
Yang belum support bab-bab sebelumnya, yuk dukung author yuk .. 🤗🙏
.
.
.
'Hari yang melelahkan..'
Meta duduk dipinggiran ranjang, membuka high heels empat centi meter dengan malas-malasan kemudian merebahkan tubuhnya diatas ranjang begitu saja, dengan kaki yang menjuntai kelantai.
Seharusnya ia mandi terlebih dahulu untuk menyegarkan tubuhnya dari ritme pekerjaan seharian ini, namun karena merasa sangat malas dan lelah Meta memilih memejamkan matanya sebentar sebelum akhirnya merogoh ponsel yang ada didalam tas yang tergeletak lesu disisi tubuhnya yang letih.
Meta melenguh kecewa tanpa bisa dicegah saat memeriksa beberapa notifikasi yang masuk disana. Tidak ada jejak yang memperlihatkan jika orang yang ia harapkan akan menyapa dan memberi kabar.
Meta tersenyum getir begitu menyadari bahwa untuk yang kesekian kalinya dirinya terus terlena dengan seorang Rico Chandra Wijaya.. sang pemberi harapan palsu yang ulung.
Terhitung sejak kemarin, saat lelaki itu muncul secara mendadak ditengah padatnya kesibukan yang ada di kantor pusat Indotama Group, sejak saat itu juga Rico seolah menghilang tertelan bumi. Rico sukses membuat jantung Meta berdebar menerima godaan kedipan mata sebelum masuk keruangan Ceo, terlebih ketika secara tidak sengaja, Meta yang baru saja keluar dari toilet usai menerima telpon dari Arini tiba-tiba melihat Rico berdiri sendirian menunggu pintu lift terbuka untuk lantai lima belas.
"Kata Tian, aku tidak boleh menggangumu sampai besok.."
Langkah Meta yang berjalan dengan kepala tertunduk salah tingkah saat harus melewati Rico sontak terhenti sejenak mendengar kalimat itu.
Detik berikutnya Meta memutuskan untuk kembali melangkahkan kaki, meneruskan tujuannya, kembali ke meja kerjanya yang tertunda akibat suara berat Rico yang mengusik.
"Tidak apa-apakan.."
Tiba-tiba saja pergelangan tangan Meta sudah tercekal lembut, berada dalam genggaman tangan yang terasa hangat.
"Aku harus mengatakannya, agar jangan sampai kamu memikirkan hal yang lain.."
'Hal yang lain? cih.. memangnya aku akan memikirkan apa?'
"Jangan sampai kamu merindukan aku juga.."
Kali ini sepasang mata Meta sudah melotot sempurna kearah Rico yang malah menatapnya sambil menebar senyum. Senyuman khas penakluk yang selama ini hanya terlihat disaat Rico berhadapan dengan makhluk ciptaan Tuhan yang menggoda iman.
Entah kenapa menyadari dirinya kini telah menjadi salah satu dari penerima damage-nya senyum Rico yang menawan malah membuat Meta kesal. Yah.. Meta kesal, karena menyadari bahwa dirinya bukan satu-satunya.. melainkan yang kesekian..!
"Lepaskan, pak Rico.."ujar Meta diiringi upaya untuk melepaskan diri, namun yang ada tubuhnya malah tertarik lebih dekat hanya dengan sekali hentakan dari Rico.
Cup.
Meta membeku, dan blush..
Hanya dalam hitungan detik di permukaan bibirnya, tapi sanggup menjungkirbalikkan dunia Meta dalam sekejap.
"Pak Rico apa-apaan..? ini kantor..!" protes Meta seraya melotot kesal, sementara Rico malah cengengesan.
"Lusa, aku dan Rei akan menjemputmu di apartemen. Arini pasti sudah mengatakannya kan?" pungkas Rico tanpa menghiraukan tatapan tajam Meta.
Meta akhirnya mengangguk kecil mengiyakan, dengan dada yang masih dipenuhi debaran akibat ulah Rico barusan yang mencuri bibirnya dalam sekejap.
Detik berikutnya Rico telah membebaskan Meta dengan melepaskan cekalan tangannya dipergelangan tangan, begitu menyadari lift yang di nanti nyaris tiba di lantai lima belas.
Bergegas Meta kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda, tanpa menoleh lagi.
Dan sejak saat itu.. lelaki itu seolah hilang tanpa bekas.
It's okay.. jika Rico tidak akan mengganggu seperti permintaan pak Tian dengan tidak lagi mewajibkan Meta datang kekantornya setiap jam makan siang atau menemuinya seperti kemarin saat Rico membawa Rei ke apartemen.
Tapi apakah lelaki itu tidak bisa menyapanya meskipun hanya menelpon? atau mengirimkan sms..?
Huhh..!!
Menyadari hal itu membuat Meta merasa aneh. Mengapa sekarang hatinya seolah menuntut perhatian? padahal sudah jelas modus Rico hanya sekedar ingin menggoda, dan menganggapnya sebagai pelampiasan nafsu yang halal.
Nonsense..!!
Lelaki itu hanya suka memeluknya tiba-tiba.. mencium dengan seenaknya.. dan yang terakhir.. Rico bahkan telah berhasil membuat Meta menyerahkan kesucian yang ia jaga selama selama dua puluh enam tahun ditangan lelaki itu meskipun dengan syarat yang cukup spektakuler.
'Lalu apa arti semua itu?'
'Apakah diriku ini memang semahal itu?'
'Apakah diriku sehebat itu sehingga mampu membuat pak Rico penasaran?'
'Setelah memberikan semuanya, apakah mereka akan tetap bercerai?'
'Kalau memang akan bercerai, lalu mengapa pak Rico begitu murah hati?'
Meta bangkit dari posisi rebahan, sengaja membuyarkan semua pertanyaan absurd yang menggerogoti benaknya.
Terlebih saat menyadari bahwa besok pagi mereka akan ke pulau Dewi, membuat Meta merasa sebaiknya mulai sekarang dirinya harus mempersiapkan diri, menabung semua kenangan manis sebanyak-banyaknya, karena Meta bahkan tidak pernah tau apa yang akan terjadi nanti.
Satu hal yang pasti.. bahwa masa depannya dengan pak Rico benar-benar tidak memiliki harapan, terlebih saat mengingat betapa geramnya ibu Rico atas kehadirannya, dan betapa keukeuhnya orangtua Rico menjodohkan Shela untuk menjadi istri Rico dimasa depan.
Meta bangkit dengan lesu, baru saja hendak meloloskan baju yang melekat ditubuhnya manakala ponselnya yang tergeletak diatas ranjang telah berdering, membuat Meta mengambil inisiatif untuk meraih benda pipih itu terlebih dahulu.. dan detik berikutnya jantungnya sudah berdebar keras begitu mengetahui siapa penelpon yang telah menelponnya se-larut ini.
Setelah berdering cukup lama karena menunggu untuk menetralisir degup jantungnya terlebih dahulu, akhirnya Meta menggeser icon hijau di permukaan layar ponselnya.
"Kenapa lama sekali mengangkat telponnya? sudah tidur ya?"
Suara berat itu terdengar letih.
"T-tidak.. aku.. aku baru saja sampai di apartemen karena harus menuntaskan semua pekerjaan untuk hari ini."
"Selarut ini?"
"Hmm.."
"Tian benar-benar keterlaluan.."
Meta membisu mendengar gerutuan diseberang sana.
"Aku baru kembali dari kota x.."
Rico kembali berucap sambil menyebutkan sebuah kota yang berada diluar ibukota. Jarak tempuhnya sekitar empat jam jika berkendara dengan mobil tanpa jeda.
"Masih dijalan, sekarang baru mau masuk tol xx.."
Ucap Rico lagi, sementara Meta tetap membisu mendengar setiap penuturan itu, masih menebak-nebak apa yang diinginkan Rico sebenarnya dengan menceritakan semua hal itu kepadanya dengan suara berat yang terdengar lirih dan lelah.
Dan setelah berjenak-jenak diisi oleh keheningan yang tak bertepi, suara berat yang terdengar lesu itu telah menyentak seisi sanubari Meta begitu saja.
"Aku ingin pulang ke apartemen. Boleh ya.."
Dan detik berikutnya nafas Meta telah tercekat di tenggorokan.
.
.
.
Bersambung..
"Akhh, babang Rico.. meresahkan banget yah.." 🤭
Jangan lupa di rate 5, like, comment, vote, dan subscribe yah.. 🤗
Thx and Lophyuu all.. 😘