Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 97 ~ Saling memanfaatkan


"Terimakasih pak Irwan sudah bersedia mendengarkan curhatan saya. Semoga pembicaraan kita tidak diketahui oleh siapapun," ucap Alexa dengan senyumnya.


Dia bangkit dari kursi usang itu, tapi urung melangkah karena ucapan Irwan.


"Sama-sama Lexa, apa kau punya waktu untuk makan malam bersama?"


"Lain kali saja pak Irwan, malam ini saya ada janji bersama suami saya," sahut Alexa dan benar-benar pergi dari lingkungan taman terbengkalai tersebut.


Alexa menyibukkan dirinya dengan kegiatan-kegitan di sekolah bersama guru-guru lain, hingga tidak terasa jam tiga sore telah tiba. Wanita itu meninggalkan kawasan sekolah SMK Angkasa dengan mengendarai mobil furtuner silver miliknya.


Di tengah-tengah mengemudikan mobil, Alexa menghubungi seseorang yang selalu bisa diandalkan selama ini.


"Tugas baru untukmu," ucap Alexa setelah sambungan telpon terhubung.


"Apapun itu akan saya lakukan untuk Nona."


Alexa senyum simpul mendengarnya, ternyata uang adalah segalanya. Semua bisa didapatkan dengan uang. Pantas saja beberapa orang tidak tahu malu seperti Ziko dan Jesika menghalalkan segala cara agar mendapatkan kekuasaan.


"Selidiki siapa Irwan sebenarnya, dan apa hubungannya dengan Serin!"


"Baik Nona."


***


Di tempat yang berbeda dengan orang yang berbeda pula. Seorang pria tengah menghubungi sepupunya untuk memberitahukan kabar yang mengejutkan.


Kabar yang akan membuat Serin bahagia tidak terhingga.


"Ada apa kau menelponku sore-sore seperti ini?" tanya Sering diseberang telpon.


"Tentang Alexa dan Sean, jika kau mengingingkan informasinya, maka kirimkan sejumblah uang yang aku minta," ucap Irwan dengan senyum liciknya.


Ayolah Irwan cuma sepupu jauh bahkan hanya angkat saja. Irwan keponakan ibu tiri Serin, bukan ibu atau ayah kandung Serin sendiri yang kini telah berpisah sebab menemukan pujaan hati masing-masing.


Memafaatkan seseorang agar mendapatkan uang adalah tujuan Irwan untuk saat ini, jika bisa mendapatkan Alexa itu lebih baik.


"Katakan!" perintah Serin.


"Alexa tidak bisa memberikan keturunan untuk Sean karena rahimnya bermasalah, bukankah ini sesuatu yang kau tunggu Serin? Rahimmu sangat subur sampai harus aborsi beberapa kali." Irwan senyum licik.


Pria itu menyandarkan tubuhnya pada kepala dipan, merasa bangga telah mendapatkan informasi penting dari yang bersangkutan.


"Tahu darimana?"


"Alexa, dia mulai mempercayaiku."


***


"Husbu?" panggil Alexa setelah membuka pintu apartemen. Dia yakin suaminya telah pulang karena melihat mobil pria itu ada di basemen.


Alexa terus saja berjalan memasuki rumah, baru saja akan membuka pintu kamar, tubuhnya sudah dipeluk dari belakang.


"Akhirnya kamu pulang juga," bisik Sean menumpu dagunya di pundak sang istri. "Sejak tadi aku menunggumu."


"Kenapa pulang cepat hm? Apa kau tidak punya pekerjaan selain bersamaku Tuan?" Alexa langsung membalik tubuhnya dan mengalungkan lengan di leher sang suami.


Rambut basah juga baju kaos kebesaran membuat Sean terlihat begitu tampan sore-sore seperti ini.


"Semuanya selesai dengan cepat My Wife, jadi berhenti menuduhku makan gaji buta hm." Sean mengiring tubuh Alexa ke sofa dan menindihnya secara perlahan.


"Bahkan saat baru pulang seperti ini kau tetap cantik," bisik Sean menghujani wajah Alexa ciuman. Sementara Alexa hanya bisa tertawa dan menikmati kasih sayang yang diberikan Sean untuknya.


"Bagimana makan malamnya Husbu?"


"Akan istimewa, seistimewa orang yang akan makan malam dengaku. Ayo sekarang kamu harus memeriksa kamar Eca," ajak Sean.


Seolah tidak memberikan kesempatan untuk Alexa bergerak, Sean mengendong wanita itu menuju ruangan kerjanya yang telah disulap menjadi kamar Eca.


Mata Alexa berbinar melihat ruangan itu telah dipenuhi barang-barang milik Eca.


Wadah sebesar satu meter persegi berisikan pasir khusus buang air besar untuk kucing berada di sudut ruangan sebelah kanan.


Taman-taman berupa mainan tikus, kamar kecil untuk dua ekor kucing. Karpet mulu beserta lemari aksesories dan pakaian telah lengkap di dalam sana.


"Ish cantik banget," puji Alexa memeluk lengan Sean setelah pria itu menurunkan dari gendongannya.


Alexa menunduk untuk mengendong Eca yang sejak tadi menghampirinya.


"Ada kucing lain?" gumam Alexa.


"Hm, kasian kalau Eca sendirian, makanya aku cariin pacar. Biar dia tidak menganggu saat kita olahraga."


"Husbu?"


"Iya Sayang sama-sama. Balas Seannya nanti saja pas malam," bisik Sean menggoda membuatnya mendapat cubikan diperut.


"Ujung-ujungnya pasti mesum."