
Tian bukan tidak menghitung hari. Tian mengingat dengan pasti bahwa sudah seminggu lebih ia benar-benar mengerahkan seluruh fikirannya untuk memikirkan keputusan seperti apa yang harus ia ambil. Disisi lain sebagai lelaki Tian sudah sangat menginginkan Arini menjadi istrinya yang sesungguhnya, disisi lain Tian malah tidak yakin dengan perasaan Arini.
Apakah tidak terlalu egois jika ia menginginkan Arini seutuhnya sementara Arini belum tentu menginginkannya..? Lalu apakah ia juga siap jika nantinya terjebak dalam dilema seperti yang dialami Rico ? Tian menggeleng.. itu mengerikan.
Tian sendiri tidak yakin apakah nantinya ia akan mampu berhenti, atau justru menjadi seperti Rico yang akhirnya terus menenggelamkan diri karena tidak bisa mengendalikan diri dan emosi, sehingga lupa bahwa seperti apakah wanita mereka memaknai hubungan itu sendiri. Karena sama halnya seperti Lila, Arini bahkan bersedia menikah hanya karena menginginkan Tian menanggulangi semua biaya perawatan ayahnya. Sebesar itu cinta seorang Arini kepada ayahnya, dan betapa brengseknya jika Tian justru mengambil kesempatan didalamnya.
Malam itu, sesaat setelah ia memutuskan untuk mengikuti Rico yang memilih alkohol untuk melupakan pemasalahan hatinya yang gundah akibat hubungannya yang absurd dengan Lila, Tian yang awalnya ikut minum bersama akhirnya memutuskan untuk menjadi penonton kegalauan Rico yang mabuk berat, sampai-sampai ia harus mengerahkan beberapa orang bodyguard-nya untuk mengantar Rico pulang kerumahnya.
Sejak malam itu pula Tian tidak kembali ke apartemen. Tian memutuskan untuk menginap di kamar khusus miliknya yang ada di kantor pusat Indotama Group, mencoba berdamai dengan keegoisannya yang telah mengambil keputusan yang maha berat, yakni berusaha menjaga jarak dengan Arini, sambil berharap dalam waktu kurang dari enam bulan Sadana Ramdhan harus menemukan donor jantung yang tepat. Karena jika dalam kurun waktu enam bulan seperti dalam perjanjian itu berakhir dan ayah Arini masih belum menemukan pendonornya, sementara keinginan Saraswati untuk mendapatkan pewaris keluarga Djenar dari Arini belum juga terwujud, hal yang paling ditakutkan Tian adalah jika Saraswati tidak akan tinggal diam, dan kemudian mengambil keputusan yang akan berimbas pada perawatan ayah Arini.
Setelah keputusan yang begitu sulit dimalam itu, Tian benar-benar berusaha untuk mengacuhkan Arini. Tapi sialnya baru seminggu lebih melakukan hal bodoh itu Tian sudah merasa bathinnya begitu tersiksa. Bagaimana tidak, Tian bahkan harus berupaya keras untuk tidak mencoba menyentuh remote pembuka tirai penutup dinding kaca yang sebelumnya menjadi hobi barunya, dan Tian bahkan harus menegakkan kepala saat berjalan melewati jejeran kubikel yang satu diantaranya ditempati Arini.
Tapi tadi sore saat Tian tanpa sengaja menemukan sepasang mata Arini yang lekat padanya, entah Tian berhalusiansi atau tidak.. tapi ia bisa merasakan percikan kerinduan dikedua bola mata jernih itu.
Terus berfikir tentang Arini, membuat Tian tak sadar jika dirinya sudah berada didepan pintu apartemennya.
Saat ini Tian sudah menyerah. Wajah Arini di sore tadi terus membayanginya, membuat Tian merasa akan mati jika tidak melihat wajah itu sekarang.
Menekan sederet nomor yang tak lain adalah tanggal pernikahannya dengan Arini pada door access control yang terpasang di pintu apartemen. Entah kenapa Tian merasa hatinya ikut menghangat saat melakukannya.
Pintu apartemen terbuka, Tian melangkah pelan. Sesaat ia terpaku saat melihat Arini yang tergolek diatas sofa ruang tamu. Gadis itu tertidur tepat menghadap pintu.
‘Apakah Arini sedang menunggunya ?’
Batin Tian seraya menghampiri dengan langkah perlahan.
Menatap lekat wajah terlelap itu, hati Tian seperti sedang dialiri air pegunungan yang maha sejuk. Jadi seperti inikah rasanya saat ditunggui seseorang yang menginginkannya pulang..?
“Arini..”
Panggil Tian perlahan, setelah menyadari ia tidak akan pernah cukup puas saat terus menatap wajah polos yang terlelap itu.
Hening.
Hanya terdengar hembusan nafas halus yang teratur dari sana. Rupanya Arini benar-benar terlelap. Tian jadi tidak tega membangunkannya.
Tian membungkuk, membopong tubuh Arini yang terlelap dan membawanya kekamar. Sepanjang langkahnya terayun matanya tak lepas menatap wajah polos tanpa make up yang kepalanya terkulai lemah didadanya. Tian tersenyum menatap pemandangan yang manis itu.
Sesampainya didalam kamar Tian langsung membaringkan tubuh Arini keatas ranjang. Menatap kembali wajah itu sesaat sebelum memutuskan untuk masuk kedalam kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi yang pertama Tian lakukan hanyalah mengawasi tubuh Arini yang masih tergolek diatas ranjangnya.
Tian tersenyum, dengan matanya yang tak lepas memandangi Arini, ia membuka jam tangannya dan menaruhnya diatas nakas, menaruh jasnya dikeranjang cucian dan sejenak ia seperti tersadar dan mengurungkan niatnya yang baru saja berniat membuka kancing kemejanya.
Tian mengurungkan niatnya untuk tidur bertelanjang dada seperti kebiasaan tidurnya selama ini, ia tidak ingin membuat Arini shock jika mendapatinya setengah naked diatas tempat tidur yang sama dengannya.
Akhirnya Tian memutuskan untuk hanya membuka kancing kemeja yang ada dipergelangan tangannya kemudian menggulung lengan kemejanya sampai siku serta membuka dua kancing atas kemejanya.
Tian naik keatas tempat tidur dengan gerakan perlahan seperti takut membangunkan bidadari yang sedang terlelap dalam buaian mimpi itu, memposisikan dirinya menghadap tepat pada wajah Arini yang posisi kepalanya kebetulan sekali juga menoleh kearah Tian.
Tian tersenyum dalam hati mendapati pemandangan yang entah bagaimana bisa sangat menentramkan hatinya itu. Tian terus menatap wajah itu sampai ia tidak menyadari sejak kapan ia jatuh terlelap kealam tidurnya.
XXXXX
Lila bisa mendengar jelas bunyi suara mesin mobil yang berhenti dibawah sana. Lila hafal betul bahwa itu suara mobil Rico.
Lila masih mengingat dengan jelas, sejak kapan ia selalu berpura-pura terlelap seperti ini. Lila begitu malu untuk mengakui bahwa sejak Rico tidak pernh lagi meminta haknya sebagai suami, seluruh perasaan Lila ikut menjadi gersang. Lila tidak mengerti apa yang membuat Rico berubah. Apakah secepat itu lelaki playboy itu bosan padanya ?
Ahh.. Lila sungguh merindukan kenakalan suaminya itu, namun apalah daya dirinya terlalu malu untuk meminta penjelasan Rico apalagi meminta di nafkahi secara bathin..?
Tidak.. Tidak.. Mana mungkin ia akan melakukan hal yang memalukan seperti itu..?
Alhasil Lila memilih berpura-pura terlelap setiap malam saat lelaki itu pulang, berharap Rico akan memeluk dan mengganggu tidurnya seperti malam-malam sebelumnya, meskipun akhirnya Lila harus menelan kecewa karena Rico seperti telah berubah menjadi sosok yang tidak dikenali Lila lagi.
Suara halus yang timbul akibat langkah perlahan Rico yang menapaki ubin kamar bahkan bisa didengar Lila dengan jelas, namun ia keukeuh tidak bergerak meskipun dadanya begemuruh hebat.
Sementara Rico yang baru tiba dikamar langsung bisa menangkap pemandangan sosok tubuh wanita yang terbalut selimut sedang tidur memunggunginya.
Rico melirik sekilas jam yang ada dipergelangan tangannya. Pukul satu dinihari. Rico menghempaskan nafasnya berat.
Sejak insiden kira-kira seminggu yang lalu Rico memang selalu sengaja pulang larut malam bahkan dinihari hanya untuk menghindari Lila.
Seperti malam-malam sebelumnya Rico akan mendapati Lila yang sudah tertidur, dan pada keesokan harinya saat ia bangun Lila pasti sudah berangkat bekerja. Mereka tidak pernah bicara, dan bukan hanya itu.. Rico bahkan berhenti menyentuh Lila.
Yah.. ini bisa menjadi catatan rekornya, karena tercatat sejak awal menikah, Rico bahkan tidak pernah absen menyentuh Lila sekalipun tak peduli siang, malam, atau dinihari. Rico juga tidak pernah peduli apakah Lila sedang lelah, baru pulang kerja, atau bahkan sudah tertidur sekalipun, Rico selalu saja bisa membuat Lila bertekuk lutut dan meminta hak nya setiap kali ia ingin.
Rico masuk kekamar mandi dengan pikiran gundah.
‘Sial..’
Rico merutuk dalam hati. Tantangan terberatnya setiap kali melihat Lila adalah juniornya yang selalu saja terbangun begitu saja. Rico bahkan tidak mengerti mengapa acap kali berdekatan dengan istrinya hasrat kelelakiannya selalu menggebu tanpa bisa dibendung. Alhasil setiap malam mau tak mau Rico harus mengguyur tubuhnya untuk mendinginkan darahnya yang mendidih atau dengan terpaksa harus bermain solo agar sang junior bisa ditidurkan kembali.
Seperti malam ini Rico memutuskan untuk mengguyur tubuhnya sejenak sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi, memakai kaos oblong dan celana boxer terlebih dahulu sebelum naik kesisi tempat tidurnya.
Rico melirik sekilas punggung Lila yang ada disisi tempat tidur yang lain. Sungguh ia sangat merindukan wanita itu. Rico rindu ingin memeluknya seperti malam-malam sebelumnya.. rindu ingin merasakan manisnya bibir yang merekah.. rindu ingin mencicipi setiap inchi kulit mulusnya.. dan terlebih rindu pada kegiatan panas yang rutin mereka lakukan..
Akhh !!
Rico meringis saat menyadari fikirannya yang sudah mulai travelling kemana-mana hanya dengan menatap punggung Lila saja.
Mencegah ia akan bertindak diluar kendali dan menerkam istrinya tanpa ampun akhirnya Rico memilih berbalik dan memungungi Lila. Mencoba memejamkan mata, menghalau fantasy-fantasy liar yang seolah berlomba-lomba
mengotori otak mesumnya.
Tidak.. tidak.. sebelum ia bisa mengartikan makna dari hubungan mereka, sebelum ia bisa menyelami hati dan fikiran Lila, dan yang terpenting sebelum ia sendiri merasa siap untuk menerima kenyataan yang harus ia hadapi saat mendapati jawaban dari semua pertanyaannya itu, Rico sudah terlebih dahulu memutuskan untuk mempersiapkan dirinya sendiri terlebih dahulu.
Rico sudah bertekad untuk melakukan semua itu, dan itu berarti ia harus menanggalkan semua keegoisannya, luapan emosi dan hawa nafsunya terlebih dahulu.
.
.
.
Bersambung..
Yuk ah, subscribe profil author dulu, biar jari author tetap sehat untuk lanjutin bab nya.. ahahaha..
Lophyuu.. Readers.. 🤗🤗🤗