
Bab yang diatas udah di support belum..?
Udah Like ?
Udah Comment ?
Udah Vote ?
Yang belum.. buruan ih.. sebelum lanjut.
Sudah..?? okeh.. kencangkan sabuk pengamannya.. cekidooot….!
Private Jet dengan logo Indotama Group milik keluarga Djenar sudah mengudara dengan tenang diatas ketinggian tiga ribu kaki, setelah lepas landas dengan mulus dari landasan pacu sekitar sepuluh menit yang lalu.
Tian yang sedari tadi duduk tenang
dikursi penumpang terlihat serius membolak balik majalah bisnis terbaru yang disediakan seorang pramugari sesaat setelah posisi pesawat jet yang mereka tumpangi stabil mengudara dan lampu tanda pemakaian sabuk pengaman telah padam.
Tian bukannya tidak menyadari sepasang mata Arini yang selalu lekat padanya, tapi seperti biasa Tian memang selalu suka berpura-pura tidak menyadarinya, sambil menikmati perasaan hangat dikedalaman hatinya yang diakibatkan sorot mata teduh itu.
Sementara Arini.. sejak awal saat ia menyadari bahwa mobil yang dikendarai Sudir telah berbalik arah tidak lagi menuju kantor pusat Indotama Group, saat itulah Arini sudah bertanya-tanya dalam hati perihal tujuan mereka saat ini.
Ingin sekali rasanya Arini bertanya,
namun melihat kondisi Tian yang duduk bersandar disampingnya dengan mata terpejam membuat Arini tidak berani mengganggunya. Arini tau Tian pasti sangat lelah. Tian baru tiba dari perjalanan panjang yang melelahkan, melintasi jarak.lebih dari ribuan mil bahkan perbedaan zona waktu yang pasti secara tidak langsung telah mengacaukan jadwal tidurnya.
Tiba-tiba Arini menyesal karena telah mengganggu tidur Tian saat mengingat tadi pagi ia yang tidak menyadari kehadiran Tian malah berteriak panik, membuat Tian terbangun dari tidur lelapnya. Setelah itu Tian bahkan sudah tiba dikantor tidak begitu lama setelah Arini tiba, memimpin rapat internal dengan beberapa manager di meeting room kantor pusat, masih menyempatkan diri mendengarkan persentasi langsung dari dirinya dan Rudi diruang kerjanya, dilanjutkan dengan menghadiri rapat akhir konsep peresmian Mercy Green Resort yang sekaligus dirangkai dengan lunch khusus yang dijamu langsung oleh Lila yang merupakan Ceo PT. Mercy.
Dan sekarang.. Tian benar-benar membuat Arini terkejut dengan turun didepan private crub, area dimana penumpang naik dan turun dari kendaraan untuk menuju atau meninggalkan terminal bandara khusus untuk penerbangan yang menggunakan private jet.
‘Apa yang akan Tian lakukan ditempat ini ? Dia mau kemana lagi ?’
Benak Arini diliputi tanda tanya, namun Arini mencoba memendam rasa keingintahuannya dahulu karena akhirnya Arini hanya bisa mengikuti langkah lebar Tian yang langsung memasuki gate khusus penumpang private jet tentu saja dengan Rudi sang asisten yang terus setia berada disampingnya.
Arini hanya bisa menjadi penonton kesibukan kecil Tian dan Rudi yang seperti sedang tergesa-gesa dalam mengurus sesuatu. Mereka berdua nampak sedikit sibuk, berbicara dengan beberapa orang yang ditemui mereka seperti sedang mengkonfirmasi sesuatu, dan akhirnya..
Disinilah Arini berada.
Didalam sebuah private jet berlogo Indotama Group yang sedang mengudara setelah berhasil lepas landas dengan mulus dengan Tian yang duduk tepat disampingnya sedang membolak-balik majalah bisnis edisi terbaru, sedangkan Rudi duduk sendirian dikursi single dengan jarak kira-kira dua meter dibelakang kursi mereka.
“Kita mau kemana ?”
Mendengar itu Tian mengangkat wajahnya, kemudian tangannya menaruh majalah bisnis yang sedari tadi dibacanya itu keatas meja.
‘Setelah menunggu sekian lama.. akhirnya dia bertanya juga..’
Bathin Tian yang memang sudah sejak tadi
menunggu kapan Arini akan menuntaskan rasa penasaran yang ada diotaknya.
Didalam hatinya, Tian bahkan mengakui bahwa kali ini Arini cukup sabar sehingga
ia bisa tahan tidak bertanya bahkan sejak awal saat menyadari rute mobil yang
dikendarai Sudir sudah berubah arah.
“Menurutmu ?” Tian berucap sembari menatap Arini dengan intens.
Arini terdiam sejenak. Ini adalah kali kedua Arini terbang dengan private jet milik Indotama Group ini. Yang pertama tentu saja saat Tian memboyongnya ke ibukota sesaat setelah mereka menikah ?kira-kira lebih dari sebulan yang lalu.
Saat ini jauh didalam lubuk hati Arini pun sangat mengharapkan jika jet pribadi Tian ini akan membawa mereka terbang kembali kekota kecilnya, tempat ia bisa bertemu ayah dan melepas kerinduannya yang tertahan selama ini, tapi Arini tidak mau berharap lebih.
“Kita akan pergi mengunjungi mertuaku.”
Tian berucap ringan, namun kalimat singkatnya itu cukup ampuh membuat sepasang mata dihadapannya membulat sempurna.
Tian tersenyum menanggapi ekspresi tercengang itu. “Maaf, baru mengatakannya padamu sekarang, kalau sebenarnya ayah sudah berhasil menjalani operasi transplantasi jantung tepatnya dua minggu yang lalu. Operasinya berjalan dengan sangat baik, sekarang masih dalam masa pemulihan, dan sesuai jadwal, besok pagi kita sudah diperbolehkan menjenguk,”
Tian mengambil nafas sejenak, sambil tetap mengawasi raut wajah Arini yang membeku seperti terhipnotis dihadapannya.
“Untuk itulah tadi aku memintamu bersabar menunggu weekend. Aku ingin memberikan hadiah spesialmu tepat pada besok hari, tepat saat ayah keluar dari ruang icu. Tapi karena kamu sungguh orang yang tidak sabaran.. kamu sudah merusak kejutan yang sudah susah payah aku siapkan..” cetusnya.
Arini yang terlihat masih membeku bahkan saat Tian selesai berucap panjang lebar membuat Tian menatap Arini lekat, mulai khawatir saat melihat wanita itu belum memberikan respon berarti.
Sedetik.. dua detik.. perlahan sepasang bola mata yang menatap beku itu tiba-tiba semakin meredup dan mulai tergenang.
Tian yang menyaksikan sepasang telaga itu menghangat tepat dihadapannya itu mencoba melempar senyum. “Egh..
pemandangan apa ini ?” ia berpura-pura memasang tampang terkejut. “Bukankah sebelumnya aku sudah memperingatkanmu agar jangan terharu ? kenapa sekarang kamu malah…”
Bruk.
Kalimat Tian seperti tertelan begitu
saja. Tian merasa lidahnya kelu saat menyadari tiba-tiba tubuh Arini saat ini sudah seutuhnya berada dalam pelukannya. Sedetik kemudian sebuah senyuman sudah menghias sempurna memenuhi semua sudut bibirnya. Sepertinya bukan hanya Arini yang mendapat kejutan yang spesial, dirinya juga bahkan mendapat kejutan yang tak kalah spesial saat meyakini bahwa saat ini Arini benar-benar sedang mendekapnya sangat erat.
Refleks tangan Tian terangkat, mengusap perlahan rambut yang sedikit bergelombang itu berkali-kali, berharap dengan begitu ia bisa menenangkan pemilik wajah yang terbenam sempurna didadanya sambil terisak lirih.
Tian berupaya keras mengontrol detak Jantungnya yang mulai berdebar gelisah, antara tidak siap mendapati respon yang terlalu manis yang masih berada sempurna dalam rengkuhannya, dan rasa haru yang menyeruak mengisi relung hatinya yang terdalam saat merasakan betapa besar kerinduan Arini untuk ayahnya yang memecah didadanya.
“Sstt.. jangan menangis lagi, besok ayah
pasti bertanya kalau melihat matamu sembab..” bisik Tian mencoba membujuk Arini
serta menenangkannya.
Hening sejenak, dan Tian tidak berkata apa-apa lagi, hanya jemarinya yang tidak berhenti mengelus rambut bergelombang
dengan aroma mint bercampur lavender yang saat ini tidak berjarak seinchi pun
dengan indera penciumannya.
.
.
.
.
.
Bersambung..
Aahhh.. digantung teruuss pas lagi 'sayang-sayangnya’ … !! 😭
Hayoo.. siapa yang mau ngomelin author dikolom comment..?? hahaha 🤣🤣🤣
Ngomel boleh, tapi like-nya jangan lupa yah kesayangannya author..
Lunas untuk hari ini.. yah.. Lophyuuu.. My All.. 😘