
"Sejak kapan kamu mengenal, Han..?"
Mendengar pertanyaan tersebut alis Laras nampak berkerut sejenak.
"Maksudku.. sejak kapan kamu mengenal Han dan Hil.." ralat Rudi pada pertanyaannya sendiri.
"Ohh.. itu.." ujar Laras sambil berfikir sejenak. "Aku mengenal mereka dipantai tadi siang, sebelum aku ketempat cenderamata.." jawab Laras tanpa beban, karena memang itulah kenyataannya. " Memangnya ada apa, kak?"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya heran saja mengapa kalian bisa saling mengenal dan berteman, karena baru kali ini aku melihat kamu memiliki teman. Aku bahkan tidak tau bagaimana kalian bisa saling mengenal.. karena sepertinya kamu juga belum menceritakannya.."
"Oh itu karena aku.. aku rasa itu bukan hal penting yang harus aku ceritakan.."
Rudi mengerinyit sejenak. Sudut hatinya mau tak mau kembali terusik.
'Keanehan apa lagi ini? mengapa sekarang Laras bahkan telah membedakan mana hal yang penting dan tidak penting ia ceritakan? bukankah selama ini Laras selalu suka bicara tentang apapun tanpa memilah..?'
"Sudahlah, aku lelah, dan besok kita bahkan harus bangun dini hari untuk mengejar penerbangan pertama.." pungkas Rudi tidak mau dibuat repot memikirkan semua keanehan Laras.
Usai berucap demikian Rudi langsung membalikkan tubuhnya lagi dengan acuh, mengabaikan ekspresi Laras yang masih menatapnya dengan mulut terkunci.
Laras sendiri merasakan hal yang sebaliknya. Ia sama sekali tidak bermaksud untuk tidak menceritakannya, hanya saja Laras seolah baru tersadar bahwa selama ini Rudi bahkan tidak ingin tau dengan apa saja yang ia lakukan dan ia temui, untuk itulah Laras memilih untuk berhenti berbicara berlebihan, satu hal kecil yang selama ini selalu ia abaikan, bahwa Rudi bahkan terlihat sedikit terganggu jika ia mulai berceloteh tentang ini dan itu.
Semua itu bukan salah Rudi, setiap hari ritme pekerjaan lelaki itu memang begitu berat, mungkin itulah penyebabnya Rudi terlalu lelah untuk hanya sekedar mendengar terlebih meladeni pembicaraannya yang buat lelaki itu tidak bermutu.
Laras sudah hafal semuanya diluar kepala saat menatap punggung kekar Rudi yang membelakanginya. Jika sudah membelakanginya seperti ini atau bahkan menelungkup, itu berarti Rudi benar-benar ingin tidur dan tidak ingin diganggu. Hanya saja selama ini dirinya cukup tidak tau diri, karena selalu saja menempel ditubuh Rudi seperti benalu, terus memeluk tubuh kaku seperti sebatang kayu, yang bahkan enggan merespon pelukannya yang terlalu memaksa disetiap malam.
XXXXX
Pukul sembilan pagi ketika Rudi dan Laras telah kembali menginjakkan kakinya di airport, setelah melewati penerbangan yang kurang dari satu jam.
"Aku akan langsung ke kantor pusat, tidak apa-apa kan pulang sendiri?" tanya Rudi seraya melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya, sebelum akhirnya menoleh kearah Laras sekilas.
"Tidak apa-apa kak, aku bisa naik taxi ke apartemen.."
"Oh, iya.. sepertinya hari ini aku akan sangat sibuk. Aku akan pulang larut malam.."
"Iya kak, aku juga akan kembali ke kota B untuk mengurus pekerjaan yang.."
"Sebaiknya kamu memang harus kembali secepatnya. Sudah tau pekerjaanmu begitu banyak.. malah memilih ikut pak Tian berlibur.."
Laras membisu disamping Rudi yang terus bergerak disampingnya. Ia bahkan sedikit kesulitan ketika harus mengimbangi langkah panjang Rudi yang terus melangkah kearah pintu keluar airport.
"Sudah memesan taxi?" tanya Rudi begitu mereka berdiri diluar.
"Sudah, kak.."
Rudi mengangguk, karena ia sendiri sedang menunggu mang Sudir yang telah berada di area parkiran airport sejak beberapa saat yang lalu.
Kemudian Rudi terlihat sibuk mengeluarkan ponsel, mengaktifkannya kembali sehingga beberapa notifikasi terdengar masuk secara beruntun disana.
"Kak.. sepertinya sore nanti aku akan langsung ke kota B.."
"Menyetir sendiri?"
"Iya kak,"
"Ya sudah.. hati-hati dijalan.." ujar Rudi sambil kembali mengalihkan fokus kearah ponsel, sibuk membaca beberapa pesan masuk yang satu diantaranya berasal dari pak Tian, yang berisi beberapa arahan dan petunjuk yang harus ia lakukan dalam menggantikan Ceo Indotama Group pada meeting penting yang akan dilaksanakan siang ini.
XXXXX
Rico tersenyum lebar menyaksikan tawa riang Meta dan Rei yang bermain kejar ombak di bibir pantai bersama Arini dan Sean.
Tangan Meta terlihat terus menggenggam tangan mungil Rei, dengan sigap mengikuti kemanapun kaki mungil Rei melangkah bahkan berlari.
"Dari tadi senyum-senyum terus, kering tuh gigi.." ujar Tian sambil menghempaskan tubuhnya keatas kursi santai tepat disebelah Rico.
Rico tertawa mendengar godaan Tian.
"Perasaan baru kemarin aku mendengar, ada yang mengatakan padaku tidak butuh istri apalagi cinta.."
"Love is blind and unpredictable.." ujar Rico sambil nyengir, yang langsung ditanggapi cibiran oleh Tian. "Jangan menyindir.. kamu bahkan pernah mengalaminya lebih dahulu dengan Arini.."
"Beda konteks.." protes Tian cepat.
"Apanya yang beda?"
"Apanya yang beda? apa kamu pernah mendengar aku sesumbar? penolakanku kepada Arini hanya ada didalam hati.. tapi kamu bahkan berkali-kali menepuk dada saat mengatakan tidak mungkin jatuh cinta dengan Meta."
Rico menggaruk kepalanya sendiri, mati kutu oleh tudingan Tian yang tepat sasaran.
Mau tidak mau dirinya memang harus mengakui bahwa ia telah berlebihan saat menolak kehadiran Meta untuk masuk dalam hidupnya. Sikapnya yang begitu kasar, dingin, dan sangat memandang rendah Meta.. akhirnya harus ia balas impas dengan perasaan menggebu yang tidak bisa ia jabarkan dengan kata-kata, bagaimana saat ini ia sangat tergila-gila dengan wanita mungil yang bahkan sejak dulu tidak pernah masuk dalam hitungannya itu.
Sementara Tian, meskipun ia bisa berucap sombong dihadapan Rico namun dihati kecilnya ia juga bahkan kerap menyesali setiap ia mengingat betapa buruknya ia memperlakukan Arini diawal pernikahan mereka dulu.
"Tian, aku bahkan tidak menyangka jika hatiku bisa dikuasai wanita itu. Bagaimana bisa? Meta bahkan berseliweran dalam hidupku sekian lama.. dan aku tidak pernah menyangka bahwa hari ini, aku bisa menatapnya dengan seluruh rasa cinta yang aku punya.."
Tian terbahak mendengar kalimat Rico yang terucap dengan sepenuh jiwa. Bagi Tian semua itu terlihat luar biasa, gelagat Rico saat ini sangat jauh berbeda dengan saat bersama Lila dulu, meskipun Rico selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Lila, namun dimata Rico tidak pernah ada binar yang berpendar seperti saat ini.
"Kak Rico? astaga.. awalnya aku nyaris tidak percaya, tapi ternyata benar.."
Saat Rico dan Tian sama-sama mengangkat wajahnya mereka berdua sama-sama menelan ludah.
Dengan baju minim dan sexy ala-ala style pakaian pantai yang minimalis, Shela dengan empat teman wanita disisi kiri dan kanan termasuk salah satunya seorang waria yang tak kalah cantik, nampak berdiri dihadapan Rico dan Tian begitu saja.
Shela terlihat terperangah saat menyadari bahwa orang yang sejak awal ia anggap hanya mirip Rico itu ternyata benar-benar Rico adanya.
"Shel, jadi kamu mengenal pak Rico?" Erin, salah satu teman Shela menatap Shela dengan tatapan aneh.
"Tentu saja. Calon suamiku, bagaimana tidak kenal?"
Rico tersedak mendengarnya, sementara Tian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mulai memahami alur drama yang sedang tersaji didepan hidungnya, apalagi saat melihat wajah Rico yang mulai pias seolah maling yang tertangkap tangan.
"Apa?"
Erin terlihat terhenyak mendengar jawaban Shela, namun detik berikutnya wanita berkulit putih dengan rambut panjang itu nampak menatap Rico dengan sepasang mata yang mulai berkaca.
"P-Pak Rico.. jadi ini penyebab Pak Rico menghilang begitu saja.. tidak lagi mau menerima telponku dan membalas semua pesanku lagi..? karena Pak Rico mau menikah dengan Shela? sahabatku sendiri?" tuding Erin dengan berurai air mata.
Rico menggaruk kepalanya yang terasa semakin gatal, saat menyadari ternyata salah satu teman Shela adalah Erin, wanita yang pernah ia dekati diwaktu yang lalu sebelum Shela.
"Dasar 'kang ghosting.." bisik Tian sambil terkikik dibelakang telinga Rico yang sontak memerah mendengar ledekan Tian.
"Apa? bicara apa kamu, Rin..?" Shela yang terhenyak tak kuasa menahan diri menowel bahu Erin dengan sedikit kasar.
Erin yang mendapati perlakuan Shela beserta kenyataan didepan hidungnya memilih berbalik dan berlari kearah hotel dengan bahu terguncang. Meninggalkan teman-temannya yang lain yang hanya bisa meneriaki namanya berkali-kali, namun tak ia indahkan.
"Co, siapa mereka ini..?" bisik Tian lagi.
"Sumber masalah..!" pungkas Rico dengan tatapan yang mengarah penuh pada Meta dan Arini yang tengah berdiri tegak mengawasi mereka berdua dari kejauhan, siap beranjak mendekat begitu Rei dan Sean berpindah tangan kearah suster mereka masing-masing.
"Egh nek.. by the way.. itu bukannya Sebastian Putra Djenar, Ceo Indotama Group yang terkenal itu..?" Fechay nampak berbisik ditelinga Gia.
"Kayaknya deh, omegat.. hensem banget cyint.." Gia mulai megap-megap bak orang kepedesan.
Sedikit demi sedikit tubuhnya dan Fechay semakin menepi.. mencari celah guna mendekati lelaki tampan yang sedang bersama Pak Rico, calon suami Shela itu.
"Shela, kita harus meluruskan kesalahpahaman ini.." ucap Rico setelah beberapa saat bingung memilih kalimat yang tepat untuk ia ucapkan.
"Tentu saja, karena kak Rico harus menjelaskan mengapa Erin mengatakan hal itu.."
Rico menggeleng. "Tidak, ini bukan tentang Erin.." ucap Rico lagi.
"Maksudnya..?"
"Ini tentang dirimu. Kenyataannya aku bukan calon suamimu.."
"Kak..?!" wajah Shela memerah, malu bercampur pias mendengar kalimat Rico yang tanpa ragu.
"Aku sudah menikah. Jadi kita tidak mungkin.."
"Aku tidak percaya..!" sergah Laras.
"Aku bersungguh-sungguh, Shel.. aku bahkan berlibur ditempat ini bersama istriku."
Dan saat Shela mengikuti arah telunjuk Rico, Shela nyaris pingsan ditempatnya begitu menyadari siapa gerangan wanita yang dimaksud Rico sebagai istrinya itu. Wanita itu sedang berjalan mendekat kearah mereka.
"W-wanita yang bukan siapa-siapa..??!" Shela terhenyak.
Rico tersenyum kecut mendengarnya. "Dia bukanlah wanita yang bukan siapa-siapa. Dia Meta, istriku, pemilik hatiku, juga pemilik hati Rei.."
.
.
.
Bersambung..
Like
Comment
Vote
Tip,
Subscribe,
Rate 5,
Author banyak maunya.. ðŸ¤
Thx and Loohyuu all.. 😘