
Pliss Like and comment yah.. 🤗
Jangan lupa.. ting.. ting.. 😍
.
.
.
Saat Arini keluar dengan wajah berseri dari ruangan Ceo Indotama Group, dengan serta merta Tian langsung mendial kembali nomor dokter Hans untuk kedua kalinya.
“Halo, dok.. ini saya lagi..”
“Iya, pak Tian, saya baru saja mau menghubungi untuk memberitahukan, bahwa barusan saya sudah menelpon dokter Rina dan membicarakan perihal permintaan pak Tian. Dokter Rina sudah setuju untuk bertemu secara pribadi, besok jam lima sore di klinik pribadinya, pak..”
Dokter Hans menjelaskan panjang lebar.
Tian membuang nafasnya sejenak. “Begini, dok.. saya mau minta bantuan dokter lagi..” ucapnya dengan berat hati namun tidak memiliki pilihan lain.
“Apa itu pak Tian ? katakan saja
jangan sungkan..”
Ujar dokter Hans diseberang sana. Mengingat kehidupan gemilang, nama besar dan karir cemerlangnya yang diperoleh dengan mengabdi pada Keluarga Djenar selama hampir sepuluh tahun ini, tentu saja dokter Hans akan dengan senang hati menyanggupi semua permintaan Ceo Indotama Group itu. Apalagi saat ini dia juga tercatat sebagai salah satu dokter senior di Rumah Sakit Indotama Medical Center, salah satu rumah sakit terbesar dan terelite di ibukota milik keluarga Djenar.
“Begini dok.. sebelum konsultasi besok, saya ingin bertemu dokter Rina terlebih dahulu sore ini. Kalau bisa, diruangan dokter Hans saja.”
“Baiklah, pak Tian tenang saja, saya akan pastikan bahwa pak Tian bisa menemui dokter Rina diruangan saya, sore ini juga..”
---
Jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan Tian menunjukkan pukul lima sore saat Tian yang didampingi Rudi tiba didepan ruangan dokter Hans.
Rudi mengetuk pintu ruangan itu sejenak, sebelum membukannya, membuat dua orang yang sudah berada didalam ruangan itu sontak langsung berdiri menyambut kehadiran Tian.
“Saya akan menungu diluar, pak..” ucap Rudi takjim yang ditanggapi angukan Tian.
“Mari pak Tian, silahkan masuk..” dokter Hans keluar dari kursinya mendekati Tian. “Pak Tian, ini dokter Rina, “ dokter Hans langsung memperkenalkan dokter wanita paruh baya yang terlihat seumuran dengannya.
“Perkenalkan, saya dokter Rina Aminarti, panggil saja dokter Rina, saya dokter obygyn yang diminta secara khusus oleh dokter Hans untuk melakukan konsultasi dan test pada besok hari.” dokter Rina memperkenalkan diri sambil tersenyum ramah.
“Salam kenal dokter Rina, saya Sebastian Putra Djenar, orang yang sudah merepotkan dokter Hans agar bisa menemui dokter sebelum pertemuan besok..” ucap Tian sengaja berucap santai untuk mengurai suasana. Kalimatnya itu sontak disambut senyum dokter Rina, sementara dokter Hans nampak menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali.
“Tidak.. tidak.. itu sama sekali tidak merepotkan. Saya justru sangat senang jika bisa membantu pak Tian..” ujar dokter Hans, yang disambut senyum tipis Tian. “Mari, pak Tian.. kita teruskan pembicaraan kita sambil duduk..dan untuk dokter Rina, mungkin bisa duduk ditempat saya saja dulu agar pak Tian bisa berbicara dengan lebih nyaman..” ucapan dokter Hans disambut angukan oleh Tian dan dokter Rina.
Tian menghempaskan tubuhnya kekursi, sementara dokter Rina sudah bertukar posisi dengan dokter Hans yang sekarang sudah duduk bersisian dengan Tian.
“Baiklah pak Tian.. apa yang bisa saya bantu ?” dokter Rina sudah membuka percakapan yang serius itu.
Tian menarik nafas sejenak sebelum akhirnya memulai pembicaraan.. “Ini mengenai istri saya, dokter..”
Meskipun terlihat tetap tenang namun didalam hati dokter Hans yang ada disisi Tian sebenarnya cukup kaget mendengar hal itu. Dirinya tidak menyangka sama sekali jika Ceo Indotama Group sekaligus pemilik Indotama Medical Center tempat mereka berada saat ini sudah menikah, karena setahunya selama ini pengusaha sukses yang kaya raya dan sangat berkuasa itu masih melajang.
“Intinya sebenarnya kami adalah pasangan yang baru menikah, kami juga melakukan hubungan suami istri baru sebulan ini. Tapi istri saya mendesak untuk melakukan medical check up dan juga test kesuburan..”
“Maaf pak Tian, tapi sebelumnya saya hanya ingin tau apa sebelum menikah tidak melakukan pre marital check up ?”
Tian menggeleng. “Istri saya belum pernah sekalipun melakukan medical check up, tapi saya rutin melakukannya termasuk melakukan test kesuburan yang sejauh ini hasilnya sangat baik.” Saat mngucapkan hal itu dokter Hans nampak juga terlihat menganguk. Tentu saja dokter Hans membenarkan kalimat Tian tersebut karena dirinya juga salah satu tim yang selalu terlibat dalam proses medical check up rutin untuk Ceo Indotama Group ini.
Kemudian dengan nafas yang terhempas berat Tian berucap lagi, “Oleh karena itulah saya ingin menemui dokter terlebih dahulu, to the point saja, dokter Rina, saat ini saya sedang ingin meminta pertolongan dokter ..”
“Saya ingin besok saat saya membawa istri saya ke klinik, kiranya dokter bisa menjelaskan semuanya dengan mengatakan hal yang baik-baik..”
“Saya akan mengingatnya pak Tian, dan saya akan mencoba menjelaskan semua tentang proses kehamilan ke istri pak Tian dengan sebaik-baiknya..”
“Saya juga memohon kerjasama dokter Rina, untuk tidak mengatakan apapun yang akan mengesankan bahwa sebenarnya saya sudah sering melakukan test yang dimaksud..”
“Maksud pak Tian ?” kali ini dokter Rina tidak bisa menangkap apa keinginan Tian.
“Dokter pasti tau perihal efek dan resiko medical check up, yang tidak bisa dilakukan sesering mungkin dalam waktu relative singkat kan ?”
Dokter Rina serentak menganguk. Memang benar bahwa medical check up meskipun sebaiknya harus dilakukan secara rutin tapi tidak boleh dilakukan terlalu sering. Beberapa pemeriksaan yang melibatkan sinar radiasi jika terlalu sering dilakukan dalam jangka waktu dekat akan menyebabkan gangguan kesehatan dalam jangka panjang. Terlalu sering terpapar sinar tersebut bahkan dapat meningkatkan resiko mengidap kanker dan masalah pada pembuluh darah dimasa yang akan datang.
“Saya tidak mungkin melakukan medical check up lagi, tapi agar istri saya berfikir bahwa kita akan melakukannya pemeriksaan itu bersama-sama.. tentu saja saya memerlukan kerjasama dokter Rina dalam hal ini..”
Dokter Rina kembali menganguk. “Saya mengerti pak Tian..” ucapnya lagi setelah memahami kemana arah pembicaraan Tian.
“Dan yang terakhir dok..”
Kali ini Tian terdiam cukup lama, menarik nafas beberapa kali..
“…Terlepas dari apapun hasilnya medical check up dan test kesuburan tersebut, entah itu hasilnya baik, entah itu hasilnya buruk.. entah istri saya memiliki persoalan dalam kesehatannya atau tidak.. katakanlah kepada istri saya bahwa dirinya baik-baik saja. Tolong jangan katakan sesuatu yang buruk.. saya mohon dengan sangat, dokter Rina..” suara Tian terdengat berat dan begitu dalam.
Kali ini dokter Rina terdiam lama.
“Saya tau hal ini mungkin melanggar kode etik,” Tian berucap lagi. “Tapi dokter Rina, sekali lagi saya mohon.. saya harus melakukan semua ini demi ketenangan hati istri saya. Dia terlalu ingin menanti berita yang baik, saya tidak bisa lagi membuatnya kecewa dengan menyuruhnya bersabar..”
Dokter Rina tidak langsung menjawab, menatap lekat dokter Hans, seperti sedang meminta pertimbangan. Tapi saat melihat dokter Hans menganguk dengan yakin.. dokter Rina seperti tidak lagi memiliki pilihan lain untuk menolak.
“Baiklah pak Tian.. saya tau pak Tian melakukan ini karena bentuk rasa cinta kepada sang istri, agar tidak terbebani dengan apapun yang menjadi hasil pemeriksaan nanti. Tapi hal itu bisa diterima, karena memang pada umumnya, fikiran yang tertekan bisa memicu terjadinya stress, sedangkan stres akan membuat masa subur atau waktu ovulasi wanita berkurang bahkan berhenti, sehingga hal itu bisa membuat wanita sulit untuk hamil. Umumnya stres yang bisa mempengaruhi kesuburan adalah stres yang konstan. Tapi pak Tian jangan khawatir, besok saya akan mencoba meyakini istri pak Tian semaksimal mungkin.. bahwa dengan tidak terlalu membuat hal itu menjadi beban dan lebih rileks menjalani hubungan suami istri pasti bisa membuat masa kesuburan berjalan dengan normal..” dokter Rina berucap panjang lebar.
Meskipun terkesan sedikit menyalahi aturan sebagai seorang dokter, tapi sebaliknya hati nurani dokter Rina justru lebih tersentuh menyaksikan betapa besarnya kasih sayang seorang yang hebat seperti Sebastian Putra Djenar, Ceo Indotama Group yang berkuasa, yang bahkan melakukan hal sejauh ini, yang pada kasus lain belum tentu akan dilakukan oleh para suami demi menjaga perasaan seorang istri.
Sementara itu Tian masih terdiam. Meskipun hatinya lega bisa mendengarkan secara langsung jaminan dari dokter Rina, tapi ia masih sempat berfikir apakah dirinya sudah melakukan hal yang salah ?
Tidak.. sisi hatinya sontak menolak. Tian merasa sedang melakukan hal yang benar, karena dirinya melakukan semua ini agar tidak ingin membuat arini kecewa.
Kenyataan terpahit jika Arini memiliki tingkat kesulitan untuk hamil sudah pasti bisa memukul bathin Arini dan bisa membuatnya sedih.
Tian tidak ingin itu terjadi. Sejauh ini betapapun sulitnya Tian akan berusaha untuk menjaga hati dan perasaan istrinya lebih dulu.. sebelum memikirkan hal yang lain..
.
.
.
.
.
Bersambung…
(*Pre marital check up : atau cek pra nikah, adalah pemeriksaan badan yang dilakukan oleh pa sa ngan sebelum menikah).
Selamat menyambut bulan suci Ramadhan untuk kalian semua yang merayakannya.. terima kasih tak terhingga atas dukungan kalian selama ini yang sudah menemani “CEO Tampan dan Istri Rahasia” semoga “ALLAH SWT” berkenan melimpahkan nikmat dan rezki yang berlimpah ruah untuk kita semua.. Amin Yra..Marhaban Yaa Ramadhan.. 🙏🙏🙏
Lophyuu my readers.. more and more.. 😘😘😘