rico ingin menikah Meta secepat ini ...?”
Rico menarik nafasnya sejenak. “Maafkan aku, Bu. Mungkin waktunya sangat tidak tepat, membicarakan hal seperti ini disaat ibu baru mengalami musibah. Tapi sejujurnya tanpa kejadian ini pun aku sudah bertekad untuk meminta restu ibu, agar bisa menikahi Meta. Seminggu ini ibu pasti bisa melihat sendiri bagaimana Rei menyayangi Meta, begitupun sebaliknya. Rei bahkan telah menganggap dan meyakini Meta sebagai mommynya. Sedangkan
aku, setelah ini aku juga tidak mungkin menahan Meta terus-menerus bersama Rei tanpa ikatan yang jelas diantara kami berdua ...”
Ibu Arum mengangguk mendengar
penjelasan panjang lebar Rico. Jauh didasar hatinya ia juga membenarkan semua perkataan Rico.
Meta dan Rei sudah terlalu dalam memiliki kedekatan perasaan, menjauhkan mereka dalam waktu dekat sepertinya tidak mungkin. Lagipula Meta adalah putrinya, bagaimana mungkin ibu Arum tidak bisa melihat bagaimana putrinya yang polos itu bereaksi terhadap Rico, karena semuanya terlihat dengan sangat jelas dimatanya sebagai seorang ibu.
Yang membuat ibu Arum meragu hanyalah satu, apakah perasaan lelaki dihadapannya ini sama dengan perasaan putrinya?
Rico bahkan baru saja menyandang status duda setelah kehilangan istrinya. Apakah dia bisa memperlakukan putrinya dengan baik? apakah dia bisa menerimanya?
Ibu Arum tidak ingin melihat putrinya terluka. Tapi menolak lamaran Rico.. terlebih setelah lelaki itu membuatnya berhutang budi sekaligus materi dengan menyelesaikan persoalan mereka dengan juragan Nurdin ...? bagaimana bisa ibu Arum melakukannya?
“Apakah pak Rico juga menyayangi Meta ...?” meskipun begitu ibu Arum tetap menguatkan hati, untuk bisa menanyakan hal itu. Setidaknya dia harus mendengarnya sendiri, sebagai jaminan untuk ketenangan hatinya sebagai orang tua.
Rico terdiam sejenak sebelum akhirnya meyakinkan mulutnya untuk mengucapkan sebuah kalimat, meskipun didalam hatinya sebenarnya sangat tidak yakin.
“Ibu, percayalah ... kalau Rei bisa, tentu saja ... aku juga pasti bisa ...”
...
Bersambung ...
Please give me your Like, Comment, and Vote. Thx and Lophyuu all ... 😘