CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Bertemu ayah


(Hi, my dear readers, you’re the best !! whatever you say that’s my mood booster..!!😍💪)


Lophyuu kalian selalu..


.


.


.


“Efek samping pasca operasi selain penolakan tubuh terhadap jantung baru meliputi ketidak normalan detak jantung, rentan infeksi, arteri menyempit, bahkan sampai pada sulitnya jantung baru bekerja dengan normal. Tapi karena sebelum operasi kondisi tubuh Pak Sadana sudah sangat siap serta terkontrol dengan sangat baik, maka resiko yang ditakutkan tersebut memiliki kemungkinan yang sangat kecil.”


“Tubuh akan menyesuaikan diri pada enam bulan pertama setelah transplantasi, sehingga pasien harus mengkonsumsi obat setiap hari, yang bertujuan untuk menenangkan bagian system imun yang secara konstan menyerang jantung baru.”


“Meskipun kecanggihan teknologi metode transplantasi jantung kian meningkat, dan pasien yang menjalani transplantasi jantung belakangan semakin baik harapan hidupnya. Tapi, mengingat jantung hasil transplantasi sangat rentan terhadap gangguan kesehatan maka pasien harus berada dalam pengawasan dokter, melakukan check up kesehatan rutin, olahraga yang sesuai, serta pengaturan pada pola makan. Harapan hidup pasien setelah mejalani prosedur tersebut tidak bisa disama ratakan, tapi khusus untuk kasus pak Sadana, kami sangat optimis.”


Penjelasan panjang lebar dokter Fadli tadi pagi masih mengiang jelas dibenak Arini.


Sadana Ramdhan sudah dipindahkan dari ruang pengawasan ke ruangan khusus saat Tian dan Arini datang menemuinya untuk pertama kali, setelah terlebih dahulu mereka menemui dokter Fadli diruangannya guna berkonsultasi serta menerima penjelasan yang lengkap mengenai kondisi terkini ayah.


Saat ini Arini duduk disisi Sadana, sedari tadi terus menggenggam jemari ayahnya seolah tak rela untuk melepaskan.


“Yah, apa benar ayah merasa baik-baik saja ?” Arini telah menanyakan pertanyaan yang sama itu untuk yang ketiga kalinya.


Sadana menganguk. “Tentu saja merasa lebih baik, nak..  apa kamu tidak bisa melihat sendiri bagaimana kondisi ayah sekarang ?”


Arini mengawasi Sadana lekat. Meskipun suara ayah masih terdengar lirih tapi tidak bisa dipungkiri bahwa raut wajah ayah memang terlihat sangat baik. Dokter Fadli memang sudah mengatakan sebelumnya bahwa operasi transplantasi jantung, walaupun merupakan operasi besar tapi memiliki tingkat kesuksesan yang cukup signifikan. Tingkat bertahan hidup dalam setahun bisa mencapai lebih dari 80 %, dan dalam lima tahun lebih dari 70 %, dengan kualitas hidup yang baik.


Saat ini Arini merasa sangat ingin menangis haru melihat kondisi ayah yang sangat melegakan hatinya. Tubuh ayah bahkan terlihat lebih berisi dibandingkan terakhir kali Arini memeluknya usai pernikahan, tapi seraut wajah tampan yang berdiri disisi lain ranjang perawatan ayah kerap mengingatkan dirinya lewat isyarat berupa gelengan kepala yang samar setiap saat, mencegahnya agar tidak meneteskan air mata setidaknya didepan ayah.


"Efek obat biusnya masih terasa tidak, yah ?”


“Tidak lagi, nak Tian. Ayah hanya merasakan sedikit efeknya setelah siuman pasca operasi, itupun hanya berlangsung selama beberapa hari, tidak sampai satu minggu.”


Tian mengangukkan kepalanya dengan perasaan lega. Padahal dokter Fadli telah menyampaikan perihal efek dari obat bius tersebut sampai pada kondisi tubuh yang akan mengalami fase panik, dengan diterimanya sel-sel antibody ke bagian jantung yang akan mempercepat proses penyembuhan. Tapi tetap saja Tian merasa tidak yakin dengan pernyataan itu jika tidak mendengarnya sendiri secara langsung dari mulut ayah.


"Kapan kalian akan kembali, nak ?” Sadana mengelus lembut punggung tangan Arini, menatap Arini dan Tian berganti-ganti .


“Aku baru saja bertemu ayah, tapi ayah sudah menanyakan kapan aku kembali.. ayah tidak merindukan aku lagi ?” Arini merenggut.


Sadana tertawa sambil menggeleng kecil. “Bukan tidak menyayangimu, tapi kamu harus ingat saat ini kewajiban utamamu adalah mengurus suamimu, bukan ayah lagi. Lagi pula disini sudah banyak yang mengurus ayah, suamimu ini sudah menyiapkan semuanya.. tidak ada yang kurang satupun..”


Tian tersenyum mendengar kalimat Sadana.


“Jadi karena sudah banyak yang merawat ayah, aku tidak diperlukan lagi ? begitu ?”


Sadana dan Tian saling tatap sebelum akhirnya kembali tertawa mendengar gerutuan manja Arini. “Bukan seperti itu, Arini.. tapi kalian memang tidak boleh berada disini terlalu lama. Tian itu sangat sibuk, dia punya banyak urusan dan tanggung jawab. Kamu tidak boleh menahannya disini lama-lama.. mengerti ?”


“Iya ayah.. aku tau..” menjawab dengan wajah yang cemberut.


Tian yang masih betah dengan senyum yang menghias dibibirnya memilih mundur menuju kearah sofa yang ada disudut kamar rawat inap eksklusive itu. Memilih menyaksikan interaksi ayah dan anak itu dari jauh, memberikan ruang pada Arini untuk bermanja sepuasnya dan melepas kerinduan untuk sang ayah.


Sebuah koran lokal yang terlipat rapi diatas meja menarik perhatian Tian untuk meraih dan membolak-balik sejenak, mencari-cari berita yang sekiranya menarik untuk dibaca.


 


Arini yang menghempaskan tubuhnya tepat disamping Tian, membuat Tian yang awalnya sedang fokus membaca sebuah berita utama sedikit terhenyak.


“Tidur..” ucap Arini perlahan, sambil menyandarkan tubuhnya disandaran sofa yang empuk.


Sejenak pandangan Arini mengembara kesetiap sudut kamar rawat inap ayahnya yang sudah seperti kamar hotel berbintang. Kemewahan itu terlihat jelas pada semua fasilitas yang ada. Di desain lengkap dengan kamar keluarga dan pantry modern belum juga perabot seperti televisi, meja dan sofa empuk yang sedang mereka duduki sekarang. Kamar ini begitu luas dan sejuk meskipun aroma rumah sakit dengan bau obat yang khas masih bisa tercium samar diindera penciumannya.


Bukan hanya fasilitas yang wah, petugas keamanan bahkan terlihat berjaga dipintu masuk kamar dengan pengamanan smart card lock. Arini bahkan sempat berfikir, mengapa rumah sakit yang tidak terlalu besar dikotanya ini memiliki sebuah kamar rawat inap mewah seperti ini ? Sisi hati Arini bahkan sudah meyakini bahwa pastinya campur tangan Tian yang membuat semuanya seperti itu dalam sekejap. Semakin kesini Arini semakin menyadari bahwa lelaki yang adalah suaminya ini sudah seperti seorang pesulap, karena apa yang ia ingin lakukan sepertinya bisa langsung terkabul dengan begitu mudah.


‘Apa iya diriku seberuntung ini ? tidak cukup menjadi istri orang yang se-hebat dan se-keren ini.. saat ini aku bahkan diperlakukan dengan sangat baik. Apakah semua ini kenyataan ? ataukah ini hanya sebuah mimpi yang sangat indah sehingga aku bahkan enggan untuk bangun..?’


“Melamunkan apa ?”


Arini sontak menggeleng, sedikit terhenyak saat menyadari lengan kokoh itu sudah melingkari sepanjang bahunya, dan menariknya untuk merebahkan diri di dadanya. Orang yang sama dengan orang yang sedang memenuhi benaknya.


“Kata Rudi, besok sore kamu sudah harus kembali ?” mendongak guna mendapati wajah tampan suaminya itu.


“Iya, ada rapat penting pada hari senin pagi..”


“Boleh tidak kalau aku tidak ikut pulang. Aku masih ingin tinggal disini sebentar.” ucap Arini lagi dengan perasaan was-was, berharap Tian akan mengabulkan keinginannya.


Tian terdiam. Sebenarnya Tian merasa berat saat harus mengiyakan permintaan Arini, tapi saat ia menunduk untuk mendapati wajah yang sedang menengadah itu ia hanya bisa membuang nafas berat, sorot mata Arini yang penuh harap itu membuat hatinya melemah.


“Sayang.. boleh yah.” memberanikan diri menyentuh dagu tian sejenak dengan jari telunjuk.


‘Baiklah.. ditambah dengan rayuan yang seperti ini mana mungkin aku tidak luluh..’


Dengan nafas yang terhembus berat, Tian akhirnya menganguk juga. “Boleh saja, tapi aku bisa dapat sesuatu kan ?” bisiknya sambil menyentuh dahi Arini dengan bagian wajahnya yang sempat dimainkan wanita itu.


“Sesuatu ?” pupil mata Arini membesar.


Tian menganguk sambil tersenyum. “Entah kenapa aku selalu suka mendengar kamu memangilku ‘sayang’. Aku ingin seterusnya selalu dipanggil seperti itu..”


“Tidak masalah.” Potong Arini cepat. “Karena sepertinya aku juga suka memanggilmu seperti itu..” Arini tersenyum malu-malu.


Tian tersenyum lebar, mengecup puncak kepala pemilik wangi mint campur lavender itu beberapa kali yang diakhiri dengan gerakan mengacak rambut itu sebentar, kemudian ia melirik jam tangan rolex yang ada dipergelangan tangannya sejenak.


“Makan siang dulu, yuk.. aku lapar..”


Arini menggeleng perlahan. “Aku tidak mau meninggalkan ayah,” lirihnya.


“Kalau begitu kita makan disini saja. Aku akan menyuruh Rudi memesankan sesuatu..”


Arini menganguk menandakan dirinya setuju dengan ide Tian.


.


.


.


.


Bersambung...


Like and Comment ya...


Lophyuu.. all..