CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 - 084


"Damned.. Meta, jangan membuatku gila.." Rico menekan masing-masing kedua tangan Meta dengan tangannya. Sinar matanya bersinar tajam, seperti harimau yang sedang lapar.


Meta menggeleng, menahan air mata yang hendak meloloskan diri dari kelopak matanya yang memanas. "Pak Rico.. aku bukan wanita yang bisa dibayar.."


Mendengar itu Rico tertawa sinis. "Kamu lupa kalau selama ini kamu selalu memintaku untuk membayar semuanya..?"


Meta terdiam. Hanya wajahnya yang tiba-tiba terus memanas, menahan sakit akibat penghinaan yang diakibatkan oleh keegoisannya juga, yang selalu memberi harga untuk mengalihkan persoalan hatinya selama ini.


"Kamu selalu bilang hargamu mahal kan..? dan itu memang benar. Sebelum menikahimu aku sudah mengeluarkan uang tunai satu milyar tanpa ragu. Menjadi suamimu.. aku terus memberikan banyak hal yang sesuai dengan hitunganmu. Sekarang aku mau dirimu. Berapa harganya ?"


Meta membuang muka, begitu menyadari wajah Rico yang begitu dekat diatas wajahnya. Saking dekatnya.. nafas hangat lelaki itu terus menerpa kulit wajah Meta.


"Kenapa diam ? masih belum jelas ? aku mau tidur denganmu. Jadi sebutkan saja berapa yang kamu mau.."


Saat Meta merasa air matanya hendak luruh demi meminta belas kasihan, namun yang ia dapatkan hanyalah seraut wajah Rico yang tersenyum mengejek diatas wajahnya.


Lelaki sombong itu membuat Meta merasa benar-benar tidak bisa mentolerir semuanya lagi.


Lalu apa dirinya harus mundur sekarang ?


Tidak bisa. Meta tidak bisa membiarkan dinding harga dirinya hancur hanya karena perkataan Rico yang terlalu menyakitinya.


Meta merasa dirinya tidak boleh mundur begitu saja, melainkan sebaliknya.. Rico yang seharusnya mundur, dan berhenti memandang remeh dirinya.


Meta berfikir, mungkin dengan meminta hal yang mustahil, yang tidak bisa dipenuhi Rico, Meta bisa membuat semuanya impas. Dan setelah itu.. Meta benar-benar bertekad untuk keluar dari kehidupan lelaki itu.. untuk selama-lamanya..!


"Lama sekali kamu berfikir. Kenapa ? tidak mau uangku lagi ?" ujar Rico masih dengan intonasi mengejek.


"Kata siapa ? didunia ini.. selain uangmu, tidak ada lagi yang lebih menarik dari itu.." Meta tau ia pasti akan membuat Rico geram, tapi Meta ingin sekali membalas penghinaan Rico untuknya selama ini. "Empat puluh persen dari keseluruhan saham best elektro.. aku terlalu takut hidup susah setelah nanti bercerai dengan pak Rico.." ujar Meta seraya menentang sepasang mata elang yang sebenarnya sangat ia kagumi dalam diam.


Dan seperti dugaan Meta sejak awal, Rico terbelalak mendengar kalimat Meta yang diluar perkiraannya.


Marah..?


Tentu saja !


Apalagi saat menyaksikan Meta yang tersenyum menang dibawah tubuhnya.


Sesaat Meta bisa menarik nafas lega begitu melihat Rico bangkit dari atas tubuhnya dengan wajah yang mengeras dipenuhi amarah yang berlipat ganda.


Meta tau persis bahwa meskipun Rico membawahi beberapa perusahaan sekaligus, namun best elektro adalah hidup lelaki itu. Best elektro merupakan buah perjuangan tangan Rico dari nol hingga menjelma menjadi perusahaan elektronik nomor satu di negeri ini.


Meta bahkan yakin seribu persen, bahwa meskipun saat ini ia telah berhasil menyentuh bagian tervital, yakni harga diri dan keegoisan Rico yang paling tinggi, namun adalah hal yang mustahil jika Rico akan bertindak bodoh dan berani melepaskan begitu saja empat puluh persen saham best elektro kepada seorang wanita, hanya untuk nafsu sesaatnya kan..?


Memikirkan hal itu Meta kembali bisa bernafas lega dalam hati, terlebih saat menyaksikan punggung Rico yang menjauh dari ranjang, mendekati pintu yang terpentang dan..


Brak !!


Detik berikutnya nafas Meta tercekat begitu saja..


Klik.


Wajah Meta memucat begitu saja, saat menyadari bahwa bukannya berlalu tapi Rico malah menutup pintu kamar itu dengan sekali hentakan, sembari memutar anak kuncinya.


Meta beringsut saat menatap sosok Rico yang kembali mendekati ranjang, tempat ia duduk mematung dengan ekspresi terhenyak sempurna, akal sehat Meta seolah membeku.. tak bisa diajak berfikir lagi.


"Cuma empat puluh persen kan ? aku setuju.."


Bisik Rico seraya meraup bibir meta begitu saja, yang masih belum sepenuhnya menyadari apa yang akan terjadi dengan dirinya.


"Aku sudah mengikuti permainanmu sampai di titik akhir kesabaran yang aku punya. Jangan coba-coba menipuku lagi, melakukan negosiasi.. apalagi melawan.." itu bukan kalimat rayuan, melainkan lebih mirip sebuah ancaman yang mematikan.


"Siapa aku ? apakah aku bisa melawan ?" ujar Meta penuh penekanan, disela-sela usaha Rico yang tengah berusaha secepat mungkin membebaskan semua yang melekat ditubuhnya tanpa sabar.


Meta telah membiarkan rasa benci menguasai dirinya yang tidak lagi ingin mengakui seberapa besar cintanya untuk Rei juga untuk lelaki yang tidak memiliki hati itu.


Meta sadar ia kembali terjebak dalam kebodohannya sendiri.. yakni berani menentang seorang lelaki yang berkuasa seperti Rico Chandra Wijaya.


Namun betapa naif dirinya yang hingga didetik terakhir, masih mendambakan sesuatu yang sudah jelas-jelas tidak bisa ia dapatkan apalagi miliki.


Percuma.. karena dimata Rico semua itu tidak sebanding. Cintanya tidak cukup pantas dan berarti.


"Karena aku sangat murah hati padamu, maka aku akan menggenapkannya menjadi lima puluh persen.." bisik Rico dengan nada remeh, saat seluruh kelembutan yang berada dipermukaan kulit Meta telah membuainya hingga lupa diri.


Meta benar-benar terasa lembut seperti bayi. Polos, memerah, dan bergetar lembut. Semua pemandangan yang ada dihadapan Rico saat ini.. sudah pasti tidak akan sanggup membuat Rico kembali. Rico telah memilih untuk tersesat, daripada harus kembali pada titik kenyataan.


Meta tidak pernah tau betapa besar kekecewaan Rico saat ini, menyadari bahwa Meta bahkan tidak pernah berfikir mengapa selama ini dirinya bahkan rela memberikan semuanya. Karena yang ada selama ini Meta terlalu sibuk berhitung dan hanya tergila-gila dengan uangnya saja.


Semua kekecewaan itu telah membuat Rico gelap mata, dan pintu hatinya telah tertutup sudah sebelum pada detik berikutnya dikedalaman hatinya Rico tercengang begitu menyadari ia telah merenggut keutuhan Meta, yang diam seribu bahasa, seperti mayat hidup, saat menerima perlakuannya.


'Sial..'


Rico membatin. Kesal saat menyadari hatinya kembali diliputi rasa bersalah saat menyadari bahwa Meta bahkan tidak menangis sama sekali, hanya meringis menahan rasa sakit ketika ia kalap sehingga menghentak kasar.


Rico merasa sangat marah. Seumur hidupnya baru kali ini ada seorang wanita, yang berhasil membuatnya merasakan, bagaimana rasanya.. menjadi lelaki yang benar-benar tidak diinginkan..


.


.


.


Bersambung..


Dear.. kesayangannya author.. maafkan author karena pada akhirnya nekad untuk up 2 bab ini, meskipun alurnya seperti biasa, lambat, stuck ditempat, terlalu 'begitu', dan membosankan.. yang akan membuat sebagian besar dari kalian kecewa dan males.. 🙏


Ini adalah novel pertama author, harap maklum jika ada begitu banyak hal yang kurang berkenan.. 🙏


Lophyuu kalian semua.. 😘😘😘