CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 - 112


Jangan lupa bab sebelumnya di LIKE dan SUPPORT dulu yah.. 🥰


.


.


.


Meta menatap Arini lekat, dugaannya telah terjawab dengan sendirinya, bahwa Arini memang tidak meminum obatnya sejak semalam.


"Pasti rasanya tidak enak yah, Rin.." ujar Meta sedikit bergidik. Tidak bisa ia bayangkan bagaimana rasanya menjadi Arini, merasa sakit dan tidak enak badan, namun malah memilih tidak minum obat karena takut berpengaruh pada sang janin jika memang Arini terbukti hamil.


Arini mengulum senyum meskipun wajahnya terlihat sedikit pucat. "Nanti juga kamu akan tau sendiri rasanya.."


Mendengar itu Meta langsung melotot. "Ishh.."


"Loh.. kok begitu? memangnya kamu tidak ingin ada Rico junior yang tumbuh dalam perutmu..?" goda Arini lagi begitu mendapati wajah Meta yang telah memerah bak tomat yang telah matang sempurna.


"Arini.. jangan mengatakan hal manis seperti itu, telingaku tidak akan kuat mendengarnya.." rengek Meta membuat tawa Arini berderai begitu saja.


"Ha.. ha.. ha.. tidak tahan kan..?" ucap Arini lagi masih dengan nada menggoda yang sama. Namun saat melihat Meta yang malah mengangguk mengiyakan ucapannya tanpa ragu membuat Arini sontak mendelik. "Ihh.. Meta, kamu benar-benar deh.."


Mereka berdua akhirnya kembali tergelak.


Detik berikutnya Meta telah menyisakan senyum yang tersipu, terlebih saat ia melirik kearah Rico yang terlihat menatapnya sekilas, seolah sedikit terheran mendengar mereka berdua yang sedang berusaha menahan tawa agar tidak terlalu berderai.


"Jadi kapan kamu akan memberitahukan Pak Tian?" bisik Meta lagi usai tawa mereka mereda.


"Aku akan membeli test pack dulu untuk memastikan. Kalau positif, baru aku akan memberitahukan Tian.."


"Eittt.. jangan lupa beritahu aku juga.."


"iya.. iyyaaa.. pasti kamu akan aku beri tahu dengan segera.." pungkas Arini, masih dengan wajahnya yang agak pias.


"Janji yah,"


"Iya, aku janji.. tapi.. harus sebaliknya yah.." kerling Arini dengan raut aneh.


"Sebaliknya apa..?"


"Besok-besok kalau kamu hamil, aku juga harus diberitahu sesegera mungkin.."


"Ish.. Arini, aku belum apa-apa kali.."


"Kok belum apa-apa sih..? jangan bilang kalau kalian belum begituan.."


"Kalau itu sih sudah.." Meta mengaku malu-malu.


"Memang sudah seharusnya 'sudah' kan? suamimu yang genit itu mana tahan bisa berlama-lama tidak menyentuh makanan enak diatas meja.."


Mendengar itu Meta tersenyum kecut. "Rin, Rico memang se-genit itu yah?" tanyanya dengan wajah yang mendadak berubah was-was.


"Memangnya selama ini kamu kemana saja? bukannya sejak awal kamu sudah tau segenit apa Rico Chandra Wijaya..?"


Meta malah cemberut. "Tentu saja aku tau. Dulu dia bahkan suka menggodamu juga, Rin.."


Arini tertawa sambil menggeleng. "Itu tidak benar.." tepisnya.


"Itu benar.."


"Tidak.. waktu itu dia selalu menggodaku karena tidak suka Tian mendekatiku. Dia hanya ingin melindungi Tian dan dulu ada begitu banyak kesalah-pahaman. Aku bahkan sempat kesal padanya, tapi Tian selalu bilang bahwa Rico orang yang baik, dia tidak seburuk yang terlihat.. dan ternyata semua itu benar.."


Meta diam mendengar semua kalimat Arini tentang Rico, yang seolah ingin menguatkan hatinya agar tidak lagi meragu.


"Meta, percayalah dengan apa yang aku katakan ini. Aku benar-benar telah melihat sendiri bagaimana ketulusan Rico memperlakukan orang-orang yang ia sayangi. Rico tetap memperlakukan Lila dengan sangat baik sekalipun ia tidak bisa mencintainya, Rico juga menikah denganmu untuk kebahagiaan Rei sekalipun ia tidak yakin ia sendiri bisa bahagia, dan Rico juga selalu ada untuk Tian disaat terburuk sekali pun.."


"Tapi dimata Rico, aku belum seberarti itu, Rin.."


Meta terdiam mendengarnya, namun hatinya masih enggan percaya. Takut kecewa karena terlalu berharap banyak.


"Meta, jangan kecewakan Rico. Jangan melemahkannya juga. Aku mengatakannya berdasarkan apa yang pernah aku hadapi dulu saat memulainya bersama Tian. Kalau kita mencintai seseorang dengan tulus, maka semua rintangan akan terasa tidak berarti. Trust me.. kita hanya perlu menjadi orang yang sedikit egois.. dan semuanya akan terlewati sedikit demi sedikit.."


Arini menepuk punggung tangan Meta yang ada disampingnya berkali-kali, seolah ingin memberikan kekuatan. Arini tau Meta harus dikuatkan, karena kejadian kemarin sore tidak mungkin tidak berimbas.


Wanita cantik bernama Shela itu, nyata-nyata terlihat begitu enteng saat menyebut nama Yunita Wijaya, ibunya Rico. Seolah ingin memberikan tanda bahwa ia adalah wanita yang diinginkan kedua orangtua Rico untuk mendampingi putra mereka di masa depan.


"Akan aku ingat nasehatmu ini, Rin.." ucap Meta lirih, mencoba mengangkat wajahnya dengan tegak, seolah ia telah siap menantang dunia, meskipun disudut hatinya masih terdapat begitu banyak keraguan dan rasa tidak percaya diri.


Arini tersenyum lega mendapati senyum Meta. Setidaknya Meta memiliki sedikit kekuatan, meskipun hanya sepersekian persen sebagai bekal dan langkah awal.


Untuk mengurai suasana, mendadak Arini merasa ingin menggoda Meta lagi. Sahabatnya yang selama ini begitu polos.. namun setelah bersama Rico, Arini menjadi tidak yakin jika Meta masih se-polos awalnya.


"So.. honeymoon-nya sepertinya berjalan dengan lancar kan?"


Meta nampak mengulum senyum, menganggukkan kepalanya dengan gerakan kaku bercampur salah tingkah.


"Ayo ceritakan, apa Rico itu tipe lelaki yang lembut, atau yang tidak sabaran, atau.. yang suka 'aneh-aneh'.."


"Ketiganya."


"W-what?" Arini terhenyak mendengar jawaban polos yang meluncur tanpa rintangan itu.


Lembut dan tidak sabaran, itu sudah biasa. Tapi 'aneh-aneh' adalah perumpamaan yang sengaja disebut Arini hanya untuk menggoda Meta, namun tidak menyangka jika ia balik dikejutkan dengan jawaban yang cukup spontan, yang membuat Arini terhenyak.


"Yakin ada 'aneh-anehnya' juga..?" tanya Arini dengan jiwa kepo yang meronta-ronta.


Meta mengangguk. "Iya, aneh.. tapi lebih aneh lagi karena aku menyukai semuanya.."


"Astaga.." Arini membekap mulutnya sendiri. Detik berikutnya ia sibuk menahan tawanya.


"Ish Arini.. kenapa kamu malah tertawa? memangnya Pak Tian tidak pernah melakukan hal yang aneh?"


Arini terhenyak saat menerima pertanyaan Meta, lengkap dengan ekspresi wajah keheranan yang sangat alami.


Sesaat Arini baru tersadar bahwa kenapa ia harus terkejut dan tertawa mendengar kejujuran Meta? padahal Tian juga selalu melakukan hal-hal yang bahkan diluar jangkauan otaknya yang konvensional.


'Cihh.. benar-benar sepasang sahabat yang sangat ahli dibidang percintaan..'


Bathin Arini, kembali merasa lucu saat melirik wajah lugu Meta. Sahabatnya yang polos itu pasti mengalami hal yang sama seperti dirinya dulu. Merasa begitu bodoh saat harus menghadapi suami mereka yang justru sebaliknya.. memiliki kemampuan tingkat dewa dalam hal yang berbau kemesraan dan percintaan..


.


.


.


Bersambung..


Like


Comment


Vote


Tip,


Subscribe,


Rate 5,


Author banyak maunya.. 🤭


Thx and Loophyuu all.. 😘