Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 70 ~ Beberapa jam sebelum pernikahan


Tidak terasa hari begitu cepat berlalu, satu minggu yang telah dibicarakan kini tinggal menghitung jam lagi.


Sean terus mengulingkan tubuhnya ke kanan dan kekiri karena tidak bisa tidur memikirkan momen esok hari. Dadanya terasa sesak karena jantung yang berdetak tidak karuan.


Beberapa jam menuju pernikahan membuat Sean sangap gugup.


"Aaaaakkkkkhhhhh ... tidurlah Sean!" kesalnya pada diri sendiri.


Namun, nyatanya mata dan hatinya tidak sejalan malam ini. Pria itu segera bangun dan duduk sila di atas tempat tidur. Memandangi jam dan memperhatikan jarumnya berputar.


Hal itu Sean lakukan hingga benar-benar lelah dan tidur tanpa rencana apapun.


***


Tubuh ideal dan sangat mulus itu terus saja mengeliat di balik selimut ketika sinar matahari mulai menerpanya.


Alexa menyembulkan kepalanya untuk mengitip sinar matahari. Terlebih tirai kamarnya telah dibuka lebar-lebar oleh bunda tercinta.


"Beberapa jam lagi," guman Alexa merasai detak jantungnya yang tidak beraturan.


Ini bukan pernikahan pertama untuknya, tapi entah kenapa sangat mendebarkan. Bahkan saat pernikahan pertama dia tidak merasa segugup ini.


"Lexa, ayo sarapan dulu Nak!" panggil Kania.


"Iya Bunda," sahutnya dan segera berlari ke kamar mandi.


Wanita bermata indah itu menghampiri bundanya hanya memakai baju kaos ketat juga celana pendek sepertiga paha.


"Selamat pagi semuanya," sapa Alexa dengan wajah berbinar bahagia.


"Uhuk." Sean langsung meraih air minum di atas meja untuk meneguknya. Pria itu tersedak karena terkejut melihat penampilan Alexa yang sungguh diluar nalar.


"Sepertinya itu baju dia saat Sd," gumam Sean sedikit kesal.


"Cepat banget datangnya," sapa Alexa duduk di samping Sean.


"Bunda yang nyuruh, sekalian serapan bersama sebelum ke gedung," celetuk Kania, berbeda dengan Sean yang hanya fokus pada makanannya saja.


Sementara Ricard diam-diam tersenyum menyadari wajah kesal calon adik iparnya. Ricard sangat mengerti bagaimana perasaan Sean sekarang, karena dia juga seperti itu pada wanita yang dia cintai.


Ah ya Ricard hampir lupa kalau dia dan Sean hampir bernasib sama. Sama-sama memerawani gadis yang mereka cintai, tapi mendapatkan jandanya karena sesuatu yang tidak bisa dihindari.


"Sean, apa kau sudah siap menjadi seorang suami? Saya bertanya sebagai calon kakak ipar kamu," ucap Ricard.


"Bunda senang dengarnya Nak. Sekarang bunda lega karena Alexa bisa mendapatkan pria bertanggung jawab sepertimu. Sean, jangan pernah buat anak bunda menangis ya?"


"Iya Nyonya."


"Bunda dan kak Ricard mau makan atau ceramah? Lihatlah, sejak tadi suamiku tidak jadi-jadi makannya karena kalian," celetuk Alexa.


"Calon suami!" ralat Kania dan Ricard.


"Tinggal menghitung jam lagi jadi suami." Alexa tidak mau kalah.


Sementara Sean hanya bisa mengelengkan kepalanya melihat tingkah Alexa dan keluarganya. Baru saja akan melajutkan sarapan, atensinya teralihkan pada benda pipih di saku jasnya.


Sean segera mengambil ponselnya dan memeriksa notifikasi pesan dari anak buahnya.


Tuan, Ziko kabur dan kami tidak bisa menemukannya.


Rahang Sean seketika mengeras mengetahui berita kaburnya Ziko. Kenapa harus kabur di hari pernikahannya? Semoga tidak ada masalah nanti hingga resepsi selesai.


Cari sampai ketemu dan jangan biarkan dia mengacaukan apapun dipernikahan saya!


Itulah balasan yang Sean kirimkan sebelum meletakkan ponselnya di saku jas.


"Ada apa?" tanya Alexa yang menyadari perubahan di wajah Sean.


"Tidak ada, makanlah! Setelah itu kita berangkat. Takutnya tidak ada waktu untuk bersiap-siap," balas Sean dan menambahkan lauk di piring Alexa.


Meski merasa curiga akan tingkah Sean, Alexa tetap saja menyantap makananya. Sebenarnya apa yang telah terjadi hingga Sean seperti menahan amarah? Alexa berharap tidak akan ada yang terjadi dihari bahagianya.


"Ada apa dengan calon pengantin kita Bunda? Kok wajahnya pada kusut seperti itu," celetuk Ricard.


"Tidak ada Tuan."


"Tidak ada Kak."


Sahut Sean dan Alexa serempak berhasil membuar Ricard terdiam. Pria itu memilih bangkit dari duduknya karena lebih dulu selesai menghabiskan sarapan.


...****************...